Langit Palembang Mulai Menghitam, Matahari Memerah, Serbuk Hitam Jatuh di Teras Rumah
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 30 menit yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : one
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Sore di Palembang, perlahan berubah ketika langit mulai kehilangan warna terangnya. Dari halaman rumah di kawasan Perum Pesona Harapan Jaya 1, RT 50, Jalan Azhari, perubahan itu mulai terlihat sekitar 15.49 WIB, Rabu (30/9/2026).
Awan menyelimuti langit, sebagian masih tampak terang, tetapi bagian lainnya berubah lebih gelap dan terlihat seperti tertutup kabut pekat. Belum ada kepastian apakah gumpalan awan tersebut akan berujung hujan. Namun, suasana sore mulai terasa berbeda, angin bergerak cukup kuat hingga membuat daun pisang bergoyang, disusul dedaunan tanaman di sekitar halaman.
Yang terasa justru bukan udara dingin, hawa panas seperti uap masih terasa di tubuh ketika angin berembus. Angin memang bergerak, tetapi sensasi hangat tetap menempel, dari tempat itu, langit yang semakin gelap membuat pandangan sore terasa tidak biasa.
Parit di Pinggir Perumahan Terlihat Kering
Tidak jauh dari lokasi rumah, kondisi lingkungan sekitar juga memperlihatkan tanda lain. Di sepanjang jalan utama Pesona Harapan Jaya 1, terdapat saluran atau parit yang cukup dalam, sekitar satu meter, yang menjadi salah satu pembatas kawasan perumahan.
Saat diamati sore itu, bagian dasar parit terlihat kering tanpa genangan air. Kondisi serupa juga tampak pada saluran-saluran air berukuran lebih kecil yang berada di sekitar rumah warga. Aliran air dari satu rumah ke rumah lainnya melalui saluran tersebut juga terlihat tidak mengalir.
Meski saluran air terlihat kering, kondisi tanaman di sekitar kawasan tidak semuanya tampak layu. Tanaman ubi kayu masih terlihat hijau, begitu pula rumput dan sejumlah pepohonan. Daun tanaman sawit dan karet yang terlihat di sekitar kawasan juga masih tampak hijau.
Pemandangan tersebut menjadi bagian dari kondisi yang terlihat langsung di sekitar lokasi pengamatan: saluran air tampak kering, sementara sebagian vegetasi masih mampu mempertahankan warna hijaunya.
Anak-anak Tetap Bermain di Tengah Sore yang Pengap
Di tengah suasana tersebut, kehidupan di sekitar perumahan tetap berjalan seperti biasa. Anak-anak belasan tahun masih rutin bermain bersama, meramaikan sore dengan suara-suara lantang dan canda tawa.
Hawa panas dan pengap yang terasa rupanya tidak membuat mereka berhenti beraktivitas. Dari kejauhan, suara anak-anak terdengar bersahut-sahutan, membuat suasana sore yang semula terasa muram menjadi lebih hidup. Salah seorang dari mereka, Arsyad, bahkan terdengar mengajak teman-temannya bermain bola. “Yo. Kito maen bola, dari botol Aqua plastik ini yuk,” kata Arsyad mengajak Wahyu, Adil, Aska, Acong dan teman-teman lainnya bermain bersama di sore itu.
Botol plastik bekas itu kemudian menjadi bagian dari permainan mereka. Di tengah langit yang mulai gelap dan udara yang terasa gerah, tawa anak-anak tetap terdengar. Pemandangan sederhana itu memberi warna berbeda pada sore tersebut. Ketika perhatian tertuju pada perubahan langit, angin dan udara yang terasa panas, anak-anak justru tetap sibuk dengan permainan mereka.
Serbuk Hitam Jatuh di Teras
Di tengah kondisi tersebut, muncul pula pemandangan lain. Serbuk-serbuk kecil berwarna hitam terlihat jatuh hingga mengotori lantai teras rumah. Bentuknya sekilas menyerupai serpihan tangkai kecil seperti bagian yang terbakar.
Belum diketahui dari mana material tersebut berasal, tidak bisa dipastikan apakah itu abu, serpihan tanaman, atau benda lain yang terbawa angin. Yang terlihat hanya butiran hitam tersebut muncul di lantai teras pada saat angin bergerak dan langit mulai berubah semakin pekat.
Kemunculan serbuk itu bersamaan dengan hawa panas yang masih terasa, daun pisang yang bergoyang dan awan yang perlahan tampak lebih gelap. Namun, pengamatan dari satu lokasi tersebut tentu belum cukup untuk menentukan sumber material maupun penyebab perubahan suasana udara.
Melintas Jalan Basuki Rahmat, Sejumlah Pengendara Bermasker
Pemandangan sore kemudian berlanjut ketika melintas di Jalan Basuki Rahmat, Palembang. Arus kendaraan masih berjalan. Kendaraan roda dua dan roda empat terlihat melintas seperti biasa. Namun, ada satu hal yang menarik perhatian, yakni sejumlah pengendara sepeda motor terlihat menggunakan masker. Pemandangan itu terlihat ketika udara masih terasa panas dan warna langit mulai berubah.
Alasan masing-masing pengendara menggunakan masker tidak diketahui. Bisa saja karena kebiasaan pribadi, perlindungan dari debu, kondisi udara, atau alasan lainnya. Oleh karena itu, yang dapat dicatat hanyalah apa yang terlihat di jalan, sejumlah pengendara memilih menggunakan masker ketika melintas, sementara langit di kejauhan semakin gelap.
BMKG Ungkap Kondisi Udara Sumsel, Asap Bisa Terbawa ke Palembang
Pemandangan tersebut menjadi semakin menarik jika disandingkan dengan informasi terbaru dari BMKG Sumatera Selatan. Dalam pembaruan 29 September 2026, BMKG menyampaikan masyarakat Sumsel sedang merasakan memburuknya kualitas udara seiring peningkatan karhutla di sejumlah daerah.
BMKG menjelaskan, kondisi curah hujan yang rendah dan penguapan yang tinggi membuat kelembapan tanah serta vegetasi menurun. Situasi tersebut membuat sejumlah wilayah menjadi lebih rentan terhadap kebakaran. BMKG juga mencatat jumlah hotspot Sumsel sempat mencapai 1.505 titik pada 27 September, kemudian turun menjadi 279 titik pada 28 September.
Yang menarik, BMKG Sumsel juga menyebutkan asap dari sejumlah wilayah seperti Tulung Selapan dan Pangkalan Lampam dapat terbawa menuju Palembang, mengikuti pola angin dari arah timur hingga selatan.
Informasi tersebut memberikan konteks terhadap kondisi udara yang terasa berbeda di Palembang, meski tetap tidak dapat digunakan untuk memastikan material hitam yang ditemukan di satu teras rumah berasal dari asap karhutla.
BMKG juga memperkirakan periode September hingga Oktober masih berpotensi mengalami hujan yang sporadis, singkat, ringan, dan belum merata, sementara musim hujan diperkirakan mulai sekitar November.
Kemenhut Catat 266 Hotspot di Sumsel
Data terbaru juga datang dari Kementerian Kehutanan dilaman resminya mengatakan berdasarkan pemantauan SiPongi hingga Selasa 29 September 2026 pukul 21.10 WIB, secara nasional terdeteksi 893 hotspot high confidence, meningkat dari 365 titik pada pemantauan sehari sebelumnya.
Khusus Sumatera Selatan, terdeteksi 266 hotspot, meningkat dibandingkan 96 titik pada pemantauan sebelumnya. Sumsel menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian dalam pengendalian karhutla, karena jumlah hotspot-nya termasuk yang tertinggi di antara enam provinsi prioritas. Tim di lapangan juga melakukan pengecekan untuk memastikan kondisi aktual dan menentukan respons yang diperlukan.
Namun, angka tersebut tidak bisa langsung diterjemahkan sebagai jumlah kejadian kebakaran. Kementerian Kehutanan menjelaskan hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit, antara lain melalui NASA Terra/Aqua, SNPP dan NOAA-20. Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot sehingga seluruh indikasi tetap membutuhkan verifikasi lapangan.
Oleh karen itu, data hotspot tersebut belum cukup untuk memastikan serbuk hitam yang jatuh di teras rumah berasal dari karhutla. Begitu pula penggunaan masker oleh sejumlah pengendara di Jalan Basuki Rahmat tidak bisa langsung disimpulkan sebagai akibat asap tanpa pengukuran kualitas udara tepat di lokasi tersebut.
Sekitar Pukul 17.00 WIB, Matahari Memerah
Memasuki sekitar pukul 17.00 WIB, suasana langit kembali berubah. Matahari yang semakin rendah di ufuk terlihat berwarna merah. Cahayanya tampak lebih redup dan kemerahan di tengah langit yang mulai gelap.
Awan pekat terlihat mengelilingi sebagian pandangan, dimana masih ada cahaya matahari menjelang petang, tetapi warna gelap semakin dominan, suasana sore terlihat seperti tertutup lapisan udara berkabut.
Warna merah matahari itu juga tidak bisa langsung disimpulkan sebagai akibat asap. Posisi matahari yang semakin rendah menjelang terbenam memang dapat membuat cahaya terlihat lebih kemerahan, sementara kondisi atmosfer dapat memengaruhi bagaimana cahaya tersebut terlihat dari permukaan bumi. Yang terlihat sore itu sederhana, yaitu matahari memerah di balik langit yang semakin gelap.
Selepas Magrib, Langit Makin Pekat

foto : one
Perubahan belum berhenti ketika sore berganti malam, selepas Magrib, langit yang terlihat dari tempat tersebut semakin gelap. Mendung tampak menggantung di atas pandangan, memberikan kesan seolah hujan tinggal menunggu waktu.
Dari lingkungan perumahan, langit malam terlihat pekat di atas atap-atap rumah. Cahaya lampu jalan dan rumah warga menjadi penerangan yang terlihat di antara pepohonan dan bangunan sekitar.
Tidak ada kepastian apakah mendung tersebut akan benar-benar membawa hujan. Yang terlihat hanya langit yang semakin gelap setelah sejak sore menunjukkan perubahan warna dan bentuk awan.
Sore yang Menyisakan Tanda Tanya
Dari 15.49 WIB hingga selepas Magrib, pemandangan berubah sedikit demi sedikit. Awan yang semula sebagian terang mulai tampak gelap. Angin membuat daun pisang dan dedaunan bergoyang.
Hawa panas masih terasa ketika angin menyentuh tubuh. Saluran air di sekitar perumahan terlihat kering, sementara tanaman ubi kayu, rumput, sawit dan karet masih tampak hijau.
Di tengah suasana itu, anak-anak belasan tahun tetap bermain bersama. Suara canda tawa dan ajakan bermain bola terdengar meramaikan sore, seolah panas dan pengap yang terasa tidak menghalangi mereka beraktivitas.
Serbuk kecil berwarna hitam juga jatuh hingga mengotori lantai teras rumah. Saat melintas di Jalan Basuki Rahmat, sejumlah pengendara sepeda motor terlihat menggunakan masker. Sekitar pukul 17.00 WIB, matahari tampak merah menjelang petang. Kemudian selepas Magrib, langit semakin gelap dan mendung masih menggantung di atas pandangan.
Semua pemandangan itu terjadi dalam rentang waktu yang sama, tetapi belum cukup untuk memastikan apa sebenarnya yang sedang terjadi pada kondisi udara dan cuaca di titik tersebut. Data BMKG memberikan konteks mengenai kondisi kemarau, hotspot, dan kemungkinan pergerakan asap menuju Palembang, sementara data Kementerian Kehutanan menunjukkan adanya peningkatan hotspot di Sumatera Selatan. Namun, kedua data tersebut tidak otomatis menjelaskan setiap fenomena yang terlihat dari satu lokasi.
Yang jelas, sore itu langit Palembang memperlihatkan banyak tanda yang membuat orang memilih menengadah dan memperhatikan. Awan menghitam, angin bergerak, hawa panas masih terasa, saluran air mengering, vegetasi masih hijau, anak-anak tetap bermain, serbuk hitam jatuh di teras, matahari memerah, dan selepas Magrib langit semakin pekat.
Tinggal satu yang masih menjadi tanda tanya, apakah hujan akan benar-benar turun, atau malam hanya berlalu dengan langit yang tetap gelap? Ya, semoga Allah SWT segera menurunkan hujan untuk Palembang. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
