Senin, 10 Agu 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Agribisnis » Tambak Berkerak ke Tambak Bertabur Rupiah, Saat Udang, Lumpur & Cuan Bersatu di Pantura

Tambak Berkerak ke Tambak Bertabur Rupiah, Saat Udang, Lumpur & Cuan Bersatu di Pantura

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Sabtu, 12 Jul 2025
  • visibility 647
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

DI suatu senja di pesisir Pantura, seekor udang termenung. “Dulu kami dibudidaya dengan cinta,” keluhnya. “Sekarang? Kami hidup di tambak yang airnya sudah seperti es teh basi”. Tapi tenang, wahai udang Pantura, kabar baik datang bagai paket COD, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) lagi gercep ngerombak semua!

Iya, betul. Tambak-tambak yang dulu hidup segan mati ogah di sepanjang Bekasi, Karawang, Subang, hingga Indramayu, sekarang siap naik pangkat jadi kawasan budi daya perikanan elit ala sultan.

Program revitalisasi tambak ini bukan sembarang proyek. Ini masuk dalam deretan Program Strategis Nasional (PSN), alias proyek yang nggak boleh asal-asalan kayak bikin gorengan di pinggir jalan.

Targetnya pun fantastis dari produktivitas 0,6 ton per hektare per tahun jadi 144 ton. Itu bukan naik kelas, tapi langsung naik pesawat jet.

Kalau pakai kalkulator warung kopi, volume produksi bisa tembus 1,18 juta ton. Nilainya? Rp30,65 triliun, saudara-saudara! Uangnya cukup buat beli pulsa seluruh warga Pantura selama satu dekade, plus cicil pembangunan tol udang dari Subang ke Singapura.

Dalam program ini, tambak akan disulap jadi kawasan canggih yang nggak bikin udang stres. Ada IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) buat nyaring air, ada vegetasi hijau buat bikin suasana teduh, dan ada zona budi daya, zona pendukung, serta zona penghijauan. Udangnya happy, ekosistemnya adem, dan petaninya tinggal tepuk tangan sambil panen.

Ini mirip dengan konsep Integrated Multi-Trophic Aquaculture (IMTA) di Norwegia. Di sana, udang, rumput laut, dan ikan hidup bareng dalam harmoni, saling dukung dan tidak saling nyinyir. Limbah dari satu spesies jadi nutrisi buat yang lain. Udangnya kayak punya ekosistem sosial sama seperti netizen, tapi versi produktif.

Program ini nggak bisa jalan sendiri. Karena itu KKP sudah gandengan tangan (bukan gandengan hati) dengan pemerintah provinsi dan kabupaten. Mereka sepakat bantu sosialisasi, mendata penggarap tambak, menyiapkan tenaga kerja lokal, dan bikin proses perizinan yang tidak berbelit seperti kabel charger di laci.

Tapi ingat, jangan cuma ramai saat konferensi pers dan tanda tangan MoU. Habis itu, hilang seperti janji kampanye. Petani tambak butuh pendampingan, bukan cuma dokumentasi. Jangan sampai udangnya tumbuh sehat, tapi petaninya malah tumbuh stres.

Program ini juga harapannya bisa menggoda investor bukan dengan rayuan gombal, tapi lewat kesiapan infrastruktur dan kepastian hukum. Kita butuh pendekatan seperti Thailand saat membangun kawasan budi daya di pesisir Songkhla.

Pemerintahnya bikin kawasan khusus, lengkap dengan pelabuhan mini, cold storage, dan pelatihan digital marketing buat petani udang. Investornya pun berdatangan, dan udangnya jadi selebgram ekspor.

Kalau Pantura mau seperti itu, ya jangan cuma andalkan semangat nasionalisme dan pantun pembukaan rapat. Perlu kejelasan dari zonasi, peta risiko, hingga ketersediaan listrik dan jalan. Jangan sampai tambaknya sudah modern, tapi sinyal HP-nya tetap E.

Program ini cakep, tapi jangan sampai jadi program yang “mahal di mimbar, murah di lapangan”. Terlalu sering kita lihat proyek bagus yang akhirnya tinggal nama, karena eksekusinya kayak sambal kurang garam, lempeng dan bikin kecewa.

Petani tambak butuh pelatihan berkelanjutan, akses pembiayaan ringan, dan teknologi yang gak bikin pusing. Kalau bisa, bangun juga koperasi digital, biar petani nggak ketergantungan tengkulak yang tiap pagi ganti harga seenaknya.

Ingat, revitalisasi bukan cuma soal infrastruktur, tapi juga soal manusia dan mentalitas. Karena tambak bisa dibangun dalam dua bulan, tapi kepercayaan petani? Kadang butuh bertahun-tahun dan puluhan cangkir kopi.

Kata ibu saya, “Kalau kamu pengen hidup tenang, jangan cuma cari uang, tapi pelihara lingkungan”. Nah, revitalisasi tambak ini adalah kesempatan emas. Sekali mendayung, kita bisa panen udang, menjaga ekosistem, dan membangun ekonomi lokal.

Seperti kata José Graziano da Silva, mantan Direktur Jenderal FAO “Sustainable aquaculture is not a choice, it is a necessity”. Budi daya berkelanjutan bukan pilihan, tapi keharusan.

Tambak bukan sekadar lahan berlumpur, tapi ladang harapan bagi ribuan keluarga. Jangan biarkan tambak-tambak itu tidur panjang seperti kisah mantan yang belum move on. Ayo kita bangunkan, kita poles, dan kita bikin tambak jadi sumber kehidupan sekaligus sumber tertawa.

Karena di negeri yang tiap hari dibanjiri sinetron politik, kita butuh sesuatu yang lebih segar. Dan percayalah, melihat udang lompat-lompat bahagia di tambak, jauh lebih menyenangkan daripada nonton drama pencalonan pejabat.

Salam dari Pantura!
Udangnya bahagia, rakyatnya ketawa, dan ekonominya… semoga nggak masuk angin.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Warga Gotong Royong Perbaiki Jalan Rusak di Desa Mulya Plakat

    Warga Gotong Royong Perbaiki Jalan Rusak di Desa Mulya Plakat

    • calendar_month Selasa, 4 Feb 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.418
    • 0Komentar

    TIDAK  ingin berlarut dengan kondisi rusaknya ruas jalan di Desa Warga Mulya Kecamatan Plakat Tinggi Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Dinas PUPR Muba dibantu TNI, warga hingga pelajar SMP Negeri 4 Plakat Tinggi gotong royong memperbaiki beberapa titik jalan yang rusak. Pantauan di lokasi, Senin (3/2/2020) tampak berjibaku Dinas PUPR dengan alat berat dibantu warga setempat […]

  • 3 Rumah Warga Desa Lorok, Kecamatan Indralaya Utara Dilalap Si Jago Merah

    3 Rumah Warga Desa Lorok, Kecamatan Indralaya Utara Dilalap Si Jago Merah

    • calendar_month Minggu, 28 Agt 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.111
    • 0Komentar

      Peristiwa kebakaran terjadi di Dusun 3 Desa Lorok, Ogan Ilir (27/8/2022) pada pukul 20:35 Wib tadi malam. Tiga rumah warga ludes terbakar dan beberapa unit kendaraan ikut terbakar, seperti sepeda motor dan mobil Dumtruk. Kemunculan api penyebab kebakaran datang dari salah satu rumah warga Juruza (57) .   Kebakaran menimpa rumah Jumadi (47), Kamil […]

  • Komunitas Komala Family Muba Berikan Sembako Bagi Lansia

    Komunitas Komala Family Muba Berikan Sembako Bagi Lansia

    • calendar_month Rabu, 29 Mei 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 893
    • 0Komentar

    DALAM rangka Gerakan Sosial Peduli Kasih Kepada Sesama, Camat Lalan Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Okta Rizal bersama Komunitas Komala Family memberikan bantuan sembako kepada masyarakat kurang mampu dan lansia di Kecamatan Lalan, Penyerahan tersebut dilaksanakan Balai Desa Bandar Agung Kecamatan Lalan, Musi Banyuasin  Selasa (28/5/2019). Menurut laporan yang diterima, bantuan sembako tersebut diserahkan langsung oleh […]

  • Munas PB Perbakin XVIII 2018. Alex Noerdin: “Kepercayaan dan kehormatan yang diterima nanti harus dipertanggungjawabkan”

    Munas PB Perbakin XVIII 2018. Alex Noerdin: “Kepercayaan dan kehormatan yang diterima nanti harus dipertanggungjawabkan”

    • calendar_month Minggu, 2 Des 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.355
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID, JAKARTA – PB Perbakin (Persatuan Menembak dan Berburu Indonesia) menyelenggarakan Musyawarah Nasional (Munas) di Jakarta, 30 November hingga 2 Desember. Munas ini juga menjadi momen untuk memilih Ketua Umum dan kepengurusan PB Perbakin periode 2018-2022, rencananya pemilihan akan dilakukan pada hari Minggu siang (2/12/2018). Pelaksanaan Munas yang merupakan amanat dari AD/ART Perbakin yang harus […]

  • Terkait Pandemi COVID-19, Dewan Pers Keluarkan Edaran Ini

    Terkait Pandemi COVID-19, Dewan Pers Keluarkan Edaran Ini

    • calendar_month Kamis, 26 Mar 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.627
    • 0Komentar

    BANGSA Indonesia, bersama bangsa bangsa lain di berbagai penjuru dunia, saat ini sedang berjuang dengan keras untuk menanggulangi pandemi corona virus disease (covid) 19. Dibutuhkan kesungguhan, sumbangsih dan kerjasama semua pihak untuk mengatasi bencana ini. Sebagai bangsa besar yang telah berhasil menangani berbagai masalah, kita harus yakin insha Allah dapat menangani pandemi covid 19 secara […]

  • Literasi Media Menangkal Hoaks

    Literasi Media Menangkal Hoaks

    • calendar_month Selasa, 11 Des 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.332
    • 0Komentar

    PADA awalnya, pengertian literasi hanya terfokus pada kemampuan seseorang dalam membaca dan menulis. Menurut Bhattacharya (2012), literasi digambarkan sebagai kemampuan membaca dan menulis. Seorang yang terpelajar mampu memahami semua bentuk komunikasi. Dampak utama yang dimiliki oleh literasi adalah pada pikiran seorang individu. Pemikiran kritis dan kemampuan yang menentukan sangat ditingkatkan. Keaksaraan melibatkan berbagai fondasi bahasa […]

expand_less
WordPress Archive MyThemeShop School WordPress Theme MyThemeShop Seekers WordPress Theme MyThemeShop Sensational WordPress Theme MyThemeShop Simple WordPress Theme MyThemeShop Simpleton WordPress Theme MyThemeShop SociallyViral WordPress Theme MyThemeShop SocialNow WordPress Theme MyThemeShop Softpress WordPress Theme MyThemeShop Spike WordPress Theme MyThemeShop Split WordPress Theme