Muamalah, Fondasi yang Menguatkan Keluarga
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month Jumat, 31 Jul 2026
- visibility 12
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Membangun keluarga yang harmonis tidak selalu bergantung pada besarnya penghasilan, tingginya pendidikan, atau megahnya tempat tinggal. Semua itu memang menjadi penunjang kehidupan, tetapi bukan penentu utama lahirnya keluarga yang tenteram. Ada satu fondasi yang kerap kali luput mendapat perhatian, yakni bagaimana setiap anggota keluarga memperlakukan satu sama lain, seperti dalam ajaran Islam, nilai itu dikenal sebagai muamalah.
Kata Muamalah tak hanya istilah dalam kajian fikih, kata itu hidup dalam keseharian, mulai dari cara suami menghormati istri, orang tua mendidik anak dengan kasih sayang, anak berbakti kepada orang tua, hingga kepedulian terhadap tetangga dan lingkungan sekitar. Nilai-nilai sederhana itulah yang menjadi perekat hubungan antarmanusia sekaligus fondasi lahirnya masyarakat yang berakhlak.
Di tengah kehidupan modern saat ini, menjaga hubungan baik justru menjadi tantangan tersendiri, karena dengan kesibukan bekerja, berkembangnya teknologi, hingga derasnya arus informasi sering membuat komunikasi di dalam keluarga semakin berkurang.
Bahkan tidak sedikitpun, orang lebih banyak menghabiskan waktu dengan telepon genggam dibandingkan berbincang-bincang bersama keluarga, akibat masalah itu, kedekatan emosional perlahan memudar, meski tinggal di bawah atap yang sama.
Oleh sebab itu, untuk membangun keluarga tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan materi, keharmonisan juga membutuhkan pendidikan akhlak yang dimulai dari rumah sebagai pondasi sehingga menghasilkan nilai-nilai muamalah, sehingga bisa menemukan maknanya sebagai bekal menghadapi perubahan zaman.
Rumah, Sekolah Pertama Muamalah
Keluarga merupakan lingkungan pertama yang membentuk karakter seseorang, seorang anak belajar mengenal kasih sayang bukan dari buku pelajaran, melainkan dari perlakuan orang tuanya. Ia belajar menghormati orang lain dari contoh yang diberikan di rumah. Ia memahami arti kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, dan gotong royong melalui kebiasaan yang berlangsung setiap hari.
Karakter ini setidaknya tumbuh sejak kecil, hingga terbawa sampai dewasa, tidak mengherankan juga, jika banyak persoalan sosial sejatinya berakar dari lemahnya pendidikan karakter di lingkungan keluarga.
Dalam Islam, hubungan manusia dengan Allah SWT (hablum minallah) berjalan beriringan dengan hubungan manusia terhadap sesamanya (hablum minannas). Ibadah yang baik seharusnya tercermin dalam perilaku sehari-hari, bahkan seseorang yang rajin beribadah diharapkan juga menjadi pribadi yang santun, jujur, mudah memaafkan, serta peduli terhadap lingkungan sekitarnya.
Muamalah mengajarkan menghargai pasangan, menyayangi anak, menjaga silaturahmi, membantu tetangga, hingga bersikap adil kepada orang lain merupakan bagian dari ibadah. Nilai-nilai ini menjadi modal sosial guna menjaga harmoni dalam kehidupan bermasyarakat.
Perempuan Penjaga Nilai dalam Keluarga
Dalam membangun keluarga yang harmonis, tentu perempuan memiliki peran yang sangat strategis, pasalnya seorang ibu bukan hanya mengurus kebutuhan rumah tangga, tetapi juga menjadi pendidik pertama dengan memperkenalkan anak pada nilai-nilai agama, akhlak, dan kehidupan sosial.
Dari seorang ibu juga tentunya juga si anak bisa belajar mengucapkan kata-kata yang baik, menghormati orang lain, meminta maaf ketika bersalah, hingga berbagi dengan sesama. Pendidikan semacam ini berlangsung setiap hari dan kerap kali lebih membekas dibandingkan pelajaran yang diterima di sekolah.
Oleh sebab itu, peningkatan kualitas perempuan melalui pendidikan, pembinaan, dan kajian keagamaan menjadi investasi jangka panjang bagi pembangunan masyarakat. Ketika perempuan memiliki pemahaman agama yang baik, maka nilai-nilai tersebut akan tumbuh dalam keluarga, kemudian menyebar ke lingkungan sekitar.
Sehingga kesadaran itulah yang terus didorong oleh berbagai macam organisasi perempuan ke Islaman, terutama di Sumatera Selatan (Sumsel) melalui kegiatan-kegiatan pembinaan keagamaan yang berorientasi pada penguatan karakter keluarga.
Kajian Menjawab Tantangan Zaman
Semangat memperkuat pemahaman tersebut tercermin dalam kegiatan Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia Organisasi Perempuan Bidang Keagamaan melalui Kajian Tafsir Al-Qur’an bertema “Muamalah (dengan Keluarga dan Sesama Manusia)” diselenggarakan Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Sumsel.
Wakil Gubernur Sumsel H. Cik Ujang dalam hadir saat itu menyampaikan apresiasi atas komitmen BKOW dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia perempuan melalui kegiatan keagamaan yang memberikan manfaat nyata bagi keluarga maupun masyarakat.
Menurutnya, tema muamalah sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Islam, kata dia, mengajarkan keseimbangan antara hubungan dengan Allah SWT dan hubungan dengan sesama manusia, bahkan keduanya tidak dapat dipisahkan dalam membentuk pribadi yang berakhlak.
“Perempuan memiliki peran strategis dalam menyukseskan program pemerintah, khususnya program berdikari dicanangkan Presiden RI dan juga sejalan dengan Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP). Manfaatkan pekarangan rumah yang kosong untuk ditanami kebutuhan pokok seperti cabai, bawang, dan sebagainya,” ujarnya.
Pesan itu setidaknya menjadi bahan untuk merefleksi diri, sebab muamalah bukan hanya berbicara tentang hubungan sosial, tetapi juga kepedulian terhadap kesejahteraan keluarga. Memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam kebutuhan pangan itu juga merupakan bentuk tanggung jawab yang dimulai dari lingkup terkecil.
Jika dilakukan secara berkelanjutan, langkah sederhana tersebut tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan keluarga sekaligus mendukung program pemerintah dalam mewujudkan kemandirian pangan masyarakat.
Belajar Agama, Menguatkan Kehidupan
Ketua Dharma Wanita Persatuan Provinsi Sumsel, Hj. Lidyawati Cik Ujang, menilai kajian tafsir Al-Qur’an menjadi ruang yang penting bagi perempuan untuk memperdalam pemahaman terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, terutama yang berkaitan dengan hubungan antarsesama manusia.
Memahami Al-Qur’an, paparnya bukan hanya membaca dan menghafalkan ayat, tetapi juga mengamalkan pesan-pesannya dalam kehidupan sehari-hari. Kajian tafsir memberikan kesempatan bagi peserta untuk melihat bagaimana ajaran Islam dapat menjadi solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi keluarga maupun masyarakat.
Melihat tingginya antusiasme peserta, kegiatan tersebut direncanakan menjadi agenda rutin setiap bulan. Bahkan, apabila jumlah peserta terus meningkat, kapasitas tempat akan diperluas agar semakin banyak perempuan dapat mengikuti kajian..
Oleh karena itu, keberlanjutan kegiatan semacam ini menjadi penting karena pembinaan karakter tidak dapat dilakukan secara instan. Dibutuhkan proses belajar yang berkesinambungan agar nilai-nilai yang dipahami benar-benar menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Harmoni Berawal dari Hal-Hal Sederhana
Membangun masyarakat yang berakhlak, kesimpulannya sebenarnya tidak selalu dimulai dari kebijakan besar atau program berskala luas, perubahan itu, justru berawal dari rumah, tempat setiap orang belajar menghormati, menyayangi, dan menghargai sesamanya.
Karenanya, Muamalah mengajarkan keluarga yang kuat lahir dari kebiasaan-kebiasaan sederhana, seperti mendengarkan dengan tulus, berbicara dengan santun, membantu tanpa diminta, menjaga silaturahmi, dan peduli terhadap lingkungan sekitar.
Nilai-nilai itu mungkin tampak kecil, tetapi memiliki dampak besar dalam membentuk karakter individu maupun kehidupan sosial.
Ketika muamalah menjadi budaya di setiap rumah, keluarga tidak hanya menjadi tempat pulang, melainkan juga ruang pertama yang melahirkan generasi berakhlak, dari keluarga-keluarga yang harmonis itulah tumbuh masyarakat yang kuat, saling peduli, dan siap menghadapi berbagai tantangan zaman. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
