Geber Mas 2026, Apa yang Dilakukan di 50 Ribu Masjid dan Musala?
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 44 menit yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kemenag.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Geber Mas 2026 mulai digerakkan secara nasional dengan melibatkan lebih dari 50 ribu masjid dan musala di seluruh Indonesia. Gerakan Bersih-Bersih Masjid ini tidak hanya menyasar kebersihan ruang ibadah, tetapi juga mengajak masyarakat memperhatikan toilet, tempat wudu, saluran air, halaman hingga lingkungan sekitar masjid.
Gerakan tersebut resmi dimulai melalui kick off yang digelar di Masjid Fatahillah, Balai Kota DKI Jakarta, Senin (10/8/2026).
Kegiatan berlangsung secara hybrid dan diikuti jajaran Kementerian Agama dari berbagai daerah, penyuluh agama, penghulu, pengurus masjid, serta Dewan Masjid Indonesia.
Bagi Kementerian Agama, Geber Mas bukan hanya kegiatan bersih-bersih yang selesai setelah acara peluncuran. Gerakan ini diarahkan menjadi kebiasaan bersama sekaligus bagian dari upaya membangun kesadaran masyarakat terhadap kebersihan dan lingkungan.
Geber Mas 2026 sebenarnya untuk apa?
Gerakan ini memiliki tujuan yang lebih luas daripada membersihkan bangunan masjid.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menempatkan kebersihan rumah ibadah sebagai bagian dari upaya menciptakan ruang ibadah yang nyaman sekaligus menjaga kehormatan rumah ibadah.
Menurutnya, kondisi fisik masjid turut memengaruhi kenyamanan jamaah ketika menjalankan ibadah.
“Bagaimana orang bisa berkonsentrasi dalam ibadah kalau tempatnya kotor, pengap, atau tidak nyaman?” ujar Nasaruddin Umar di Jakarta.
Karena itu, masyarakat diajak menjadikan kebersihan masjid sebagai kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama dan berkelanjutan.
Bukan cuma ruang salat yang dibersihkan
Salah satu perhatian dalam Geber Mas 2026 adalah area yang sering kali luput dari perhatian.
Toilet, kamar mandi, tempat wudu, saluran air, halaman, hingga lingkungan sekitar masjid menjadi bagian dari gerakan tersebut.
Menteri Agama juga mengajak keluarga ikut terlibat dalam kegiatan membersihkan rumah ibadah.
Menurutnya, budaya gotong royong perlu dihidupkan kembali sehingga hubungan masyarakat dengan masjid tidak hanya terjadi ketika waktu salat tiba.
Masyarakat dapat ikut membersihkan karpet, toilet, lingkungan masjid, memperbaiki bagian yang rusak, serta memastikan saluran air dan area sekitar tetap terawat.
Ada pesan lingkungan di balik Geber Mas
Geber Mas juga dikaitkan dengan agenda ekoteologi Kementerian Agama.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Abu Rokhmad mengatakan gerakan tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan peringatan Muharram sekaligus implementasi dua program prioritas Menteri Agama, yaitu penguatan ekoteologi dan pemberdayaan rumah ibadah.
Dengan konsep tersebut, kebersihan masjid tidak hanya dipandang sebagai persoalan kenyamanan jamaah, tetapi juga berkaitan dengan kepedulian terhadap lingkungan.
Dukungan terhadap gagasan tersebut datang dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Asisten Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi DKI Jakarta Ali Maulana Hakim mendorong agar kegiatan bersih-bersih masjid juga dikaitkan dengan pemilahan sampah, pengurangan plastik sekali pakai, serta penerapan prinsip reduce, reuse, recycle (3R).
50 ribu masjid dan musala dilibatkan
Skala Geber Mas 2026 menjadi salah satu hal yang membuat gerakan ini menarik perhatian.
Kemenag menyebutkan lebih dari 50 ribu masjid dan musala di seluruh Indonesia ikut terlibat dalam gerakan tersebut.
Abu Rokhmad menegaskan Geber Mas tidak seharusnya berhenti pada kegiatan kick off. Para penyuluh agama juga diharapkan ikut memperhatikan kondisi rumah ibadah di wilayah masing-masing dan mendorong pengurus serta masyarakat menjaga kebersihan secara rutin.
Dengan jumlah masjid dan musala yang terlibat mencapai puluhan ribu, gerakan ini diharapkan dapat berkembang menjadi budaya yang tumbuh di tengah masyarakat.
Masjid ingin didorong menjadi pusat pemberdayaan umat
Di luar persoalan kebersihan, Menteri Agama membawa gagasan lain mengenai fungsi rumah ibadah.
Nasaruddin Umar mengatakan masjid seharusnya tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah. Rumah ibadah juga diharapkan dapat menjadi pusat kegiatan sosial, pendidikan, ekonomi, kebudayaan, dan pemberdayaan masyarakat.
Ia ingin terjadi perubahan paradigma dalam melihat hubungan umat dengan masjid.
Jika selama ini masyarakat dianggap sebagai pihak yang memberdayakan masjid, ke depan rumah ibadah diharapkan justru mampu memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.
“Rumah ibadah harus menjadi pusat penguatan ekonomi umat, budaya umat, dan peradaban umat,” tegasnya.
Dengan demikian, Geber Mas menjadi pintu masuk untuk membicarakan fungsi rumah ibadah yang lebih luas.
Dari kebersihan masjid ke kebiasaan masyarakat
Geber Mas 2026 pada akhirnya tidak hanya berbicara soal sapu, karpet, toilet atau halaman masjid.
Gerakan tersebut membawa gagasan agar masyarakat kembali menjadikan rumah ibadah sebagai ruang yang dirawat bersama.
Kebersihan dapat dimulai dari hal sederhana, seperti menjaga tempat wudu, membersihkan toilet, mengelola sampah, memastikan saluran air tidak tersumbat, serta menjaga lingkungan sekitar masjid.
Jika kebiasaan tersebut terus dilakukan, masjid tidak hanya menjadi tempat yang nyaman untuk beribadah, tetapi juga dapat menjadi contoh budaya hidup bersih dan peduli lingkungan.
Dengan melibatkan lebih dari 50 ribu masjid dan musala, Kemenag berharap Geber Mas 2026 tidak berhenti sebagai agenda seremonial, melainkan berkembang menjadi gerakan sosial yang terus berjalan di lingkungan masyarakat. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
