Senin, 21 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sosial » Gotong Royong vs Humanitarian Aid: Kalau Kampung Sudah Bergerak, PBB pun Cuma Nonton

Gotong Royong vs Humanitarian Aid: Kalau Kampung Sudah Bergerak, PBB pun Cuma Nonton

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Sabtu, 23 Agt 2025
  • visibility 823
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

DI negeri +62 ini, kata gotong royong bukan sekadar slogan di buku PPKn. Ia hidup, ia berdenyut di setiap nadi kampung. Mulai dari rewang kawinan sampai ronda malam yang kadang lebih heboh gosipnya ketimbang patroli, semua itu jadi bukti bahwa bangsa ini punya “humanitarian aid versi lokal” sejak zaman nenek moyang. Bedanya, kalau di PBB bantuan datang pakai bendera biru, di kampung bantuan datang pakai sandal jepit, bawa panci, dan kadang diselipi bawang setengah kilo.

Seandainya kalau ada musibah di desa, rumah Pak RT kebakaran, tetangga bukan cuma nimbrung nonton sambil bilang, “Ya Allah kasihan,” tapi langsung keluarin ember, gayung, bahkan ada yang rela merobohkan pagar demi buka akses air.

Dalam hitungan menit, kebakaran padam, coba kalau nunggu humanitarian aid ala Internasional, bisa-bisa yang datang duluan drone liputan televisi, bukan air.

Gotong royong itu ibarat WiFi gratis di alun-alun: semua bisa nyambung, tanpa password. Filosofinya sederhana “Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul.” Walau kadang, di lapangan, ada juga yang kebagian jinjing sandal doang sementara yang lain pikul karung beras. Tapi setidaknya, rasa kebersamaan itu nyata.

Mari kita bandingkan dengan konsep humanitarian aid, di level global, bencana ditangani dengan prosedur assessment, koordinasi, logistik, laporan, tanda tangan, baru kemudian bantuan dikirim. Lengkap dengan jargon “resiliensi komunitas” yang sering terdengar lebih ribet dari resep kue lapis. Sementara di kampung, begitu banjir datang, emak-emak sudah mendirikan dapur darurat. Ada yang masak mi instan, ada yang bikin sayur lodeh, dan anehnya meski cuma dua kompor, bisa cukup buat satu RT. Kalau itu bukan keajaiban, lalu apa?

Pepatah lama bilang, “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”. Tapi di Indonesia, pepatah bisa upgrade “Kalau dapur sudah berasap, semua masalah terasa lebih enteng”. Karena apa? Perut kenyang bikin hati riang. Anak-anak main layangan di atas banjir, bapak-bapak gotong kasur pakai perahu, semua tertawa di tengah musibah. Inilah kekuatan lokal yang kadang tak bisa dihitung dalam laporan Excel PBB.

Oleh sebab itu, budaya gotong royong adalah modal kemanusiaan paling tulus dan paling murah. Ia tak butuh proposal ribuan lembar, tak menunggu tanda tangan pejabat, cukup niat baik dan nasi bungkus. Kalau PBB punya #ActForHumanity, kita di Indonesia sudah lama punya #RewangForHumanity.

Jadi, jangan remehkan warisan budaya ini. Kalau kampung sudah bergerak dengan gotong royong, bencana sekeras apa pun bisa terasa lebih ringan. Karena bencana paling berat bukanlah banjir atau gempa, tapi ketika manusia kehilangan rasa kemanusiaan.

PBB boleh punya konsep humanitarian aid yang megah, tapi Indonesia punya gotong royong yang lebih praktis, lebih cepat, dan lebih manusiawi. Karena di negeri ini, kemanusiaan tak sekadar teori, tapi sudah jadi kebiasaan dari rewang kawinan sampai ronda malam.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Wajo Tunjukkan Strategi Perumahan Berkelanjutan 2025

    Wajo Tunjukkan Strategi Perumahan Berkelanjutan 2025

    • calendar_month Sabtu, 13 Sep 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.361
    • 0Komentar

    RUMAH itu ibarat tanaman, maka kawasan kumuh adalah tanah yang kering dan berdebu, tapi dengan pupuk yang tepat, air yang cukup, dan tangan yang rajin merawat, tanaman itu bisa tumbuh subur, harum, dan memberi buah. Begitulah yang terjadi di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, di mana program perumahan layak huni dan revitalisasi permukiman kumuh tidak sekadar […]

  • 80 Persen Pengguna Internet Indonesia Sudah Pakai AI, Pemerintah Kejar Talenta dan Data Center

    80 Persen Pengguna Internet Indonesia Sudah Pakai AI, Pemerintah Kejar Talenta dan Data Center

    • calendar_month Rabu, 26 Agt 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 23
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID – Pemakaian artificial intelligence (AI) di Indonesia mulai masuk ke aktivitas sehari-hari masyarakat. Pemerintah mencatat sekitar 80 persen pengguna internet di Tanah Air sudah memanfaatkan fitur AI, sebuah tren sehingga membuka peluang baru untuk pertumbuhan ekonomi digital. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan perkembangan tersebut perlu diikuti dengan kesiapan infrastruktur, tenaga ahli, dan […]

  • Sunyi Jadi Ngakak, Firmansyah & Alat Bantu Dengar Ala PKK Palembang

    Sunyi Jadi Ngakak, Firmansyah & Alat Bantu Dengar Ala PKK Palembang

    • calendar_month Kamis, 28 Agt 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 785
    • 0Komentar

    ADA pepatah bilang “tak kenal maka tak sayang”, Begitulah yang terjadi pada keluarga Firmansyah di Sungai Ogan, Kecamatan Jakabaring sudah merasakan versi modernnya “Tak dengar, jangan risau, ada PKK Palembang yang sigap!”. Betul saja pada Rabu (27/8/2025) kemarin, Ketua TP PKK Kota Palembang, Dewi Sastrani Ratu Dewa, menggandeng Dinas Sosial Kota Palembang dan Kimia Farma […]

  • Eksekutif &Legislatif Sepakati Jadwal Pembahasan LKPJ Kabupaten Muba TA 2020

    Eksekutif &Legislatif Sepakati Jadwal Pembahasan LKPJ Kabupaten Muba TA 2020

    • calendar_month Senin, 15 Feb 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.893
    • 0Komentar

    BUPATI Dr H Dodi Reza Alex Noerdin Lic Econ MBA diwakili Asisten Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Yudi Herzandi SH MH, hadiri pada Rapat Badan Musyawarah DPRD Kabupaten Musi Banyuasin dalam rangka Penjadwalan Pembahasan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Kabupaten Musi Banyuasin Tahun Anggaran 2020. Rapat Penjadwalan LKPJ dipimpin  oleh Ketua DPRD Kabupaten Muba Sugondo, […]

  • Nganyam Masa Depan, Emak-Emak Lawan Ketergantungan

    Nganyam Masa Depan, Emak-Emak Lawan Ketergantungan

    • calendar_month Selasa, 22 Jul 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 627
    • 0Komentar

    KISAH ini bukan Cinderella yang sepatu kacanya tertinggal di Istana, namun kisah nyata tentang ibu-ibu Kulonprogo yang meninggalkan jejak anyaman di pasar ekspor, bermodalkan semangat, pelepah pisang, dan sedikit harapan yang dikepang rapat-rapat. Kalau dulu pelepah pisang cuma jadi rebutan kambing atau dibakar di dapur untuk mengusir nyamuk, sekarang ia naik pangkat menjadi bahan baku […]

  • Usut Dalang Penjual Makanan Berformalin, Pemkot Palembang – BPOM  Bakal Kerjasama Dengan Polisi

    Usut Dalang Penjual Makanan Berformalin, Pemkot Palembang – BPOM  Bakal Kerjasama Dengan Polisi

    • calendar_month Selasa, 18 Mei 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 892
    • 0Komentar

      PEMERINTAH Kota Palembang bersama Badan Pengawas Obat-obatan dan Makanan (BPOM) Kota Palembang kemabali melakukan inspeksi mendadak (sidak) di pasar 3-4 ulu. Wakil Walikota Palembang, Fitrianti Agustinda menyebutkan ada sedikitnya 13 sampel yang telah dicek BPOM, namun  ada 3 temuan makanan yang mengandung bahan pengawet dan berbahaya dijual bebas di pasar 3-4 ulu. “Beberapa sample […]

expand_less
WordPress Archive Rexbiz – Corporate Agency Elementor Template Kit Rey – Fashion & Clothing, Furniture Rezolve - Business Consulting Elementor Template Kit Rezort - Hotel & Resort Booking Elementor Template Kit RH – Real Estate WordPress Theme Rhent – Motorcycle Rental Services Elementor Template Kit Rhodos – Business Portfolio Elementor Blocks & Template Kit Rhoomy – Real Estate WordPress Listing Theme Rib-Eye — Steakhouse WordPress Theme Ribbon Panel WordPress Plugin