Rabu, 30 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Inspirasi » CATATAN PINGGIR : Diam-Diam Cendekia [Ketika Otak Tak Perlu Panggung]

CATATAN PINGGIR : Diam-Diam Cendekia [Ketika Otak Tak Perlu Panggung]

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Kamis, 22 Mei 2025
  • visibility 1.153
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sumselterkini.co.id, – Di kampung sebelah, ada dua tipe manusia yang suka nongkrong di warung kopi. Yang pertama, kalau duduk, lidahnya lebih sibuk daripada sendok soto di hajatan.

Cerita apa pun dia komentari dari harga telur, teori konspirasi, sampai tata surya. Yang kedua, lebih pendiam. Duduknya tenang, matanya awas, mulutnya irit nyruput kopi pelan sambil manggut-manggut, seperti menyetujui isi buku yang cuma dia yang ngerti.

Nah, yang terakhir ini biasanya lebih pintar. Tapi justru dia tak banyak gaya. Tidak sibuk bikin status, tidak suka teriak-teriak di forum publik. Sebab ia tahu, kata orang tua “air tenang menghanyutkan, sedangkan ember kosong nyaring bunyinya”.

Hari-hari ini, banyak yang mulutnya tak kenal rem, asal bunyi (asbun), asal trending, asal eksis, lantas muncul narasi-narasi ajaib, seperti “logika adalah produk barat” atau “data itu kadang menyesatkan.” Lah, kalau sudah begini, bukan debat yang muncul, tapi tontonan absurd macam sinetron yang episode-nya tak kunjung tamat.

Banyak yang tong kosong nyaring bunyinya. Terbukti, tak paham ilmu, literasi tipis, baca buku cuma pas nyari kutipan motivasi. Bahkan nulis surat administrasi saja masih salah ejaan antara “Yth” dan “Yah.” Kalau sudah begini, berkoar di tempat umum bukan lagi menyampaikan gagasan, tapi malah membuka aib intelektual secara sukarela. Ibarat jualan tahu busuk tapi dipajang di etalase kaca ber-AC.

Ada pepatah Jawa yang bilang “Witing tresno jalaran soko kulino, witing rame jalaran soko petasan,” artinya, yang ribut belum tentu penting. Petasan memang ramai, tapi cepat habis dan kadang bikin kuping berdenging. Sementara mercon yang berisi dan meledaknya pas, biasanya diam di awal baru meletup sekali tapi menggetarkan.

Orang pintar tahu, hidup ini bukan tentang siapa yang paling keras bersuara, tapi siapa yang paling dalam berpikir, mereka seperti sumur tua di belakang rumah diam, tapi airnya jernih dan dalam. Sementara yang hobi ngomong ngalor-ngidul, mirip keran bocor berisik tapi airnya nggak bisa ditampung.

Lihat Jepang, di sana, orang yang banyak bicara justru dianggap tidak sopan. Budaya tatemae mengajarkan pentingnya menjaga ketenangan dan tidak mengobral opini.

Pejabat di sana jarang tampil heboh. Tak ada yang keliling kota sambil live TikTok atau joget di pos ronda. Tapi negaranya tetap maju. Karena mereka tahu kerja tak butuh tepuk tangan, cukup hasil yang bicara.

Lucunya, di negeri +62 ini, seringkali kamera menyala dulu, baru mikir belakangan. Orang bisa tampil di forum penting cuma bermodal semangat dan jaket almamater pinjaman.

Argumen disusun pakai power point, tapi isinya malah copy-paste dari Wikipedia. Padahal, kalau bicara kebijakan dan masa depan, tak cukup pakai semangat perlu otak yang siap lari maraton, bukan cuma selfie.

Filosofi Diam

Orang pintar tak perlu banyak suara. Mereka tahu bahwa akal sehat bukan untuk dipamerkan, tapi untuk dipakai. Dalam dunia yang makin ramai ini, menjadi diam bukan berarti menyerah, tapi justru sedang meramu jurus, seperti nasi yang enak nggak perlu teriak, cukup ditanak dengan sabar.

Karena pada akhirnya, seperti kata pepatah Arab, “Jika kata-katamu bukan lebih baik dari diam, maka diamlah.”
Dan seperti kata nenekku, “Mulutmu harimaumu. Kalau harimau lapar, ya kamu juga yang digigit.”

Jadi, daripada bicara asal-asalan dan menari di panggung opini tanpa isi, lebih baik jadi sumur dalam yang tenang, jernih, dan menyegarkan. Sebab, zaman sekarang, mereka yang benar-benar paham biasanya memilih diam. Sementara yang hanya ingin tampil, ya cuma jadi headline sesaat… sebelum akhirnya dilupakan seperti sinetron episode ke-187.

Kalau kamu pikir diam itu lemah, berarti kamu belum tahu ilmu kungfu yang jurusnya diem dulu baru nyeruduk. Sama kayak strategi timnas Jepang pelatihnya kalem, pemainnya gak neko-neko, tapi begitu main, langsung bikin lawan jantungan.

Ini diperkuat juga  Yuval Noah Harari, penulis buku Sapiens. Ia bilang “Orang yang benar-benar paham sejarah dan data, akan lebih banyak diam, karena mereka tahu dunia ini kompleks. Yang terlalu yakin biasanya nggak baca.”

Di dunia yang isinya lomba viral dan debat ala warung kopi online, diam itu kadang jadi benteng terakhir orang waras.

Karena pada akhirnya petasan rame tapi gak ngasih terang, ember goyang terus tapi gak ada airnya., dan yang paling penting pintar itu bukan yang paling sering tampil, tapi yang paling sering mikir.

Jadi, daripada ribut kayak kipas angin rusak, mending tenang tapi nyala karena yang paling keras bukan suara, tapi logika. Yang paling bikin maju bukan ributnya, tapi pikirannya.

Ingat kata pepatah Jawa “Sepi ing pamrih, rame ing gawe.” (Diam dalam kepentingan, tapi sibuk dalam karya).

Kalau kamu diam, bukan berarti kamu bodoh, bisa jadi kamu cuma malas debat sama yang logikanya masih pakai sistem barter.
Karena kadang, diam itu emas… terutama kalau yang ngomong adalah aluminium.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pembangunan Pelabuhan Tanjung Carat Tetap Menjadi Prioritas 

    Pembangunan Pelabuhan Tanjung Carat Tetap Menjadi Prioritas 

    • calendar_month Jumat, 7 Jan 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.408
    • 0Komentar

    MENTERI Perhubungan (Menhub) RI Budi Karya Sumadi menunjuk provinsi Sumsel  sebagai model penerapan transportasi massal sehingga pihaknya akan memprioritaskan fasilitas yang dibutuhkan. Hal itu diterangkan Menhub Budi saat kunjungan kerjanya ke Palembang terkait rencana integrasi layanan transportasi di di Sumsel dan pembangunan pelabuhan New Palembang di Tanjung Carat, kemaren. Menurut Budi, Sumsel memiliki fasilitas transportasi […]

  • Bahaya Kabut Asap, Diknas OKI Kasih Kelonggoran Jam Belajar

    Bahaya Kabut Asap, Diknas OKI Kasih Kelonggoran Jam Belajar

    • calendar_month Selasa, 24 Sep 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 827
    • 0Komentar

    PEMERINTAH Kab. Ogan Komering Ilir [OKI] melalui Dinas Pendidikan (Disdik) memberikan kelonggaran jam belajar sekolah terkait kabut asam. Kelonggaran jam sekolah tersebut setelah dikeluarkan surat edaran Nomor 420/756/SKR/Disdik/2019 tertanggal 20 September lalu. “Jika udara dalam kondisi parah (buruk), maka sekolah melakukan kegiatan belajar fakultatif yakni siswa diberi tugas khusus sesuai dengan mata pelajaran yang seharusnya berlangsung […]

  • Mahasiswa Baru Masuk, Lulusan Keluar, Setelah Bertahun-tahun Kuliah, Apa yang Berubah?

    Mahasiswa Baru Masuk, Lulusan Keluar, Setelah Bertahun-tahun Kuliah, Apa yang Berubah?

    • calendar_month Selasa, 25 Agt 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 22
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID – Setiap tahun, gerbang kampus seperti menyaksikan dua cerita yang berjalan beriringan. Ada anak muda yang baru datang membawa harapan. Mereka mengenakan jaket almamater dengan semangat baru, karena kali pertama menggunakan pakaian bebas, dan mencari ruang kelas, mengenal teman baru, serta perlahan mencoba kemudian merenung seperti apa kehidupan setelah kuliah. Dibagian lainnya, ada pula […]

  • TP PKK Sumsel Salurkan Bantuan Penderita Stroke

    TP PKK Sumsel Salurkan Bantuan Penderita Stroke

    • calendar_month Jumat, 24 Apr 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.702
    • 0Komentar

    TP-PKK Provinsi Sumsel mengulurkan bantuan peduli kasih dan sembako untuk Marsak warga RT 11, Kelurahan Kuto Batu yang menderita sakit stroke dan darah tinggi selama beberapa tahun terakhir ini. “Kita mendapat laporan ada warga tak mampu yang menderita sakit beberapa tahun terakhir ini. Kita berikan bantuan bagi Bu Marsak. Kemudian kita akan teruskan data dan […]

  • CEO of Job Fair: Ketika Temon Cari Kerja, Mimin Malah Jadi HRD Dadakan

    CEO of Job Fair: Ketika Temon Cari Kerja, Mimin Malah Jadi HRD Dadakan

    • calendar_month Jumat, 25 Jul 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 608
    • 0Komentar

    “KALAU tidak kerja, ya kerjaan kita cari kerja, Mon!”Begitulah kalimat  yang keluar dari mulut Mimin, si penjaga warung kopi sekaligus konsultan karir spiritual nonformal di RT 05 Palembang. Temon, teman Mimin sejak zaman rebutan Tamiya di SD, baru saja pulang dari Job Fair yang digelar di Hotel Arya Duta Palembang baru-baru ini,  bajunya kusut, wajahnya […]

  • Beraktivitas di Luar Rumah? 3 Hal Wajib Dipertimbangkan!

    Beraktivitas di Luar Rumah? 3 Hal Wajib Dipertimbangkan!

    • calendar_month Rabu, 11 Nov 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.321
    • 0Komentar

    PANDEMI COVID-19 masih berlangsung, tetapi hidup tetap berjalan dan tidak semua di antara kita bisa memilih untuk selalu #DiRumahAja. Ketika memang harus beraktivitas di luar rumah, susun rencana kita dengan memperhatikan 3 hal sederhana, seperti siapa, di mana, dan berapa lama, untuk mengurangi risiko terpapar COVID-19. Ingat selalu patuhi protokol kesehatan #PakaiMasker #JagaJarak #CuciTanganPakaiSabun apapun […]

expand_less
WordPress Archive EasyPlex – Movies – Live Streaming – TV Series, Anime eBay Aliexpress WooImporter Ebec – Renovation Elementor Template Kit Ebullient – Magazine & News WordPress Theme eCare – Elderly & Health Care Elementor Template Kit eClass – Learning Management System eClassify – Classified ads Buy and Sell Marketplace Flutter App with Laravel Admin Panel eClipse – Photography Portfolio WordPress Theme Eco Nature – Environment & Ecology WordPress Theme Eco Press – Nature, Ecology & NGO WordPress Theme