Sentra Kemensos Diminta Tak Hanya Berdiri, Wamensos Ungkap Cara “Memakmurkannya”
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month Kamis, 27 Agt 2026
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kemensos.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID- Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono meminta sentra-sentra di bawah Kementerian Sosial (Kemensos) tidak sekadar menjalankan rutinitas. Keberadaan sentra harus benar-benar terlihat manfaatnya sebagai pusat layanan rehabilitasi sosial bagi masyarakat yang membutuhkan.
Agus bahkan mendorong adanya gerakan “memakmurkan sentra”. Namun, yang dimaksud bukan sekadar menambah kegiatan ataupun anggaran, melainkan memastikan tugas pokok sentra berjalan dan layanan yang diberikan benar-benar terlihat.
“Memakmurkan itu bagaimana kemudian tugas-tugas pokok sentra ini bisa dilaksanakan. Kemudian di sentra ini layanannya kelihatan dan itu bisa kemudian kita publikasikan,” kata Agus saat memberikan arahan dalam Rapat Pemantauan Kinerja Sentra Lingkungan Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial (Ditjen Rehsos) di Sentra Terpadu Pangudi Luhur (STPL) Bekasi, Jawa Barat, Rabu (26/8/2026).
Sentra harus punya layanan yang jelas
Menurut Agus, sentra memiliki tugas utama memberikan layanan rehabilitasi sosial kepada kelompok masyarakat yang membutuhkan. Karena itu, setiap sentra perlu mengetahui layanan apa yang menjadi kekuatan mereka.
Ia meminta para kepala sentra melakukan analisis kebutuhan untuk menentukan stratifikasi layanan unggulan. Dari pemetaan tersebut, sentra dapat mengetahui kompetensi yang diperlukan, termasuk kemampuan sumber daya manusia (SDM) pelayanan sosial serta kebutuhan sarana dan prasarana.
Langkah ini diharapkan membuat setiap sentra tidak berjalan dengan pola yang sama tanpa melihat kebutuhan masyarakat yang dilayani.
“Ini kemudian harus menjadi catatan dari hasil pertemuan hari ini, paling tidak dengan apa yang disampaikan oleh kepala sentra-kepala sentra, kita sudah punya peta untuk memakmurkan sentra,” ujarnya.
Peta tersebut, lanjut Agus, juga harus mencakup kebutuhan SDM yang unggul, tata kelola yang baik hingga dukungan anggaran.
Data penerima layanan ikut dibenahi
Penguatan sentra juga tidak bisa dilepaskan dari persoalan data. Agus meminta pelayanan rehabilitasi sosial menggunakan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai pijakan.
“Berangkatnya sekarang harus DTSEN,” tegasnya.
Menurut dia, data tersebut penting agar pelayanan dapat diberikan secara lebih tepat sasaran. Untuk itu, kepala sentra diminta tidak bekerja sendiri.
Agus mendorong sentra membangun sinergi dengan pemangku kepentingan di daerah, termasuk BPS dan dinas sosial setempat.
“Perlunya kepala-kepala sentra bekerja sama dengan BPS setempat, bekerja sama dengan dinsos setempat gitu loh, supaya bersinergi,” katanya.
Dengan koordinasi tersebut, kebutuhan masyarakat yang menjadi sasaran layanan dapat dipetakan lebih baik sebelum menentukan bentuk rehabilitasi sosial yang diberikan.
Bukan hanya soal kemiskinan ekonomi
Agus menjelaskan, sentra Kemensos menangani masyarakat dengan beragam persoalan sosial. Pemerintah memiliki sejumlah program prioritas untuk membantu kelompok rentan maupun masyarakat miskin, sementara Kemensos berperan sebagai penopang dalam pelaksanaannya.
Kemensos membagi kelompok yang membutuhkan perhatian melalui 12 Penerima Atensi Sosial (PAS).
Kelompok tersebut meliputi anak-anak rentan, penyandang disabilitas, lansia terlantar, masyarakat berpendapatan rendah, korban bencana, kelompok afirmasi khusus, warga binaan, korban kekerasan, korban NAPZA dan HIV/AIDS, masyarakat yang mengalami masalah sosial, perempuan rentan, serta fakir miskin.
“Mulai dari lansia, korban Napza, TPPO, disabilitas. Itu adalah kelompok masyarakat yang memiliki problem-problem sosial,” ujar Agus.
Karena cakupan penerima layanan cukup beragam, menurut dia, sentra membutuhkan kemampuan dan layanan yang juga sesuai dengan karakteristik persoalan masing-masing kelompok.
Target akhirnya jadi pusat layanan unggulan
Agus berharap rapat pemantauan kinerja tersebut tidak berhenti sebagai evaluasi internal. Pertemuan itu diharapkan menghasilkan peta kebutuhan yang bisa menjadi dasar pembenahan setiap sentra.
Tujuannya, sentra-sentra Kemensos dapat berkembang menjadi pusat unggulan pelayanan rehabilitasi sosial, mulai dari layanan berbasis keluarga hingga layanan residensial.
“Saya pikir yang terpenting bagaimana kita punya visi dan misi yang sama, kemudian bisa menerjemahkan bagaimana memakmurkan sentra. Memakmurkan dalam konteks pelayanan dulu ya, baik itu pelayanan dalam keluarga sampai pelayanan yang residensial dulu,” kata Agus.
Dengan begitu, ukuran keberhasilan sentra bukan sekadar seberapa banyak kegiatan yang tercatat, tetapi seberapa jelas layanan yang tersedia dan seberapa besar manfaatnya dirasakan masyarakat yang membutuhkan rehabilitasi sosial. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
