Budaya Indonesia Mau Jadi Mesin Ekonomi, Fadli Zon Ungkap Arah Barunya
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month Sabtu, 5 Sep 2026
- visibility 29
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kemenbud.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Menteri Kebudayaan Fadli Zon melihat budaya Indonesia memiliki peluang lebih besar sebagai warisan yang dilestarikan menyusul kekayaan budaya dinilai dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi dan soft power Indonesia.
Pernyataan itu disampaikan Fadli saat menghadiri Forum Generasi Indonesia Bertutur di Epicentrum XXI, Setiabudi, Jakarta kemarin.
Ia menjelaskan perubahan cara pandang terhadap budaya penting dilakukan di tengah perkembangan zaman dan digitalisasi.
Fadli mengatakan pemerintah saat ini tidak hanya berfokus pada pelindungan budaya. Pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan juga menjadi bagian dari upaya menjadikan kebudayaan lebih hidup dan memberi manfaat bagi masyarakat.
“Budaya bukan cost center, tetapi investasi dan soft power,” kata Fadli.
Potensi tersebut, menurut Fadli, dapat dikembangkan dari berbagai kekayaan budaya, termasuk situs cagar budaya dan museum. Pemerintah juga tengah mendorong revitalisasi sejumlah situs serta museum nasional.
Selain itu, pemerintah mengupayakan repatriasi atau pengembalian benda-benda budaya Indonesia yang berada di luar negeri.
Langkah ini tambahnya penting guna memperkuat kembali pengetahuan dan identitas budaya Indonesia.
Fadli juga menekankan peran generasi muda dalam menjaga keberlanjutan budaya. Menurutnya, perkembangan teknologi harus menjadi ruang baru untuk memperkenalkan dan mengembangkan kebudayaan tanpa kehilangan identitas.
Ia berharap pemajuan budaya tidak hanya bergantung pada pemerintah. Swasta, komunitas, individu, dan pelaku ekonomi kreatif dinilai perlu ikut membangun ekosistem kebudayaan.
Fadli mengatakan keberagaman budaya Indonesia justru merupakan kekuatan yang dapat menjadi perekat masyarakat.
Sehingga lanjutnya, budaya diharapkan tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu, tetapi ikut berperan dalam perjalanan Indonesia menuju 2045. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
