Rabu, 7 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Features » Tangis Sunyi di Laut Kendawangan

Tangis Sunyi di Laut Kendawangan

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Rabu, 2 Jul 2025
  • visibility 1.050
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

“Air tenang jangan disangka tak dalam, laut tenang jangan dikira tak menyimpan duka”

MUNGKIN begitu bunyi pepatah baru yang lahir dari perairan Kendawangan, Kalimantan Barat, setelah dua ekor dugong si pemalu penjaga padang lamun ditemukan tak bernyawa hanya dalam hitungan hari beberapa hari lalu.

Dugong, Mamalia laut yang tak suka keramaian, makannya pun vegetarian, dan konon termasuk pendiam kelas berat di dunia bahari. Tapi justru dari diamnya, laut bisa bicara bahwa kini sedang terjadi sesuatu yang tidak baik-baik saja.

Bayangkan, dalam waktu tiga hari saja, dua ekor dugong ditemukan mati. Yang pertama tersangkut jaring nelayan. Yang kedua menyusul, terdampar di sekitar Pulau Cempedak. Dugong bukan satwa biasa, ia dilindungi penuh. Masuk dalam daftar Apendiks I CITES dan digolongkan vulnerable alias rentan oleh IUCN. Tapi sayang, perlindungan di atas kertas kadang kalah cepat dari nasib di lapangan.

Perairan di sekitar Lagan Belanda, Kendawangan, sebetulnya tenang dan mempesona, tapi tenang di permukaan seringkali menipu.

Laut ini menyimpan cerita duka dari mamalia laut yang diam-diam menjaga ekosistem. Dugong makan lamun, lamun menjaga pasir pantai tetap tak hanyut, pasir pantai membuat laut tetap ramah. Semua terhubung. Tapi siapa yang peduli?

Kadang kita manusia ini seperti tamu pesta yang seenaknya datang, bikin rusuh, lalu pulang tanpa pamit. Sementara si tuan rumah, dalam hal ini dugong dan kawannya, harus membereskan semuanya atau malah tak sempat membereskan apa-apa karena sudah keburu mati terjerat jaring.

Begitu informasi masuk dari Yayasan IAR (Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia), semua pihak langsung tancap gas. Tim dari Pokdarwis angkat bangkai dugong, dermaga Pulau Cempedak jadi posko darurat, dan nekropsi dilakukan bareng YIARI, Lanal Ketapang, dan Pemdes setempat.

Yang bikin miris, bahkan penguburan dilakukan di markas militer, seolah dugong ini veteran perang yang gugur demi menjaga bumi. Ya, mungkin memang begitu, ia gugur melindungi ekosistem, tapi manusialah yang membuatnya mati.

Tiga hari berselang, kejadian serupa terulang. Dugong kedua terdampar dengan tubuh tak bernyawa. Kali ini tim WeBe Konservasi ikut turun tangan. Nekropsi kedua, penguburan kedua, dan pertanyaan besar yang sama masih menggantung kenapa ini bisa terjadi? dan… sampai kapan?

Dugong bukan paus pembunuh yang bisa lompat indah atau lumba-lumba yang bisa salto minta ikan, ia makhluk pemalu, lebih suka menyendiri, dan hidupnya tergantung pada padang lamun yang kini makin tergerus. Ia tidak protes, tidak bikin kerusuhan, tidak bikin konten. Tapi justru karena itulah, keberadaannya nyaris tak terdengar.

Padahal, kalau boleh bicara, mungkin dugong akan berkata, “Aku cuma mau makan lamun, nyantai di pasir, dan hidup damai, kenapa susah amat, sih?”

KKP sudah betul edukasi masyarakat soal penanganan biota laut yang dilindungi harus terus digencarkan. Tapi lebih dari itu, perlu ada solusi konkret di lapangan. Edukasi tanpa pengawasan, itu seperti ceramah tanpa nasi kotak didengarkan sebentar, lalu dilupakan.

Nelayan perlu diajak bicara, bukan dimarahi, kalau jaring mereka membahayakan dugong, cari solusi bersama. Ganti alat tangkapnya? Boleh. Tapi jangan sampai itu jadi beban berat bagi nelayan kecil. Pemerintah harus hadir, bukan hanya saat nekropsi, tapi saat solusi dibentuk.

Syarif Iwan Taruna Alkadrie, Kepala BPSPL Pontianak, benar kolaborasi adalah kunci, dari Pokdarwis, Yayasan, TNI, desa, semua bergerak, tapi ini baru respons. Belum preventif, ke depan, perlu sistem deteksi dini, zonasi konservasi yang ketat, dan yang tak kalah penting empati kolektif.

Empati itu bukan sekadar ikut sedih lihat bangkai dugong namun ikut berubah. Berubah cara menangkap ikan, cara membuang sampah, cara memperlakukan laut sebagai sahabat, bukan sekadar lapak rezeki.

Kematian dua dugong ini bukan akhir cerita, akan tetapi alarm keras yang mengetuk nurani. Dugong tak bisa demo. Ia hanya bisa diam dan mati.

Seperti kata orang bijak, “Bukan karena mereka tak bersuara maka kita diam, tapi karena kita diam, mereka tak bersuara lagi”.

Jadikan kematian mereka sebagai awal dari gerakan besar menyelamatkan laut, menyelamatkan padang lamun, menyelamatkan dugong, dan kalau boleh jujur menyelamatkan diri kita sendiri.

Karena kalau dugong punah, jangan harap pantai tetap utuh, kalau lamun rusak, jangan salahkan abrasi. Kalau laut mati, jangan pura-pura kaget waktu ikan hilang dari piring. Mari bergerak, sebelum dugong jadi kenangan, dan laut tinggal dongeng.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tidak Produktif, Pemerintah Akan  Cabut Ribuan IUP, HGU, dan HGB

    Tidak Produktif, Pemerintah Akan Cabut Ribuan IUP, HGU, dan HGB

    • calendar_month Senin, 10 Jan 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 704
    • 0Komentar

    PEMERINTAH memutuskan untuk mencabut ribuan Izin Usaha Pertambangan (IUP), Hak Guna Usaha (HGU), dan Hak Guna Bangunan (HGB) yang tidak dijalankan, tidak produktif, dialihkan ke pihak lain, serta penggunaan yang tidak sesuai dengan peruntukan dan peraturan karena itu sangat merugikan. Selanjutnya, pemerintah akan memberikan kesempatan pemerataan pemanfaatan aset bagi kelompok-kelompok masyarakat dan organisasi-organisasi sosial keagamaan […]

  • Cocote Tonggo & Jurus Cabe Rawit Industri Film, Kecil dari Kampung, Pedasnya sampai Festival Cannes!

    Cocote Tonggo & Jurus Cabe Rawit Industri Film, Kecil dari Kampung, Pedasnya sampai Festival Cannes!

    • calendar_month Selasa, 13 Mei 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.028
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id,- Di dunia perfilman yang sering kali sibuk dengan kisah superhero berotot, monster galaksi, dan cinta anak sultan, tiba-tiba hadir film Cocote Tonggo, film yang alih-alih menampilkan ledakan CGI, justru meledakkan tawa dan keharuan dengan cerita sederhana pasangan suami istri penjual jamu yang belum punya anak. Ya, ini bukan kisah Hollywood, ini kisah Holimart, pasar […]

  • RI Berpotensi Jadi Kiblat Wisata Halal Dunia

    RI Berpotensi Jadi Kiblat Wisata Halal Dunia

    • calendar_month Rabu, 30 Mei 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.073
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.ID,Jakarta – Indonesia berpotensi menjadi kiblat wisata halal dunia karena mayoritas penduduk Indonesia muslim dan berpotensi juga membangun industri halal. Apalagi pariwisata mancanegara sekarang mulai mengambil pasar untuk wisatawan muslim dari berbagai negara, salah satunya dari wisatawan Indonesia. Melalui industri halal, banyak negara memberikan fasilitas yang memanjakan wisatawan muslim untuk berwisata di negara nonmuslim. Dalam […]

  • Minyak Goreng Langka, Pemkot Palembang Laksanakan Operasi Pasar

    Minyak Goreng Langka, Pemkot Palembang Laksanakan Operasi Pasar

    • calendar_month Kamis, 24 Feb 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 859
    • 0Komentar

    GUNA meredam gejolak kelangkaan minyak goreng yang terjadi saat ini, Pemerintah kota Palembang melalui Dinas perdagangan kembali melakukan operasi pasar dibeberapa titik. Kegiatan tersebut dilakukan di 7 lokasi antara lain, Rusunawa 24 Ilir, Kami ( 24/2) Jumat (25/2) di Pasar Sekip Ujung, Selasa (1,/3) pasar Maskrebet, Rabu (2/3) pasar Tangga Buntung, Jumat (4/3) pasar KM […]

  • Gubernur Minta Masyarakat Terapkan Pola Hidup Sehat

    Gubernur Minta Masyarakat Terapkan Pola Hidup Sehat

    • calendar_month Minggu, 16 Jan 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 764
    • 0Komentar

    TAK hanya fokus membangun pemerataan infrastruktur, Gubernur Sumsel H. Herman Deru juga memiliki kepedulian yang tinggi pada  kesehatan masyarakatnya. Demi meningkatkan kesehatan masyarakatnya, Herman Deru bahkan meminta Ikatan Alumni (IKA) Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) aktif mensosialisasikan dan mengajak masyarakat di seluruh penjuru Sumsel mulai membiasakan diri menerapkan gaya hidup sehat. Hal itu disampaikannya usai menghadiri […]

  • Perlindungan Sosial: Bantu Masyarakat Miskin dan Rentan Penuhi Kebutuhan Dasar

    Perlindungan Sosial: Bantu Masyarakat Miskin dan Rentan Penuhi Kebutuhan Dasar

    • calendar_month Kamis, 19 Agt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 816
    • 0Komentar

    RANCANGAN Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2022 masih berfokus pada penanganan pandemi COVID-19 dan juga perlindungan sosial bagi masyarakat miskin dan rentan yang terdampak. Anggaran Perlindungan Sosial ditetapkan sebesar Rp427,5 triliun (15,8%) dari total belanja negara dan difokuskan untuk beberapa hal, seperti verifikasi, validasi, dan bangun sistem terintegrasi Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dengan […]

expand_less
WordPress Archive MedicPress — Medical WordPress Theme for Clinics and Private Doctors Mediczop – Responsive WordPress Theme MediDove – Health & Medical WordPress Theme Medific – Medical Elementor Template Kit Medify – Health & Clinic WordPress Theme Mediguss – Medical WordPress Theme MediKit – Medical Template Kit Mediko – Health Medical WordPress Theme Medikor – Medical Healthcare Elementor Template Kit Mediku – Health Medical Elementor Template Kit