Senin, 17 Agu 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Uncategorized » Salah Memaknai ‘ Blusukan’ yang Sebenarnya ???

Salah Memaknai ‘ Blusukan’ yang Sebenarnya ???

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Kamis, 6 Des 2018
  • visibility 1.684
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

ERA kepemimpinan Jokowi seringkali memunculkan kinerja blusukan, akan tetapi sering kali makna blusukan selalu disalah artikan, popularitas kinerja pemerintah dianggap berhasil apabila kerjanya bisa terekpost di media massa, padalah ketika benar-benar kita turun kemasyarakat kenerja Jokowi tidak dirasakan oleh rakyat secara langsung dan semua program tidak bisa tersosialisasi secara keseluruhan.

Ini yang seharusnya menjadi perhatian bagi seluruh elite politik untuk mencari jurus jitu dalam mensosialisasikan program-program paslon presiden dan wakil presiden mendatang, sapalah masyarakat dengan meyakinkan diri untuk dapat menerima program kerja yang benar-benar sangat diharapkan oleh rakyat.

Penyusunan program kerja seharusnya melibatkan pendapat masyarakat secara langsung jangan sampai hanya keluar dari pemikiran elite-elite politik saja.

Bukan hanya itu, Kabinet Kerja merupakan antitesis dari Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Tidak hanya pilihan nama kabinet yang beda, melainkan juga penampilan fisik para pejabatnya juga berbeda. Jika Presiden SBY dan para menterinya kerap mengenakan pakaian kemeja tenun serta safari lengan pendek, maka Presiden Jokowi dan para menteri tampil dengan kemeja putih dengan tangan panjang terlipat dan baju dikeluarkan.

Pakaian kemeja demikian tidak identik dengan pakaian pejabat, melainkan pakaian pekerja biasa jauh dari kesan mewah. Spirit itu yang tampaknya ingin diperkuat oleh Presiden Jokowi yang notabene sudah mempunyai citra kuat sebagai pelaku blusukan.

Persepsi Jokowi sebagai pejabat negara yang gemar turun ke masyarakat tempak hendak ditularkan kepada Kabinet Kerja melaui penampilan simbol-simbol nama kabinet dan pilihan pakaian para menteri.

Spirit kerja dan blusukan ditampilkan oleh pemerintahan Jokowi melalui penyusunan agenda kerja di bulan pertama, setelah pelantikan kabinet Jokowi langsung terbang ke Sumatera Utara meninjau korban bencana Sinabung. Para menteri melakukan aksi blusukan sesuai bidangnya kerjanya masing-masing, bahkan Menteri Tenaga Kerja Hanif Dakhiri saking semangatnya sampai melancarkan aksi lompat pagar meninjau tempat penampungan TKI ilegal.

Pilihan aksi Kabinet Kerja di bulan pertamanya sukses menyihir perhatian publik, terlebih di saat parlemen tengah hingar-bingar perebutan kursi alat kelengkapan dewan (AKD), sehingga terbangun persepsi bahwa pemerintah sudah bekerja sementara DPR sibuk bertikai. Namun aksi blusukan Kabinet Kerja tidak lepas dari kritik, karena makna kerja dan blusukan menjadi bias, mana yang dimaksud kerja dan mana yang dimaksud blusukan?

Dalam terminologi fungsi manajemen, blusukan bisa dikategorikan sebagai salah satu perwujudan dari Controlling (Pengawasan) yang bertujuan untuk memastikan kebijakan dan program dilaksanakan sesuai dengan perencanaan. Pemantauan biasanya dilakukan setelah melalui tahapan Planning (perencanaan), Organizing (pengorganisasian/pengaturan) dan Actuating (pelaksanaan/menggerakkan).

Fungsi Controlling juga dimaksudkan untuk mengevaluasi apakah perencanaan perlu dilanjutkan atau direvisi. Dalam bukunya yang berjudul “Principles of Management”, George R. Terry mengatakan, “Manajemen adalah suatu proses yang membedakan atas perencanaan, pengorganisasian, penggerakan pelaksanaan dan pengawasan dengan memanfaatkan baik ilmu maupun seni agar dapat menyelesaikan tujuan yang telah ditetapkan.”

Dengan demikian, blusukan dalam makna pengawasan akan menjadi efektif apabila dilakukan setelah melalui tahapan perencanaan, pengaturan dan pelaksanaan. Tanpa ketiga tahap tersebut maka blusukan tidak dapat dimasukkan dalam kategori kinerja, dengan kata lain blusukan model seperti itu hanya aktivitas kerja serabutan belaka.

Blusukan akan masuk dalam kategori kinerja apabila memiliki Key Performance Indicator (KPI). Nah, pertanyaannya mengapa Kabinet Kerja pemerintahan Jokowi melakukan blusukan di awal masa kerjanya? Semestinya kabinet memaksimalkan proses Planning, Organizing dan Actuating terlebih dulu sebelum masuk ke tahapan blusukan.

Wajar saja, jika sebagian publik mempertanyakan efektivitas blusukan yang dilakukan para menteri secara sporadis dan serabutan, wajar pula bila sebagian publik berkesimpulan aksi blusukan Kabinet Kerja hanya kamuflase seolah-olah bekerja.

Asal Beda

Tentu pandangan sinis tersebut tidak sepenuhnya benar, pemerintahan manapun ingin sungguh-sungguh melayani rakyat, terlebih di awal masa baktinya. Namun kesungguhan ingin melakukan kerja nyata tersebut tidak mesti dilakukan melalui aksi fisik blusukan, karena kinerja substansial yang ditunggu publik di tahun pertama pemerintahan Jokowi adalah ke bijakan yang berpihak kepada rakyat kecil.

Contoh sederhana, publik tidak akan peduli dengan aksi blusukan pemerintah jika Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi tetap saja dinaikkan. Akibatnya, aksi blusukan yang dilakukan para menteri Jokowi menjadi kehilangan makna, publik akan melihat ternyata blusukan tidak bisa mencegah kenaikan harga BBM, blusukan tidak bisa mencegah naiknya harga sembako, blusukan tidak bisa menjegah jatuhnya nilai tukar rupiah.

Lalu publik yang sedari awal mengambil posisi ‘sinis’ terhadap pemerintah dengan ‘hati riang akan berteriak lantang’, ‘Blusukan tak lebih dari acrobat sirkus!’

Memang tidak mudah bagi Presiden Jokowi untuk tampil apa adanya dengan menanggung beban harapan besar dari mayoritas rakyat pemilih. Namun mengambil sikap antitesis atas segala bentuk dan format pemerintahan Presiden SBY bukanlah sikap yang bijak, alih-alih menjadi antitesis malah terkesan asal beda.

Pola manajerial dan gaya kepemimpinan boleh berbeda, namun tujuan harus tetap sama yaitu terwujudnya pemerintahan bersih dan berwibawa.

Satu hal yang perlu dicatat pemerintahan Jokowi, kebanyakan rakyat hanya melihat hasil akhir, hanya sebagian kecil yang perhatikan proses kerja pemerintah. Oleh karena itu hendaknya pemerintah tidak perlu terlalu demonstratif dalam menunjukkan kinerja, karena rakyat ingin hasil akhir yang berpihak kepada mereka.

Tidaklah salah juga apabila presiden, wapres dan para menteri melakukan aksi blusukan, tapi itu dilakukan setelah tahapan Planning, Organizing dan Actuating dilakukan.

Sudahkah pemerintahan Jokowi melakukan perencanaan matang pembangunan lima tahun ke depan? Grand design pemerintahan Jokowi mestilah selaras harmonis dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) 2005-2025 yang tertuang dalam Undang-undang nomor 17 tahun 2007 yang notabene adalah perwujudan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN).

Proses penyusunan Kabinet Kerja yang menggabungkan dan meleburkan beberapa institusi dipastikan memerlukan waktu konsolidasi. Proses pengaturan organisasi ini tidak bisa dilakukan serampangan, bahkan simultan dengan proses lainnya, pengorganisasian harus dilakukan secara fokus danoptimal.

Sebelum proses ini selesai tak akan ada hasil kerja yang dicapai pemerintah, karena pengorganisasian mempengaruhi pelaksanaan perencanaan Jadi, daripada harus berkeringat blusukan sekadar mengikuti selera public sesaat, lebih baik dudukkan kembali blusukan sesuai makna dan fungsi manajemen.

Jangan habiskan energi Kabinet Kerja hanya untuk kerja serabutan, melainkan blusukan sebagai satu cara mewujudkan pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Pemerintahan yang bersih pasti akan melayani rakyat, pemerintahan yang melayani rakyat pasti akan berwibawa.[**]

Penulis : Budina Sofiyan

Politisi  Muda Partai Demokrat

 

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pastikan Protokol Kesehatan Berjalan Optimal, Ketua BNPB  Tinjau Venue PON XX Papua

    Pastikan Protokol Kesehatan Berjalan Optimal, Ketua BNPB Tinjau Venue PON XX Papua

    • calendar_month Jumat, 1 Okt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 708
    • 0Komentar

    POTENSI penularan Virus Covid-19 bisa saja terjadi apabila penerapan disiplin protokol kesehatan tidak dijalankan. mengantisipasi hal ini, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Ganip Warsito SE., MM., melakukan peninjauan venue yang menyelenggarakan pertandingan PON XX. Terdapat tiga venue yang sudah dilakukan peninjauan yakni _venue_ cabang olahraga (cabor) Tenis, venue cabor dayung dan venue […]

  • Mantap, Sudah 46 Juta Nomor Ponsel Registrasi Ulang

    Mantap, Sudah 46 Juta Nomor Ponsel Registrasi Ulang

    • calendar_month Selasa, 7 Nov 2017
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 861
    • 0Komentar

    Artinya aturan yang telah dikeluarkan pemerintah diterima dengan positif

  • Percepat Pemerataan Pembangunan, Gubernur Hadiahi Muaratara Pasar Induk  dan Bangub Rp 55 M

    Percepat Pemerataan Pembangunan, Gubernur Hadiahi Muaratara Pasar Induk  dan Bangub Rp 55 M

    • calendar_month Rabu, 30 Jun 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.002
    • 0Komentar

    GUBERNUR Sumatera Selatan (Sumsel) H Herman Deru menilai Kabupaten Musirawas Utara (Muratara) sudah menunjukan kemajuannya meskipun daerah ini baru berusia ke-8 tahun. Dengan memiliki Sumber Daya Alam (SDA) yang berlimpah tentu juga dapat menunjang percepatan pembangunan bagi kabupaten termuda di Sumsel ini. Guna mempercepat pembangunan Muratara disegala sektor Gubernur Herman Deru memberikan kado istimewa di […]

  • Ini Syaratnya, Kemenag Buka Pendaftaran Calon Penilai Buku Pendidikan Agama 2021

    Ini Syaratnya, Kemenag Buka Pendaftaran Calon Penilai Buku Pendidikan Agama 2021

    • calendar_month Jumat, 6 Agt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 726
    • 0Komentar

    PUSLITBANG Lektur, Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi (LKKMO) Balitbang Diklat Kementerian Agama membuka pendaftaran calon penilai buku pendidikan agama. Pembukaan pendaftaran dimulai sejak 2-10 Agustus 2021. “Pendaftaran baru calon penilai buku pendidikan agama ini kami laksanakan secara terbuka, profesional, kredibel dan independen. Bagi yang berminat, silakan mengisi formulir secara online melalui tautan https://bit.ly/FormulirCalonPenilaiBPA2021 ,” ujar […]

  • Bentuk APDESI Kecamatan

    Bentuk APDESI Kecamatan

    • calendar_month Selasa, 21 Jul 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 692
    • 0Komentar

    ASOSIASI Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) Kecamatan Sungai Lilin, akhirnya terbentuk, dan mengukuhkan pengurus baru untuk lima tahun kedepan periode 2020-2024 berdasarkan hasil musyawarah mufakat. Menurut Camat Sungai Lilin, Agus Kurniawan, S.IP, M.Si adapun kepengurusan APDESI yang baru yaitu, sebagai Ketua ; Jauhari yang merupakan  kades Bukit Jaya, Sekretaris yaitu  Eko Suprihadi yang menjabat kades […]

  • Buku dan Wartawan

    Buku dan Wartawan

    • calendar_month Minggu, 17 Mei 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.283
    • 0Komentar

    “Our lives change in two ways: through the people we meet and the book we read.” (Harvey Mackay) Setiap tanggal 17 Mei diperingati sebagai Hari Buku Nasional. Pada Hari Buku Nasional tahun ini saya bertanya kepada seorang teman wartawan, “Sudah berapa buku yang anda baca sejak awal 2020 sampai masa Work From Home karena wabah […]

expand_less
WordPress Archive WooCommerce Products Layouts for Elementor Woocommerce Products List Pro WooCommerce Products Meta Data Filters WooCommerce Products of the Day WooCommerce Products Questions Answered System WooCommerce Products Request Manager Woocommerce Products Revolution Display for Elementor WordPress Plugin WooCommerce PsiGate Gateway WooCommerce Purchase Order Gateway WooCommerce Purchase Order Gateway B2B