Bukan Pesta Mewah! Intip Kesederhanaan Warga GPHJ 1 Kalidoni Palembang Rayakan HUT RI ke-81
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 31 menit yang lalu
- visibility 11
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : dok el
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Seorang anak kecil berdiri di teras rumah sambil menggenggam erat bendera Merah Putih berukuran kecil. Sesekali matanya dengan polosnya melihat ke arah warga yang duduk dan berdiri di sekitarnya.
Meski panas cukup terik, suasananya sore itu cukup ramai. Tawa anak-anak bercampur dengan sorakan para tetangga yang menyaksikan perlombaan.
Begitulah suasana perayaan HUT RI ke-81 di lingkungan GPHJ 1 atau Pesona Harapan Jaya, Kalidoni, Palembang, kemarin.
Tidak ada pesta mewah, bahkan tidak ada panggung besar dengan dekorasi berlebihan.
Yang ada hanya jalan lingkungan, teras rumah, perlengkapan lomba sederhana, serta warga yang meluangkan waktu untuk berkumpul dan merayakan kemerdekaan bersama.
Namun justru dari kesederhanaan itu suasana terasa hidup.
Anak-anak berlarian membawa bendera. Para ibu ikut turun dalam perlombaan. Bapak-bapak pun tidak mau ketinggalan. Mereka punya arena sendiri lewat lomba gaple yang berlangsung santai, tetapi tetap penuh keseruan.
Warga yang menonton sesekali bersorak ketika peserta melakukan kesalahan atau berhasil menyelesaikan tantangan.
Tidak semuanya datang untuk mengejar hadiah.
Banyak yang datang hanya ingin ikut meramaikan suasana, bertemu tetangga, dan menikmati waktu bersama di lingkungan tempat mereka tinggal.
Ketika Teras dan Jalan Lingkungan Menjadi Tempat Berkumpul
Biasanya teras rumah hanya digunakan untuk menerima tamu, duduk sebentar, atau melepas lelah setelah pulang bekerja.
Pada perayaan 17 Agustus, suasananya berubah.
Teras dan jalan lingkungan menjadi tempat warga berkumpul. Anak-anak bermain, orang tua mengawasi, sementara para ibu dan bapak-bapak ikut meramaikan perlombaan.
Warga yang sehari-hari mungkin hanya berpapasan ketika keluar atau masuk rumah, pada kesempatan itu bisa duduk berdampingan.
Ada yang sibuk mengobrol, ada pula yang merekam menggunakan telepon genggam. Ada juga yang hanya menonton sambil sesekali tertawa melihat tingkah peserta lomba.
Suasananya tidak dibuat-buat, semua berjalan apa adanya. Kesibukan sehari-hari memang kerap membuat orang jarang punya waktu untuk berbincang dengan tetangga, meskipun rumah mereka hanya berjarak beberapa meter.
Oleh sebab itu, kegiatan seperti perayaan 17 Agustus menjadi kesempatan sederhana untuk kembali bertemu dan bercengkerama.
Anak-anak Bawa Bendera, Lomba 17-an Pun Dimulai
Kemeriahan paling awal datang dari anak-anak, dengan wajah penuh semangat, mereka mengikuti lomba membawa bendera Merah Putih. Ada yang berlari dengan percaya diri, ada pula yang masih terlihat malu-malu ketika harus tampil di depan warga.
Bagi anak-anak, lomba itu mungkin hanya permainan. Namun dari permainan sederhana tersebut mereka belajar banyak hal. Mulai dari menunggu giliran, mengikuti aturan, menerima kekalahan, hingga memberi semangat kepada teman.
Sorakan orang tua dan tetangga membuat mereka semakin bersemangat.
Ketika ada yang berhasil, tepuk tangan langsung terdengar. Ketika ada yang salah langkah atau gagal, tawa pun pecah, tetapi suasananya tetap penuh kegembiraan.
Begitulah warna lomba 17-an.
Tidak selalu tentang siapa yang menjadi juara, tetapi tentang bagaimana semua bisa menikmati permainan bersama.
Para Ibu Ikut Turun, Balon Pun Jadi Bahan Tawa
Setelah anak-anak, giliran para ibu ikut memeriahkan suasana, salah satu lomba yang mengundang perhatian adalah permainan menjepit balon secara berkelompok.
Kelihatannya memang sederhana, peserta harus berjalan sambil menjaga balon agar tidak jatuh. Masalahnya, setiap orang harus menyesuaikan langkah dengan teman satu kelompok.
Ketika satu orang bergerak terlalu cepat, yang lain harus ikut menyesuaikan. Jika tidak, balon terlepas.
Saat itulah suara tawa warga semakin ramai. Peserta yang gagal pun tidak terlihat kecewa. Mereka justru ikut tertawa bersama penonton.
Ada pula lomba memindahkan bola menggunakan sumpit. Peserta harus menjaga konsentrasi agar bola kecil tidak jatuh sebelum sampai ke tempat tujuan.
Tantangannya semakin terasa ketika suara penonton terus terdengar dari berbagai arah.
Semangat, candaan, dan tawa bercampur menjadi satu.
Bagi warga, momen seperti inilah yang membuat perayaan terasa meriah meskipun digelar secara sederhana.
Bapak-Bapak Juga Punya Keseruan Sendiri Lewat Lomba Gaple
Kemeriahan HUT RI di GPHJ 1 ternyata tidak hanya menjadi milik anak-anak dan para ibu.
Bapak-bapak juga ikut mengambil bagian.
Salah satu yang menarik perhatian adalah lomba gaple.
Permainan yang sudah tidak asing bagi kalangan bapak-bapak itu berlangsung dengan suasana yang lebih tenang dibandingkan lomba anak-anak. Para peserta duduk mengelilingi meja sambil memperhatikan kartu yang ada di tangan masing-masing.
Sesekali suasana menjadi serius ketika peserta menentukan kartu yang akan dikeluarkan.
Namun tidak berlangsung lama.
Candaan dan tawa kembali terdengar ketika ada kartu yang dianggap mengejutkan atau ketika permainan berjalan di luar perkiraan.
Meski terlihat santai, persaingan tetap terasa. Setiap peserta tentu ingin menjadi yang terbaik.
Di sela-sela permainan, warga lain ikut menyaksikan. Ada yang memberikan komentar, ada yang bercanda, dan ada pula yang mengabadikan momen tersebut dengan kamera ponsel.
Setelah permainan selesai, beberapa peserta tampak berfoto bersama sambil membawa hadiah yang mereka peroleh.
Hadiah tersebut menjadi pelengkap kegembiraan.
Tetapi yang lebih menarik dari lomba gaple itu adalah kesempatan bagi para bapak untuk duduk bersama dan menikmati suasana kemerdekaan dengan cara mereka sendiri.
Di tengah kesibukan pekerjaan dan rutinitas sehari-hari, meja gaple menjadi tempat sederhana untuk bercanda, berkompetisi, sekaligus mempererat hubungan dengan tetangga.
Bukan Hanya Menang dan Mendapat Hadiah
Kalau diperhatikan, hampir semua lomba yang digelar memiliki satu kesamaan.
Warga harus bertemu dan berinteraksi.
Anak-anak belajar bermain bersama. Para ibu bekerja sama menjaga balon agar tidak jatuh. Para bapak berkumpul di meja gaple sambil menikmati permainan.
Hal-hal sederhana seperti itu tanpa disadari membuat warga semakin dekat.
Yang sebelumnya hanya saling menyapa, akhirnya bisa duduk dan bercanda bersama.
Tidak ada pembicaraan yang harus selalu serius.
Kadang hanya membahas perlombaan, anak-anak, pekerjaan, atau cerita kecil sehari-hari.
Namun dari percakapan ringan itulah hubungan antar tetangga bisa semakin akrab.
Sederhana Acaranya, Meriah Suasananya
Perayaan HUT RI ke-81 di GPHJ 1 membuktikan kemeriahan tidak selalu membutuhkan acara besar.
Tidak harus ada panggung megah.
Tidak harus mengeluarkan biaya besar.
Sebuah lingkungan bisa terasa ramai hanya, karena warganya mau keluar rumah dan berkumpul.
Anak-anak membawa keceriaan. Para ibu ikut bermain. Bapak-bapak meramaikan lomba gaple. Warga lainnya menjadi penonton sekaligus pemberi semangat.
Semuanya punya bagian masing-masing.
Yang membuat suasana makin menarik adalah tidak adanya jarak yang terlalu terasa.
Warga tertawa bersama ketika peserta gagal. Mereka bertepuk tangan ketika ada yang berhasil. Pemenang mendapat hadiah, sementara peserta lain tetap bisa pulang dengan membawa cerita.
Mungkin justru kesederhanaan seperti inilah yang membuat perayaan terasa dekat.
Kebersamaan Jangan Hanya Ada Saat Bulan Agustus
Perayaan 17 Agustus memang hanya berlangsung sesaat.
Setelah perlombaan selesai, anak-anak kembali ke rumah. Para ibu kembali dengan aktivitas masing-masing. Bapak-bapak pun meninggalkan meja gaple dan kembali menjalani rutinitas.
Jalan lingkungan kembali tenang.
Namun ada harapan agar kebersamaan yang muncul selama perayaan tidak berhenti ketika bulan Agustus berakhir.
Sebab hubungan baik antar tetangga bukan hanya diperlukan saat ada acara.
Ketika ada warga yang membutuhkan bantuan, ketika lingkungan menghadapi persoalan, atau ketika ada sesuatu yang harus diselesaikan bersama, rasa saling peduli tetap dibutuhkan.
Perayaan kemerdekaan setidaknya menjadi bahkan refleksi hidup bertetangga bukan hanya soal rumah yang berdiri bersebelahan.
Ada hubungan yang perlu dijaga.
Ada kepedulian yang perlu dipelihara.
Dan ada ruang untuk saling mengenal lebih dekat.
Setelah Perlombaan Usai, Ceritanya Tetap Tinggal
Menjelang acara berakhir, suasana perlahan kembali tenang.
Peralatan lomba mulai dibereskan. Anak-anak kembali ke rumah. Warga yang sejak tadi berkumpul mulai beranjak dari tempat masing-masing.
Namun keseruan yang terjadi selama perayaan tentu tidak langsung hilang.
Bagi seorang anak, mungkin yang akan diingat adalah saat berlari membawa bendera Merah Putih.
Bagi para ibu, bisa jadi yang paling berkesan adalah ketika tertawa bersama teman satu tim setelah balon jatuh.
Sementara bagi bapak-bapak, cerita tentang pertandingan gaple dan siapa yang berhasil menjadi pemenang mungkin masih menjadi bahan candaan setelah acara selesai.
Itulah kenangan kecil yang sering kali membuat sebuah lingkungan terasa lebih dekat.
Perayaan HUT RI ke-81 di GPHJ 1, Kalidoni, Palembang, pada akhirnya bukan tentang seberapa besar acara yang dibuat.
Bukan pula tentang seberapa mahal hadiah yang dibagikan.
Kemerdekaan terasa dalam bentuk yang sederhana, anak-anak bebas bermain, para ibu bisa tertawa bersama, bapak-bapak menikmati permainan gaple, dan para tetangga punya kesempatan untuk duduk serta berbincang.
Tidak mewah, tetapi hangat.
Tidak besar, tetapi meninggalkan cerita.
Dari teras rumah, jalan lingkungan, arena lomba anak-anak hingga meja gaple para bapak, semangat kemerdekaan hadir dengan caranya sendiri.
Sebab merayakan kemerdekaan tidak selalu harus dengan pesta besar.
Kadang cukup dengan bendera Merah Putih, beberapa perlombaan sederhana, dan warga yang mau meluangkan waktu untuk berkumpul.
Dari kebersamaan kecil seperti itulah semangat gotong royong dan rasa kekeluargaan di lingkungan tetap terjaga, dan saling menjaga menghargai sesama. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
