Vila Bung Hatta dan Riung Gunung, Dua Jejak Sejarah yang Tersembunyi di Puncak Bogor
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 15 menit yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kemenbud.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Orang datang ke Puncak untuk banyak alasan. Ada yang mencari udara sejuk, menikmati pemandangan perbukitan, atau sekadar menepi dari padatnya kota. Tetapi dibalik kawasan yang identik dengan wisata itu, ada cerita lama yang masih tersimpan di sejumlah bangunan.
Dua di antaranya adalah Vila Bung Hatta di Megamendung dan Vila Riung Gunung di Cisarua, Kabupaten Bogor.
Keduanya memiliki latar yang berbeda, tetapi sama-sama menyimpan jejak sejarah yang membuat kawasan Puncak tidak sekadar menarik karena bentang alamnya.
Vila Bung Hatta, misalnya, berkaitan langsung dengan Mohammad Hatta, Wakil Presiden pertama Indonesia.
Di tempat ini, Hatta pernah menggunakan waktunya untuk bekerja dan menuangkan pemikiran.
Vila tersebut juga menyimpan kisah yang lebih personal. Di sanalah Mohammad Hatta dan Rahmi Rachim melangsungkan pernikahan sederhana setelah Indonesia merdeka.
Kisah itu berawal jauh sebelum pernikahan. Hatta pernah bernazar untuk tidak menikah sebelum Indonesia merdeka. Setelah kemerdekaan tercapai, janji tersebut akhirnya dipenuhi.
Jejak cerita itu masih dapat ditelusuri melalui sejumlah koleksi yang tersimpan di vila, seperti foto, buku dan surat-surat tulisan Hatta.
Nilai sejarah itulah yang membuat pemerintah ingin membawa Vila Bung Hatta ke tingkat pengakuan yang lebih tinggi. Saat ini bangunan tersebut telah berstatus cagar budaya tingkat kabupaten dan didorong untuk menjadi cagar budaya nasional.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam siaran pers belum lama ini menilai nilai penting Vila Bung Hatta bukan hanya terletak pada kisah pernikahan tokoh bangsa tersebut.
Tempat itu juga menjadi bagian dari ruang hidup Hatta ketika bekerja dan melahirkan gagasan yang ikut membentuk perjalanan Indonesia.
Namun, jejak sejarah Puncak tidak berhenti di Megamendung.
Di Cisarua terdapat Vila Riung Gunung. Tempat ini memiliki daya tarik berbeda karena berada di kawasan yang menawarkan panorama Puncak dari sudut pandang yang khas.
Bagi pemerintah, potensi tersebut dapat dikembangkan lebih jauh. Vila Riung Gunung didorong untuk menjadi cagar budaya dan sekaligus dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari wisata sejarah dan budaya.
Gagasan itu menarik karena selama ini Puncak lebih sering dibicarakan sebagai tujuan wisata alam. Padahal, kawasan tersebut memiliki cerita dan peninggalan yang bisa menjadi alasan lain bagi orang untuk datang.
Fadli Zon melihat Puncak memiliki peluang untuk berkembang sebagai kawasan dengan beragam pengalaman wisata, mulai dari budaya, sejarah, kuliner hingga ekonomi kreatif.
Ditahap ini, persoalan pelestarian bertemu dengan kepentingan masyarakat.
Bangunan bersejarah tidak cukup hanya dijaga agar tetap berdiri. Jika memungkinkan, keberadaannya juga perlu memberi manfaat bagi lingkungan sekitar. Wisatawan yang datang untuk melihat sejarah dapat sekaligus menghidupkan usaha kuliner, produk kreatif, jasa wisata dan berbagai aktivitas ekonomi lokal.
Fadli mengatakan bangunan bersejarah perlu dirawat karena menjadi pengingat perjalanan bangsa.
Oleh karena itu, pemanfaatannya harus tetap menjaga nilai dan karakter sejarah yang melekat pada bangunan tersebut.
Pendekatan semacam ini juga menjadi bagian dari upaya Kementerian Kebudayaan dalam menangani berbagai warisan budaya di Indonesia.
Restorasi Candi Perwara di kompleks Candi Prambanan, revitalisasi Kawasan Cagar Budaya Nasional Muara Jambi, hingga digitalisasi narasi sejarah di sejumlah situs menjadi contoh bagaimana pelestarian mulai diarahkan agar lebih dekat dengan masyarakat.
Bagi Puncak, keberadaan Vila Bung Hatta dan Vila Riung Gunung membuka kemungkinan baru.
Di tengah kawasan yang sudah lama hidup dari pariwisata, dua bangunan itu bisa menjadi pintu masuk untuk mengenalkan sisi lain, sebab puncak bukan hanya tentang pemandangan dan udara sejuk, tetapi juga tentang orang-orang, gagasan dan perjalanan sejarah yang pernah berlangsung di sana.
Jika dikelola dengan hati-hati, warisan tersebut tidak harus berhenti sebagai cerita masa lalu. Ia bisa menjadi bagian dari kehidupan kawasan Puncak hari ini. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
