Kamis, 29 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Inspirasi » CATATAN PINGGIR : Rumah Tahfidz & Senter Kecil di Tengah Gelapnya Dunia

CATATAN PINGGIR : Rumah Tahfidz & Senter Kecil di Tengah Gelapnya Dunia

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Rabu, 11 Jun 2025
  • visibility 1.119
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sumselterkini.co.id, – Di Prabumulih, sebuah kota mungil di Sumatera Selatan yang biasanya terkenal karena sumur minyak dan pecel lele pinggir jalan yang gurih, kini muncul sumur baru yang lebih dalam sumur hafalan Qur’an. Bukan dari masjid ber-AC atau bangunan megah berkubah emas, tapi dari rumah-rumah biasa yang di dalamnya mengalir ayat demi ayat  kadang sambil anak-anak main karet gelang, kadang sambil ibu-ibu masak rendang.

Gubernur Sumatera Selatan, H. Herman Deru, baru saja meresmikan TPA/TPQ Plus Tahfiz Qur’an Al-Hayza di kota ini. Peresmian itu adalah bagian dari visi besar menjadikan Sumsel provinsi religius lewat program “Satu Desa, Satu Rumah Tahfidz”. Sebuah program yang awalnya diragukan, tapi kini justru jadi bukti bahwa suara Qur’an bisa bergema dari ujung dusun hingga tengah kota. Kalau niatnya baik, jalan pasti terbuka kayak pintu rumah pas Lebaran siapa pun boleh masuk, asal bawa niat dan ketupat.

Tapi, mari kita jujur sebentar Rumah Tahfidz bukan hal baru, di beberapa titik di Sumatera Selatan, bahkan sejak dulu masyarakat yang diam-diam menyemai gerakan ini. Di Palembang, ada Rumah Tahfidz Al-Fattah, Nurul Iman, dan puluhan lainnya yang berdiri bukan karena SK gubernur, tapi karena kekhawatiran para orangtua melihat anak-anak makin akrab dengan TikTok ketimbang Tafsir Jalalain.

Di Prabumulih sendiri, inisiatif serupa lahir dari masyarakat. Santri menghafal di ruang tamu, ustaz ngajar sambil ngopi hitam dari gelas plastik. Uang kas dari donatur, makan siang dari ibu-ibu komplek. Ini gotong-royong level Qur’ani, bukan hanya sekadar formalitas program.

Tentu, peran pemerintah tetap penting. Tapi jangan sampai kita jatuh ke jebakan “peresmian syndrome”, semangat di awal, loyo di tengah jalan, dan ngilang waktu monitoring. Rumah Tahfidz bukan proyek bangunan, tapi proyek akhlak. Kalau isinya cuma gedung kosong dan spanduk pudar, mending uangnya dipakai beliin kitab untuk santri.

Di banyak tempat lain, gerakan tahfidz sudah menjadi bagian dari sistem pendidikan. Di Malaysia, anak-anak tahfidz disediakan beasiswa hingga Timur Tengah. Di Turki, ada sekolah khusus hafidz dengan sistem boarding dan kurikulum nasional yang terintegrasi. Bahkan di Nigeria   yang sering dianggap tidak stabil, rumah tahfidz tumbuh pesat karena dianggap sebagai pilar utama mengatasi kemiskinan moral dan kekerasan.

Di Indonesia sendiri, gerakan rumah tahfidz kini merambah ke banyak kota. Di Payakumbuh, Sumatera Barat, ada gerakan “Kampung Qur’an” yang menjadikan satu kelurahan penuh sebagai pusat tahfidz. Di Garut, pemerintah daerah menyediakan insentif untuk guru-guru tahfidz, agar semangat mereka tak padam di tengah keterbatasan. Bahkan di kota besar seperti Surabaya dan Makassar, rumah tahfidz mulai menyatu dengan kehidupan urban, menyelip di antara deretan ruko dan apartemen.

Hal ini menandakan bahwa membumikan Al-Qur’an tak lagi soal nuansa pedesaan, tapi juga menjadi bagian dari wajah kota modern. Rumah Tahfidz bukan simbol ketinggalan zaman, tapi justru menjadi perlawanan lembut terhadap gelombang krisis nilai yang makin menggila.

Dan kalau kita berkaca ke dalam, kadang pembangunan akhlak memang tak seramai pembangunan jalan tol. Ia sunyi, senyap, dan kadang tidak diliput media. Tapi ia bekerja diam-diam, meresap dalam pikiran dan perilaku anak-anak kita. Ia seperti embun pagi tak terdengar saat turun, tapi menyegarkan seluruh dedaunan.

Membangun generasi Qur’ani itu seperti menanam pohon durian tak bisa dipanen dalam dua tahun. Kadang butuh sepuluh tahun baru kelihatan hasilnya. Tapi kalau sudah berbuah, aromanya menyebar, rasanya manis, dan bikin orang datang dari jauh. Begitu pula anak-anak yang dididik di Rumah Tahfidz. Mungkin hari ini masih salah baca, masih ketiduran pas subuh, tapi kelak bisa jadi pemimpin, guru, atau orang bijak yang mengajak masyarakat pada jalan terang.

Rumah Tahfidz adalah upaya kecil menuju peradaban besar. Ini bukan lomba mengejar ranking MTQ semata, walau prestasi Sumsel yang masuk 10 besar nasional patut diapresiasi. Tapi yang lebih penting apakah santri kita tumbuh jadi manusia yang hormat pada orangtua, jujur dalam transaksi, dan mampu jadi teladan di tengah masyarakat?

Kita boleh bangun jembatan layang, tapi jangan lupakan jembatan hati. Kita bisa bikin stadion besar, tapi jangan lupa ruang kecil di mana ayat-ayat Allah diajarkan dengan sabar.

Dan jangan lupa pula bahwa Rumah Tahfidz bukan hanya milik umat Islam. Nilai-nilai kebaikan yang diajarkan di dalamnya seperti kejujuran, kasih sayang, tanggung jawab  adalah nilai-nilai universal. Ketika seorang anak belajar tidak hanya membaca, tapi juga menghayati isi Al-Qur’an, maka ia tumbuh jadi manusia yang tahu arah dalam hidupnya. Dan itu adalah investasi paling penting.

 

Kebaikan

Karena pada akhirnya, seperti kata pepatah Arab “Al-ummu madrasatun idza a’dadtaha, a’dadta sya’ban thayyibal a’raq”. Seorang ibu adalah sekolah. Jika engkau menyiapkannya, maka engkau sedang menyiapkan sebuah bangsa yang harum akar budayanya.

Rumah Tahfidz adalah sekolah dari para “ibu” zaman ini  tempat di mana anak-anak tidak hanya dididik menghafal, tapi dibesarkan untuk hidup dalam nilai. Maka mari kita rawat, bukan hanya dengan dana, tapi juga dengan cinta, kelak bukan seberapa tinggi gedung yang kita bangun yang akan ditanya di akhirat. Tapi berapa banyak jiwa yang kita tuntun menuju kebaikan.

Dan semoga, suara ayat suci yang dibaca anak-anak dari rumah-rumah sederhana di Prabumulih itu bisa menembus langit, mengetuk rahmat, dan menjadi alasan negeri ini masih dijaga Tuhan karena dari rumah-rumah kecil itu, mungkin akan lahir tokoh besar masa depan   bukan hanya penghafal Qur’an, tapi penjaga nurani bangsa.

Jika kita ingin melangkah menuju Indonesia Emas 2045, kita tidak cukup hanya dengan tambang emas, tapi juga tambang iman. Rumah Tahfidz adalah tambang itu   sunyi, dalam, dan penuh cahaya. Kita jaga rumah-rumah itu bukan hanya sebagai bangunan, tapi sebagai mercusuar. Agar anak-anak kita tahu, bahwa ketika dunia gelap dan bising, selalu ada cahaya dari rumah sederhana, tempat di mana ayat-ayat Tuhan dibaca dengan lirih  dan hati mereka dipenuhi cahaya.

Dan karena itulah, jangan pernah remehkan suara pelan dari surau kecil, atau lantunan Qur’an dari rumah yang gentengnya bocor. Di sanalah doa-doa paling jujur dilangitkan, dan di sanalah masa depan bangsa mungkin sedang dibisikkan.

Rumah Tahfidz adalah sumur di tengah gurun gersang nilai, ia tak hanya menyegarkan yang haus akan ilmu, tapi juga memberi arah bagi yang tersesat di zaman serba bingung ini. Maka tugas kita bukan hanya mendirikannya, tapi menjaganya tetap hidup  dengan keikhlasan, dengan dukungan nyata, dan dengan harapan yang tak putus-putus.

Kalau negara ini ingin kuat bukan hanya secara ekonomi tapi juga secara nurani, maka Rumah Tahfidz adalah salah satu pondasinya. Diam, tapi kokoh. Sunyi, tapi berpengaruh. Tak ramai disorot, tapi esensial, karena dalam dunia yang makin gaduh, justru tempat-tempat yang tenang itulah yang menjaga akal dan hati tetap waras.

Jadi, kalau hari ini kita masih punya anak-anak yang hafal surat Ar-Rahman lebih dulu daripada nama-nama artis TikTok, percayalah kita masih punya harapan. Dan harapan itu, berawal dari rumah-rumah tahfidz yang kini tumbuh di Prabumulih dan seantero Sumatera Selatan bahkan seluruh Nusantara, pelan tapi pasti, menyemai generasi terang dari jalan yang sunyi.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dorong Kreativitas Generasi Milenial, BTN Dukung Islamic Nexgen Fest 2019

    Dorong Kreativitas Generasi Milenial, BTN Dukung Islamic Nexgen Fest 2019

    • calendar_month Selasa, 29 Jan 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.924
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, Bandung – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN mendukung program yang diinisiasi Kementerian BUMN Republik Indonesia dalam Islamic Nexgen Fest 2019 sebagai upaya mendorong kreativitas anak muda generasi milenial Zaman now. Direktur Utama Bank BTN, Maryono, mengatakan dalam Islamic Nexgen Fest tersebut para muslim milenial akan bersaing dalam tiga jenis kompetisi berbeda […]

  • Padi Reborn  Tadi Malam Bius Penonton, Sobat, Kata Fadli Kami Tidak Boleh Nangis

    Padi Reborn Tadi Malam Bius Penonton, Sobat, Kata Fadli Kami Tidak Boleh Nangis

    • calendar_month Sabtu, 11 Nov 2017
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.437
    • 0Komentar

    “Malaikat Untukku” judul lagu baru ikut dikenalkan kepada seluruh Sobat yang hadir.”

  • KABAR GREENPEACE INDONESIA : COP26, Lalu Apa?

    KABAR GREENPEACE INDONESIA : COP26, Lalu Apa?

    • calendar_month Sabtu, 20 Nov 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.178
    • 0Komentar

    PERHELATAN COP26 sudah berakhir minggu lalu. Setelah dua minggu berdiskusi dalam forum tentang iklim terbesar itu, para petinggi dunia melahirkan Glasgow Climate Pact (GCP) atau “Pakta Iklim Glasgow” — yang berisi harapan dan kekecewaan. Let us start with some good news. Kalau sebelumnya para petinggi negara harus melaporkan update capaian NDC setiap 5 tahun setelah Perjanjian Paris, GCP mempercepat timeline aksi […]

  • Kita & Covid-19

    Kita & Covid-19

    • calendar_month Senin, 9 Mar 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.777
    • 0Komentar

    JUMLAHinfeksi kasus virus corona (covid-19) terus mengalami lonjakan dari hari ke hari. Kendati demikian, jumlah pasien yang meninggal terus meningkat dan yang dinyatakan sembuh dari virus corona juga terus mengalami peningkatan. Meski terdengar menggembirakan tetapi masayarakat masih ragu, karena kabar kesembuhan pasien Corona  itu masih mengundang keraguan.Pasalnya, dalam Situation Report yang dirilis organisasi kesehatan dunia […]

  • Terkait  Anak-anak Yatim Piatu, Pemda Lain Bisa Gak Ya Seperti Muba ?

    Terkait  Anak-anak Yatim Piatu, Pemda Lain Bisa Gak Ya Seperti Muba ?

    • calendar_month Minggu, 16 Jun 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 840
    • 0Komentar

      PEMKAB Musi Banyuasin [Muba] bisa menjadi contoh bagi pemda lainnya, pasalnya daerah tersebut memberikan kesempatan kepada santri yatim piatu dan kaum dhuafa mengenyam fasilitas pendidikan, dan mendalami agama di Pondok Pesantren [Ponpes] Salamun Aitam Islamic Idol. Program ini juga mendapat apreasiasi dari beberapa kalangan di Sumsel. Bupati Muba Dodi Reza Alex dalam sebuah acara Halal Bi Halal […]

  • Varian Baru Covid Meningkat, Polres Ingatkan Wisatawan Gunakan Prokes Ketat

    Varian Baru Covid Meningkat, Polres Ingatkan Wisatawan Gunakan Prokes Ketat

    • calendar_month Senin, 7 Feb 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 729
    • 0Komentar

    JAJARAN Personel Polres Majalengka terus mengingatkan masyarakat ditempat tempat wisata maupun keramaian lainnya guna mencegah kasus Covid 19 Varian baru Omicron, himbauan prokes ini di laksanakan disejumlah obyek wisata dan tempat keramaian yang berada di wilayah kabupaten Majalengka, Minggu (6/2/2022). Kabid Humas Polda Jabar Kombes. Pol. Ibrahim Tompo, S.I.K. M.Si., mengatakan bahwa kegiatan ini dilakukan […]

expand_less
WordPress Archive Aimo – AI Agency & Technology WordPress Theme AiNext – AI Agency & Startup WordPress Theme Aiomatic - Automatic AI Content Writer & Editor, GPT-3 & GPT-4, ChatGPT ChatBot & AI Toolkit Air Conditioner & HVAC Repair WordPress Theme Aira – Conditioning Airbnb Property Availability Checker (Forms) Airi – Clean, Minimal WooCommerce Theme Airi – Minimal WooCommerce Theme AirMenu – Responsive Fullscreen Navigation WordPress Plugin Airtech – Plumber WordPress theme