Jumat, 6 Nov 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Tekno » Orbit Rendah Bumi Kian Padat, Mengapa Dunia Mulai Khawatir?

Orbit Rendah Bumi Kian Padat, Mengapa Dunia Mulai Khawatir?

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Selasa, 28 Jul 2026
  • visibility 58
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

LANGIT malam yang tampak tenang menyimpan aktivitas luar biasa sibuk jauh di atas kepala manusia. Pada ketinggian sekitar 160 hingga 2.000 kilometer dari permukaan Bumi, ribuan satelit bergerak tanpa henti di jalur yang dikenal sebagai Low Earth Orbit (LEO) atau orbit rendah Bumi. Di kawasan inilah berbagai layanan modern mulai dari komunikasi, navigasi, pemantauan cuaca, penginderaan jauh, hingga internet satelit,  bergantung pada keberadaan wahana antariksa yang terus mengitari Bumi.

Namun, dibalik manfaat besar diberikan, LEO kini menghadapi tantangan baru. Orbit yang selama puluhan tahun menjadi “koridor utama” bagi satelit dunia semakin padat oleh satelit aktif, badan roket bekas peluncuran, hingga jutaan serpihan sampah antariksa.

Kondisi ini membuat komunitas antariksa internasional semakin menaruh perhatian terhadap keberlanjutan pemanfaatan ruang angkasa.

Laporan European Space Agency (ESA) Space Environment Report 2025 menunjukkan jumlah objek yang dapat dilacak di orbit Bumi telah mencapai puluhan ribu. Pembaruan statistik ESA pada pertengahan 2026 mencatat sekitar 46 ribu objek berada di orbit, termasuk sekitar 16 ribu satelit yang masih beroperasi.

Di luar objek yang berhasil dipantau radar, diperkirakan terdapat lebih dari 1,2 juta fragmen sampah antariksa berukuran lebih dari satu sentimeter yang melayang di ruang angkasa.

Meski berukuran kecil, serpihan tersebut mampu melaju hingga puluhan ribu kilometer per jam sehingga dapat merusak satelit apabila terjadi tumbukan.

Fenomena ini menjadi perhatian para peneliti antariksa di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Menyusul meningkatnya aktivitas peluncuran satelit dalam beberapa tahun terakhir, isu kepadatan orbit rendah Bumi tidak lagi dipandang sebagai persoalan masa depan, melainkan tantangan yang sudah dihadapi saat ini.

Mengapa Orbit Rendah Bumi Menjadi Pilihan?

Tidak semua satelit ditempatkan di orbit yang sama. Orbit rendah Bumi menjadi lokasi favorit karena menawarkan sejumlah keunggulan. Jaraknya yang relatif dekat membuat satelit dapat mengirim dan menerima data dengan waktu tunda (latency) yang rendah. Karakteristik tersebut sangat penting bagi layanan internet satelit, komunikasi, pemetaan, hingga observasi Bumi.

Selain itu, kebutuhan energi untuk meluncurkan satelit menuju LEO juga lebih kecil dibandingkan orbit yang lebih tinggi. Faktor inilah yang mendorong semakin banyak negara maupun perusahaan swasta memanfaatkan orbit rendah Bumi sebagai rumah bagi konstelasi satelit mereka.

Dalam satu dekade terakhir, peluncuran satelit meningkat tajam seiring berkembangnya industri antariksa komersial. Konstelasi satelit yang berjumlah ratusan hingga ribuan unit kini menjadi bagian penting dari layanan digital global. Di sisi lain, setiap peluncuran juga menambah kepadatan lalu lintas di orbit sehingga pengelolaannya menjadi semakin kompleks.

Ketika Ruang Angkasa Menjadi Semakin Ramai

Berbeda dengan jalan raya di Bumi, ruang angkasa tidak memiliki lampu lalu lintas maupun jalur khusus. Setiap satelit bergerak mengikuti lintasan orbitnya masing-masing dengan kecepatan yang dapat mencapai sekitar 28 ribu kilometer per jam.

Dalam kondisi seperti itu, tabrakan sekecil apa pun dapat menimbulkan ribuan serpihan baru yang kemudian tetap mengorbit selama bertahun-tahun. Para ilmuwan menyebut potensi reaksi berantai tersebut sebagai Kessler Syndrome, yakni kondisi ketika tabrakan antarbenda di orbit menghasilkan semakin banyak puing yang kemudian meningkatkan peluang terjadinya tabrakan berikutnya.

Kekhawatiran terhadap fenomena ini bukan tanpa alasan. ESA menegaskan bahwa populasi sampah antariksa dapat terus bertambah meskipun suatu saat peluncuran satelit dihentikan. Penyebabnya adalah tabrakan dan fragmentasi benda-benda yang telah lebih dahulu berada di orbit.

Oleh karena itu, menjaga orbit rendah Bumi tidak lagi hanya berkaitan dengan meluncurkan satelit baru, tetapi juga memastikan setiap satelit memiliki siklus hidup yang bertanggung jawab sejak dirancang hingga mengakhiri misinya.

Dari Memantau Hingga Mengeluarkan Satelit dari Orbit

Berbagai negara kini mengembangkan teknologi untuk meminimalkan risiko di ruang angkasa. Salah satunya adalah Space Situational Awareness (SSA), yaitu kemampuan memantau posisi dan pergerakan satelit maupun objek lain di orbit secara berkelanjutan.

Dengan sistem ini, operator dapat memprediksi kemungkinan tabrakan dan melakukan manuver penghindaran apabila diperlukan.

Pendekatan lain semakin mendapat perhatian adalah penerapan desain satelit yang mempertimbangkan keberlanjutan sejak awal.

Satelit tidak hanya dirancang agar mampu menjalankan misi secara optimal, tetapi juga memiliki rencana akhir masa operasi melalui proses deorbit, yakni mengeluarkan satelit dari orbit secara terkendali agar terbakar di atmosfer atau dipindahkan ke orbit yang lebih aman.

Langkah-langkah tersebut dipandang sebagai bagian dari praktik operasi antariksa yang bertanggung jawab sekaligus upaya menjaga orbit tetap dapat dimanfaatkan oleh generasi berikutnya.

Indonesia Tidak Bisa Berdiam Diri

Isu kepadatan orbit rendah Bumi juga menjadi perhatian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Melalui Pusat Riset Teknologi Satelit, BRIN mengangkat tema tersebut dalam Kolokium Series #7 bertajuk Surviving a Congested LEO Future: A Paradigm Shift for Sustainable Space Operations. Forum ilmiah ini mempertemukan peneliti, operator satelit, akademisi, pembuat kebijakan, dan pelaku industri untuk membahas arah pengelolaan ruang angkasa yang lebih berkelanjutan.

Peneliti Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Ery Fitrianingsih, menilai kepadatan orbit rendah Bumi telah menjadi tantangan nyata yang memerlukan perubahan cara pandang di seluruh ekosistem keantariksaan.

Menurutnya, pengelolaan satelit tidak lagi cukup hanya mengandalkan kemampuan teknis, tetapi juga membutuhkan kebijakan, standar operasional, serta kerja sama yang semakin erat antarnegara dan antaroperator.

Dalam pandangannya, penguatan riset mengenai Space Situational Awareness, pemantauan objek antariksa, pengembangan satelit yang lebih ramah lingkungan, hingga teknologi mitigasi sampah antariksa menjadi bagian penting dalam menjawab tantangan tersebut.

Kepala Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Wahyudi Hasbi, menambahkan pengembangan teknologi satelit nasional harus berjalan seiring dengan komitmen menjaga ruang angkasa tetap aman.

Jika Indonesia ingin mengambil peranbesar dalam industri antariksa, termasuk melalui rencana pembangunan bandar antariksa (spaceport), lanjutnya, maka tanggung jawab terhadap keberlanjutan orbit juga harus menjadi prioritas.

Pandangan senada disampaikan Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN, Robertus Heru Triharjanto.

Ia menekankan pentingnya memperkuat kemampuan nasional dalam memantau objek antariksa sekaligus meningkatkan keterlibatan Indonesia dalam berbagai forum internasional yang membahas tata kelola ruang angkasa.

Menjaga Orbit untuk Masa Depan

Di era digital, keberadaan satelit telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan manusia.

Informasi cuaca, navigasi kendaraan, komunikasi lintas wilayah, mitigasi bencana, pemantauan hutan dan laut, hingga layanan internet di daerah terpencil bergantung pada infrastruktur yang mengorbit jauh di atas Bumi.

Maka dari itu, menjaga orbit rendah Bumi bukan hanya  urusan ilmuwan, operator satelit, atau lembaga antariksa. Orbit merupakan sumber daya bersama yang harus dikelola secara bijaksana, agar tetap aman dimanfaatkan oleh seluruh negara.

Kemajuan teknologi antariksa memang membuka peluang yang semakin besar bagi umat manusia. Namun, keberhasilan tidak lagi hanya diukur dari banyaknya satelit yang berhasil diluncurkan, melainkan juga dari kemampuan memastikan ruang angkasa tetap bersih, aman, dan berkelanjutan.

Di tengah semakin padatnya orbit rendah Bumi, tantangan terbesar bukan cuma menembus angkasa, melainkan menjaga agar ruang di atas kepala manusia tetap menjadi lingkungan yang layak bagi eksplorasi dan inovasi pada masa depan. (***)

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Lapangan Kerja di Luar Negeri Perlu Didukung

    Lapangan Kerja di Luar Negeri Perlu Didukung

    • calendar_month Selasa, 7 Jun 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 560
    • 0Komentar

    KEMENTERIAN Badan Usaha Milik Negara (Kementerian BUMN) dipastikan terus mendukung berbagai upaya penciptaan lapangan kerja baik di dalam dan luar negeri, termasuk para pekerja migran Indonesia (PMI) yang akan bekerja ke luar negeri karena kesemuanya itu untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Menteri BUMN, Erick Thohir, menjelaskan dukungan yang bisa dilakukan terhadap PMI adalah dari sisi pembiayaan […]

  • Kecamatan Bayung Lencir Tahap II Bakal Punya Jaringan Jargas untuk RT

    Kecamatan Bayung Lencir Tahap II Bakal Punya Jaringan Jargas untuk RT

    • calendar_month Senin, 28 Mar 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 907
    • 0Komentar

    PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Musi Banyasin (Muba) melakukan Serah Terima Lapangan Pembangunan Jaringan Gas (Jargas) dan Sosialisasi Pelaksanaan Pekerjaan Pembangunan Jaringan untuk Rumah Tangga di Kecamatan Bayung Lencir Kabupaten Muba.   Serah Terima Lapangan dan Sosialisasi Pembangunan Jargas ditandai dengan penandatanganan berita acara oleh PPK Jargas 2 Dirjen Migas Kementerian ESDM Gusrinaldi, Project Manager PT Pratiwi […]

  • DPMPTSP Muba Berlakukan Sertifikat Elektronik “Untuk Mempercepat Layanan

    DPMPTSP Muba Berlakukan Sertifikat Elektronik “Untuk Mempercepat Layanan

    • calendar_month Rabu, 3 Apr 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.021
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, Sekayu- Pesatnya digitalisasi tidak dapat disangkal dalam bidang administrasi dan tata kelola pemerintahan. Sehingga semua bentuk dokumen bertransformasi menjadi dokumen digital. Tidak terkecuali Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), yang segera memberlakukan Penggunaan Sertifikat Elektronik dalam hal pelayanan perizinan satu pintu. Plt Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Muba Erdian Syahri […]

  • Penanganan Karhutla, Muba Maksimalkan SDM dan Sarana Di Lapangan

    Penanganan Karhutla, Muba Maksimalkan SDM dan Sarana Di Lapangan

    • calendar_month Rabu, 18 Sep 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.042
    • 0Komentar

    Mensosialisasikan atau mendorong kepala desa untuk berperan aktif mengawasi hal tersebut.

  • Serahkan Bantuan Peralatan Pertanian,  Gubernur Bangga Prestasi OKU Timur Peringkat IV Nasional Produksi Padi

    Serahkan Bantuan Peralatan Pertanian, Gubernur Bangga Prestasi OKU Timur Peringkat IV Nasional Produksi Padi

    • calendar_month Minggu, 19 Sep 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 759
    • 0Komentar

    GUBERNUR Sumatera Selatan H Herman Deru mengapresiasi komitmen Komitmen Kabupaten OKU Timur dalam  meningkatkan produksi padi. Bahkan OKU Timur tercatat sebagai Peringkat IV Nasional Produksi Padi Tertinggi yang ditandai dengan diterimanya Penghargaan Abdi Bakti Tani 2021 beberapa waktu lalu. Sebagai bentuk rasa bangganya atas prestasi OKU Timur tersebut, Gubernur Herman Deru  menyerahkan bantuan sejumlah  peralatan produksi […]

  • Vaksinasi Pekerja Bandara di Bali Penting, Untuk Hindari Covid

    Vaksinasi Pekerja Bandara di Bali Penting, Untuk Hindari Covid

    • calendar_month Selasa, 23 Mar 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.553
    • 0Komentar

    MENTERI Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahuddin Uno meninjau pelaksanaan vaksinasi bagi pekerja Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali, Senin (22/3/2021) terkait rencana pembukaan kembali penerbangan internasional. Didampingi Gubernur Bali, I Wayan Koster beserta jajaran dan Sekretaris Kemenparekraf/Sekretaris Utama Baparekraf, Ni Wayan Giri Adnyani, Sandiaga memantau langsung proses vaksinasi yang […]

expand_less
WordPress Archive Aarhus – Modern Architecture WordPress Theme Aarogya - Nutrition & Dietitian WordPress Theme Aasana – Health and Yoga WordPress Theme AAWP for AMP AAWP – The Amazon Affiliate WordPress Plugin Aball – Creative Agency WordPress Theme ABBUA Admin WordPress Able Pro | Bootstrap, Tailwind, React, Nextjs, Angular, Vue, Asp, Laravel Admin Dashboard Template Abolire – Single Property WordPress Theme Aboss – Responsive Theme for WooCommerce WordPress