Radikalisasi Tak Lagi Dimulai dengan Kebencian, Kenali 7 Modusnya
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 5 menit yang lalu
- visibility 1
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : komdigi.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Misalnya ada sebuah pesan singkat masuk ke media sosial (Medsos) anda. Pengirimnya bukan orang yang dikenal dekat, tetapi tiba-tiba hadir menawarkan bantuan saat sedang menghadapi masalah.
Ia bertanya kabar, mendengarkan cerita, memberikan dukungan, bahkan menawarkan solusi ketika seseorang sedang berada dalam kondisi sulit. Tidak ada kata-kata kasar, tidak ada ancaman, dan tidak ada ajakan melakukan tindakan kekerasan.
Karena datang dalam bentuk perhatian, pendekatan seperti ini sering kali tidak dianggap sebagai sesuatu yang berbahaya. Hubungan yang awalnya hanya percakapan biasa dapat berkembang menjadi kedekatan emosional, hingga seseorang merasa memiliki tempat untuk bergantung.
Di ruang digital, pola seperti inilah yang membuat proses radikalisasi semakin sulit dikenali. Kelompok yang menyebarkan paham ekstrem tidak selalu menggunakan cara terbuka melalui propaganda kebencian atau ajakan kekerasan.
Pendekatan dapat dimulai dari hal-hal yang terlihat positif, seperti menawarkan bantuan, membangun kedekatan, hingga memberikan harapan tentang kehidupan yang lebih baik. Setelah rasa percaya terbentuk, seseorang dapat perlahan diarahkan untuk menerima pandangan yang semakin tertutup.
Perubahan pola tersebut menjadi perhatian dalam Diskusi Buku Atas Nama Surga: Algoritma, Radikalisasi hingga Manipulasi Kesadaran di Jakarta Pusat, Rabu (29/07/2026).
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengingatkan perkembangan teknologi membuat pola perekrutan kelompok radikal di ruang digital semakin sulit dikenali.
Menurut Meutya, kekerasan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang terlihat buruk. Prosesnya dapat berawal dari sebuah uluran tangan, bantuan pengobatan, pelunasan utang, pengiriman bantuan secara personal, hingga janji mengenai kehidupan yang lebih baik.
Ketika hubungan emosional sudah terbentuk, seseorang dapat lebih mudah dipengaruhi. Pada tahap berikutnya, informasi dan narasi tertentu mulai diperkenalkan secara perlahan hingga korban semakin jauh dari pandangan lain.
Meutya juga menyoroti peran algoritma digital yang dapat memperkuat penyebaran narasi tertentu. Ketika sebuah pesan bertemu dengan sistem rekomendasi platform digital, seseorang bisa terus menerima informasi serupa hingga muncul kesan bahwa apa yang dilihatnya merupakan sebuah kebenaran.
Kondisi tersebut menjadi tantangan di era post truth, ketika emosi dan keyakinan terkadang lebih kuat memengaruhi seseorang dibandingkan informasi yang berbasis fakta.
Proses radikalisasi digital pun tidak terjadi dalam satu malam. Perubahannya berlangsung secara bertahap dan sering kali baru disadari ketika seseorang mulai menjauh dari keluarga atau lingkungan terdekat.
Oleh sebab itu, untuk memahami pola perekrutan menjadi langkah sangat penting agar masyarakat dapat mengenali tanda-tanda awal. Berikut tujuh modus yang perlu diwaspadai.
1. Dimulai dari bantuan yang terlihat tulus
Pendekatan sering kali dimulai ketika seseorang sedang menghadapi persoalan, baik masalah ekonomi, kesehatan, pendidikan, maupun kondisi emosional.
Bantuan yang diberikan dapat membuat seseorang merasa diperhatikan dan memiliki hubungan khusus dengan pihak yang mendekatinya. Rasa berutang budi atau kedekatan emosional inilah yang kemudian dapat dimanfaatkan untuk membangun pengaruh.
2. Membangun kedekatan secara intens
Setelah komunikasi terjalin, pelaku berusaha menjadi sosok yang dianggap paling memahami kondisi korban.
Percakapan yang awalnya sederhana dapat berubah menjadi hubungan yang semakin dekat. Rasa percaya yang terbentuk kemudian menjadi jalan untuk memberikan pengaruh lebih jauh.
3. Menawarkan harapan tentang kehidupan yang lebih baik
Kelompok radikal dapat memanfaatkan keresahan seseorang dengan menawarkan gambaran tentang perubahan hidup, rasa memiliki, atau tujuan yang dianggap lebih besar.
Janji tersebut digunakan untuk menarik simpati sekaligus memperkuat keterikatan seseorang dengan kelompok tertentu.
4. Mengarahkan ke komunitas tertutup
Korban dapat diarahkan masuk ke grup percakapan atau komunitas digital tertentu yang lebih tertutup.
Di ruang tersebut, informasi yang diterima biasanya hanya berasal dari satu sudut pandang sehingga seseorang semakin sulit memperoleh pembanding.
5. Memanfaatkan algoritma media sosial
Media sosial menggunakan sistem rekomendasi yang menampilkan konten berdasarkan kebiasaan pengguna.
Jika seseorang terus berinteraksi dengan informasi tertentu, ia dapat semakin sering menerima konten serupa. Kondisi ini dapat menciptakan kesan bahwa sebuah pandangan adalah kebenaran karena terus muncul di layar.
6. Menjauhkan seseorang dari lingkungan terdekat
Dalam proses yang berlangsung perlahan, seseorang dapat mulai menarik diri dari keluarga atau teman yang dianggap tidak memahami pandangannya.
Hubungan sosial yang sebelumnya terbuka bisa berubah karena korban semakin bergantung pada lingkungan baru yang memengaruhinya.
7. Mengarahkan pada pemahaman yang semakin ekstrem
Tahapan terakhir biasanya tidak terjadi secara tiba-tiba. Perubahan cara berpikir berlangsung sedikit demi sedikit hingga seseorang mulai menerima gagasan yang sebelumnya mungkin dianggap tidak wajar.
Karena prosesnya bertahap, tanda-tandanya sering baru terlihat ketika pengaruh tersebut sudah semakin kuat.
Peran keluarga dan literasi digital
Menghadapi risiko radikalisasi digital tidak cukup hanya dengan membatasi penggunaan internet. Hal yang tidak kalah penting adalah membangun komunikasi terbuka agar anak maupun orang terdekat memiliki ruang untuk bercerita.
Perubahan perilaku seperti mulai menutup diri, hanya mempercayai satu sumber informasi, atau menjauh dari lingkungan sosial perlu menjadi perhatian.
Meski tanda-tanda tersebut tidak selalu berarti seseorang terpapar paham radikal, komunikasi yang baik dapat membantu menemukan masalah sejak awal.
Di era digital, ancaman tidak selalu hadir melalui pesan yang penuh kebencian. Terkadang, pengaruh justru datang melalui pendekatan yang terlihat ramah dan penuh perhatian.
Karena itu, kemampuan mengenali pola manipulasi dan meningkatkan literasi digital menjadi bagian penting untuk menjaga ruang digital tetap aman. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
