Seni & Budaya

Wayang Palembang

Foto : istimewa

Pelestarian wayang Palembang tidak cukup hanya mengandalkan dalang, pengrawit, wayang, seperangkat gamelan, tetapi harus memiliki masyarakat pendukungnya

(REKA TULIS dari beberapa sumber wayang Palembang, link sumber ada di akhir catatan ini, kudedikasikan buat perjuangan adinda Kgs. Wirawan Rusdi).

WAYANG…ada di Palembang, maksudnya ada wayang Palembang, pergelaran wayang berbahasa Palembang, tapi tak ada bahasa Komering😜, Ogan, Lahat, dan lainnya, mengapa? Mengingat Palembang sejak dulu cenderung sebagai pusat politik kekuasaan, seperti diketahui mulai dari masa Sriwijaya era “Shi-li-fo-shi” (I’Tsing-dinasti Tang), Sriwijaya era “San-fi-tsi” (Zhao Rugua-dinasti Song), Kerajaan Palembang, dan Kesultanan Palembang Darussalam. Ada sumber yang mengatakan wayang masuk Palembang pasca Sriwijaya, sejak Arya Damar pemimpin legendaris bawahan Majapahit sebagai penguasa Palembang, tentu pendapat ini masih bersifat terbuka.

Sebagai pusat kekuasaan sejak abad ke 7 M itu pula, banyak orang datang ke Palembang dengan berbagai kepentingannya dan itu memberikan satu keunikan. Selain itu, wilayah Palembang juga berdasar posisi atau letaknya, sudah berada di bagian hilir dari sungai Musi, di Ilir atau Iliran, dibanding wilayah Batanghari Sembilan lainnya yang terletak di wilayah hulu sungai, Ulu atau Uluan. Seperti diketahui sungai-sungai yang berjumlah sembilan dari Batanghari Sembilan itu, mengalir dari daerah hulu (sumber air) ke hilir menuju muara, termasuk sungai Musi. Pada saat air sungai Musi yang berasal dari hulu sampai ke Palembang, itu berarti relatif sudah tak jauh dari titik bermuaranya ke lautan lepas.

Daerah Hulu tentu berada di wilayah yang relatif lebih tinggi atau bahkan perbukitan yang cenderung tanahnya subur, sehingga masyarakat Uluan cenderung berladang/berkebun atau bertani. Sementara, Palembang sebagai daerah Ilir cenderung lebih rendah dan berawa-rawa, bahkan relatif lebih dekat dengan pantai (berpotensi ada pelabuhan kapal laut), maka mata pencaharian masyarakat Palembang cenderung berdagang. Kondisi alam seperti itu mendorong masyarakatnya bersifat lebih terbuka bagi masuknya pengaruh luar, dan terbiasa berelasi dengan pendatang yang berkepentingan dengan pusat pemerintahan.

Untuk menelisik masuk jauh menggali kesejarahan wayang Palembang memang bukan perkara gampang, sebagaimana banyak hal terkait Bhumi Batanghari Sembilan yang dikenal juga sebagai Bhumi Crivijaya, tentu akan jauh berbeda kalau mau membandingkan penggalian kesejarahan di Bhumi Jawa pun entah di bhumi-bhumi lainnya. Pada Bhumi Crivijaya masyarakatnya dominan masyarakat Ladang yang menjunjung keragaman, bahkan monumen “Keragaman Nusantara” berawal dan berada di Dataran Tinggi Pasemah dengan tradisi megalitik, khususnya varian visual patung megalit Pasemah.

Sumatra Selatan dalam hal ini Palembang pada masa lalunya adalah pusat kekuasaan Sriwijaya, seperti diketahui era Sriwijaya telah menjadikan Nusantara dalam hal ini dapat dikatakan Palembang, sebagai pusat bertemu, berkumpul, dan berelasinya beberapa bangsa berperadaban besar/tinggi dunia, sebut saja tiga besar itu: Arab, China, dan India. Sriwijaya dengan kedigjayaan maritimnya berhasil menjadikan Nusantara sebagai salah-satu pusat perdagangan rempah jalur laut dunia, dan tidak bisa dipungkiri Sriwijaya pernah berperan penting secara internasional, karena pernah memberikan bantuan internasional ke bangsa lain.

Perlu dipahami keberadaan dan kejayaan Sriwijaya yang berabad-abad itu, didasari dengan konsep kosmologis selaras konsep Budhis, terutama dianut oleh keluarga istananya. Sehingga secara tidak langsung membangun karakter masyarakatnya, terutama tentu mereka yang tidak terlalu jauh dari lingkaran pusat kekuasaan. Sriwijaya bukan pendukung konsep istana-sentris (Raja adalah jelmaan Dewa), tetapi Dhapunta Hyang membangun Sriwijaya bersama balatentara dan rakyatnya, sehingga Sriwijaya Jaya-siddhayatra, tampak kental sekali konsep kerakyatan, bersahabat dengan alam, dan menjunjung adanya perbedaan. Karenanya, perlu kecermatan ketika membaca Bhumi Crivijaya.

Menurut salah-satu sumber, wayang Palembang sulit berkembang karena perbedaan pandangan dan falsafah hidup antara masyarakat Palembang dengan masyarakat asal wayang Purwa, adalah faktor yang menjadi kendala utama. “Komunitas budaya Palembang bersifat materialistik. Konsekuensinya adalah menganggap falsafah hidup dan nilai moral adalah faktor ikutan belaka. Yang bersifat sentral dan menentukan dalam kehidupan manusia. Sebaliknya yang menjadi sendi utama dalam kehidupan masyarakat adalah lokak-lemak (materi-kenikmatan) yang bisa dirasakan kegunaannya secara langsung secara ekonomis dan praktis. Sedangkan budaya Jawa lebih sebagai budaya yang bersifat idealistik. Dalam pandangan ini, inti budaya bukanlah hal yang konkret, melainkan ide dan lambang sebagai inti dari kebudayaan. Sistem gagasan yang berbeda inilah yang menjadikan wayang tidak bisa berkembang di Palembang” (hasil mewawancarai R. Dalyono).

Seperti yang telah dikatakan sebelum ini, peninggalan Sriwijaya khususnya di Bhumi Crivijaya, adalah masyarakat berpola budaya ladang yang kosmologis, lebih jauh lagi itupun warisan dari masyarakat tradisi Megalitik Dataran Tinggi Pasemah. Mereka masyarakat Melayu yang mendiami rumah-rumah panggung, dulunya berkecenderungan tak ingin jauh-jauh dari sungai, dan mereka merayakan serta menjunjung keragamaan/perbedaan. Mereka bukan masyarakat yang menjunjung konsep istana-sentris. Masyarakat Jawa dari mana wayang Purwa berasal, adalah masyarakat instana-sentris dengan pola budaya sawah (bukan pola budaya ladang), selaras konsep kerajaan-kerajaan Hindu, sebagaimana dasar lakon dan cerita wayang Purwa yang bersumber pada Mahabharata, dan Ramayana.

Tidak mengherankan bila wayang Purwa tubuh subur dan berkembang pesat di Jawa sebagai daerah asalnya, wayang menjadi media penyampaian pesan atas nilai-nilai sosial-agama-kekuasaan, dari istana/pemerintah/pemimpin/tokoh/ulama. Masyarakatnya cenderung menunggu pergelaran wayang, karena jelas ceritanya telah lama dihayati secara turun-temurun dan selaras dengan konsep hidup-kehidupan keseharian berkebudayaan mereka. Masyarakat istana-sentris cenderung menghormati dan menurut atau “manut” kepada “doktrin” raja/sultan/pemimpin/tokohnya. Mereka begitu menjunjung dan sangat “guyup” dengan kesamaan dan keseragaman, apalagi dikemas dalam cerita/lakon dan disampaikan oleh sang dalang, sesekali mendengarkan merdunya suara nembang dari sang sinden.

Tidak berlebihan jika Amir Rochkyatmo, Gatra, mengatakan: “Tidak ada sumber sejarah yang otentik mencantumkan data-data sejarah mengenai pertumbuhan dan perkembangan Wayang Palembang. Yang ada hanyalah bersumber dari tradisi tutur yang diwariskan dari generasi ke generasi, terutama dalam keluarga dalang wayang Palembang yang sampai sekarang tetap melestarikan tradisi wayang Palembang.” Sejak masa Sriwijaya istana cenderung tidak terlibat langsung dengan masyarakatnya, mungkin karena raja bukan jelmaan Dewa, Sriwijaya cukup menempatkan aturan-aturan (sangsi kutukan) negara dalam prasasti-prasastinya. Masyarakatnya sejak lama telah terbiasa demokratis, buktinya melahirkan kesenian rakyat, kerajinan rakyat, dan dengan banyak muncul mitos-mitos “Puyang” pun cerita rakyat yang “tutur” juga bersifat lokal. Baru era kerajaan Palembang pun Kesultanan Palembang Darussalam pihak istana melibatkan diri hingga ke masyarakat Uluan.

Mencermati secara visual, wayang Palembang sesungguhnya memiliki kekhasan tersendiri, dibanding wayang Purwa sebagai asalnya yang mulai ada di Jawa sejak era Airlangga, Kediri. Warna wayang Palembang tidak persis sama dengan pakem atau kaidah pulasan dalam pewarnaan wayang Purwa Jawa. Wayang Palembang memiliki penyelarasan dengan kelokalan Palembang, karena ada konsep berpikir tak mau persis sama, termasuk juga prilaku tokohnya cenderung lebih bebas, sehingga berbeda dengan sumber pakemnya yang ketat dalam perwatakan tokoh wayang Purwa yang klasik. Wayang Palembang juga tidak melibatkan penembang “sinden” saat pementasan lakonnya.

Tokoh dalam wayang Palembang tampak mendapat tambahan sebutan lokal seperti “Wak” (kakaknya Ayah dalam sistem kekerabatan), juga ada Raden, contoh misalnya: Tokoh Gareng dipanggil Wak Gareng. Sementara, tokoh Bagong sebagaimana dalam cerita Mahabarata, tidak ada dalam wayang Palembang. Wayang Palembang punya lakon dan tokoh Bambang Tuk Seno, anak dari Arjuna. Lakon Bambang Tuk Seno ini merupakan asli cerita dalam wayang Palembang karena tidak ditemukan di wayang Purwa Jawa. Beberapa lakon wayang Palembang lainnya, yakni: Prabu Indropura, Bambang Gandawijaya, Pandawa Lebur, Petruk Mungga Ratu, Arjuno Duo dan Semar Kembar, secara esensi sesungguhnya adopsi lakon wayang Purwa.

Masih bersifat tutur konon katanya, wayang ini pernah populer di Palembang berfunsi sebagai hiburan maupun untuk ruwatan, namun lambat laun mengalami kemunduran. Sejak tahun 1930 sampai dengan tahun 1978 (kurang lebih 48 tahun), bisa dikatakan orang tidak pernah mendengar lagi keberadaan wayang Palembang. Dalam perjalanan wayang Palembang, cenderung diwariskan turun-temurun secara terbatas di lingkungan keluarga, terutama keluarga dalang Kgs. Rusdi Rasyid bin Abdul Roni, sehingga kehilangan masyarakat pendukungnya. Wayang sebagai seni pertunjukan yang melibatkan penonton seharusnya dikembangkan bersama dalam dan dengan masyarakatnya. Keberadaan Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) Sumatra Selatan sekitar 1978, telah membangunkan dan berupaya menampilkan kembali kesenian tradisional wayang Palembang yang kondisinya memprihatinkan, dengan membentuk organisasi wayang yang diberi nama “Sri Palembang” beralamat di Kelurahan 36 Ilir, Tangga Buntung, Kecamatan Ilir Barat II, Kota Palembang.

Sri Palembang diketuai oleh dalang Kgs. Abdul Rasyid bin Abdul Roni, dan pada tahun itu juga Sri Palembang mengikuti dan tampil dalam Pekan Wayang Indonesia III, di Teater Tertutup TIM, dengan menggelar lakon Bambang Tuk Seno. Melalui peran PEPADI Sumsel, sejak itu wayang Palembang rutin disiarkan sebulan sekali, di RRI Palembang dengan dalang H. Ahmad Sukri Ahkab, ia asli Palembang kelahiran 1947 (penyiar RRI Palembang), sengaja belajar mendalang kepada Kgs. Rusdi Rasyid. Pada tahun 1983 dalang Kgs. Abdul Rasyid bin Abdul Roni telah almarhum, Kgs. Rusdi Rasyid bin Kgs. Abdul Rasyid tampil mengantikan ayahnya sebagai dalang, 1983 itu wayang Palembang kembali hadir pada Pekan Wayang Nasional IV. Sempat menghilang lagi, baru pada 1988 wayang Palembang kembali tampil dalam acara promosi wisata Sumatera Selatan, dan pada 1990-an bahkan PEPADI Sumsel mendorong adanya cabang PEPADI di Kabupaten/Kota.

TVRI Stasiun Sumatra Selatan ketika masih bernama TVRI Stasiun Palembang di tahun 1979 juga turut menampilkan wayang Palembang, dalam paket acara lokalnya siaran berdurasi 45 menit itu melakonkan cerita Suryadadari. 1979 wayang Palembang mengisi paket acara disiarkan secara nasional, dalam program Taman Bhineka Tunggal Ika durasi 25 Menit dalam cerita Arjuno Duo (Arjuna Kembar). Pagelaran wayang Palembang yang tercatat adalah untuk mengisi paket acara RRI-TVRI, Panggung Penerangan, Musda PEPADI Sumsel dan undangan khusus dari Menteri Penerangan. Bila dicermati memang beberapa pentas yang digelar itu, lebih banyak karena adanya kebijakan dari lembaga yang mempunyai kepentingan dengan pelestarian wayang ini. Khususnya adalah PEPADI Sumsel dan Pemerintah.

Menurut sumber yang dikutif, ada dalang bernama Syah HM. Hanan, lahir tahun 1909 mencatat, pada masa kejayaan wayang Palembang sempat dikenal beberapa dalang wayang Palembang, seperti Dalang Lot, Dalang Jan, Dalang Abas, Dalang Abdul Rahim Dalang Agus dan Dalang Ali. Dikatakan pula, wayang-wayang Palembang yang tersisa sudah banyak lapuk termakan usia, dan juga banyak properti pendukung wayang yang hilang tercecer. Lebih lanjut diinfokan, bahwa Pemerintah Kota Palembang pada tahun 1985, sempat melakukan duplikasi 20 tokoh wayang Palembang yang telah rusak. Namun, sayangnya pada 1986 hasil duplikasi wayang Palembang tersebut mengalami nasib tragis, seluruhnya habis terbakar dilalap si jago merah.

Pada tahun 2004, Kgs. Wirawan Rusdi putra pertama Kgs. Rusdi Rasyid, cucu dari Kgs. Abdul Rasyid bin Abdul Roni sebagai ahli waris, sekaligus sebagai penyelamat wayang Palembang, mendapat sumbangan dari UNESCO, berupa seperangkat wayang Palembang. Wayang ini merupakan hasil duplikasi wayang Palembang yang ada di Museum Wayang Indonesia. Kehadiran Kgs. Wirawan Rusdi telah membuka dan mendorong kembali keberadaan wayang Palembang yang telah lama menghilang. Karenanya pada tahun 2012 Sumatra Selatan kembali dapat mengikuti Festival Wayang Kulit se-Indonesia di Jakarta.

Salah satu yang patut diapresiasi dan tak boleh dilupakan adalah peran alm. R. Dalyono, atas usahanya melalui PEPADI Sumsel dalam menghidupkan kembali wayang Palembang. Setelah melalui prosedur dan proses berjalan, akhirnya UNESCO berkenan menggelontorkan bantuan berupa seperangkat wayang Palembang. “Mari kita bersama selamatkan wayang Palembang, jangan sampai sisa-sisa wayang hanya tersimpan dalam peti, semata-mata sebagai warisan leluhur dan bukti sejarah wayang di Palembang, hingga menjadi kusam, kotor, rusak dan punah,” ungkap Dalyono.

Dalam situs wayangku.id “mywayang” mengatakan: “Kondisi sosial budaya Palembang mempunyai strukturnya sendiri yang jelas sosoknya. Secara alamiah mempunyai daya tahan terhadap pengaruh luar. Walaupun diintervensi dan mendapat penetrasi kebudayaan dari luar namun daya tahan budaya asli Palembang sebagai local genius memiliki daya tahan yang luar biasa. Budaya Palembang dibentuk dalam rentang sejarah yang panjang. Kondisi-kondisi yang khas sehubungan dengan lingkungan geografis, kondisi alam, sistem ekonomi dan lingkungan sosial serta pertemuan dengan budaya lain membentuk kebudayaan Palembang sehingga mempunyai strukturnya sendiri yang khas.” Wayangku.id sepakat dengan apa yang dikemukakan R. Dalyono, bahwa adanya perbedaan pandangan dan falsafah hidup merupakan faktor yang menjadi kendala utama, budaya Palembang bersifat materialistik. Hal ini telah dibahas pada alenia sebelum ini, karena hanya bersifat pendapat pribadi dari nara sumbernya.

Sementara dalam situs lain “wayang.wordpress.com” memberi judul tulisannya “Wayang Purwa Gaya Palembang.” Diawali dengan menuliskan “bagai kerakap tumbuh di batu, hidup enggan mati tak mau.” Untuk alenia awalnya sama dengan yang ditulis pada situs wayangku.id “mywayang.” Lebih lanjut dikatakan: “Ditinjau dari bentuk rupa wayang tidak dipungkiri bahwa wayang Palembang berasal dari Jawa. Dari gaya wayang putren juga dari rupa ornamen, bisa dipastikan wayang Palembang bergaya gagrag Yogyakarta. Namun apakah dibawa langsung dari Yogjakarta tidak ada yang bisa memastikan. Ada yang mengatakan wayang tersebut berasal dari Tanggerang? Ditilik dari wayang yang paling tua, jelas bahwa wayang tersebut didatangkan dari Jawa. Sedang wayang-wayang srambahan ‘tokoh-tokoh pelengkap’ dibuat di Palembang. Kemudian wayang-wayang yang paling baru adalah wayang-wayang yang dibuat oleh pengrajin wayang gaya Surakarta dan juga Yogyakarta.

Pada bagian akhir tulisan “Wayang Purwa Gaya Palembang” dikatakan, menjadi keprihatinan adalah sedikitnya apresiasi masyarakat akan bentuk kesenian ini. Hal ini bisa dibuktikan dari pentas yang dikatakan “murni”, atas permintaan masyarakat yang menginginkan jasa hiburan terkait dengan tradisi lokal, hampir bisa dikatakan tidak ada. Dalam sepuluh tahun (1980 – 2000), ini dua puluh tahun bukan sepuluh, tidak lebih dari tiga kali pentas, terkait dengan upacara tradisi seperti hajatan perkawinan. Nah, kalau kaitannya upacara tradisi hajatan perkawinan, sengaja memesan jasa mementaskan tradisi lokal, dikatakan hampir tidak ada atau hanya tiga pementasan dalam kurun waktu dua puluh tahun, sepertinya keliru besar. Karena, faktanya hingga sekarang Tari Tanggai, Teater Dul Muluk, Teater Bangsawan, Musik Gitar Tunggal (Batanghari Sembilan), komunitas-komunitas penggiat seni tradisi tersebut cukup disibukkan, bila tak boleh disebut kebajiran pesanan oleh masyarakat yang membutuhkan jasa mereka. Namun, bila yang dimaksud wayang Palembang, mungkin saja bisa begitu.

Juga dikatakan, bahwa wayang Palembang dulunya berasal dari Jawa pada abad XVII, namun ada pula sumber lain yang berpendapat abad ke -9 M. Wayang dibawa oleh seorang yang melakukan migrasi ke Palembang. Wayang tersebut dikembangkan oleh nenek moyang dalang Ki Agus Rusdi Rasyid, terbatas hanya di lingkungan keluarga. Keahlian dalang itu secara turun-temurun diwariskan oleh kakek moyang kepada keturunan dalam jalur keluarga yang sangat terbatas. Lebih lanjut sumber ini menuliskan, “Dalam perjalanannya yang panjang semenjak memasuki wilayah Sumatera, wayang Palembang bersentuhan dengan budaya setempat, mengadopsi unsur-unsur budaya setempat, terutama adalah penggunaan bahasa Palembang dalam narasi maupun dialog. Sumber ceriteranya adalah Mahabharata, dan juga Ramayana, namun mengalami pengolahan cerita berupa sanggit sebagai lakon carangan dalam cerita lokal yang khas. Iringan musik pagelaran wayang Palembang menggunakan seperangkat gamelan pelog dengan caturan/gendhing yang sudah mengalami pengolahan bentuk dan harmoni.”

Berdasar buku Profil Penerima Anugerah Kebudayaan 2019 dari Dirjenbud, Kemendikbud RI, berjudul “Kiagus Wirawan Rusdi Membangkitkan Batang Terendam” diawali dengan tulisan: “Tak banyak orang tahu bahwa tradisi wayang kulit juga ada di Palembang. Setelah hampir tiga dasawarsa ia tenggelam di dasar ingatan wong kito, kini wayang Palembang muncul kembali ke permukaan. Tidak terkenal, memang, akan tetapi paling tidak ia telah bangkit dari mati suri-nya sejak abad lampau.” Adalah Kiagus Wirawan Rusdi, anak muda yang meng-“hidup”-kan dan menghidupi kembali wayang kulit Palembang. Apa yang dia lakukan itu ibarat (meminjam peribahasa Melayu lama) membangkitkan batang yang terendam. Itu pun tidak sekali jadi. Perlu waktu bertahun-tahun, bahkan untuk sekadar belajar bagaimana cara memegang ‘anak” wayang berikut memainkannya.

Keinginan untuk “menghidupkan” kembali wayang Palembang itu, kata Kgs. Wirawan Rusdi, tidak muncul begitu saja sebagai kemauannya. Mermula tahun 2002 ketika ada bantuan seperangkat wayang berikut dana pembinaan dari UNESCO bekerja sama dengan Sekretariat Nasional Wayang Indonesia (Senawangi) kepada ki dalang Rusdi Rasyid, orangtuanya, boleh jadi nasib wayang Palembang benar-benar mati untuk selamanya. Sebab, sejak rumah mereka di gang kecil di daerah Tangga Buntung, Kecamatan Gandus, terbakar pada tahun 1980-an ikut menghanguskan semua peralatan wayang yang ada, sejak itu pula wayang Palembang hilang dari peredaran.

Masih mengutip buku Profil Penerima Anugerah Kebudayaan 2019: Di awal milenium kedua, UNESCO lembaga PBB untuk urusan pendidikan, sains dan kebudayaan sedang berupaya melakukan semacam program revitalisasi terhadap sejumlah kesenian tradisi yang terancam punah. Di bidang seni pewayangan, UNESCO menggandeng Senawangi. Bagai ketiban bintang, salah satu yang dijadikan objek revitalisasi adalah wayang Palembang. Ki dalang Rusdi Rasyid pun mulai mencari bakat-bakat terpendam dalam wilayah pewayangan. Namun atmosfer kesenian wayang di Palembang tak bisa disandingkan dengan di Jawa. Alih-alih untuk jadi dalang dan pengrawit, mencari penonton wayang saja bukanlah perkara gampang. Alhasil, hingga Rusdi Rasyid berpulang pada 2004, wayang Palembang masih tetap tertidur pulas. Jadi sesungguhnya keluarga telah menyadari akan perbedaan atmosfer Palembang dengan di Jawa terkait wayang ini.

Ada pengakuan Kgs. Wirawan Rusdi: “Sebetulnya pihak UNESCO mau memfasilitas saya agar mengikuti pendidikan kilat selama dua-tiga bulan belajar mendalang ke Solo atau Yogya. Akan tetapi ditolak oleh Pak Dalyono (pejabat kesenian di Kanwil Depdikbud Sumsel ketika itu yang kerap mendampingi Wirawan). Dia takut kebiasaan-kebiasaan (mendalang) di Jawa terbawa-bawa di sini. Kata Pak Dalyono kepada orang UNESCO, ‘Biarlah dia belajar sendiri kebiasaan-kebiasaan (mendalang) di sini’. Dua tahun lamanya proses “menjadi” dalang itu berlangsung. Belakangan Kgs. Wirawan mendapat kiriman dari Senawangi berupa rekaman dalam bentuk kaset video (VCD) pertunjukan ayah di Jakarta. Proses belajar menjadi dalang wayang Palembang pun kian “menjadi”, lantaran lewat gambar hidup itu ia bisa melihat bagaimana sang bapak memainkan anak wayang: bukan hanya sekadar lewat suara.

Dikisahkan pula oleh Wirawan, begitu sulitnya (tidak mudah) apa yang telah dilakukannya bersama sejumlah orang untuk belajar menjadi pengrawit, termasuk keluarganya. Dalam mencari para pengrawit dan untuk sampai pada komposisi pengrawit yang mengiringi setiap tampil mendalang, Wirawan harus mendapatkannya setelah melalui tiga gelombang perekrutan. Gelombang pertama dan kedua bubar. Pada perekrutan ketiga baru cocok. “Pengrawit generasi ketigalah yang masih ikut sampai sekarang. Namun untuk mengumpulkan mereka tidak mudah, karena kesibukan dan tempat tinggal yang jauh,” katanya. Setelah lebih dua tahun terus belajar tapa guru, tahun 2006 Wirawan tampil mendalang di depan publik. “Itu pun karena dipaksa Pak Dalyono,” katanya. Momen tersebut datang pada peringatan ulang tahun Kerukunan Keluarga Palembang (KKP). “Nunggu kapan lagi? Pokok-nyo, salah-benar, maen. Lagi pulo, wong laen idak akan tau kalu itu salah,” turur Wirawan menirukan ucapan Dalyono (alm) ketika itu.

Lakon “Petruk Munggah Ratu” adalah pentas perdana dalang Kgs. Wirawan. Sejak saat itu, kepercayaan dirinya makin tumbuh dan tekadnya untuk meneruskan tradisi mendalang wayang Palembang kian mantap. Sejak itu pula, orang mulai mengenalnya sebagai dalang wayang Palembang dan sesekali diundang untuk merayakan suatu hajatan. Bahkan beragam festival pun telah pula dia ikuti. Wirawan pun mengakui, secara umum, tak ada perbedaan mendasar antara wayang kulit versi wayang Palembang dengan wayang kulit di Indonesia khususnya dan di Jawa pada umumnya. Baik cerita maupun tokoh-tokoh umumnya sama, kecuali beberapa perbedaan kecil di sana-sini. Misalnya, kalau dalam dunia pewayangan Jawa ada tokoh Togog selain Semar, Petruk, Gareng; dalam wayang Palembang tokoh Togog tidak ada. Pembeda utama adalah bahasa yang digunakan, narasi dan dialog disampaikan dalam bahasa Palembang; baik bahasa Palembang alusan maupun bahasa Palembang sehari-hari.

Pembeda lain dan ini menurutnya merupakan salah-satu ciri khas wayang Palembang, adalah barisan raja yang keluar lebih dahulu, baru diikuti bawahan-bawahannya. “Ini untuk memberi semacam pesan kepada penonton bahwa dalam kehidupan sehari-hari maka orang tua dulu yang mesti memberi contoh. Kalau di kantor, pimpinan mesti datang lebih dahulu daripada bawahannya. Bukan sebaliknya,” kata Wirawan. Semangat untuk melestarikan wayang Palembang tak pernah membuatnya surut. Bahkan kini ia mulai bisa tersenyum, Dua anak muda yang belia, Novi Ananda dan M Syafri Rizki, kini sudah mulai mengikuti jejaknya sebagai dalang. Kalau satu saat ada permintaan manggung dan dia berhalangan, maka tak perlu lagi khawatir karena sudah ada yang bisa menggantikannya.[***]

Penulis  : A. Erwan Suryanegara

                   Penggiat Kebudayaan

 

http://majalah1000guru.net/2017/05/wayang-Palembang/
https://wayangku.id/jenis-wayang-wayang-Purwa-gagrak-palem…/
https://wayang.wordpress.com/…/27/wayang-Purwa-gaya-palemb…/
https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/…/kiagus-wirawan-rusdi-…

 

Comments

Terpopuler

To Top