Dokter PERDICI Naik Panggung Dulmuluk, Sisi Tak Terduga di Palembang
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 33 menit yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto :ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Palembang malam itu punya pemandangan yang tidak biasa lantaran para dokter yang sehari-hari berhadapan dengan pasien kritis dan kesibukan ruang perawatan intensif justru tampil di atas panggung. Bukan untuk membahas dunia medis, melainkan memainkan Dulmuluk, teater tradisional khas Sumatera Selatan.
Pemandangan tersebut berlangsung di Griya Agung Palembang, Jumat (11/8/2026) malam, dalam rangkaian Malam Kebudayaan Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) ke-17 Perhimpunan Dokter Intensive Care Indonesia (PERDICI).
Di depan panggung, para tamu duduk serius mengikuti jalan cerita. Namun suasana tidak terus-menerus tegang. Sejumlah bagian dalam lakon berhasil mengundang tawa dari para penonton yang menyaksikan, termasuk Sekretaris Daerah Sumatera Selatan Edward Candra.
Seketika, pertemuan yang biasanya lekat dengan pembahasan medis itu terasa berbeda. Para dokter tidak hanya hadir sebagai peserta agenda ilmiah, tetapi ikut mengambil bagian dalam kesenian yang menjadi salah satu identitas budaya Sumatera Selatan.
Selain Dulmuluk, Malam Kebudayaan tersebut juga diisi paduan suara dan tari-tarian tradisional. Penampilan para dokter menjadi bagian yang menarik karena mereka sendiri yang tampil membawakan lakon Dulmuluk.
Sekretaris Daerah Sumatera Selatan Edward Candra memberikan apresiasi atas pertunjukan tersebut. Ia menilai keterlibatan para dokter dalam kesenian tradisional menggambarkan budaya daerah masih memiliki tempat di tengah berbagai kalangan.
“Jadi sangat wajar dan relevan jika pertunjukan Dulmuluk malam ini menjadi bukti nyata bahwa budaya Sumsel masih tetap hidup, dicintai, dan dilestarikan oleh berbagai kalangan, termasuk oleh para pahlawan medis kita,” ujar Edward.
Menurut Edward, perpaduan antara agenda ilmiah kedokteran dan pertunjukan budaya juga memiliki kaitan dengan perjalanan sejarah Sumatera Selatan.
Palembang, kata dia, memiliki jejak besar Kerajaan Sriwijaya yang pada masanya dikenal sebagai kekuatan maritim sekaligus pusat perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
Karena itu, Edward mengapresiasi keputusan menjadikan Palembang sebagai tuan rumah PIT ke-17 PERDICI. Ia juga mengajak para peserta yang datang dari berbagai daerah untuk tidak hanya mengikuti agenda ilmiah, tetapi turut mengenal kekayaan budaya Sumatera Selatan.
“Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas terpilihnya Palembang sebagai tuan rumah Pertemuan Ilmiah Tahunan ke-17 PERDICI ini. Saya mengajak seluruh peserta untuk turut mempelajari pesona tumbuh kembang kebudayaan di Sumatera Selatan selama berada di sini,” katanya.
Malam Kebudayaan itu turut dihadiri Anggota DPD RI daerah pemilihan Sumatera Selatan, Ratu Tenny Leriva, yang juga memberikan dukungan terhadap pelestarian budaya lokal.
Di tengah agenda ilmiah yang mempertemukan para dokter intensive care dari berbagai daerah, panggung Dulmuluk malam itu menghadirkan sisi yang berbeda. Para tenaga medis yang sehari-hari dituntut serius menghadapi kondisi pasien, untuk sementara tampil sebagai pelaku seni dan membuat suasana malam di Griya Agung terasa lebih cair. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
