Hotspot Karhutla Naik Lagi, Sumsel Siap Genjot Pemadaman
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : pemprov.sumsel
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Perang melawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan (Sumsel) belum selesai, lantaran saat ini sisa asap masih mengganggu masyarakat, bahkan jumlah titik panas di provinsi ini kembali meningkat.
Gubernur Sumsel Herman Deru pun menegaskan penanganan harus terus digenjot, mulai dari pemadaman hingga pencegahan di tingkat desa.
Data Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan mencatat 147 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi di Sumsel hingga Senin (12/10/2026) pukul 21.00 WIB. Angka tersebut meningkat dibandingkan pemantauan sebelumnya yang mencatat 121 titik.
Sumsel kini berada di urutan kedua di antara enam provinsi prioritas pengendalian karhutla, di bawah Kalimantan Tengah yang mencatat 227 hotspot. Secara nasional, terdeteksi 1.085 hotspot berkepercayaan tinggi berdasarkan pemantauan satelit.
Kondisi ini memperlihatkan pekerjaan rumah penanganan karhutla masih besar, berkurangnya titik api belum otomatis membuat masyarakat terbebas dari asap yang tersisa di udara.
Persoalan ini menjadi pembahasan Gubernur Sumsel H. Herman Deru saat mengikuti siaran langsung bersama Metro TV dari Griya Agung, Palembang, Selasa (13/10/2026).
Dalam kesempatan itu, ia menjelaskan penanganan karhutla tidak cukup hanya berpatokan pada jumlah titik api. Sisa asap yang masih bertahan di udara juga menjadi persoalan serius karena berdampak langsung terhadap aktivitas dan kesehatan masyarakat.
“Hotspot dan firespot memang berkurang, tetapi asapnya masih tersisa dan masih dirasakan masyarakat. Pada Oktober ini, tingkat ISPU juga mengalami peningkatan. Oleh sebabitu, upaya penanganan harus terus kita maksimalkan,” ujarnya.
Pemerintah Provinsi Sumsel mengupayakan sejumlah langkah guna mempercepat penanganan. Salah satunya menyambut rencana uji coba teknologi dry ice atau es kering yang disiapkan pemerintah pusat sebagai inovasi untuk membantu mengatasi persoalan asap.
Disamping itu, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) telah dilaksanakan sebanyak 73 kali. Dukungan operasi udara juga terus diupayakan, termasuk pengerahan helikopter untuk pemadaman melalui water bombing. Namun, pelaksanaan di lapangan tetap harus mempertimbangkan jarak pandang yang dapat membatasi operasi penerbangan.
Herman Deru menyampaikan apresiasi kepada BNPB dan pemerintah pusat, terutama Presiden Prabowo Subianto, atas dukungan dalam penanganan karhutla di Sumsel.
“Terima kasih kepada BNPB dan pemerintah pusat, khususnya Bapak Presiden, yang selalu memberikan perhatian dan dukungan dalam membantu proses pemadaman karhutla di Sumsel,” katanya.
Presiden Turun Tangan
Perhatian pemerintah pusat terhadap karhutla juga mengemuka dalam rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto secara hybrid dari Istana Merdeka, Jakarta, Senin (12/10/2026). Dalam rapat tersebut, Sumsel dan Kalimantan Tengah menjadi dua wilayah yang mendapat perhatian utama. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengutip laman resmi setneg, ia menyampaikan berdasarkan laporan Kepala BNPB, sekitar 639 hektare lahan di enam provinsi terdampak masih dalam proses pemadaman.
Operasi darat didukung lebih dari 60.177 personel gabungan. Tingkat keberhasilan pemadaman dilaporkan rata-rata berada di atas 80 persen dari luas lahan yang baru terbakar setiap hari. Selain mengerahkan personel di darat, pemerintah melanjutkan operasi udara melalui water bombing di sejumlah wilayah untuk mempercepat pemadaman.
Di Sumsel sendiri, Herman Deru mengapresiasi personel TNI dan Polri serta seluruh petugas yang berjibaku di lapangan.
Menurutnya, upaya mereka harus ditopang peralatan memadai, koordinasi yang solid, serta kondisi fisik petugas yang tetap terjaga. Sementara tantangan penanganan karhutla juga berkaitan dengan kondisi cuaca, dalam prakiraan cuaca sepekan periode 13-19 Oktober 2026, BMKG melaporkan, kondisi kering masih mendominasi sejumlah wilayah Indonesia. Curah hujan di sebagian wilayah Sumsel juga diprakirakan relatif rendah pada periode dasarian II Oktober.
Hujan tetap berpeluang turun secara lokal akibat dinamika atmosfer. BMKG juga memasukkan Sumsel dalam wilayah yang perlu mewaspadai potensi angin kencang pada 13-15 Oktober 2026. Dalam pemantauan BMKG pada 11 Oktober, Sumsel tercatat memiliki 234 hotspot berkepercayaan tinggi. Angka ini berasal dari waktu pemantauan yang berbeda dengan data SiPongi Kementerian Kehutanan pada 12 Oktober malam, sehingga tidak dapat dibandingkan sebagai pengukuran pada waktu yang sama.
Kondisi cuaca tersebut membuat upaya pemadaman dan pencegahan perlu berjalan beriringan. Pemerintah juga harus terus memperhatikan perkembangan kualitas udara, karena konsentrasi partikulat, kondisi atmosfer, serta arah dan kecepatan angin dapat memengaruhi penyebaran asap.
Masyarakat di wilayah terdampak diimbau mengikuti informasi kualitas udara dan arahan pemerintah. Ketika udara memburuk, aktivitas di luar ruangan sebaiknya dikurangi.
Penggunaan masker juga perlu dipertimbangkan saat harus beraktivitas di luar, terutama bagi anak-anak, ibu hamil, lansia, serta warga dengan gangguan pernapasan atau penyakit kronis.
Sementara yang paling penting ungkap gubernur, perlindungan kesehatan warga menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Sumsel.
Pelayanan kesehatan, sebutnya telah dioptimalkan, termasuk dengan membuka puskesmas selama 24 jam untuk membantu masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan akibat asap.
Namun, penanganan, menurut ia, tidak boleh hanya bergerak setelah kebakaran terjadi. Pencegahan harus diperkuat agar kemunculan titik api baru dapat ditekan.
“Kita tidak boleh hanya bergerak ketika api sudah muncul. Mitigasi dan pencegahan harus terus diperkuat. Saya juga menginstruksikan agar setiap desa memiliki aturan dan langkah konkret dalam menanggulangi kebakaran hutan dan lahan sesuai kondisi wilayahnya,” tegasnya.
Langkah tersebut menjadi penting karena karakteristik wilayah berbeda-beda. Daerah yang memiliki lahan gambut, semak belukar kering, atau kawasan rawan kebakaran membutuhkan pengawasan dan kesiapsiagaan yang disesuaikan dengan kondisi setempat.
Herman Deru pun mengingatkan seluruh pihak agar tidak mengendurkan upaya selama karhutla dan dampak asap masih menjadi ancaman.
“Stamina di lapangan tidak boleh kendor. Kita harus terus bekerja bersama, memperkuat pencegahan, dan memastikan masyarakat tetap mendapatkan perlindungan, baik dari ancaman kebakaran maupun dampak asapnya,” ungkapnya.
Dengan meningkatnya hotspot dalam pemantauan terbaru dan asap yang masih dirasakan masyarakat, pekerjaan penanganan karhutla di Sumsel belum berakhir. Pemadaman harus terus berjalan, tetapi keberhasilan juga ditentukan oleh seberapa kuat pencegahan dilakukan dan seberapa baik masyarakat terlindungi dari dampak asap. (****)
- Penulis: Irwan Wahyudi
