Senin, 14 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Seni & Budaya » Revitalisasi Dulmuluk, Bukan Sekadar Bertahan di Pandemi

Revitalisasi Dulmuluk, Bukan Sekadar Bertahan di Pandemi

  • account_circle Nasir Nasir
  • calendar_month Sabtu, 18 Des 2021
  • visibility 5.326
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Revitalisasi Dulmuluk, seakan tidak sekadar membuatnya bertahan di era pandemi. Tetapi, jauh lebih penting memberi penguatan kepada seni tradisional ini hingga bisa digunakan membangun karakter bangsa.
Di masa pandemi, Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Sumsel menggelar pementasan Dul Muluk dengan judul “Sultan Abdul Moeloek”, Sabtu (18/12) di Ballroom Hotel Swarnadwipa, Palembang. Uniknya, mereka yang terlibat dalam pementasan ini Dul Muluk berasal dari 12 perwakilan perguruan tinggi bagi negeri dan swasta di Indonesia.
Menyesuaikan dengan masa pandemi dan karena para pemain tersebar di wilayah Indonesia, maka persiapan dan latihan dilakukan secara daring dan melalui webinar (Sedaring/Seminar Daring). Pada H-2 , selama hanya dua hari, latihan dilakukan secara bersemuka.“Setidaknya dua hari, latihan dilakukan secara luring., Sementara pemenrtasan, dilakukan secara luring,” ujar Izzah..
Pementasan Dul Muluk tersebut mendapatkan apresiasi yang sangat baik dari para penonton yang hadir. Sebab disajikan dengan sangat luar biasa yang mengombinasikan kebudayaan lokal dan perkembangan jaman, ditambah dialog yang dilakukan oleh para pemeran dilakukan dengan sangat baik yang menyisipkan pesan moral dan ajakan untuk tetap menjalankan protokol kesehatan.
Diatas panggung juga tidak hanya sebuah pentas seni drama komedi yang ditampilkan oleh mereka, ada juga tarian kebudayaan dan adegan silatnya.
Meski terlihat ada adegan sadis, yang sebenarnya bisa diperhalus, yakni saat Dura Jauhari menyerahkan penggalan kepala kepada Sultan. Seusai sayembara yang dilaksanakan dengan hadiah 100 ribu kepig uang emas.
Dalam pementasan ini, setidaknya, ada dua profesor dan 13 doktor dari sedikitnya 30 pemain Dul Muluk yang tampil dengan baik dihadapan ratusan penonton yang hadir,” ujar Ketua Panitia Pementasan, Dr Hj Izzah, M.Pd.
Dua profesor, Prof Dr Nurhayati, M.Pd dari Universitas Sriwijaya dan juga Ketua HISKI Sumsel, sebagai sutradara dan penulis naskah; dan Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum. (UNJ, Jakarta), berperan sebagai permaisuri (Istri Sultan Abdul Hamid Syah). Sementara belasan doktor, Dr. Fachria Marasabessy, M.Pd. (STKIP Kie Raha, Ternate, sebagai khadam Berbari 2); Dr. Syaiful Amri (Pamong Budaya Disbud, Jakarta, Fakultas Seni Pertunjukan, Prodi Teater IKJ, sebagai Abdul Muluk Jauhari);, Dr. Imam Qalyubi, S.S., M.Hum. (IAIN, Palangkaraya) sebagai Tuan Syech; Dr. Sri Musdikawati, M.Si. (Universitas Al Asyariah Mandar, Sulawesi Barat) sebagai Khadam Berbari 3; Dr. Ina Samosir Lefaan, M.Pd. (UNCEN, Jayapura), sebagai Siti Rahmah; Dr. Ida Nurul Chasanah, S.S., M.Hum. (UNAIR, Surabaya), sebagai Khadam Hindustan 1; Dr. Ganjar Harimansyah (Balai Bahasa, Jawa Tengah) sebagai Sultan Syahabuddin; Dr. Rita Inderawati, (Unversitas Sriwijaya) sebagai pedagang kain 1 dan 2; Dr Haryadi, M.Pd (Universitas Muhamadyah Palembang) sebagai Saudagar Kain Bahauddin dan Wazir Hindustan; Dr Herpandi (Unsri) sebagai Syamsuddin; Dr Suparman (Unsri), sebagai Sultan Jamaluddin; Dr Yanti Sariasih, M.pd ( STKIP PGRI Metro, Lampung) sebagai Khadam Berbari 1; Dr Sri Musdikawatri, M.Si (Universitas Al Syariah, Mandar), sebagai Khadam Berbari 3; Dr. LR Retno Susanti, MHUm ( Unsri) sebagai pengawal; dan Dr. Ida Nurul Chasanah, SS (Unair, Surabaya), sebagai Khadam Hindustan 1.
Sementara pemain lainnya, antara lain Raja Sultan Abdul Hamid Syah diperankan Drs Sudartomon Macaryus, M.Hum (Universitas Taman Siswa, Yogyakarta); Siti Rafeah dan Dura Jauhari, dimanikan Pipit Mugi Handayani, MA (STKIP PGRI Semarang); Raja Sultan Arabi diperankan Mukhtaruddin, SE AK, M.Si (Unsri); Khadam Hindustan 2 diperankan Linny Oktoviani, M.Pd (Balai Bahasa Sumsel); Khadam Hindustan 3 dan Saudagar Barbari dimainkan Nyimas Khorin Khoiriyah (Unsri); dan Muhammad Eman Mansur, Mhammad Abdul Aziz, Nurhidayat Kamil Pratama, Muhammad Rezaldi, Aldo Suhendra, Beben Saputra, Firdaus Ramdhani, dan Aprialdo sebagai Pelaga 1 sd Pelaga 8.
Karakter Bangsa
Menurut Dr Izza, Dulmuluk produk lokal yang biasanya dipentaskan orang-orang lokal juga orang-orang Palembang semata. Kali ini justru dipentaskan oleh akademisi dari 12 perguruan tinggi negeri maupun swasta di Indonesiaa. “Latihan secara daring dan baru h-2 berlatih secara luring hanya dua kali, hasilnya lumayan. “Alhamdulillah, mendapat respon dan apresiasi dari berbagai pihak,” jelas a;umnus Pasca sarjana UNJ ini.
Disebutkan Izzah, “Alhamdulillah baik, sangat diapresiasi positif oleh penonton,. Ini kan prestasi yang luar biasa. Kita optimis, bahwa budaya daerah, sastra daerah, muatan kearifan lokal, masing-msing daerah itu sebebenarnya bisa direvitalisasi,” tambahnya.
Menurut keyakinan nya, Dulmuluk bisa diangkat dihidupkan kembali. “Jika kita bisa bekerja bersama-sama. Apalagi melihat hasil yang telah dipraktikkan oleh teman-teman tadi, bayangkan, para profesor itu bersedia menjadi pelaku, artis,a ktor dan pemqin dalam pementasan Dulmuluk. Ini kan sebuah prestasi yang harusnya diapresiasi oleh semua pihak.
Kiami bangga Gubernuur sangat mengapresiasi hadir dan memberikan sambutan, bahkan ke depan beliau ingin sastra dan budaya daerah ini dihidupkan terus.. Karena kearifan lokal itu siapa yang menghidupinnya. “Hanya kita orang2 daerah yang bisa menghidukpan. Merevitlisasi. Ini kekayaan yang memang luar biaya. Songket sudah didaftarkan dan menjadi kekayaan milik kita. Dulmuluk juga sedang proses menjadi kekayaan budaya kita. Kita harus bangga dengan budaya yang sangat istimewa ini,”ingatnya
Ke depan, memang harus ada kerjasama yang duduk satu meja yang direncnakan. Apakah dalam satu tahun kita membuat pementasan. “Kita bisa mapping, di daerah itu ada sastra, ada budaya apa saja yang bisa dipentaskan dan ditonton orang banyak. Dan memberikan dampak positif terhadap-Pembentukan karakter dan juga menjadikan para generasi muda merasa memiliki hiburan yang selama ini dianggap hanya dari luar yang bisa dinikmati dan ditonton seperti Drakor. Karena memang hanya itu yang ada di televisi, yanga ada di media sosial. Mengapa tidak, kita bersama-sama menciptakan berkolaborasi membuat satu tontonan yang menarik yang bersumber dari budaya daerah. Ini kan akan melahirkan satu pertunjukan yang betul-betul bermanfaat. Tidak hanya membuat kita bisa membentuk karakter bangsa. Tetapi juga bisa secara praktis membangun karakter bangsa ini,” kata Izzah.
Pementasan ini dihadiri juga antara lain, Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Herman Deru, Sultan Palembang Darussalam Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama R M Fauwaz Diradja SH Mkn , Rektor Unsri di wakili Prof Dr Mulyadi Eko Purnomo, Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP Unsri, Dr Didik Suhendi Spd Mhum, Koordinator Program studi pendidikan Bahasa dan sastra Indonesia FKIP Unsri Ernalida SPd Mhum Phd.
Lalu Guru Besar Bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra FKIP Unsri sekaligus pimpinan produksi dulmuluk , Prof. Dr. Nurhayati, Spd M.Pd, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel Aufa Syahrizal Sarkomi , Kepala Perwakilan Bank Indonesia Cabang Sumsel, Hari Widodo, Kepala Balai Bahasa Sumsel, Staf Khusus Gubernur Sumsel bidang Kebudayaan, Erlan Safeudin, Ketua DKP M Didit Rudianto, sejumlah komunitas di Palembang, budayawan kota Palembang, Yai Beck, para dosen pendidikan bahasa dan sastra Indonesia FKIP Unsri dan para penonton.

Dua Kali Setahun
Sedangkan Gubernur Sumsel Herman Deru menilai pentas seni yang diperankan oleh para dosen dari 12 perguruan tinggi tersebut merupakan kemasan yang baik dalam melestarikan kebudayaan tradisional yang dimiliki oleh Indonesia.
“Ketika kita berikan keteladanan seperti yang dilakukan hari ini, semoga dapat membangkitkan semangat mereka (kaum milenial) untuk melestarikan kebudayaan lokal yang sakral yang kita miliki. Ini belum sempurna jika tidak kita selenggarakan minimal dua kali dalam satu tahun”, kata Herman Deru.
Gubernur juga berpesan untuk tetap menerapkan nilai kebuduyaaan lokal pada kehidupan sehari-hari meskipun perkembangan jaman sangat pesat kemajuannya.
Menurut Gubernur, pentas seni yang diperankan oleh para dosen dari 11 perguruan tinggi tersebut merupakan kemasan yang baik dalam melestarikan kebudayaan tradisional yang dimiliki oleh Indonesia.
Ketika kita berikan keteladanan seperti yang dilakukan hari ini, semoga dapat membangkitkan semangat mereka (kaum milenial) untuk melestarikan kebudayaan lokal yang sakral yang kita miliki.
“Ini belum sempurna jika tidak kita selenggarakan minimal dua kali dalam satu tahun,” ungkap Herman Deru.
Gubernur juga berpesan untuk tetap menerapkan nilai kebuduyaaan lokal pada kehidupan sehari-hari meskipun perkembangan jaman sangat pesat kemajuannya.
Menutup sambutannya, Gubernur meminta agar seluruh OPD agar disetiap kegiatannya dapat menonjolkan dan menggunakan kearfian lokal, minimal menggunakan tanjak sebagai simbol dalam melestarikan kebudayaan lokal yang dimiliki.

Perhatikan Pakem
Terkait pementasan Dulmuluk oleh HISKI, seorang pemain Dulmuluk tradisional, Randi P Ramadan, mengungkapkan bahwa sebenanrya sangat setuju kalau ada pembelajaran maupun pementasan Dulmuluk di Kampus. Begitu pun dengan revitalisasi Dulmuluk. Hanya saja, menurutnya, Dulmuluk itu tidak sembarangan bisa dimainkan.
Contoh, main wayang, ada pakem, main ludruk juga ada pakem. “Nah, Main Dulmuluk juga ada pakemnya. Ada unsur pementasan yang tidak boleh diubah. Lalu teknik muncul, cara penyajian. Yang memang agak aedikit susah untuk dilakukan perubahan. Kemudian nama tokoh dan sebagai akting-akting dan dialog.
“Nah, inilah yang menjadikan kita lebih mau belajar dan memahami terlebih dahulu. Sebelum mengaplikasikannya.
“Saya juga pribadi sudah lama tidak mentas Dulmuluk. Yang biasanya dipentaskan , biasanya Dulmuluk Bangsawan, atau Dulmuluk Kreasi. Nah untuk yang lain juga harusnya seperti itu juga. Misalnya dibuat Dulmuluk modern. Atau Dulmuluk kreasi . Sehingga jadi jelas, bukan disebut Dulmuluk, saja. Artinya, untuk main Dulmuluk itu ada beban yang sangat besar yang harus kita emban. Karena Dulmuluk itu tidak sekdar dimainkan atau dipentaskan. Begitulah kira-kira,” tambah Randi..
Selama ini, kalau seniman-seninam lain bisa tetap eksis di panggung daring, tidak berlaku untuk teater pertunjukan Dulmuluk ini. Karena mereka umumnya, tidak menguasai teknologi alias gaptek (gagap teknologi). Selain tu, pertunjukan daring pun, lebih banyak tunggal dan dengan jumlah terbatas. “Sementara kami, belasan bahkan puluhan orang. Bagaimana mau main di dunia maya dengan jumlah sebanyak itu. Apalagi dengan syarat harus patuh protokol kesehatan, jaga jarak dan cuci tangan. Bisa-bisa panggungnya harus seluas lapangan sepak bola. Waktu mainnya, karena harus cuci tangan terus, bisa-bisa dari tujuh jam jadi tiga hari tiga malam,” selorohnya, sembari menambahkan, penontonnya siapa kalau sepanjang itu durasinya.
Randi Putra Ramadan, putra Jonhar, menyatakan bahwa selama ini pementasan daring, tak bisa menlibatkan banyak pemain. Para pemain Dulmuluk pun umumnya, agak gagap teknologi. “Sehingga mereka agak sulit menyesuaikan dengan dunia maya. Karenanya, beberapa kali ada pementasan daring yang melibatkan banyak pemain, tentu disambut gembira,””ujar alumni, Sendratasik Universitas PGRI Palembang ini.
Pandemi bisa saja, memberikan hikmah bagi seniman yang melek teknologi. Bagi pemain Dulmuluk, masih panjang waktu untuk itu. Karenanya, sentuhan berbagai pihak agar pementasan virtual yang melibatkan banyak pemain bisa digelar, tentu menjadi vitamin. Dulmuluk, tak sekedar butuh vaksin, tapi juga vitamin. Revitalisasi memang kata kuncinya. (muhamad nasir)

  • Penulis: Nasir Nasir

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Indonesia Perkuat Kerja Sama Manajemen Air di Asia

    Indonesia Perkuat Kerja Sama Manajemen Air di Asia

    • calendar_month Kamis, 4 Nov 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 712
    • 0Komentar

    DI hari ketiga, Selasa pelaksanaan Conference of the Parties (COP) ke-26 di Glasgow, Skotlandia, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono, hadir dalam sesi khusus Asia Water Council (AWC) Climate Change High-Level Roundtable. Di acara yang sama, demikian keterangan tertulis yang diterima redaksi InfoPublik, Kamis (4/11/2021), ikut tampil Menteri Lingkungan Korea Han Jeoung-ae, […]

  • Bersama Kita Jaga Kesehatan Jiwa Keluarga

    Bersama Kita Jaga Kesehatan Jiwa Keluarga

    • calendar_month Minggu, 7 Mar 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 842
    • 0Komentar

    MASA pandemi COVID-19 membawa banyak ketidakpastian yang berdampak pada kesehatan jiwa keluarga. Dari dihinggapi perasaan cemas dan stres, kebingungan akibat banyaknya informasi, hingga merasakan kebosanan karena ruang gerak terbatas. Ada hal-hal yang bisa kita lakukan untuk membantu kesehatan jiwa keluarga, agar pulih dan tangguh, seperti mengenali gejala yang dialami, saling beri dukungan, sadar jika kondisinya tidak […]

  • Ganjar diminta optimalisasi distribusi air bersih

    Ganjar diminta optimalisasi distribusi air bersih

    • calendar_month Jumat, 1 Sep 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 707
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Pengamat kebijakan publik dari Universitas Trisakti Trubus  Rahadiansyah menilai Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo belum optimal dalam tata kelola air bersih di provinsi tersebut. Secara khusus, ia menyoroti distribusi air bersih yang belum merata hingga ke berbagai wilayah. “Di Jateng kan juga ada wilayah yang melimpah air. Nah, itu bagaimana kemudian untuk […]

  • Pascakebakaran Lapas, Sudah Saatnya Membenahi Tata Kelola Lembaga Pemasyarakatan

    Pascakebakaran Lapas, Sudah Saatnya Membenahi Tata Kelola Lembaga Pemasyarakatan

    • calendar_month Senin, 20 Sep 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 518
    • 0Komentar

    KEMENTERIAN Hukum dan HAM (Kemenkumham) akhirnya menonaktifkan Victor Teguh Prihartono dari jabatannya sebagai kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Tangerang per Jumat (17/9/2021). “Ia dinonaktifkan untuk memudahkan proses pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Kemenkumham,” ujar Rika Aprianti, Kepala Bagian Humas dan Protokol Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kemenkumham. Sebelumnya, pada Selasa siang lalu (14/9/2021) penyidik Polda Metro Jaya […]

  • Jelajahi Perkembangan Baru di Web3 & Ciptakan Masa Depan Baru untuk Hiburan Digital

    Jelajahi Perkembangan Baru di Web3 & Ciptakan Masa Depan Baru untuk Hiburan Digital

    • calendar_month Minggu, 27 Agt 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.002
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, HONG KONG SAR – Media OutReach -Digital Entertainment Leadership Forum (DELF) 2023, sebuah acara tahunan yang diselenggarakan oleh Cyberport, secara resmi dimulai hari ini di Cyberport. Upacara tersebut diresmikan oleh para tamu terhormat termasuk ZHANG Zhi-hua, Direktur Jenderal Departemen Pemuda Kantor Penghubung Pemerintah Rakyat Pusat di Daerah Administratif Khusus Hong Kong; Yang Mulia Paul […]

  • Dari Era-nya Oemar Bakrie & Hingga Kini, Nasibmu Guru….

    Dari Era-nya Oemar Bakrie & Hingga Kini, Nasibmu Guru….

    • calendar_month Jumat, 14 Feb 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.095
    • 0Komentar

    WACANA penghapusan tenaga honorer oleh pemerintah pusat menimbulkan keresahan tersendiri di kalangan guru honorer lingkungan  di Provinsi Sumsel. Untuk mendapatkan dukungan, sejumlah perwakilan guru honorer inipun memberanikan diri untuk curhat langsung ke Wakil Gubernur Sumsel H.Mawardi Yahya, di Kantor Gubernur, Jumat [14/2/2020]. Para perwakilan guru dan tenaga pendidikan yang mereka namai honorer Non K (GTKHNK […]

expand_less
WordPress Archive Animation CSS3 Effects WordPress Plugin Animo – Creative & Clean Multi-Purpose WordPress Theme Anita | Photography WordPress Theme Anjani – Spa & Beauty Elementor Template Kit Anne Alison – Soft Personal Blog Theme Anno – One Page Portfolio WordPress Theme Annotator Pro – Image Tooltips & Zooming Annova – Survey Wizard Anomica – IT Solutions and Services WordPress Theme + RTL Anondho – Night Club & Event WordPress Theme