Seni & Budaya

Apa Bisa Dirikan Museum Sendiri ?

Foto : faldy

Sumselterkini.co.id, Palembang – Kebanyakan masyarakat selama ini  melihat menjadi, hanya menjadi salah satu tempat untuk menyimpan barang – barang antik, padahal sebenarnya Museum itu lebih hebat dari yang dibayangkan, karena ada unsur histori, edukasi, sosial dan antropologi, lewat kesemuanya ini kita bisa mengenal jati diri bangsa kita dengan belajar dari benda – benda di Museum.

Hal itu disampaikan oleh Plt.Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan ( Sumsel), usai pembukaan sosialisasi peraturan pemerintah No 66 tahun 2015 tentang Museum, di De Burry Cafe.

“Kita ini berada diera global dimana keterbukaan, kita tidak boleh lupa siapa kita, oleh karena itu museum ini sangat strategis untuk mengenali hal itu,” ujarnya, Selasa (2/4/19).

Semua tentang Permuseuman tersebut akan didukung oleh pemerintah pusat untuk Dana Alokasi Khusus (DAK) nya, apalagi Kota Palembang sudah membuat perangkat yang khusus menyangkut tentang kebudayaan.

Kepala Museum Negeri Sumsel, Candra Amprayadi, menjelaskan dalam sosialisasi ini di diatur bagaimana cara mendirikan museum, bagaimana cara melestarikan barang – barang peninggalan budaya dan bagaimana cara meminjam koleksi museum

Tapi peminjam tersebut, dikatakannya ada aturan mainnya, seumpama suatu Museum mau pameran ke daerah tertentu, sementara Museum lain tidak ada koleksinya, maka bisa meminjam ke Museum lain, tentunya dengan jaminan dan asuransi.

“Umum bisa juga, namun dilihat dari kepentingannya, kalau untuk kepentingan penelitian, edukasi silahkan ke museum tapi kalau sifatnya untuk kepentingan instansi silahkan pinjam di museum,” urainya.

Candra mencontohkan, seperti pada tahun 2018 lalu, Museum Nasional pernah meminjam Arca Ibu Mendukung Anak untuk pameran selama 2 bulan di Belgia, dengan prosedurnya izin dari gubernur, izin dari kementerian pendidikan Nasional dan Dirjend Kebudayaan.

Sementara untuk barang – barang peninggalan budaya Sumsel  yang masih tersimpan diluar negeri, Candra menerangkan, pihaknya akan menginventarisir dahulu apa yang ada diluar negeri itu.Yang jelas sebagai besar sudah diambil dan disimpan di museum Nasional dan sebagian besar lagi melalui Dektorat Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) mungkin sudah ada negosiasi dengan pihak luar, karena kewenangan itu ada di direktorat permuseuman, banyak barang – barang luar negeri sudah kembali  dengan negosiasi dan diplomasi.

“Kami ingin sekali masyarakat Sumsel ini mencintai museum, karena museum ini jangan dianggap sebagai tempat menyimpan barang – barang antik karena museum ini adalah tempat belajar yang paling luar biasa.karena ada 10 kategori ilmu pengetahuan di situ,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua KompakS, Hermeyudi, setelah mengikuti sosialisasi  tersebut, dirinya bisa optimis kedepannya bisa membuat serupa museum swasta seperti yang sudah disosialisasikan oleh Direktur Museum Gubug Wayang di Mojokerto, Cyntia Handy, Karena banyak kesamaan dari yang sudah dilakukan oleh KompakS dalam memberikan edukasi kepada kaum Milenial  terkait tentang sejarah dari benda – benda antik dan budaya yang ada di Palembang.

KompakS bersyukur dari sosialisasi museum yang dilakukan oleh Dirjen Kebudayaan, dengan hal itu, semakin meyakinkan KompakS, apa yang sudah dilakukan selama ini dalam mengedukasikan benda benda koleksi KompakS ternyata tepat demi menyongsong percepatan dalam perubahan dan pengembangan kemajuan museum, terutama Museum Negeri Sumsel. “Kalau tidak ada peran serta dari generasi muda, lambat laun peminat  museum akan berkurang,” terangnya.[**]

Penulis : Flady

 

 

Comments

Terpopuler

To Top