Selamatkan Hutan Tak Harus Jadi Rimbawan, Ini Caranya!
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 32 menit yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kehutanan.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Menjaga hutan bukan hanya urusan rimbawan. Anak muda bisa mengambil peran melalui inovasi, teknologi, edukasi, penelitian, hingga pengembangan usaha kehutanan. Peluang itulah yang didorong Kementerian Kehutanan melalui Mentoring Class Forest Youthverse bertema “Arek Lestari” pada 29-30 Oktober 2026.
Program digelar Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri) bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur itu mengajak generasi muda melihat konservasi dari sudut pandang berbeda, sehingga tak hanya mengenali kekayaan alam, tetapi harus mencari cara guna menjawab persoalan yang mengancam kelestariannya.
Kepala Pusgenri, Luckmi Purwandari, menilai generasi muda memiliki posisi strategis dalam menjaga keberlanjutan hutan dan keanekaragaman hayati. Oleh karena itu, kepedulian perlu diterjemahkan menjadi gagasan, inovasi, dan tindakan nyata.
“Generasi muda tidak cukup hanya menjadi penonton dalam upaya pelestarian hutan. Mereka harus menjadi bagian dari solusi,” ujarnya melansir laman resmi kehutanan, minggu.
Selama dua hari, peserta diajak memahami urgensi perlindungan biodiversitas, pelestarian habitat, serta pengelolaan hutan lestari.
Kekayaan ekosistem Jawa Timur, dari dataran rendah, savana hingga pegunungan, menjadi bahan pembelajaran untuk mengenali tantangan konservasi di lapangan.
Perspektif lain datang dari Purnomo Probo Nugroho, Kepala Bidang Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekosistem Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur. Dalam sesi Sustainable Forest Management in Action.
Dia menjelaskan pengelolaan hutan harus mempertemukan kepentingan ekologi, ekonomi, dan sosial.
Menurut Purnomo, kontribusi anak muda tidak harus dilakukan dengan bekerja langsung di kawasan hutan. Mereka dapat terlibat dalam edukasi konservasi, pendampingan kelompok tani hutan, kewirausahaan kehutanan, hingga penelitian dan pengembangan teknologi.
Peserta juga diajak belajar dari pengalaman pengelolaan ekosistem di empat taman nasional Jawa Timur, yakni Bromo Tengger Semeru, Baluran, Meru Betiri, dan Alas Purwo. Pembelajaran ini dilanjutkan dengan sesi Creative Thinking dan Design Thinking untuk melatih peserta mengenali masalah dan merancang solusi.
Melalui Innovation Challenge, katanya peserta diminta menyusun rencana aksi dan video kampanye sebagai bentuk penerjemahan gagasan menjadi langkah konkret.
Melalui Arek Lestari, Pusgenri berharap lahir generasi muda yang tidak hanya memahami kekayaan biodiversitas, tetapi juga berani mengambil peran dalam menjaga hutan. Sebab, konservasi tidak hanya mereka bekerja di dalam hutan, tetapi harus mampu menghadirkan solusi dari luar kawasan. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
