Pencemaran hingga Sedimentasi di Sumsel Jadi Perhatian, Forum DAS Diminta Tak Hanya Formalitas
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 1 menit yang lalu
- visibility 2
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto :ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID- Pencemaran sungai hingga sedimentasi yang mengancam kelestarian lingkungan di Sumatera Selatan menjadi perhatian dalam upaya menjaga 42 daerah aliran sungai (DAS) sehingga Forum DAS diminta tidak hanya menjadi organisasi formal, tetapi berperan aktif dalam mengawasi kerusakan lingkungan dan mendorong upaya penyelamatan sungai.
Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru menilai keberadaan Forum DAS harus memberikan manfaat nyata, terutama dalam menyampaikan informasi mengenai kondisi lingkungan dan mengingatkan berbagai pihak ketika terjadi kerusakan.
Pesan itu disampaikannyasaat menghadiri Lokakarya Forum DAS Sumsel di Hotel Beston, Palembang, Selasa (27/10/2026).
Menurutnya, menjaga DAS tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Keterlibatan Forum DAS dan masyarakat diperlukan agar pengawasan terhadap sungai, hutan, serta kawasan sekitarnya dapat berjalan lebih efektif.
“Yang paling bertanggung jawab menjaga DAS bukan hanya pemerintah, tetapi juga Forum DAS bersama masyarakat. Forum DAS harus menjadi pemasok informasi yang akurat sekaligus pengingat ketika terjadi kerusakan lingkungan,” tegasnya.
Sumsel memiliki 42 DAS yang menjadi bagian penting dalam menopang kehidupan masyarakat, menjaga keseimbangan ekosistem, serta mendukung aktivitas perekonomian.
Oleh sebab itu, kerusakan pada kawasan DAS tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga dapat menimbulkan persoalan sosial dan ekonomi.
Sejumlah ancaman yang menjadi perhatian meliputi penggundulan hutan, abrasi, sedimentasi, penambangan ilegal, hingga pencemaran merkuri.
Berbagai persoalan tersebut membutuhkan penanganan serius karena berpotensi merusak habitat, menurunkan kualitas air, serta meningkatkan risiko bencana.
Salah satu kasus yang mendapat perhatian itu, ialah dugaan pencemaran sungai di wilayah Musi Rawas Utara (Muratara) yang disebut berkaitan dengan kematian sekitar 120 ekor ikan pari air tawar endemik.
Peristiwa tersebut menjadi perhatian terhadap pentingnya menjaga kualitas air dan melindungi keberlangsungan biota sungai.
Selain pencemaran, sedimentasi Sungai Musi juga menjadi persoalan yang perlu diperhatikan. Tingginya sedimentasi dapat mengganggu aktivitas pelayaran dan berdampak pada peningkatan biaya logistik.
Kondisi ini menjelaskan persoalan DAS tidak hanya berkaitan dengan kelestarian alam, tetapi juga menyangkut kelancaran kegiatan ekonomi daerah.
Untuk menghadapi berbagai ancaman tersebut, gubernur meminta Forum DAS memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah, aparat penegak hukum, Balai DAS, perguruan tinggi, serta perusahaan yang memanfaatkan sungai.
Kerja sama lintas sektor diperlukan untuk memperkuat pengawasan, mencegah kerusakan lingkungan, serta mendorong rehabilitasi kawasan DAS.
Dukungan berbagai pihak juga diharapkan dapat membantu menyediakan informasi yang akurat sebagai dasar penanganan persoalan lingkungan.
Forum DAS diharapkan tidak hanya menjadi tempat berdiskusi atau menjalankan kegiatan seremonial, tetapi juga mampu berkontribusi dalam mengidentifikasi persoalan, menyampaikan peringatan, dan mendorong tindak lanjut dari pihak terkait.
Ia menegaskan, upaya menjaga kelestarian DAS harus dimulai dari kepedulian dan tindakan nyata seluruh pihak. Langkah tersebut penting agar kerusakan lingkungan tidak semakin meluas dan kondisi sungai tetap terjaga.
“Minimal jangan lebih rusak dari kondisi sekarang. Kalau kita semua bergerak bersama, sungai tetap lestari, masyarakat terlindungi, dan generasi mendatang tidak akan menyalahkan kita sebagai perusak lingkungan,” pungkasnya. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
