15 Tahun di Hutan Jantho, Marconi Terpantau Bawa Anak
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 9
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto :kehutanan.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Perjalanan Marconi kembali menghadirkan kabar menggembirakan dari hutan Jantho, Aceh. Orangutan itudilepasliarkan pada 2011 itu, kini terpantau bersama anak keduanya, menambah catatan penting dalam upaya mengembalikan orangutan hasil rehabilitasi ke habitat alaminya.
Momen tersebut ditemukan tim Post Release Monitoring (PRM) Pusat Reintroduksi Orangutan Jantho saat melakukan pemantauan di kawasan Cagar Alam Jantho. Tim melihat seekor orangutan betina dewasa bersama anaknya di atas pohon, bergerak mendekati area Kandang Adaptasi.
Setelah diamati lebih dekat, orangutan dewasa tersebut dipastikan merupakan Marconi.
Anaknya diperkirakan berusia 2–3 tahun dan berjenis kelamin jantan. Kondisi fisiknya tampak sehat. Dalam pengamatan petugas, anak Marconi juga mulai menunjukkan perilaku aktif dengan bergerak sendiri di antara pepohonan, tidak selalu berada dalam pelukan induknya.
Meski mulai mengeksplorasi lingkungan, anak orangutan itu tetap berada di dekat Marconi. Perilaku tersebut menjadi bagian dari proses tumbuh kembangnya di habitat alami.
Bukan kali pertama Marconi terpantau membesarkan anak di alam liar sebab pada 2017, tim juga mencatat keberadaan anak pertamanya, Masen. Kini, kemunculan Marconi bersama anak kedua memperlihatkan perkembangan lain dari perjalanan hidupnya setelah kembali ke hutan.
Kisah Marconi bermula jauh sebelum pemantauan terbaru ini. Sejak 2009, ia menjalani rehabilitasi selama tiga tahun di Pusat Karantina dan Rehabilitasi Orangutan SOCP Sibolangit, Sumatera Utara. Setelah melalui proses tersebut, Marconi dilepasliarkan di Jantho pada 2011.
Ia termasuk salah satu orangutan generasi awal yang dilepasliarkan di Pusat Reintroduksi Orangutan Jantho sejak program reintroduksi di kawasan itu dimulai.
Setelah sekitar 15 tahun hidup di habitat alaminya sejak pelepasliaran, Marconi kembali menjadi bagian dari catatan penting konservasi orangutan. Perjalanannya tidak berhenti ketika ia meninggalkan pusat rehabilitasi, tetapi berlanjut melalui proses beradaptasi, bertahan hidup, hingga berkembang biak di hutan.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni melansir laman resmi kehutanan, menegaskan keberhasilan konservasi satwa liar tidak cukup diukur dari proses pelepasliaran. Satwa juga harus mampu bertahan hidup, berkembang biak, dan meneruskan generasinya di habitat alami.
Pandangan tersebut sejalan dengan pentingnya pemantauan setelah pelepasliaran. Keberadaan orangutan di hutan perlu terus dipantau untuk mengetahui perkembangan kondisinya sekaligus mendukung keberlangsungan populasi di alam.
Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Setyawan Pudyatmoko, juga menekankan pentingnya pengelolaan kawasan konservasi secara konsisten. Upaya itu mencakup perlindungan habitat, pemantauan satwa liar, serta pengendalian berbagai ancaman yang dapat mengganggu kelestarian ekosistem.
Kisah Marconi menjadi pelajaran, mengembalikan orangutan ke alam hanyalah salah satu tahap dalam pekerjaan konservasi. Tantangan berikutnya adalah memastikan hutan tetap aman dan mampu menyediakan ruang hidup bagi satwa untuk tumbuh, berkembang biak, dan melanjutkan generasinya.
Sebab, masa depan orangutan tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan mereka kembali ke hutan, tetapi juga oleh kemampuan manusia menjaga habitat tempat mereka bergantung. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
