Green SM Masuk Palembang, Jangan Baru Datang Sudah Dipaksa Sempurna
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 2 menit yang lalu
- visibility 2
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Ada satu hal yang sering kita lupa ketika melihat sesuatu yang baru.
Barang baru hampir tidak pernah langsung sempurna. Selalu ada yang harus diperbaiki, disesuaikan, bahkan diuji berkali-kali sebelum benar-benar matang. Begitu juga dengan transportasi.
Taksi listrik Green SM yang baru hadir di Palembang tentu tidak bisa dilepaskan dari pertanyaan, kritik dan pengawasan. Justru karena masih baru, semua pihak punya alasan untuk bertanya, apakah sistemnya sudah siap, aturannya sudah lengkap dan infrastrukturnya sudah mampu mendukung?
Green SM menyatakan mulai hadir di Palembang sejak Juli 2026 lalu, dan menyiapkan 200 unit armada. Pemerintah Kota Palembang sejak awal juga melihat kehadiran ini sebagai peluang investasi, tetapi tetap mengingatkan aspek teknis, administrasi dan keselamatan harus dipenuhi, termasuk kewajiban uji KIR.
Jadi kalau kemudian muncul polemik, sebenarnya tidak perlu terlalu heran. Sesuatu yang baru memang biasanya membawa dua hal sekaligus, yaitu harapan dan kecurigaan.
Sebab, ada yang melihatnya sebagai wajah baru transportasi kota. Ada pula yang bertanya apakah semuanya benar-benar sudah siap.
Menurut saya, dua-duanya sah saja. Yang tidak sehat justru kalau kita hanya memilih salah satunya.
KIR Harus Beres, Itu Bukan Perdebatan
Mari, kita mulai dari hal paling sederhana. Kalau kendaraan angkutan umum wajib memenuhi persyaratan teknis dan keselamatan, maka persyaratan itu memang harus dipenuhi.
Tidak ada alasan, karena kendaraannya listrik kemudian standar keselamatan boleh longgar. Justru karena ini kendaraan baru dan membawa model transportasi baru, pengawasannya harus lebih jelas.
Kalau persoalan KIR memang masih menjadi kendala, pemerintah melalui Dinas Perhubungan perlu menjelaskan duduk persoalannya secara terbuka. Jadi, apa yang belum selesai?
Apakah persoalannya kendaraan, alat pengujian, administrasi atau mekanisme lainnya? Berapa lama penyelesaiannya? Dan kapan masyarakat mendapatkan kepastian? Pertanyaan seperti ini jauh lebih sehat daripada saling melempar pernyataan.
Sebab masyarakat Palembang bukan hanya membutuhkan taksi baru. Masyarakat membutuhkan transportasi yang aman, tertib dan jelas aturannya.
Tapi Jangan Pula Investasi Baru Langsung Dipukul Mundur
Dibagian lain, kita juga harus hati-hati. Jangan sampai kritik terhadap persoalan teknis kemudian berubah menjadi kesan Palembang tidak ramah terhadap inovasi dan investasi.
Sebenarnya Green SM juga setidaknya membawa sesuatu yang berbeda. Mobil listrik yang berseliweran di jalan Palembang bukan hanya soal taksi. Ada teknologi baru yang mulai diperkenalkan kepada masyarakat secara langsung.
Warga yang selama ini mungkin hanya melihat kendaraan listrik dari internet atau media sosial, sekarang bisa melihatnya setiap hari di jalan. Dari sana muncul pertanyaan yang justru penting. Bagaimana biaya operasionalnya?, bagaimana perawatannya? dan bagaimana pengisian dayanya? serta apakah infrastrukturnya siap?
Dan apakah transportasi listrik benar-benar bisa menjadi bagian dari solusi persoalan mobilitas kota? Pertanyaan itu bukan bentuk penolakan, malah sebaliknya, dan itu adalah cara sebuah kota untuk belajar.
Shenzhen Sudah 99 Persen, Tapi Ada Pelajaran Penting
Kalau Palembang ingin melihat contoh kota yang sudah jauh lebih dulu menjalankan taksi listrik, Shenzhen di China bisa menjadi salah satu cermin.
Bukan untuk ditiru mentah-mentah, tetapi untuk kita bisa pelajari. South China Morning Post (SCMP) pada Januari 2019 melaporkan sekitar 99 persen dari 21.689 taksi di Shenzhen sudah menggunakan tenaga listrik. Padahal setahun sebelumnya, masih ada sekitar 7.500 taksi berbahan bakar bensin yang beroperasi di kota tersebut.
Angkanya memang luar biasa. Tetapi ada bagian lain yang justru lebih menarik.
Laporan TechCrunch pada Januari 2019 menyebutkan juga sekitar 1.350 kendaraan listrik Shenzhen masih menunggu untuk dikerahkan karena keterbatasan stasiun pengisian.
Bahkan survei yang dilakukan Southern Metropolis Daily, sebagaimana dikutip TechCrunch, menunjukkan sekitar 80 persen pengemudi taksi Shenzhen tidak puas dengan pasokan dan alokasi stasiun pengisian.
Nah, ini pelajaran pentingnya kota yang sudah 99 persen menggunakan taksi listrik pun masih menghadapi masalah. Artinya, mengganti mobil berbahan bakar minyak dengan mobil listrik ternyata bukan pekerjaan selesai setelah mobil masuk garasi.
Ada ekosistem yang harus dibangun, ada juga tempat pengisian, pengaturan operasional, kebutuhan pengemudi, persoalan waktu pengisian. Bahkan ada pula kebutuhan untuk memastikan kendaraan tetap produktif ketika harus mengisi daya.
Jadi kalau Palembang baru mulai, jangan merasa harus langsung sempurna, tetapi jangan pula merasa tidak perlu menyiapkan sistem. Justru saat inilah kesempatan terbaik untuk kita membangun sistemnya.
Palembang Punya Masalah Lama yang Belum Selesai
Polemik Green SM seharusnya dilihat lebih luas dan Palembang sendiri masih punya pekerjaan rumah lama terkait dengan transportasi, lalu lintas dan energi.
Kita sudah beberapa kali melihat antrean kendaraan di SPBU yang bukan hanya mengganggu pengendara yang sedang mengisi BBM, tetapi juga meluber ke badan jalan dan memicu kemacetan.
Antrean solar bahkan pernah membuat kemacetan mencapai beberapa kilometer. Pada Maret 2026, antrean BBM kembali memadati kawasan SPBU dan mengganggu arus lalu lintas. Artinya, persoalan energi dan mobilitas di kota ini bukan cerita baru.
Maka, ketika kendaraan listrik hadir, mestinya ada ruang untuk melihatnya sebagai salah satu eksperimen menuju transportasi yang lebih modern. Bukan berarti semua kendaraan harus langsung pindah ke listrik. Bukan juga berarti Green SM otomatis menjadi obat kemacetan, sebenarnya tidak sesederhana itu juga.
Taksi listrik memang tetap kendaraan, kalau jumlah kendaraan bertambah tanpa pengaturan, kemacetan tetap bisa terjadi.
Bahkan layanan ride-hailing yang tidak ditata dapat menambah perjalanan kosong dan memberikan tekanan tambahan terhadap lalu lintas.
Jadi jangan terjebak pada logika, misalnya listrik sama dengan otomatis bebas masalah, tidak demikia, karena semuanya tetap perlu manajemen lalu lintas, selain itu tetap perlu pengaturan titik naik-turun penumpang serta perlu kajian jumlah armada.
Yang terpenting juga tetap perlu memastikan kendaraan tidak hanya berputar mencari penumpang di ruas jalan yang sudah padat.
Jangan Cuma Ambil Mobil Listriknya, Pelajari Sistemnya
Kalau pengalaman Shenzhen mau dijadikan pelajaran, maka ada satu hal yang sangat jelas. Palembang jangan hanya melihat hasil akhirnya, jangan juga masyakat cuma melihat ribuan taksi listrik yang sudah berjalan.
Lihat juga proses di belakangnya, seperti Shenzhen membangun transformasi kendaraan listrik secara bertahap dan melibatkan dukungan kebijakan serta infrastruktur.
Bahkan ketika armada taksinya sudah hampir seluruhnya listrik, persoalan stasiun pengisian masih menjadi masalah. Itu artinya, ketika Green SM masuk dengan 200 unit. Pertanyaan pemerintah seharusnya tidak berhenti pada “Boleh beroperasi atau tidak?”
Bahkan seharunya pertanyaan berikutnya harus lebih jauh. Kalau armadanya bertambah menjadi 300, 500 atau bahkan lebih, apakah infrastrukturnya siap?
Apakah titik pengisian cukup? Bagaimana pengaturan waktunya? Bagaimana dampaknya terhadap lalu lintas? Bagaimana pengemudi mendapatkan penghasilan yang layak? Dan bagaimana sistem ini terintegrasi dengan transportasi yang sudah ada?
Kalau semua itu dipikirkan sejak awal, Palembang tidak cuma menerima kendaraan listrik, namun setidaknya Palembang memang sedang belajar membangun ekosistem transportasi baru.
Driver Jangan Sampai Hilang dari Perdebatan
Ada satu sisi lain yang sering hilang dalam perdebatan terkait pekerjaan sebab ketika ekonomi sedang tidak mudah dan lapangan kerja terasa makin sempit, hadirnya layanan baru tentu membawa peluang.
Green SM sendiri membuka kesempatan bagi masyarakat untuk menjadi mitra pengemudi di Palembang. Maka ketika ada polemik mengenai keberadaannya, jangan hanya bertanya berapa unit mobil yang masuk.
Tanyakan juga, berapa orang yang mendapat pekerjaan? dan berapa keluarga yang memperoleh penghasilan? serta berapa peluang baru yang terbuka? Dan apakah kendaraan listrik bisa membuat biaya operasional pengemudi menjadi lebih efisien?
Di sinilah suara driver online yang meminta polemik tidak langsung berujung pada penghentian operasional juga patut didengar.
Meski mereka punya kepentingan untuk perut anak dan istri, pemerintah juga punya kepentingan. Masyarakat juga sama punya kepentingan, dan pelaku usaha juga punya kepentingan. Setidaknya semuanya harus bertemu di satu meja.
DPRD Wajar Mengkritik, Pemerintah Wajib Menjawab
DPRD tentu punya hak untuk bertanya, bahkan harus bertanya. Kalau ada persoalan KIR, kuota armada, izin atau keselamatan, wakil rakyat memang seharusnya meminta penjelasan. Itulah bagian dari fungsi pengawasan.
Tetapi setelah pertanyaan dilontarkan, pemerintah juga harus menjawab dengan data. Bukan hanya mengatakan semuanya aman, dan bukan pula cuma mengatakan semuanya bermasalah.
Sebab, data yang harus bicara, misalnya berapa armada yang benar-benar beroperasi?, berapa yang sudah memenuhi persyaratan? bagaimana status KIR?Bagaimana kajian kebutuhan taksi di Palembang? dampaknya terhadap lalu lintas?dan kesiapan fasilitas pengisian?, Serta bagaimana pemerintah memastikan investasi baru tidak merugikan transportasi yang sudah lebih dulu ada?
Kalau semua pertanyaan itu dibuka, masyarakat akan jauh lebih mudah menilai. Tidak perlu gaduh dan tidak perlu juga saling curiga.
Green SM Jangan Diperlakukan Sebagai Musuh
Menurut saya, inilah titik tengah yang harus dijaga. Green SM bukan malaikat. Namun juga bukan musuh, seadainya memang kalau ada kekurangan, bisa dibenahi, jika ada aturan yang belum dipenuhi, lengkapi, jika ada persoalan lalu lintas, setidaknya juga atur. Kalau ada infrastruktur yang kurang, tinggal siapkan.
Selain itu misalnya, kalau ada potensi investasi dan lapangan pekerjaan, jangan buru-buru dimatikan. Dan kalau ada kekhawatiran masyarakat, jawab dengan data.
Oleh sebab itu, kehadiran taksi listrik justru bisa menjadi kesempatan bagi Palembang untuk bercermin, sehingga apakah kota ini sudah siap menuju transportasi modern, infrastrukturnya siap?Apakah pemerintah punya data kebutuhan armada?serta ruang jalan kita mampu menampung pertumbuhan kendaraan?
Apakah masyarakat siap berubah? dan yang tidak kalah penting, apakah kebijakan transportasi kita selama ini sudah benar-benar berpihak kepada pengguna dan pengemudi?
Maka dari itu, Green SM seharusnya menjadi alat untuk membuka mata, bukan hanya sebagai objek pertengkaran.
Jangan Sampai yang Diperdebatkan Mobilnya, Tapi Kotanya Lupa Dibangun
Persoalan Green SM bukan hanya soal mobil listrik. Hal ini tentang bagaimana Palembang menghadapi perubahan, apalagi kota Palembang tidak bisa terus menggunakan cara lama ketika masyarakat dan teknologi sudah bergerak ke depan.
Tetapi perubahan juga tidak boleh berjalan tanpa aturan. Di situlah peran pemerintah dibutuhkan. Bukan untuk menghambat perubahan, tetapi memastikan perubahan berlangsung dengan tertib.
Kalau Green SM belum lengkap administrasinya, selesaikan. Kalau ada persoalan KIR, cari jalan keluarnya,ada investasi, kawal. Kalau ada lapangan pekerjaan, jaga. Kalau ada potensi kemacetan, antisipasi. Kalau ada kebutuhan charging station, pikirkan sejak sekarang.
Kalau ada keluhan masyarakat, dengarkan dan kalau ada kritik DPRD, jawab dengan data.
Shenzhen memberi satu pelajaran yang sederhana, elektrifikasi transportasi bisa dilakukan dalam skala besar, tetapi keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh mobil listrik. Sistem di belakang mobil itu jauh lebih penting.
Jadi mungkin pertanyaan paling penting hari ini bukan “Green SM boleh atau tidak beroperasi?” Tetapi, “Bagaimana Palembang memastikan kendaraan baru ini benar-benar menjadi bagian dari transportasi kota yang lebih aman, modern, efisien dan tidak meninggalkan siapa pun?”
Sebab kota yang maju bukan kota yang menolak semua yang baru namun juga bukan kota yang menerima semua hal baru tanpa bertanya. Kota yang matang adalah kota yang berani menerima perubahan, bahkan cukup kritis untuk memastikan perubahan itu berjalan di jalur yang benar. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
