Tenun Nusantara Dibawa ke Panggung Dunia, Kemenekraf Raih Guinness World Records
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 4 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : ekraf.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf/Bekraf) membawa wastra tenun Nusantara ke panggung dunia pada perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Sebanyak 306 pegawai Kemenekraf mengenakan tenun tradisional dari berbagai daerah dan meraih Guinness World Records di Jakarta, Senin (17/8/2026).
Kemenekraf mencatat pencapaian itu dalam kategori Largest Gathering of People Wearing Traditional Indonesian Woven Textiles. Jumlah peserta tersebut melampaui syarat minimum 250 orang yang ditetapkan Guinness World Records.
Official Adjudicator Guinness World Records, Austin Johnson, memastikan pencapaian itu setelah timnya melakukan proses verifikasi selama sekitar 90 menit setelah upacara kemerdekaan.
“Syarat minimum untuk rekor ini adalah 250 orang, dan saya dapat memastikan bahwa Kementerian Ekraf telah mencapai 306 orang,” kata Austin di Auditorium Gedung Film Pesona Indonesia, Jakarta.
Para pegawai Kemenekraf mengenakan beragam wastra tenun Nusantara, seperti songket, tenun ikat, lurik, endek, dan ulos. Mereka memadukan dua unsur gaya khas busana dari berbagai daerah dalam penampilan tersebut.
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan kegiatan itu sekaligus memperkenalkan kekayaan tenun dari berbagai daerah. Setiap wastra membawa ciri khas, filosofi, dan identitas masyarakat setempat.
“Ini merupakan rekor dunia yang menjadi hasil nyata untuk membawa lebih banyak wastra tenun Nusantara dari setiap daerah dengan ciri khas yang merepresentasi filosofi dan identitas masyarakat setempat,” ujar Teuku Riefky.
Menurut Teuku Riefky, perkembangan subsektor fesyen membuat wastra tenun Nusantara tetap relevan dengan gaya hidup masa kini. Penggunaan dan pengembangan tenun juga dapat membuka ruang ekonomi bagi para pelaku yang berada di dalam ekosistemnya.
Kemenekraf melibatkan unsur penenun, perajin, desainer, pegiat fesyen, hingga masyarakat dalam pengembangan ekosistem tersebut. Para peserta juga mengenakan wastra asli yang menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM).
Penggunaan tenun tradisional, kata Teuku Riefky, ikut mendukung keberlangsungan perajin sekaligus menjaga warisan budaya Indonesia.
“Ekonomi kreatif harus mampu mengubah warisan budaya memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Di balik wastra Nusantara terdapat pengetahuan tradisional, kreativitas, talenta, dan rantai nilai ekonomi yang produktif,” katanya.
Kemenekraf ingin masyarakat semakin mengenal dan menggunakan wastra Nusantara, baik untuk kebutuhan di dalam negeri maupun untuk memperluas pengenalannya ke pasar global.
“…kami ingin wastra Nusantara semakin dikenal, digunakan, dan digaungkan lebih luas, baik di dalam negeri maupun ke tingkat global,” ujar Teuku Riefky.
Peserta pencatatan rekor berasal dari sejumlah unit kerja Kemenekraf. Mereka antara lain berasal dari Sekretariat Kementerian/Sekretariat Utama Badan Ekraf, Deputi Bidang Pengembangan Strategis Ekonomi Kreatif, Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain, Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi, serta Deputi Bidang Kreativitas Media.
Kemenekraf juga melihat pencatatan Guinness World Records ini sebagai momentum untuk mengembangkan tenun Nusantara melalui inovasi desain, peningkatan kualitas, dan perluasan akses pasar.
Lewat momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Kemenekraf ingin menunjukkan bahwa kreativitas, keberagaman, dan kearifan lokal dapat berjalan bersama dengan perkembangan ekonomi kreatif Indonesia. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
