Kasus diabetes remaja meningkat akibat konsumsi gula berlebih dan minim aktivitas fisik.
KASUS diabetes tipe 2 pada remaja kini menjadi perhatian serius di Indonesia. Penyakit yang dulu identik dengan usia lanjut mulai banyak ditemukan pada anak muda, bahkan usia SMP. Tingginya konsumsi gula, makanan ultra-proses, serta gaya hidup minim aktivitas fisik disebut menjadi penyebab utama meningkatnya diabetes remaja.
Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Harbuwono, mengungkapkan bahwa perubahan gaya hidup generasi muda membuat risiko diabetes tipe 2 semakin meningkat.
“Dulu diabetes tipe 2 identik dengan usia 40 atau 50 tahun ke atas. Tetapi hari ini kita mulai melihatnya muncul pada remaja,” ujar Dante saat menghadiri Canisius Health Expo 2026 di Jakarta.
Fenomena diabetes remaja menjadi alarm baru di tengah pola hidup modern yang semakin tidak sehat. Jika dulu anak-anak lebih banyak bermain di luar rumah, sekarang banyak remaja menghabiskan waktu dengan gawai, media sosial, dan permainan digital.
Aktivitas fisik perlahan tergeser oleh screen time yang semakin panjang. Kebiasaan begadang, kurang tidur, dan jarang berolahraga ikut memperburuk kondisi kesehatan generasi muda.
Di sisi lain, konsumsi makanan dan minuman tinggi gula terus meningkat. Minuman kekinian, soda, makanan cepat saji, hingga camilan ultra-proses kini menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari anak muda.
Ironisnya, banyak remaja tidak menyadari besarnya kandungan gula dalam produk yang mereka konsumsi. Minuman yang terlihat ringan dan segar bisa mengandung gula dalam jumlah tinggi jika dikonsumsi terlalu sering.
Konsumsi gula berlebih dalam jangka panjang dapat memicu resistensi insulin yang menjadi penyebab utama diabetes tipe 2. Kondisi ini membuat tubuh kesulitan mengontrol kadar gula darah sehingga meningkatkan risiko penyakit kronis.
Menurut Dante, diabetes tipe 2 pada remaja berkembang lebih cepat dibandingkan pada orang dewasa. Risiko komplikasi seperti penyakit jantung, gangguan ginjal, hingga masalah penglihatan juga bisa muncul lebih dini.
Karena itu pemerintah mulai menyiapkan sistem “nutri-level” atau label gula pada kemasan makanan dan minuman. Sistem tersebut menggunakan kategori A hingga D untuk membantu masyarakat memahami kandungan gula, garam, dan lemak pada produk yang dikonsumsi.
Konsep label gula ala lampu merah dibuat sederhana agar mudah dipahami masyarakat. Produk dengan kandungan gula rendah akan mendapat kategori lebih baik, sedangkan produk dengan kandungan gula tinggi akan memperoleh penilaian lebih rendah sebagai bentuk peringatan bagi konsumen.
Sistem ini diharapkan membantu masyarakat lebih bijak memilih makanan dan minuman sehari-hari. Terutama bagi remaja yang menjadi target utama industri makanan dan minuman tinggi gula.
Selama ini informasi kandungan gizi sebenarnya sudah tersedia pada kemasan makanan. Namun banyak konsumen kesulitan memahami istilah teknis atau tulisan kecil pada label produk.
Akibatnya, masyarakat sering membeli makanan dan minuman hanya berdasarkan rasa, tren, atau promosi tanpa memperhatikan kandungan gula di dalamnya.
Edukasi
Pemerintah berharap sistem nutri-level dapat menjadi edukasi sederhana agar masyarakat lebih sadar terhadap risiko konsumsi gula berlebih dan makanan ultra-proses.
Selain menyiapkan label gula pada kemasan makanan, pemerintah juga menjalankan program Cek Kesehatan Gratis di sekolah-sekolah. Program tersebut menyasar jutaan pelajar untuk mendeteksi berbagai masalah kesehatan sejak dini.
Dari pemeriksaan kesehatan tersebut ditemukan berbagai gangguan kesehatan pada usia muda, mulai dari hipertensi, anemia, hingga risiko diabetes tipe 2.
Kondisi itu menunjukkan bahwa persoalan kesehatan generasi muda Indonesia semakin kompleks. Pola hidup serba instan memang memberi banyak kemudahan, tetapi juga membawa dampak serius bagi kesehatan.
Menurut Dante, pencegahan diabetes tipe 2 sebenarnya bisa dimulai dari kebiasaan sederhana di rumah. Mengurangi konsumsi minuman manis, memperbanyak aktivitas fisik, hingga menjaga waktu tidur menjadi langkah penting untuk menekan risiko diabetes remaja.
Ia juga menekankan pentingnya peran keluarga dalam membangun pola hidup sehat. Makan bersama keluarga, membatasi screen time, dan rutin berolahraga dapat membantu menjaga kesehatan anak sejak dini.
Di tengah gaya hidup modern, menjaga kesehatan memang tidak mudah. Makanan cepat saji sering lebih praktis dan murah dibanding makanan sehat. Minuman manis juga semakin mudah ditemukan di berbagai tempat.
Namun jika kebiasaan buruk terus dibiarkan, diabetes tipe 2 bukan lagi ancaman yang datang di usia tua. Penyakit ini kini mulai mengincar generasi muda yang tumbuh di era serba instan.
Tips Mencegah Diabetes Tipe 2 pada Remaja
- Kurangi konsumsi minuman manis dan soda
- Batasi makanan ultra-proses dan fast food
- Perbanyak aktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari
- Tidur cukup sekitar 7–8 jam setiap malam
- Perbanyak konsumsi buah dan sayur
- Biasakan membaca label gula pada kemasan makanan
- Kurangi screen time dan jangan terlalu lama rebahan
Meningkatnya kasus diabetes remaja menjadi pengingat bahwa kesehatan harus dijaga sejak usia muda. Label gula ala lampu merah yang mulai disiapkan diharapkan tidak sekadar menjadi pelengkap kemasan makanan, tetapi juga membantu masyarakat lebih sadar terhadap bahaya konsumsi gula berlebih.
Sebab diabetes tipe 2 kini tidak lagi hanya menyerang orang tua. Penyakit tersebut perlahan mulai mendekati generasi muda yang hidup di tengah budaya serba cepat dan serba instan. (***)