Senin, 24 Agu 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Catatan-Kaki Bukit » Perubahan Iklim Makin Terasa, Ruang Hidup Masyarakat Ikut Terancam

Perubahan Iklim Makin Terasa, Ruang Hidup Masyarakat Ikut Terancam

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month 18 menit yang lalu
  • visibility 5
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

SUMSELTERKINI.CO.ID – Perubahan iklim sekarang bukan lagi cerita soal apa yang mungkin terjadi puluhan tahun ke depan. Dampaknya mulai terasa dalam hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Musim yang sulit ditebak, hujan dengan intensitas tinggi, cuaca panas yang lebih menyengat, sampai kondisi laut yang berubah menjadi tanda bahwa lingkungan sedang mengalami tekanan.

Bagi masyarakat yang hidup bergantung pada alam, perubahan itu tentu tidak berhenti sebagai persoalan cuaca. Ada pekerjaan dan penghasilan yang ikut dipertaruhkan.

Masyarakat pesisir menjadi salah satu kelompok yang berada di garis depan. Laut dan kawasan pantai merupakan bagian penting dari kehidupan mereka. Ketika kondisi lingkungan berubah, dampaknya bisa langsung terasa.

Perubahan Iklim Memperbesar Risiko

Ada istilah yang menarik untuk memahami persoalan ini, yakni risk multiplier atau pengganda risiko.

Istilah tersebut digunakan Deputi Bidang Pengendalian Perubahan Iklim dan Tata Kelola Penerapan Nilai Ekonomi Karbon KLH/BPLH Ary Sudijanto untuk menggambarkan perubahan iklim sebagai ancaman yang dapat memperbesar risiko yang sudah ada.

Sederhananya, perubahan iklim tidak selalu menciptakan masalah dari nol. Ia bisa membuat persoalan yang sudah ada menjadi lebih berat.

Wilayah yang memang rentan banjir bisa menghadapi risiko lebih besar ketika hujan ekstrem terjadi.

Begitu pula kawasan pesisir yang sudah mengalami abrasi. Tekanan terhadap wilayah tersebut bisa semakin berat ketika cuaca dan kondisi laut ikut berubah.

Masyarakat yang penghasilannya bergantung pada alam juga menghadapi tantangan serupa. Ketika lingkungan berubah, mereka harus beradaptasi dengan keadaan yang belum tentu mudah diprediksi.

Oleh karena itu, persoalan perubahan iklim sebenarnya tidak hanya berkaitan dengan menjaga suhu bumi atau mengurangi emisi. Ada persoalan yang lebih dekat, yaitu bagaimana masyarakat tetap bisa hidup aman di tengah perubahan lingkungan.

Nelayan Merasakan Dampaknya Lebih Cepat

Cerita mengenai perubahan iklim akan terasa berbeda jika dilihat dari kehidupan masyarakat pesisir.

Eriyanto, nelayan asal Pulau Rupat, Riau, membawa gambaran dari lapangan. Dalam diskusi tersebut, ia menyampaikan abrasi pantai yang menggerus permukiman masyarakat pesisir. Ia juga menyoroti perubahan cuaca ekstrem yang berdampak terhadap hasil tangkapan nelayan.

Bagi nelayan, perubahan seperti itu bukan sekadar persoalan lingkungan.

Ketika kondisi cuaca dan laut berubah, aktivitas melaut ikut menghadapi tantangan. Hasil tangkapan yang terdampak pada akhirnya juga berkaitan dengan pendapatan keluarga.

Abrasi pun bukan sekadar persoalan garis pantai yang bergeser. Jika berlangsung terus-menerus, permukiman, fasilitas warga, akses menuju pantai, hingga wilayah yang selama ini menjadi tempat mencari penghasilan bisa ikut terancam.

Sehingga perubahan iklim bersentuhan langsung dengan apa yang disebut sebagai ruang hidup.

Ruang Hidup Bukan Hanya Tempat Tinggal

Ruang hidup masyarakat sebenarnya jauh lebih luas daripada rumah, bahkan nelayan sendiri laut diibarattan periuk nasinya alias tempat mereka bekerja. Sementara masyarakat pesisir, pantai dan wilayah sekitarnya bisa menjadi sumber pangan sekaligus sumber pendapatan.

Ketika kondisi lingkungan berubah, semua itu ikut menghadapi tekanan. Itu, sebabnya kebijakan menghadapi perubahan iklim tidak cukup hanya melihat persoalan lingkungan secara terpisah.

Perlindungan terhadap masyarakat yang tinggal di wilayah rentan juga harus menjadi bagian dari pembahasan.

Kalau tidak, masyarakat yang sejak awal memiliki keterbatasan bisa menjadi kelompok yang paling berat menanggung dampaknya.

Warga Perlu Dilibatkan

Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah bagaimana kebijakan lingkungan dibuat. Masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak seharusnya tidak hanya ditempatkan sebagai penerima kebijakan.

Mereka juga memiliki pengalaman dan pengetahuan mengenai perubahan yang terjadi di lingkungannya.

Nelayan, misalnya, memiliki pengalaman langsung menghadapi kondisi laut. Warga pesisir juga bisa melihat bagian pantai mana yang mengalami abrasi dan perubahan apa yang terjadi dari waktu ke waktu.

Pengetahuan semacam ini penting, kebijakan  dibuat pemerintah dan kajian dari akademisi tetap dibutuhkan, tetapi keduanya akan lebih kuat, jika bertemu dengan pengalaman masyarakat di lapangan.

Oleh sebab itu, partisipasi masyarakat dalam kebijakan perubahan iklim bukan hanya formalitas. Suara warga perlu benar-benar dipertimbangkan ketika keputusan menyangkut ruang hidup mereka dibuat.

Menghadapi Perubahan Iklim dari Sekarang

Perubahan iklim memang merupakan persoalan global. Tetapi dampaknya selalu muncul di tempat yang nyata dan dialami orang yang nyata pula.

Ada nelayan yang harus menghadapi perubahan kondisi laut. Ada warga pesisir yang melihat garis pantai semakin dekat dengan permukiman. Ada pula masyarakat yang harus berhadapan dengan cuaca yang semakin sulit diperkirakan.

Semua itu membuktikan perubahan iklim bukan persoalan yang bisa ditunda pembahasannya. Mengurangi risiko tetap membutuhkan kebijakan, tata kelola lingkungan, perlindungan wilayah rentan, dan keterlibatan masyarakat.

Maka dipertaruhkan bukan hanya kondisi alam, perlu ada ruang hidup, pekerjaan, penghasilan, dan masa depan masyarakat yang ikut bergantung pada kemampuan kita menghadapi perubahan iklim. (***)

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pesan Plh Bupati Muara Enim Saat Buka Musrenbang RKPD

    Pesan Plh Bupati Muara Enim Saat Buka Musrenbang RKPD

    • calendar_month Rabu, 17 Mar 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 900
    • 0Komentar

    Plh Bupati Muara Enim, H Nasrun Umar membuka secara resmi Musrenbang Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Kabupaten Muara Enim Tahun 2021,  di Gedung Kesenian Putri Dayang Rindu Muara Enim,Senin (17/3/2021). Adapun Narasumber dari Fidelia Silvana, SP, M.Int.Econ.F (Perencanaan Ahli Madya Koordinator Wilayah II Deputi Bidang Pengembangan Regional Kementerian PPN/BAPPENAS), Dr.Ir.H.Firmansyah, M.Sc (Kepala BAPPEDA Provinsi Sumatera […]

  • Bowtie Capai Perlindungan HK Miliar dalam Empat Tahun

    Bowtie Capai Perlindungan HK$60 Miliar dalam Empat Tahun

    • calendar_month Rabu, 31 Mei 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.624
    • 0Komentar

      HONG KONG SAR – Media OutReach – Bowtie, perusahaan asuransi virtual pertama di Hong Kong, akan berbagi pencapaian finansial dan operasional utama untuk merayakan hari jadinya yang keempat. Meski pandemi COVID-19 di Hong Kong telah mereda, Bowtie masih terus meraih kinerja penjualan yang kuat. Jumlah total pertanggungan Bowtie melebihi HK$60 miliar, dan Bowtie sekali […]

  • Pemprov. Sumsel Diminta Komit Pantau Penyebaran Covid-19

    Pemprov. Sumsel Diminta Komit Pantau Penyebaran Covid-19

    • calendar_month Senin, 16 Mar 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.857
    • 0Komentar

    ANGGOTA DPRD Prov. Sumsel, Fraksi Partai Nasional Demokrat [Nasdem] meminta Pemerintah Prov. Sumsel komit memantau penyebaran Virus Corana /Covid-19, setelah beberapa daerah di Jakarta, Semarang, Solo mulai mengeluarkan kebijakan meliburkan siswa sekolah. Di Negara lain sudah menyebar, bahkan di daerah di Jawa sudah mengeluarkan kebijakan libur sekolah. Meski memang belum terdampak, namun harus menjadi perhatian […]

  • Mahasiswa yang Masuk POI Harus Bisa Bawa Indonesia ke Pentas Internasional

    Mahasiswa yang Masuk POI Harus Bisa Bawa Indonesia ke Pentas Internasional

    • calendar_month Selasa, 21 Nov 2017
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 871
    • 0Komentar

    Tugas ke depan menjadikan Indonesia berkibar lewat pentas olahraga

  • Sadzali Gelar DR Pimpin Lagi DS. Gemantung Induk

    Sadzali Gelar DR Pimpin Lagi DS. Gemantung Induk

    • calendar_month Selasa, 19 Nov 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.033
    • 0Komentar

    PEMILIHAN Kepala Desa Pulau Gemantung Induk, Kecamatan Tangjung Lubok, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), yang digelar Selasa (19/11/2019) Menetapkan Sadzali Gelar Dahulu Ratu sebagai Kepala Desa terpilih untuk periode 2020-2025 mendatang. Sadzali ini sendiri merupakan kades petahana di periode sebelumnya. Ketua Pilkades Nahrowi mengatakan, jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) 1.199 pemilih. Dari jumlah suara tersebut, […]

  • Nah Bahaya Kalau Benar, Empat Wanita di Australia Alami Keguguran setelah Disuntik Vaksin Pfizer

    Nah Bahaya Kalau Benar, Empat Wanita di Australia Alami Keguguran setelah Disuntik Vaksin Pfizer

    • calendar_month Senin, 11 Okt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 822
    • 0Komentar

    BEREDAR sebuah narasi di media sosial menyebutkan ada 4 orang wanita di Australia mengalami keguguran setelah disuntik vaksin Pfizer. Faktanya, dilansir dari kumparan.com yang mengutip dari AFP, Juru Bicara BPOM Australia (TGA) menegaskan tidak ada kaitan antara vaksin COVID-19 dengan keguguran. Seorang ahli virus dari Departemen Ilmu Biologi A&M University-Texarkana, Texas, Amerika Serikat, Benjamin Neuman […]

expand_less
WordPress Archive Mora – Modern Blog Elementor Template Kit Morave – Portfolio Elementor WordPress Theme Moreau – Creative Portfolio WordPress Theme Moren – Fashion WooCommerce Theme Moresa – Startup Agency WordPress Theme Morgan – Creative Agency & Portfolio Elementor Template Kit Morii – Adventure Travel & Tourism Elementor Template Kit Moro – Multi-purpose Magazine Theme with Portfolio Moros – eCommerce WordPress Theme Morris – WordPress App & Product Landing Page