ISPA di Palembang Tembus 6.296 Kasus, BMKG Catat Udara Masih Berasap
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : one
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kota Palembang mencapai 6.296 kasus selama 1-12 Oktober 2026 menyusul kondisi udara berasap masih menjadi perhatian di wilayah Palembang.
Data Dinas Kesehatan Kota Palembang yang disampaikan pada Senin (12/10/2026) melaporkan, jumlah kasus ISPA sepanjang Oktober mencapai 6.296 kasus. Jika dihitung sejak Januari, akumulasi kasus di kota ini telah mencapai 137.779 kasus.
September menjadi bulan dengan jumlah kasus tertinggi sepanjang 2026, yakni 17.434 kasus.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Palembang Fenty Aprina menyebutkan Kecamatan Sukarami sebagai salah satu wilayah dengan laporan kasus terbanyak. Jumlahnya mencapai sekitar 60 kasus per hari.
Tingginya kasus ISPA menjadi perhatian di tengah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Sumatera Selatan. Paparan asap dapat memperburuk gangguan pernapasan, terutama pada anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki riwayat penyakit pernapasan.
Pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang pada Selasa (13/10/2026) pukul 13.00 WIB mencatat kondisi cuaca berasap dengan suhu 35 derajat Celsius.
Jarak pandang saat pengamatan tersebut sekitar satu kilometer, dengan angin bertiup dari tenggara berkecepatan 14,8 kilometer per jam.
Dalam prakiraan per jam, kondisi berasap diperkirakan masih berlangsung hingga malam hari di area bandara. Jarak pandang diprakirakan meningkat menjadi sekitar dua kilometer setelah pengamatan pukul 13.00 WIB.
Sementara itu, prakiraan cuaca untuk sejumlah wilayah Palembang, termasuk Gandus dan Sematang Borang, menunjukkan kondisi udara kabur pada 13 Oktober, dengan suhu di Gandus berkisar 26–36 derajat Celsius.
Meski demikian, kondisi berasap dan jarak pandang di bandara tidak otomatis menggambarkan tingkat pencemaran udara di seluruh kecamatan. Untuk mengetahui risiko kesehatan secara lebih akurat, diperlukan data kualitas udara seperti konsentrasi PM2.5 atau Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU).
Hujan Berpotensi Turun
BMKG sebelumnya memperkirakan potensi peningkatan curah hujan di sejumlah wilayah Sumatera Selatan pada 11–15 Oktober 2026. Peluang hujan tersebut berkaitan dengan dinamika atmosfer yang dapat memengaruhi pembentukan awan hujan.
Namun, potensi hujan tidak berarti kabut asap akan langsung menghilang. Dampaknya bergantung pada lokasi dan intensitas hujan, kondisi angin, serta sumber kebakaran yang masih berlangsung.
Masyarakat diimbau mengikuti pembaruan prakiraan cuaca dan informasi kualitas udara sebelum beraktivitas di luar rumah.
Di tingkat provinsi, Dinas Kesehatan Sumatera Selatan mencatat 52.483 kasus ISPA sepanjang September 2026. Angka tersebut meningkat 11,62 persen dibandingkan Agustus yang mencatat 47.020 kasus.
Dinkes Sumsel sebelumnya juga menyiapkan layanan kesehatan untuk membantu masyarakat terdampak kabut asap. Di Kota Palembang, sekitar 61 posko pelayanan gratis dibuka melalui 44 puskesmas, berdasarkan keterangan Dinkes Sumsel pada 6 Oktober 2026.
Masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan saat asap mengganggu, menggunakan masker yang sesuai ketika harus keluar rumah, serta segera mendatangi fasilitas kesehatan jika mengalami sesak napas atau keluhan pernapasan yang memburuk.
Perkembangan kasus ISPA dan kualitas udara dalam beberapa hari ke depan menjadi hal penting untuk dipantau, terutama jika kabut asap masih menyelimuti sejumlah kawasan di Palembang. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
