Catatan-Kaki Bukit

Usia 80 Tahun, Sumsel Belum Pensiun

ist

Di saat banyak yang mulai cari kursi goyang, Sumsel justru masih sibuk kejar target

MEMASUKI usia ke 80 tahun biasanya manusia itu mulai akrab dengan ‘wedangan’ teh hangat tanpa gula, pokoknya mengurangi dari rasa manis-manis dan lemak yang bikin kalestrol tinggi.

Jadwal cek tekanan darah, sudah dilingkari tanggalnya di kelender, bahkan anak dan cucu sering patroli agar tak begadang dan salah makan.

Tapi di usia yang sudah delapan dekade, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) justru masih sibuk mengejar pertumbuhan ekonomi, menekan angka kemiskinan, dan memburu berbagai capaian pembangunan dan mengoleksi penghargaan seperti peserta (Anak-anak) lomba tujuh belasan yang tak mau pulang sebelum dapat piala.

Suasana itu terasa dalam Rapat Paripurna DPRD Sumsel memperingati Hari Jadi ke-80 Provinsi Sumsel di Gedung DPRD Sumsel, Senin (18/5/2026).

Gubernur Sumsel H. Herman Deru bersama Wakil Gubernur H. Cik Ujang hadir di ruang sidang yang siang itu dipenuhi nuansa refleksi, tetapi juga optimisme.

Di hadapan anggota dewan dan tamu undangan, Herman Deru mengingatkan ulang tahun daerah bukan hanya acara seremonial dengan pidato formal dan tepuk tangan basa-basi. Menurutnya, usia 80 tahun menjadi momen penting untuk melihat kembali perjalanan panjang Sumsel sekaligus membaca arah masa depan.

“Di usia yang semakin matang, Sumsel memiliki modal besar berupa sejarah, budaya, serta kekayaan sumber daya alam yang luar biasa untuk terus berkembang dan bersaing di tingkat nasional,” ujar Herman Deru.

Kalimat itu terdengar seperti nasihat seorang ayah kepada anaknya. Santai, tetapi penuh pesan. Dan memang, di usia 80 tahun, Sumsel seolah sedang menunjukkan daerah ini tidak cukup hanya hidup dari romantisme masa lalu. Nama besar sejarah tanpa pembangunan nyata hanya akan jadi pajangan di lemari kenangan.

Yang membuat pidato itu terasa “berisi” bukan Cuma  kata-kata optimistis, tetapi angka-angka yang ikut berbicara.

Pada tahun 2025, pertumbuhan ekonomi Sumsel mencapai 5,35 persen dan menjadi tertinggi kedua di Pulau Sumatera. Angka itu bukan hanya statistik dingin di atas kertas rapat. Di tengah situasi ekonomi global yang masih sering batuk-batuk, capaian tersebut menjadi sinyal bahwa dapur ekonomi Sumsel masih mengepul.

Memang belum level “lari maraton sambil angkat barbel”, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa mesin pembangunan daerah ini belum kehabisan bensin.

Tak hanya soal pertumbuhan ekonomi, pemerintah provinsi juga menyoroti penurunan angka kemiskinan. Per September 2025, persentase kemiskinan Sumsel berada di angka 9,85 persen. Sementara kemiskinan ekstrem berhasil ditekan menjadi 0,76 persen, lebih baik dibanding capaian nasional sebesar 0,85 persen.

Angka bicara

Di dunia birokrasi, angka kadang lebih jujur daripada slogan, pasalnya spanduk bisa dicetak besar, baliho bisa dipasang di mana-mana, tetapi data sulit diajak berbohong terlalu lama.

Karena itu, capaian yang disampaikan Herman Deru dalam rapat paripurna tersebut setidaknya memberi gambaran pembangunan di Sumsel tidak hanya sibuk berhenti di meja seremoni.

Dan menariknya, gaya Herman Deru dalam menyampaikan capaian daerah sering kali tidak terdengar terlalu kaku. Ada nuansa optimisme yang dibungkus bahasa sederhana. Seolah ingin mengatakan pembangunan bukan urusan elite semata, melainkan sesuatu yang harus terasa sampai ke warung kopi, pasar tradisional, hingga dapur rumah warga.

Di usia 80 tahun ini, Sumsel tampaknya juga sedang menikmati tahapan yang menarik, apalagi sudah usia lanjut alias cukup tua dan punya pengalaman, namun belum kehilangan tenaga untuk mencoba hal baru.

Hal itu terlihat dari banyaknya penghargaan yang diraih Pemerintah Provinsi Sumsel sepanjang 2025 hingga awal 2026. Mulai dari bidang pembangunan daerah, inovasi pemerintahan, pelayanan kesehatan, ketahanan pangan, keterbukaan informasi publik, reformasi birokrasi, digitalisasi daerah, hingga pengentasan kemiskinan dan stunting.

Kalau semua penghargaan itu dipajang sekaligus, mungkin dinding kantor pemerintah harus mulai tambah rak baru.

Namun dibalik deretan penghargaan tersebut, tantangan tentu belum selesai lantaran masyarakat biasanya tidak terlalu peduli dengan berapa banyak trofi yang dipajang kalau jalan –jalannya masih rusak, harga kebutuhan pokok naik, atau lapangan kerja terasa sempit.

Di situlah pentingnya menjaga pola pembangunanm agar tidak hanya bagus dalam laporan, tetapi juga terasa dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya.

HUT ke-80 Sumsel akhirnya bukan hanya soal bertambahnya usia administratif sebuah provinsi.

HUT itu menjadi semacam pengingat bahwa daerah ini juga punya “fase hidup”. Ada masa membangun pondasi, ada masa bertahan menghadapi krisis, dan ada masa membuktikan diri di tengah persaingan, dan Sumsel tampaknya ingin masuk ke fase terakhir itu.

Sebab di usia yang tidak lagi muda, provinsi ini belum terlihat ingin duduk santai sambil mengenang masa lalu. Sumsel masih ingin bergerak, berbenah, dan sesekali membuktikan bahwa daerah di luar Jawa pun bisa tumbuh cepat tanpa kehilangan identitasnya.

Kalau diibaratkan manusia, Sumsel saat ini mungkin seperti orang tua yang belum mau pensiun karena merasa tenaganya masih kuat, pengalamannya masih dibutuhkan, dan mimpinya belum selesai.

Barangkali, itu bukan sikap yang buruk untuk sebuah daerah yang baru saja menginjak usia 80 tahun.

Sebab, usia itu memang hanya angka saja, namun yang paling penting bagaimana dapat menentukan arah sebuah daerah, bukan seberapa tua usianya, melainkan seberapa besar kemauannya untuk terus bergerak.

Di usia 80 tahun ini, Sumsel tampaknya belum ingin hanya  dikenang sebagai provinsi dengan sejarah panjang dan kekayaan alam melimpah. Daerah ini sedang mencoba membuktikan bahwa pembangunan tidak boleh ikut menua.

Karena bagi sebuah daerah, yang paling berbahaya bukan bertambah usia, melainkan kehilangan semangat untuk melangkah. (***)

 

 

To Top