Dulu Dibiarkan, Daun Gamal Kini Jadi ‘Emas Hijau’ Peternak Probolinggo!
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month Sabtu, 1 Agt 2026
- visibility 10
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kemdiktisaintek.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Bagi masyarakat di Tanah Air, daun gamal mungkin hanya tanaman yang tumbuh di sekitar kebun atau lahan kosong. Namun berbeda di masyarakat Desa Ranukem, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur (Jatim) tanaman ini mulai dilihat sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi.
Melalui pengolahan sederhana, daun gamal kini dimanfaatkan sebagai bahan pakan silase untuk ternak sekaligus diolah menjadi pupuk organik. Inovasi ini menjadi salah satu upaya masyarakat menghadapi persoalan yang sering muncul dalam usaha peternakan, terutama ketika musim kemarau membuat ketersediaan hijauan pakan semakin terbatas.
Selama ini, peternak kecil cukup bergantung pada ketersediaan rumput segar sebagai pakan utama. Ketika pasokan hijauan menurun, biaya produksi dapat meningkat, karena peternak harus mencari alternatif pakan. Kondisi tersebut mendorong perlunya pemanfaatan bahan lokal yang mudah diperoleh dan dapat disimpan dalam jangka waktu lebih panjang.
Melalui teknologi silase, daun gamal yang memiliki kandungan nutrisi potensial dapat diawetkan sehingga tetap dapat digunakan sebagai cadangan pakan. Teknologi ini diperkenalkan kepada anggota Kelompok Tani Hutan Desa Ranukem melalui program pendampingan melibatkan Politeknik Negeri Jember (Polije) bersama sejumlah mitra.
Dosen Program Studi Diploma Tiga Produksi Ternak Polije, Rizki Amalia Nurfitriani, S.Pt., M.Si., menjelaskan pemanfaatan daun gamal menjadi pakan silase menjadi salah satu cara untuk menjaga ketersediaan pakan sepanjang tahun.
“Daun gamal memiliki kandungan nutrisi yang baik. Dengan teknologi silase, kualitas hijauan dapat dipertahankan sehingga peternak memiliki cadangan pakan ketika kondisi lingkungan tidak mendukung,” jelas Rizki.
Tidak hanya berhenti pada kebutuhan pakan, pemanfaatan daun gamal juga diarahkan untuk mendukung pertanian yang lebih ramah lingkungan. Sisa pengolahan dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik sehingga sumber daya yang tersedia dapat digunakan kembali dan tidak menjadi limbah.
Konsep tersebut memperlihatkan bagaimana satu potensi lokal dapat memberikan manfaat ganda bagi masyarakat. Tanaman yang sebelumnya belum banyak diperhitungkan kini berpeluang menjadi bagian dari sistem pertanian dan peternakan yang lebih mandiri.
Program pendampingan ini melibatkan 119 anggota Kelompok Tani Hutan Desa Ranukem melalui kerja sama Research Development Initiative (RDI), Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Universitas Gadjah Mada (UGM), PT Paiton Operation and Maintenance Indonesia (PT POMI), dan Polije.
Perwakilan RDI, AB Darmawan, mengatakan keberhasilan inovasi di masyarakat membutuhkan proses pendampingan yang berkelanjutan.
Menurutnya, kerja sama berbagai pihak diperlukan agar hasil riset dapat diterapkan dan memberikan manfaat nyata, bagi Polije, keterlibatan dalam kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan hasil kajian perguruan tinggi agar dapat digunakan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Selain dosen, mahasiswa Program Studi Teknologi Pakan Ternak juga dilibatkan dalam proses pendampingan sebagai bentuk pembelajaran langsung di lapangan. Ke depannya, pemanfaatan daun gamal di Desa Ranukem diharapkan tidak hanya membantu peternak menyediakan pakan, tetapi juga membuka peluang pengembangan usaha berbasis sumber daya lokal. Dari sebuah tanaman yang selama ini kurang diperhatikan, masyarakat mulai menemukan peluang baru untuk memperkuat ekonomi desa secara berkelanjutan.(***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
