Sabtu, 3 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Industri Kreatif & UKM » Nganyam Masa Depan, Emak-Emak Lawan Ketergantungan

Nganyam Masa Depan, Emak-Emak Lawan Ketergantungan

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Selasa, 22 Jul 2025
  • visibility 630
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KISAH ini bukan Cinderella yang sepatu kacanya tertinggal di Istana, namun kisah nyata tentang ibu-ibu Kulonprogo yang meninggalkan jejak anyaman di pasar ekspor, bermodalkan semangat, pelepah pisang, dan sedikit harapan yang dikepang rapat-rapat.

Kalau dulu pelepah pisang cuma jadi rebutan kambing atau dibakar di dapur untuk mengusir nyamuk, sekarang ia naik pangkat menjadi bahan baku produk ekspor!. Dulu dianggap limbah, sekarang dilihat sebagai rejeki yang menyaru jadi ranting.

Mereka 100 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) bukan lagi sekadar barisan penerima bantuan, tapi para calon pengrajin tangguh.

Dengan tangan cekatan, daun pandan yang biasanya jadi pembungkus lemper kini dianyam jadi tas cantik. Sementara pelepah pisang yang biasa dibuang begitu saja, kini dilinting jadi kotak tisu yang bisa mejeng di ruang tamu artis TikTok.

Fatma Saifullah Yusuf, Penasihat I Dharma Wanita Persatuan Kemensos, datang langsung menyapa mereka. Dalam bahasa yang lembut dan penuh semangat, ia memotivasi para peserta untuk terus berkarya.

“Jangan takut salah, yang penting terus mencoba. Produk ini bukan cuma hasil karya, tapi juga harapan,” ujarnya, sambil dikelilingi semangat emak-emak yang lebih panas dari kompor gas tiga tungku.

Dua mitra lokal, Yayasan Kumala dan Murakabi Craft, jadi semacam “chef” di dapur pelatihan ini. Mereka meracik pelatihan dengan resep keterampilan, kesabaran, dan pemasaran. Iya, bukan cuma diajari bikin kerajinan, tapi juga dibantu jualin.

Bayangkan, peserta pelatihan ini ibarat dilatih bikin rendang, dan hasilnya langsung masuk etalase warung padang siap dijual tanpa harus buka lapak sendiri.

Salah satu kisah yang menggetarkan seperti sambaran listrik PLN di tengah hujan adalah cerita Alif (40). Dahulu ia anak jalanan, pengamen dan penjual koran di lampu merah. Tapi karena tekad dan peluang, kini ia sudah berkeliling Indonesia sebagai pelatih dari Yayasan Kumala.

“Orang bilang nasib itu ditentukan garis tangan, tapi saya percaya tangan itu bisa digerakkan. Yang penting jangan pasrah,” katanya, sambil tertawa ringan.

Bekas pengamen, kini ia jadi mentor yang membimbing ibu-ibu KPM agar hidupnya tak cuma bergantung pada bantuan sosial,  semacam kisah dari miskin tapi keren jadi  berdaya dan berkualitas ekspor.

Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial, Mira Riyati Kurniasih, menjelaskan bahwa dari 50 peserta pelatihan anyaman pandan oleh Murakabi Craft, ada 10 yang produknya langsung lolos quality control. Itu artinya, tas-tas mereka bukan cuma layak pakai, tapi juga layak pamer di butik Paris atau kios oleh-oleh Bandara Adisutjipto.

Bayangkan, daun pandan yang biasanya kita cuekin di pinggir kebun, sekarang jadi alat memutar ekonomi.

Pepatah bilang “Di mana ada kemauan, di situ daun bisa jadi uang”, dan memang benar, dari pelatihan ini, emak-emak Kulonprogo sudah mulai menganyam masa depan mereka. Kalau sebelumnya KPM itu artinya Keluarga Penerima Manfaat, mungkin sebentar lagi bisa berubah jadi Keluarga Pengusaha Mandiri.

Kalau daun pandan bisa ngomong, mungkin dia akan bilang, “Akhirnya aku tidak cuma jadi isi kolak dan wangi-wangian nasi, tapi juga jadi sumber penghasilan keluarga.”

Kalau pelepah pisang punya akun Instagram, dia mungkin akan upload foto dirinya berubah jadi figura cantik dengan caption, “From pohon to showroom, baby!”.

Program pemberdayaan ini sejatinya bukan cuma tentang pelatihan, tapi tentang menyalakan api kecil dalam diri para KPM, bukan lagi cuma menerima, tapi mencipta.

Kalau dulu mereka antre ambil bantuan, sekarang mereka antre ngepak produk. Kalau dulu semangatnya digantung di gantungan dapur, kini sudah dijahit rapi di setiap produk yang mereka hasilkan.

Harapannya, seperti yang dikatakan  para pendamping semoga para peserta ini tak hanya lulus pelatihan, tapi juga lulus dari ketergantungan, lulus jadi mandiri, lulus jadi inspirasi.

Sebab ujung-ujungnya, pemberdayaan bukan cuma soal ekonomi, tapi juga soal harga diri, siapa tahu, dari pelepah pisang dan daun pandan ini, lahir masa depan cerah yang aromanya lebih wangi dari nasi uduk,  tentu lebih mengenyangkan dari sekadar bansos sebulan sekali.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • “Digital Kito Galo”, “Jangan Sampai Jadi Sekadar Selfie Bareng Robot & WiFi Gratisan”

    “Digital Kito Galo”, “Jangan Sampai Jadi Sekadar Selfie Bareng Robot & WiFi Gratisan”

    • calendar_month Sabtu, 24 Mei 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 710
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id,- Kalau dulu orang bilang “lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali”, maka di era sekarang, digitalisasi tak bisa pakai prinsip itu lagi. Kalau telat, ya ketinggalan zaman, digilas algoritma, dan akhirnya cuma jadi penonton parade kemajuan dari pinggir jalan sambil ngunyah kerupuk ikan. Nah, acara Digital Kito Galo 6th 2025 yang digelar di Palembang […]

  • 16.406 jiwa warga masuk kategori miskin di Muba bakal peroleh bantuan basic income

    16.406 jiwa warga masuk kategori miskin di Muba bakal peroleh bantuan basic income

    • calendar_month Minggu, 9 Jul 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 905
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, Muba – Pada tahun ini sebanyak 9.491 KK atau 16.406 jiwa bakal menerima bantuan pendapatan dasar atau basic income. Program ini diperuntukan masyarakat kategori miskin disalurkan Pemkab Muba melalui Dinas Sosial Muba. Hal itu dilakukan guna mengkebut dan menuntaskan kemiskinan ekstrem di Muba. “Ya, besar bantuannya perorang sebesar Rp325 ribu perbulan, bantuan ini akan […]

  • Peringati Hari Ibu,HDMY Bakal Ikutan Lomba Masak Ikan

    Peringati Hari Ibu,HDMY Bakal Ikutan Lomba Masak Ikan

    • calendar_month Senin, 10 Des 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.215
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID, PALEMBANG – “Kasih ibu kepada beta Tak terhingga sepanjang masa” Sepenggal Lirik lagu ini, mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita semua, lagu intinya menceritakan betapa sayangnya seorang ibu kepada anak-anaknya. Nah, untuk menghargai jasa perempuan yang biasa dipanggil Ibu, emak, mama, mami, mbok atau apa pun, tak lama lagi kita akan memperingati hari […]

  • Alhamdullilah, Tak Sia-sia Berjuang Akhirnya Tenaga Honorer K2 di Muba Dapat SPK

    Alhamdullilah, Tak Sia-sia Berjuang Akhirnya Tenaga Honorer K2 di Muba Dapat SPK

    • calendar_month Senin, 24 Sep 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.026
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID, SEKAYU – Tenaga honorer Kategori [K2] di Kabupaten Muba mendapat  Surat Perjanjian Kerja (SPK) oleh Pemkab Muba. Menurut laporan Plt Kepala Disdikbud Muba, disampaikan oleh Kepala Bidang Pembinaan Guru dan Tenaga kependidikan,  Fitri Juwita SSi MSi menyebutkan honorer K2 berjumlah 310 orang, terdiri dari tingkat TK/RA 3 orang, SD/MI 263 orang dan SMP/MTS 44 […]

  • 3 Opsi yang Tengah Digodok untuk Selesaikan Masalah Guru Honorer

    3 Opsi yang Tengah Digodok untuk Selesaikan Masalah Guru Honorer

    • calendar_month Minggu, 4 Nov 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.099
    • 0Komentar

    AKHIR pekan ini guru honorer melakukan aksi demo ke Istana Negara, bahkan mereka pun nekad untuk bermalam di sana dengan beralasan kasur aspal dan atap langit,  guna menunggu jawaban sang presiden RI, Joko Widodo [ Jokowi], apakah diangkat menjadi pegawai negeri sipil atau tidak.  Aksi unjuk rasak tersebut diklaim diikuti sekitar 70 guru honorer dari […]

  • Hadiri Grand Final Lomba Menulis Kritis, Gubernur: Sumsel  Butuh  SDM   Berdaya Saing Tinggi

    Hadiri Grand Final Lomba Menulis Kritis, Gubernur: Sumsel Butuh SDM Berdaya Saing Tinggi

    • calendar_month Jumat, 15 Okt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 924
    • 0Komentar

    GUBERNUR Sumatera Selatan (Sumsel) H Herman Deru menyambut baik digelarnya lomba menulis kritis yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya. Sebab melalui kegiatan ini diarapkan akan mengasah sikap kritis mahasiswa ditengah pesatnya kemajuan teknologi dewasa ini. Sehingga akan tercipta Sumber Daya Manusia (SDM) yang berdaya saing tinggi. “Kemajuan teknologi sekarang memang seharusnya […]

expand_less
WordPress Archive Qamico – Indie Games Studio WordPress Theme Qaween – Wedding WordPress Theme Qeen – Fashion Lifestyle Blog WordPress Theme Qempo – Digital Service Agency Elementor Template Kit Qesco | Logistic Shipping Company WordPress Theme Qik – SaaS Startup WordPress Theme Qixer – Multi-Vendor On demand Handyman Service Marketplace and Service Finder Qodify – IT Solutions And Services WordPress Theme Qohwa - Coffee Shop & Store Ecommerce Elementor Pro Template Kit Qolle – Digital Marketing Agency WordPress Theme