Komoditas Palu Dibidik Pasar Ekspor, Karding Ungkap Cara Siapkan Eksportir Baru
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 13 jam yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : karanitinaindonesia.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Potensi komoditas dari Kota Palu, Sulawesi Tengah, mulai diarahkan untuk memiliki akses yang lebih luas ke pasar luar negeri. Badan Karantina Indonesia (Barantin) menyiapkan sejumlah langkah agar pelaku usaha daerah tidak hanya mampu menghasilkan komoditas unggulan, tetapi juga memenuhi berbagai persyaratan ekspor.
Langkah tersebut menjadi bagian dari kerja sama Barantin dengan Pemerintah Kota Palu yang ditandai melalui penandatanganan Nota Kesepahaman tentang sinergi pelaksanaan tugas dan fungsi karantina dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.
Kepala Barantin Abdul Kadir Karding mengatakan, kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperkuat komoditas pertanian dan perikanan sekaligus membuka peluang lebih besar bagi pelaku usaha lokal untuk masuk ke pasar ekspor.
Menurut Karding, Kota Palu memiliki posisi yang cukup strategis dalam perdagangan dan distribusi komoditas di Sulawesi Tengah. Keberadaan pelabuhan, bandar udara, serta konektivitas logistik menjadi modal penting untuk mendukung pergerakan barang, termasuk komoditas yang berorientasi ekspor.
Namun, potensi itu perlu diikuti kesiapan produk dan pelaku usahanya.
Oleh karena itu, Barantin akan mendorong peningkatan kapasitas calon eksportir melalui bimbingan teknis ekspor, sosialisasi persyaratan sanitari dan fitosanitari, hingga pendampingan sertifikasi karantina.
Barantin dan Pemkot Palu juga akan mengembangkan klinik ekspor bersama. Fasilitas tersebut diharapkan membantu pelaku usaha memahami berbagai tahapan yang perlu dipenuhi sebelum produknya dikirim ke pasar internasional.
Kakao, Tuna dan Rumput Laut Jadi Bidikan
Sejumlah komoditas unggulan Palu dan wilayah sekitarnya memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk ekspor. Di antaranya rumput laut, tuna dan produk perikanan, kakao, kelapa beserta turunannya, sarang burung walet, hortikultura, serta produk UMKM yang memiliki orientasi pasar luar negeri.
Komoditas perikanan seperti tuna dan produk turunannya menjadi salah satu potensi yang dapat diperkuat, begitu pula kakao, kelapa, dan rumput laut yang selama ini menjadi bagian dari kekuatan komoditas Sulawesi Tengah.
Barantin tidak hanya melihat persoalan dari sisi pemeriksaan komoditas. Kesiapan pelaku usaha dan kemampuan memenuhi standar negara tujuan juga menjadi perhatian.
Penguatan sistem ketertelusuran atau traceability akan dilakukan melalui pencatatan rantai pasok dan integrasi dengan sistem digital pemerintah daerah.
Sistem itu penting untuk mengetahui asal-usul dan perjalanan komoditas sejak dari rantai pasok hingga siap diperdagangkan. Apalagi digitalisasi layanan diharapkan membuat proses pelayanan dan sertifikasi karantina menjadi lebih mudah, cepat, dan transparan.
Karding mengatakan, diharapkan dapat membantu pelaku usaha lokal meningkatkan kualitas produk sekaligus memperluas akses pasar.
“Melalui Nota Kesepahaman ini, kami berharap dapat memperkuat koordinasi dan kolaborasi dalam mendukung para pelaku usaha lokal agar semakin siap melakukan ekspor, meningkatkan kualitas produk, memperluas akses pasar, serta memperkuat daya saing komoditas unggulan Kota Palu,” kata Karding.
Barantin Perkuat Biosekuriti
Upaya mengejar pasar ekspor, aspek perlindungan komoditas juga menjadi bagian penting dari kerja sama tersebut.
Barantin dan Pemkot Palu akan memperkuat biosekuriti melalui edukasi masyarakat, pengawasan lalu lintas hewan, ikan, tumbuhan, serta produk turunannya.
Pengawasan tersebut diperlukan untuk mengantisipasi penyebaran Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK), Hama Penyakit Ikan Karantina (HPIK), dan Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK).
Ancaman biologis tidak hanya berkaitan dengan kesehatan hewan, ikan, dan tumbuhan. Jika tidak dikendalikan, gangguan tersebut dapat memengaruhi produksi, kualitas komoditas, hingga menimbulkan kerugian ekonomi.
Peningkatan kualitas komoditas ekspor perlu berjalan beriringan dengan penguatan sistem karantina dan biosekuriti di daerah.
Targetnya Bukan Sekadar MoU
Wali Kota Palu Hadianto Rasyid menilai kerja sama dengan Barantin memberikan perspektif baru bagi pemerintah daerah. Menurutnya, fungsi karantina tidak berhenti pada pengawasan dan pemeriksaan, tetapi dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas serta daya saing produk daerah.
Hadianto berharap kesepakatan tersebut segera masuk ke tahap pelaksanaan dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat maupun pelaku usaha.
Peluang terbuka karena daerah memiliki beragam komoditas yang dapat dikembangkan untuk pasar yang lebih luas. Tantangannya adalah memastikan produk lokal memiliki kualitas, keamanan, sertifikasi, dan sistem ketertelusuran yang sesuai dengan kebutuhan perdagangan internasional.
Karding menegaskan, penandatanganan nota kesepahaman bukan menjadi tujuan akhir. Setelah kesepakatan dibuat, program konkret untuk membantu pelaku usaha dan calon eksportir perlu segera dijalankan.
Jika pendampingan, sertifikasi, ketertelusuran, dan layanan karantina dapat berjalan secara terpadu, komoditas unggulan Palu memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan nilai tambah dan menjangkau pasar ekspor.
Kerja sama tersebut sekaligus diarahkan untuk memperkuat posisi Kota Palu sebagai salah satu pintu perdagangan dan distribusi komoditas di Sulawesi Tengah, dengan pelaku usaha lokal sebagai salah satu pihak yang diharapkan memperoleh manfaat langsung. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
