Teknologi Makin Efisien, Thomas Djiwandono Ingatkan Hal Tak Boleh Diabaikan
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : bi.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Perkembangan teknologi yang makin mendorong efisiensi ekonomi perlu tetap diarahkan pada manfaat yang inklusif. Deputi Gubernur Bank Indonesia Thomas Djiwandono menegaskan, kemajuan teknologi tidak otomatis membuat manfaat ekonomi dapat dirasakan secara merata oleh masyarakat.
“Teknologi membawa efisiensi, tetapi efisiensi tidak boleh terpisah dari kemanusiaan. Inklusivitas tidak datang dengan sendirinya bersama teknologi, melainkan harus dirancang ke dalamnya,” kata Thomas saat menutup Biennial Policy Conference (BPC) Bank Indonesia di Bali, 27 Agustus 2026.
Menurut Thomas, tantangan tersebut muncul ketika ekonomi global menghadapi perubahan yang semakin kompleks, mulai dari disrupsi teknologi, perubahan iklim hingga fragmentasi geoekonomi. Dalam kondisi itu, stabilitas makrofinansial tetap diperlukan agar inovasi dapat berkembang tanpa menambah kerentanan ekonomi.
Peraih Nobel Ekonomi 2025 Prof. Peter Howitt menilai inovasi ekonomi membutuhkan persaingan usaha yang sehat, perlindungan kekayaan intelektual, serta sektor keuangan yang kuat. Stabilitas harga juga menjadi fondasi karena inflasi tinggi dapat meningkatkan ketidakpastian dan biaya pendanaan.
Sementara itu, Peraih Nobel Ekonomi 2024 Prof. Daron Acemoglu menyoroti pentingnya kapasitas dan tata kelola institusi dalam menentukan dampak perkembangan kecerdasan artifisial (AI) terhadap perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.
Thomas juga menekankan pentingnya sinergi kebijakan lintas negara. Menurutnya, kolaborasi dan penguatan jaring pengaman keuangan kawasan diperlukan untuk menghadapi dinamika siklus keuangan global.
BPC 2026 mengangkat tema “The Future of Central Banking: Policy Synergy for Innovation-Driven, Inclusive, and Sustainable Economic Growth”. Forum tersebut turut membahas CBDC, tokenisasi, aset digital, AI, risiko iklim, serta pembiayaan berkelanjutan. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
