80 Persen Pengguna Internet Indonesia Sudah Pakai AI, Pemerintah Kejar Talenta dan Data Center
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 44 menit yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto :ekon.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Pemakaian artificial intelligence (AI) di Indonesia mulai masuk ke aktivitas sehari-hari masyarakat. Pemerintah mencatat sekitar 80 persen pengguna internet di Tanah Air sudah memanfaatkan fitur AI, sebuah tren sehingga membuka peluang baru untuk pertumbuhan ekonomi digital.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan perkembangan tersebut perlu diikuti dengan kesiapan infrastruktur, tenaga ahli, dan investasi agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi AI.
Hal itu disampaikannya saat memberikan sambutan secara daring dalam The 13th International Conference on ICT for Smart Society (ICT4S) yang diselenggarakan AISX Institut Teknologi Bandung (ITB), Rabu (26/8).
Menurut Airlangga, peluang ekonomi dari AI sangat besar. Secara global, teknologi diperkirakan berpotensi memberikan tambahan hingga USD15,7 triliun terhadap perekonomian dunia pada 2030.
Apalagi jelas dia, komersial AI juga terlihat dari pertumbuhan pendapatan fitur berbasis AI yang mencapai 127 persen secara tahunan pada semester I 2025.
Bahkan, pertumbuhan penggunaan AI berjalan beriringan dengan membesarnya ekonomi digital Indonesia.
Menurutnya Nilai Gross Merchandise Value (GMV) ekonomi digital nasional kini mendekati US$100 miliar dan menjadi yang terbesar di ASEAN.
Basis penggunanya juga terus berkembang, paparnya, sebab Indonesia memiliki sekitar 235 juta pengguna internet dengan tingkat penetrasi sekitar 81 persen.
Namun, besarnya pasar digital itu, lanjutnya belum otomatis membuat Indonesia menjadi pemain utama dalam pengembangan teknologi.
Oleh sebab itu, pemerintah ingin menempatkan talenta digital, infrastruktur, dan investasi sebagai tiga kebutuhan utama guna memperkuat ekosistem AI nasional.
Pemerintah juga tambahnya, menargetkan penyiapan sekitar 600 ribu profesional digital setiap tahun. Program seperti Tech Indonesia Singapore Program dan Digital Talent Scholarship menjadi bagian dari upaya memperbesar pasokan talenta digital.
Pemerintah memberikan insentif super tax deduction hingga 200 persen bagi industri yang menyelenggarakan kegiatan vokasi.
Sementara dilihat dari infrastruktur, pengembangan data center Indonesia menjadi bagian penting karena teknologi AI membutuhkan kapasitas komputasi yang besar. Indonesia saat ini memiliki pipeline kapasitas pusat data sekitar 1,17 gigawatt dan disebut menjadi salah satu tujuan investasi data center di ASEAN.
Pengembangan AI juga mulai menyentuh berbagai sektor. Pemanfaatannya antara lain terlihat pada smart farming, penggunaan drone pertanian, layanan kesehatan, hingga pemantauan lini produksi baterai kendaraan listrik secara real-time berbasis cloud.
Teknologi digital twin turut dikembangkan untuk menghubungkan sistem digital dengan kondisi fisik. Penerapannya diarahkan antara lain untuk mendukung konsep smart city di Ibu Kota Nusantara (IKN) serta modernisasi infrastruktur ketenagalistrikan.
Di sisi investasi, katanya, pemerintah mulai memperkuat fondasi industri semikonduktor Indonesia. Kerja sama Danantara dengan Arm Limited diarahkan untuk melatih 15.000 insinyur Indonesia.
Selain itu, kerja sama Indonesia dan Amerika Serikat melalui Joint Development Agreement pada Februari 2026 membuka investasi awal USD4,89 miliar untuk pengembangan kawasan Galang sebagai klaster semikonduktor terpadu.
Kesepakatan tersebut sebelumnya disebut sebagai bagian dari upaya Indonesia masuk lebih dalam ke rantai nilai industri teknologi global.
Rangkaian pengembangan juga diarahkan untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi 8 persen. Pemerintah ingin perkembangan ekonomi digital tidak berhenti pada tingginya jumlah pengguna, tetapi menghasilkan produktivitas, investasi, lapangan kerja, dan nilai tambah di dalam negeri.
Indonesia juga memperluas kerja sama di tingkat regional. ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA) ditargetkan ditandatangani pada November 2026 dan diproyeksikan dapat mendorong nilai ekonomi digital ASEAN hingga sekitar USD2 triliun.
Menurutnya tantangannya kini bukan lagi hanya seberapa cepat masyarakat mengadopsi AI, tetapi seberapa besar teknologi yang mampu menciptakan kemampuan produksi dan tenaga kerja berdaya saing.
Airlangga menekankan AI, digital twin, dan teknologi digital harus diarahkan pada manfaat nyata, terutama untuk meningkatkan produktivitas, daya saing, pelayanan publik, serta kualitas hidup masyarakat. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
