Dari Piring Kecil, Perjuangan Panjang Palembang Melawan Stunting
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 1 menit yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto :ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DI sebuah Posyandu di Kecamatan Sako, Palembang, perjuangan melawan stunting tidak selalu terlihat dalam bentuk program besar. Kadang, hadir dalam sesuatu yang jauh lebih sederhana, misalnya makanan yang disiapkan untuk seorang anak.
Di Posyandu Wijaya Kusuma, Jalan Swadaya Murni, Kecamatan Sako itu terihat, puluhan balita menerima makanan tambahan berbahan olahan ikan.
Tidak ada suasana yang terlihat dramatis. Hanya anak-anak, kader Posyandu, tenaga kesehatan, dan makanan yang disiapkan untuk mereka.
Namun dibalik pemandangan sederhana itu, ada persoalan besar yang sedang coba dijawab, sebab bagi seorang anak, makanan bukan hanya perkara kenyang. Apa yang masuk ke tubuhnya setiap hari ikut menentukan bagaimana ia tumbuh dan berkembang.
Cerita stunting di Palembang sendiri tidak berjalan dalam garis lurus. Data Pemerintah Kota Palembang yang bersumber dari Dinas Kesehatan mencatat prevalensi stunting sebesar 16,1 persen pada 2021. Angka itu turun menjadi 14,3 persen pada 2022, kemudian kembali naik menjadi 18,9 persen pada 2023.
Pada 2024, angkanya turun menjadi 10,6 persen. Penurunan tersebut membuktikan adanya perubahan, bahkan mengingatkan bahwa persoalan gizi anak tidak selesai hanya karena satu angka bergerak turun.
Sebab di balik persentase selalu ada anak, ada anak yang sedang tumbuh, keluarga yang sedang berusaha memenuhi kebutuhan gizi, serta kebiasaan makan yang dibentuk setiap hari di rumah.
Kementerian Kesehatan menempatkan 1.000 Hari Pertama Kehidupan sebagai periode penting dalam pencegahan stunting. Masa tersebut dimulai sejak kehamilan hingga anak berusia dua tahun, sehingga pemenuhan gizi tidak bisa menunggu sampai masalah pertumbuhan terlihat.
Ia dimulai jauh sebelumnya, dari makanan ibu selama kehamilan, asupan bayi, makanan pendamping ASI, hingga kebiasaan makan yang diperkenalkan kepada anak. Dari persoalannya ini ikan menjadi bagian menarik dari cerita.
Ketika Ikan Masuk ke Piring Anak
Bagi masyarakat Palembang, ikan bukan makanan yang asing. Ikan sudah lama menjadi bagian dari menu sehari-hari dan mudah ditemukan dalam berbagai olahan.
Namun dekat dengan ikan tidak selalu berarti anak otomatis menyukainya. Ada anak yang menolak karena bau. Ada yang tidak menyukai teksturnya. Ada pula yang belum terbiasa dengan bentuk atau cara penyajiannya.
Padahal ikan merupakan salah satu sumber protein hewani yang penting bagi pertumbuhan. Kementerian Kesehatan menyebutkan pangan hewani seperti ikan, telur, daging, dan susu berkaitan dengan pencegahan stunting pada anak usia 6-23 bulan.
Oleh sebab itu, persoalannya bukan hanya bagaimana menyediakan ikan, tetapi bagaimana membuat anak mengenal dan terbiasa mengonsumsinya.
Kebiasaan makan memang jarang terbentuk dalam satu kali pertemuan. Anak belajar dari makanan yang tersedia di rumah, dari apa yang dimakan orang tua, dari cara makanan disajikan, hingga pengalaman pertama ketika mencoba makanan tertentu.
Dengan itu pula, pemberian makanan tambahan di Posyandu tidak harus dilihat sebatas kegiatan membagikan makanan. Di dalamnya ada upaya memperkenalkan pilihan makanan bergizi dan membangun kebiasaan sejak anak masih kecil.
Dari Posyandu Wijaya Kusuma
Cerita itu berlangsung pada Kamis, 24 September 2026, sebanyak 67 balita di Posyandu Wijaya Kusuma menerima paket makanan tambahan berbahan olahan ikan melalui program Pemberian Makanan Tambahan Olahan Ikan pada Posyandu atau PAMTOIP 2026.
Program tersebut dibuka Ketua TP PKK Kota Palembang, Hj Dewi Sastrani. Namun jika cerita berhenti pada acara pembukaan, PAMTOIP hanya akan menjadi satu lagi berita kegiatan pemerintah: pejabat datang, program dibuka, makanan dibagikan, kemudian acara selesai.
Padahal pertanyaan yang lebih penting justru muncul setelah makanan itu dibawa pulang. Apakah anak menyukainya? Apakah orang tua tertarik membuat menu serupa di rumah? Apakah anak kemudian menjadi lebih terbiasa makan ikan?
Di situlah sebuah program makanan tambahan bisa memiliki makna yang lebih panjang. Pemerintah Kota Palembang telah memasukkan persoalan stunting sebagai bagian dari agenda pembangunan daerah.
Dalam dokumen perubahan RKPD 2025, prevalensi stunting menjadi salah satu indikator kinerja daerah dengan target 13,5 persen pada 2025 dan 13,3 persen pada 2026.
Pemkot juga menetapkan Keputusan Wali Kota Nomor 47 Tahun 2026 tentang pelaksanaan pemberian makanan tambahan penyuluhan di Pos Pelayanan Terpadu. Keputusan tersebut ditetapkan pada 23 Februari 2026 dengan Dinas Kesehatan sebagai pemrakarsa.
Artinya, makanan tambahan bukan hanya kegiatan yang muncul pada September. Ada kebijakan yang menjadi payungnya, Posyandu sebagai ruang pelayanan, kader sebagai penghubung, dan keluarga sebagai tempat paling menentukan keberlanjutan kebiasaan tersebut.
Angka Turun, Kebiasaan Harus Berjalan
Perjalanan angka stunting Palembang menjelaskan penurunan tidak selalu berlangsung mulus. Dari 16,1 persen pada 2021, prevalensinya turun menjadi 14,3 persen pada 2022. Setahun kemudian justru naik menjadi 18,9 persen sebelum kembali turun menjadi 10,6 persen pada 2024.
Angka tersebut memperlihatkan satu hal, yaitu menjaga tumbuh kembang anak merupakan pekerjaan yang tidak selesai dalam satu tahun.
Target bisa dibuat, program bisa diluncurkan, anggaran bisa disiapkan. Namun anak tetap membutuhkan makanan bergizi setiap hari.
Oleh sebab itu, pencegahan stunting pada akhirnya tidak hanya berlangsung di kantor pemerintahan atau Posyandu, karena ia juga berlangsung di dapur dan meja makan keluarga.
Pemerintah dapat menyiapkan program, selain itu tenaga kesehatan memberikan pengetahuan dan kader selanjutnya mendampingi masyarakat.
Tetapi ketika pintu rumah ditutup, keputusan kembali berada di tangan keluarga, apa yang diberikan kepada anak saat sarapan? Makanan apa yang tersedia ketika anak lapar, apakah anak dikenalkan dengan berbagai sumber protein? dan apakah ikan hanya hadir sesekali atau mulai menjadi bagian dari menu keluarga?
Namun kebiasaan makan seorang anak justru dibentuk dari keputusan-keputusan kecil yang terjadi berulang setiap hari.
Untuk membangun budaya makan ikan sejak dini menjadi bagian penting dari cerita PAMTOIP. Bukan hanya agar seorang anak mau menghabiskan makanan tambahan di Posyandu, tetapi agar makanan bergizi perlahan menjadi sesuatu yang akrab bagi mereka.
Perang yang Sebenarnya Ada di Rumah
Stunting kerap kali dibicarakan dalam bahasa angka, seperti persentase, target, indikator, dan capaian menjadi ukuran untuk melihat apakah sebuah daerah bergerak maju.
Semua itu penting, tapi angka tidak pernah tumbuh sendiri pasalnya dibaliknya ada seorang anak yang sedang tumbuh, seorang ibu yang memilih makanan, seorang ayah yang ikut menentukan apa yang tersedia di rumah, kader yang memantau perkembangan anak, serta tenaga kesehatan yang memberikan pendampingan.
Sehingga, tidak ada satu makanan yang bisa sendirian menjadi jawaban atas stunting. Ikan bukan obat. PAMTOIP juga bukan satu-satunya solusi.
Pencegahan stunting memang membutuhkan banyak hal, seperti makanan bergizi seimbang, kesehatan ibu dan anak, sanitasi, pola asuh, pemantauan pertumbuhan, serta akses terhadap pelayanan kesehatan.
Namun karena persoalannya besar, perubahan justru perlu dimulai dari hal-hal yang bisa dilakukan setiap hari, salah satunya dari makanan.
Dari Satu Piring Kecil
Perjuangan melawan stunting mungkin tidak selalu tampak seperti sebuah gerakan besar. Ia bisa dimulai dari seorang ibu yang mencari cara agar anaknya mau makan ikan. Dari kader Posyandu yang mengingatkan orang tua untuk memantau pertumbuhan selain itu dari tenaga kesehatan yang menjelaskan kebutuhan gizi dan dari pemerintah yang membuat program.
Dan dari satu piring makanan yang diletakkan di depan seorang anak, di Posyandu Wijaya Kusuma, 67 balita menjadi bagian dari cerita itu.
Mereka datang untuk menerima makanan tambahan. Namun harapan yang dibawa program tersebut sebenarnya lebih panjang dari satu kali pemberian makanan.
Harapannya adalah kebiasaan, sebab angka stunting dapat dicatat setiap tahun. Grafiknya bisa naik dan turun. Target bisa ditulis dalam dokumen pemerintah, tapi pertumbuhan seorang anak berlangsung setiap hari.
Dan di antara seluruh program, kebijakan, target, serta angka statistik itu, ada satu tempat yang akhirnya menjadi sangat menentukan, yaitu piring kecil di hadapan seorang anak karena sanalah perjuangan panjang melawan stunting benar-benar dimulai. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
