Sabtu, 19 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Catatan-Kaki Bukit » Bagaimana Jika Banyak Sarjana Ciptakan Lapangan Kerja untuk Bangun Desanya Sendiri?

Bagaimana Jika Banyak Sarjana Ciptakan Lapangan Kerja untuk Bangun Desanya Sendiri?

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Sabtu, 22 Agt 2026
  • visibility 21
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

SUMSELTERKINI.CO.ID –  Sabtu malam ini, saya sengaja membuka situs Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) dilayar komputer, dan membaca berita tentang wisuda Universitas Tridinanti Palembang dihadiri Wakil Gubernur Sumsel H. Cik Ujang, Sabtu (22/8/2026). Ada satu pesan dalam sambutannya, yang membuat saya berpikir tentang sarjana, lapangan kerja dan pembangunan desa.

Di situ Cik Ujang mengingatkan para wisudawan, agar tidak hanya menjadi job seeker, tetapi mampu menjadi job creator. Setelah lulus, para sarjana diharapkan bukan hanya mencari pekerjaan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja.

Pesan yang dilontarkan itu tentunya sangat positif, bahkan enak di dengar, tetapi kemudian membuat saya berpikir lebih jauh lagi, dan bertanya dibenak sendiri, bagaimana jika sarjana menciptakan lapangan kerja untuk membangun desanya sendiri? karena dari sekian ratus bahkan ribu yang di sudah itu, mereka itu ada sebagian yang berasal dari desa.

Selama ini kita seperti terbiasa melihat keberhasilan seorang anak desa dari seberapa jauh ia pergi. Setelah sarjana, mencari pekerjaan di Palembang. Kalau belum mendapat yang cocok, mencoba Jakarta atau kota besar lainnya.

Merantau tentu bukan sesuatu yang salah, hal itu sangat sah, siapa saja bisa melakukannya. Apalagi, anak muda memang perlu mencari pengalaman, memperluas wawasan dan membangun jaringan.

Namun, ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan, yaitu seandainya semua anak muda yang berpendidikan tinggi pergi, siapa yang akan membangun desa?

Pertanyaan itu membuat saya penasaran. Apakah persoalan anak muda meninggalkan daerah asal untuk mencari kesempatan kerja di kota besar hanya terjadi di daerah kita, atau juga terjadi di negara lain?

Saya kemudian mencoba mencari tahu lewat sejumlah media online dari negara lain. Salah satunya Korea Selatan (Korsel).

Dari penelusuran itu, saya menemukan pemberitaan Financial News Korea yang mengutip data Statistics Korea (KOSTAT), lembaga statistik nasional Korsel, kira-kira posisinya seperti BPS di Indonesia.

KOSTAT memiliki laporan Recent 20 Years of Population Movement to the Capital Region membahas pola perpindahan penduduk menuju kawasan ibu kota dalam dua dekade terakhir.

Salah satu hal yang menarik perhatian saya adalah kelompok usia mudanya. Menurut data yang diberitakan Financial News, kelompok usia 19–34 tahun terus mengalami arus masuk bersih ke kawasan metropolitan Korsel. Pada 2024, arus masuk bersih kelompok usia tersebut mencapai sekitar 60 ribu orang

Bahkan, pemberitaan media Korsel kemudian membuat persoalan itu semakin jelas. Anak muda bukan hanya berpindah tempat tinggal. Mereka juga mengikuti kesempatan kerja, pendidikan dan aktivitas ekonomi yang lebih terkonsentrasi di kawasan ibu kota.

Jadi, rupanya persoalan anak muda meninggalkan daerah untuk mengejar pekerjaan di kota besar bukan hanya cerita dari kampung-kampung kita. Korsel pun demikian menghadapi persoalan serupa.

Yang menarik lagi, bagi saya kemudian bukan hanya datanya, tetapi bagaimana mereka merespons persoalan itu.

Pada 2026, pemerintah Korsel memilih 10 komunitas baru dalam program Youth Villages. Program ini mendorong anak muda mengembangkan kegiatan di daerah, menciptakan peluang kerja lokal dan membangun ruang komunitas.

Pesannya juga, anak muda tidak cukup hanya diminta jangan pergi. Harus ada alasan bagi mereka untuk tinggal atau suatu hari kembali.

Indonesia Juga Menghadapi Persoalan yang Sama

Ternyata pertanyaan semacam itu juga bukan sesuatu yang asing di Indonesia. Pada Desember 2024, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto menyoroti persoalan sarjana yang enggan kembali ke desa.

Dalam laporan detik.com, Yandri menyampaikan ada sarjana yang lebih memilih menganggur di kota daripada kembali ke desa.

Kalimat itu menarik perhatian saya, sebab masalahnya bukan semata-mata apakah anak muda mau pulang atau tidak. Pertanyaan yang lebih pentingnya adalah apa yang bisa mereka lakukan ketika pulang?

Di dalam negeri sebenarnya sudah ada contoh bagaimana pengetahuan perguruan tinggi dibawa kembali ke masyarakat desa.

Institut Pertanian Bogor atau IPB University memiliki program Dosen Pulang Kampung (Dospulkam). Program ini mempertemukan dosen, mahasiswa dan masyarakat lokal untuk membawa pengetahuan, inovasi dan keahlian perguruan tinggi ke desa.

Menurut laporan IPB juga, program Dospulkam 2024 menjangkau 75 desa di 12 provinsi, dengan melibatkan 314 dosen dan 150 mahasiswa. Kegiatannya antara lain, berupa pelatihan, pendampingan dan penerapan inovasi sesuai persoalan serta potensi masing-masing desa.

Bahkan bentuknya sangat konkret, pasalnya di Desa Girijaya, Sukabumi, misalnya, kegiatan Dospulkam digunakan untuk membantu mengembangkan potensi wisata desa melalui perencanaan dan pemasaran digital. Sementara di tempat lainnya, dosen IPB membantu masyarakat memanfaatkan limbah pertanian menjadi pakan ternak.

Program itu memang bukan persis gambaran sarjana yang pulang lalu menetap di kampung. Tetapi ada satu hal penting yang bisa kita lihat yaitu, bagaimana ilmu dari perguruan tinggi ternyata bisa dibawa kembali ke desa dan digunakan untuk menyelesaikan persoalan nyata.

Artinya, gagasan tentang orang berpendidikan tinggi yang kembali memberi manfaat bagi daerah bukan sesuatu yang mengawang-awang.

Tentu dengan melihat hal itu, ternyata di Indonesia, sudah ada contohnya, tinggal bagaimana gagasan itu makin diperluas sehingga nantinya membuat sarjana -sarjana kita memiliki kesadaran.

Bagaimana Kalau 20 Sarjana Pulang?

Sekarang mari kita beradai-andai, misalnya di suatu kampung, ada 20 orang sarjana yang suatu hari memilih untuk kembali ke kampungnya setelah menempuh pendidikan dan mendapatkan pengalaman di kota.

Bidangnya pun berbeda-beda, ada sarjana teknik sipil, pertanian, ekonomi, teknologi informasi, pendidikan, peternakan, perikanan, hukum, komunikasi, manajemen dan bidang lainnya.

Mereka tidak harus semuanya menjadi pengusaha. Mereka cukup membawa ilmu masing-masing dan melihat kampung dengan cara yang berbeda. Sarjana teknik mungkin melihat jalan, jembatan dan irigasi yang perlu dibenahi. Sarjana pertanian melihat hasil panen yang selama ini dijual mentah. Sarjana ekonomi melihat usaha kecil yang sebenarnya bisa berkembang tetapi belum dikelola dengan baik.

Selain itu, sarjana teknologi melihat peluang pemasaran melalui internet. Sarjana komunikasi membantu produk kampung dikenal lebih luas, dan yang lain mungkin melihat peluang peternakan, perikanan, pendidikan, wisata atau usaha baru yang selama ini belum terpikirkan.

Satu sarjana mungkin hanya mampu membuat satu perubahan kecil. Tetapi jika 20 sarjana dengan ilmu yang berbeda, bekerja untuk kampung yang sama, tentunya bisa menghasilkan perubahan yang jauh lebih besar.

Tidak harus langsung membangun perusahaan besar. Satu usaha tumbuh, membutuhkan beberapa pekerja. Usaha lain menyusul, produk kampung mulai menemukan pasar dan uang berputar lebih banyak di dalam kampung.

Bahkan pelan-pelan, anak muda lain mungkin mulai melihat bahwa masa depan tidak selalu berada di kota. Di sinilah makna job creator menjadi lebih menarik.

Sebab, menciptakan lapangan kerja tidak harus selalu lahir dari kota. Lapangan kerja bisa lahir dari kampung, dari orang yang mengenal persoalan kampungnya sendiri dan memiliki ilmu untuk mencari jalan keluarnya.

Sumatera Selatan Punya Modal

Nah, gagasan ini bisa juga diterapkan Sumsel, apalagi potensinya sudah ada. Data BPS Sumsel menyebutkan pada Mei 2026 terdapat sekitar 4,42 juta penduduk bekerja. Sektor pertanian, kehutanan dan perikanan menyerap sekitar 2,07 juta orang atau 46,81 persen dari penduduk bekerja. Pada periode yang sama, Tingkat Pengangguran Terbuka Sumsel tercatat 3,60 persen.

Angka itu menunjukkan sektor yang berbasis di daerah dan desa masih mempunyai peran besar dalam kehidupan ekonomi Sumsel. Apalagi Sumsel juga punya sawah, perkebunan, sungai, perikanan, peternakan, hasil hutan, budaya dan berbagai potensi lokal.

Persoalannya sering kali bukan karena kita tidak punya sumber daya. Kita hanya belum cukup banyak memiliki orang yang mampu mengubah sumber daya itu menjadi nilai tambah.

Oleh sebab itu, sarjana bisa mengambil perannya dalam pembangunan desa dan ekonomi lokal. Misalnya, sarjana pertanian bisa membantu meningkatkan produktivitas dan mencari pasar.

Sarjana ekonomi bisa membantu usaha masyarakat berkembang lebih sehat. Sarjana teknologi bisa membawa produk desa ke pasar digital. Sarjana teknik bisa ikut memikirkan infrastruktur.

Bahkan yang lain bisa bergerak di pendidikan, kesehatan, peternakan, perikanan, pariwisata atau bidang lain yang memang dibutuhkan masyarakat. Ilmu yang diperoleh di perguruan tinggi seharusnya tidak berhenti di ijazah. Ia harus menemukan tempat untuk bekerja di tengah masyarakat.

Jangan Sampai Desa Hanya Menjadi Tempat Asal

Mungkin sudah waktunya kita mengubah cara memandang keberhasilan. Selama ini anak desa yang berhasil sering dianggap berhasil ketika ia mampu pergi jauh, mendapatkan pekerjaan bagus dan menetap di kota.

Tidak ada yang salah dengan itu, tetapi bagaimana jika keberhasilan juga berarti ketika seseorang mampu kembali dan membuat sesuatu di kampungnya?

Membuka usaha, membantu petani, menciptakan pekerjaan, mengembangkan produk lokal. Selain itu bisa mengajari anak-anak desa. Membangun koperasi, mengembangkan wisata, atau pun membawa teknologi dan cara berpikir baru yang membuat masyarakat bekerja lebih baik.

Pulang tidak selalu berarti gagal bersaing di kota. Bisa jadi pulang adalah tanda seseorang ingin menggunakan hasil perjalanannya untuk sesuatu yang lebih besar. Oleh karena itu, pesan agar sarjana menjadi job creator menurut saya bisa dibaca lebih luas.

Apalagi, bukan cuma menjadi pengusaha, melainkan  menjadi orang yang mampu menciptakan kesempatan. Dan kesempatan itu tidak selalu harus dicari di kota. Barangkali ada di kampung sendiri.

Pergilah jika memang harus pergi, dan belajarlah, cari pengalaman, serta bangun jaringan, kenali juga dunia yang lebih luas. Tetapi jangan lupa jalan pulang.

Sebab, di kampung mungkin ada lahan yang menunggu diolah, hasil pertanian yang menunggu diberi nilai tambah, usaha kecil yang menunggu dikembangkan, anak-anak yang membutuhkan ilmu dan anak muda yang membutuhkan kesempatan.

Jangan sampai pendidikan hanya membuat anak-anak desa pintar meninggalkan desanya. Pendidikan juga seharusnya membuat mereka mampu kembali dan membangunnya.

Sebab endingnya sebenarnya sederhana, jika bukan mereka yang pulang dan membangun kampungnya, lantas siapa? (***)

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • KRI Wahidin Menuju 4 Negara Pasifik, Bawa 1.000 Paket Bantuan

    KRI Wahidin Menuju 4 Negara Pasifik, Bawa 1.000 Paket Bantuan

    • calendar_month Senin, 14 Sep 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 7
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID – Sebanyak 1.000 paket bantuan bahan natura ikut dibawa KRI dr. Wahidin Sudirohusodo-991 dalam pelayaran menuju kawasan Pasifik Selatan. Kapal TNI AL tersebut tidak hanya membawa ratusan personel, tetapi juga menjalankan misi kesehatan, kemanusiaan, dan diplomasi. KRI Wahidin resmi diberangkatkan dari Dermaga 106 Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (14/9/2026). Kapal ini akan menempuh pelayaran […]

  • “Ketika Desain Jadi Jalan Menuju Indonesia yang Tak Cuma Maju Tapi Juga Nggak Ngenes”

    “Ketika Desain Jadi Jalan Menuju Indonesia yang Tak Cuma Maju Tapi Juga Nggak Ngenes”

    • calendar_month Kamis, 24 Jul 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 600
    • 0Komentar

    INDONESIA baru saja meluncurkan logo baru untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-80. Bentuknya unik angka 8 dan 0 saling terkait membentuk simbol tak hingga atau dalam bahasa anak desain infinity. Indah, filosofis nian katanya melambangkan kesatuan abadi. Tapi… di tengah gemerlap simbol itu, mari kita duduk sebentar, tarik napas dalam-dalam, lalu merenung (pakai sandal jepit […]

  • Cara Muba Dorong Kegiatan Inovasi 227 TP PKK Desa

    Cara Muba Dorong Kegiatan Inovasi 227 TP PKK Desa

    • calendar_month Rabu, 7 Apr 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.056
    • 0Komentar

    PEMERINTAH Kabupaten Musibanyuasin [Muba] memberi perhatian khusus kepada 227 Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK)   di desa melalui Alokasi Dana Desa Kabupaten Tahun Anggaran 2021. Bantuan untuk TP PKK desa ini diserahkan secara simbolis oleh Bupati Musi Banyuasin Dr H Dodi Reza Alex Noerdin melalui Sekretaris Daerah Kabupaten Muba Drs H Apriyadi MSi pada […]

  • 57 x Tilang & 23 x Teguran di Operasi Zebra Musi 2019 di Banyuasin Hari ke III, Begini Kesimpulannya Menurut Polres Banyuasin

    57 x Tilang & 23 x Teguran di Operasi Zebra Musi 2019 di Banyuasin Hari ke III, Begini Kesimpulannya Menurut Polres Banyuasin

    • calendar_month Sabtu, 26 Okt 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 797
    • 0Komentar

    JAJARAN Kepolisian Resort [Polres] Kabupaten kemarin melaksanakan Operasi Zebra Musi 2019, dalam operasi tersebut masih banyak ditemukan pelanggaran. Operasi yang diadakan di Jalintim Palembang-Betung Km 12, Kecamatan Talang Kepala, Banyuasin tersebut, Polres melakukan tilang sebanyak 57 kali dan 23 kali teguran. Kanit Turjawali Sat Lantas Banyuasin Iptu Jimmy mengatakan, hasil kegiatan operasi zebra, Jajaran Sat […]

  • Platform Digital Wajib Bayar Media, Publik Tetap Dapat Berita Akurat

    Platform Digital Wajib Bayar Media, Publik Tetap Dapat Berita Akurat

    • calendar_month Jumat, 20 Feb 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 105
    • 0Komentar

    PEMERINTAH Indonesia memperkuat perlindungan terhadap industri media nasional melalui kebijakan baru yang mewajibkan platform digital global membayar kompensasi bagi media lokal yang karyanya dimanfaatkan. Langkah ini bertujuan menjaga keberlanjutan ruang redaksi sekaligus memastikan masyarakat tetap menerima informasi yang akurat dan terverifikasi. Kebijakan ini lahir di tengah kekhawatiran bahwa banjir konten digital dari platform internasional sering […]

  • Daerah Zona Merah Berlakukan Pembelajaran Jarak Jauh (Daring) 100%

    Daerah Zona Merah Berlakukan Pembelajaran Jarak Jauh (Daring) 100%

    • calendar_month Minggu, 20 Jun 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 868
    • 0Komentar

    UNTUK mengantisipasi lonjakan kasus COVID-19, kegiatan belajar mengajar pada daerah zona merah akan berlangsung melalui Pembelajaran Jarak Jauh atau daring 100%. Sedangkan untuk daerah berstatus zona kuning dan oranye akan menunggu keputusan Kementerian Pendidikan, Riset dan Teknologi. Keputusan ini berdasarkan Inmendagri No. 13/2021 tentang PPKM Skala Mikro Tahap 10 yang berlangsung 15-28 Juni 2021. Untuk […]

expand_less
WordPress Archive Otaru – Technology & Digital Agency WordPress Theme Otello – Personal Blog and Magazine WordPress Theme Otmil – Diet & Clean Food Catering Services Elementor Template Kit Otowash – Car Washing & Cleaning Services Elementor Template Kit OTT Platform & Video Streaming WordPress Theme with AI OuiOui - Multi Vendor MarketPlace Elementor WooCommerce Theme Our Mission – Charity WordPress Theme Out Of Stock Product Reservation for WooCommerce Out-of-the-Box | Dropbox plugin for WordPress Outdoor – Creative Photography / Portfolio WordPress Theme