Likuiditas Perbankan Makin Ketat, Bank Sumsel Babel Ungkap Jurus Berebut Dana Masyarakat
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : banksumselbabel.com/id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Pertumbuhan kredit perbankan nasional mencapai 13 persen hingga Juli 2026 bergerak jauh lebih cepat dibandingkan dana yang berhasil dihimpun dari masyarakat (DPK).
Bank Indonesia mencatat Dana Pihak Ketiga (DPK) pada periode yang sama hanya tumbuh 7,7 persen secara tahunan (year on year/yoy). Selisih ini membuat perbankan harus lebih cermat menjaga ketersediaan dana di tengah kebutuhan kredit yang terus berjalan.
Kondisi itu juga ikut mendorong Loan to Deposit Ratio (LDR) industri perbankan ke sekitar 92 persen, sehingga persaingan mendapatkan dana masyarakat pun semakin terasa, karena bank-bank mulai menawarkan bunga simpanan yang lebih kompetitif.
Pemimpin Divisi Sekretaris Perusahaan Bank Sumsel Babel Teddy Kurniawan saat dihubungi mengatakan, kondisi likuiditas tersebut turut memberikan dampak secara tidak langsung terhadap perseroan. Meski demikian, posisi likuiditas Bank Sumsel Babel masih terjaga, bahkan LDR perseroan berada dalam rentang target yang ditetapkan regulator, yakni 84-94 persen.
Untuk menjaga kondisi itu, Bank Sumsel Babel memperkuat penghimpunan dana murah atau CASA, sehingga dengan strategi ini dinilai sangat penting, karena dapat membantu menjaga struktur pendanaan serta menekan biaya dana di tengah persaingan mendapatkan DPK.
Teddy mengatakan penguatan CASA dilakukan melalui peningkatan kualitas layanan digital dan kemudahan akses masyarakat terhadap layanan perbankan.
Digitalisasi keuangan pemerintah daerah juga menjadi bagian dari strategi tersebut. Selain itu, Bank Sumsel Babel menjalankan berbagai program promosi, seperti undian dan hadiah, termasuk program loyalitas daerah melalui kegiatan sosial dan Corporate Social Responsibility (CSR), dan sumber dana lain yang ikut menopang likuiditas Bank Sumsel Babel berasal dari Rekening Kas Umum Daerah (RKUD).
Dana RKUD secara rutin masuk ke kas-kas daerah, baik setiap bulan maupun triwulanan. Dana tersebut antara lain berasal dari Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), Dana Bagi Hasil (DBH), Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) hingga Dana Desa.
Meski mendapat dukungan dari dana daerah, akunya, Bank Sumsel Babel tetap menyiapkan langkah lain guna menghadapi kondisi pasar semakin ketat. Pada semester II 2026, bank akan mengoptimalkan transaksi pasar uang antarbank dan transaksi repo. Jangka waktu transaksi akan disesuaikan dengan kebutuhan likuiditas, agar pengelolaan dana tetap fleksibel.
Persaingan menghimpun DPK juga, tambahnya membawa konsekuensi terhadap biaya dana atau Cost of Fund (CoF), Teddy menyebutkan kenaikan CoF industri mulai memberikan pengaruh secara tidak langsung terhadap Net Interest Margin (NIM) Bank Sumsel Babel.
Disamping itu, lanjutnya, penyesuaian suku bunga DPK tetap diperlukan, agar bank mampu bersaing mendapatkan dana masyarakat. Namun, penghimpunan dana akan dilakukan secara selektif dengan tetap memperhatikan kondisi likuiditas.
Likuiditas yang tersedia juga, menurutnya akan dioptimalkan agar tekanan terhadap NIM tetap terkendali. Bank Sumsel Babel menargetkan keseimbangan antara kebutuhan dana, biaya penghimpunan dan fungsi intermediasi tetap terjaga.
Di tengah persaingan likuiditas semakin ketat ini, tentu Bank Sumsel Babel tetap berupaya menjaga penyaluran pembiayaan bagi masyarakat dan perekonomian di Sumatera Selatan serta Bangka Belitung. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
