Seni & Budaya

Inspirasi Bagi Pemuda : Keharusan Mencintai Ilmu ala Imam Khomeini

Foto : Arafah Pramasto,S.Pd

OLEH : Arafah Pramasto,S.Pd

(Penulis Buku Kesejarahan dan History Blogger Palembang)

 

PARA orang tua mempunyai kewajiban dalam mengasuh anak-anaknya dengan tujuan jelas sebagai kader bangsa yang cinta agama dan cinta negara. Seperti di dalam keluarga maka dalam bernegara pun pemerintah memegang kewajiban penuh untuk melestarikan semangat cinta tanah air yang tak boleh padam. Keberlangsungan hidup bernegara merupakan kesatuan seimbang lintas generasi di saat yang tua memberi pedoman dan yang muda mengambil langkah dan mencipta perubahan. Dalam tulisan ini akan diungkap beberapa tokoh revolusioner dari Timur Tengah yang bisa dijadikan role model dalam membangun semangat cinta tanah air. Kenapa harus diungkap juga tokoh-tokoh dari luar bangsa ini ? Jawabannya ialah karena sekarang kita berada di zaman globalisasi dan harus bisa menerima berbagai teladan dengan melakukan filtrasi selektif untuk meraih kemajuan peradaban Indonesia. Banyak sekali pemberitaan tentang wilayah Timur Tengah yang hanya disajikan dengan penuh tendensi kebencian antar-madzhab oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab Mengunduh makna dari karakter dan perjuangan dari para tokoh revolusioner tersebut bertujuan mewujudkan pemuda cinta tanah air 100% tanpa menutup diri dari dunia luar. Langkah-langkah yang mesti diambil yaitu mengetahui karakter dan kisah lahirnya pribadi para tokoh terkait dan bagaimana sebenarnya pola didikan yang mereka dapat sehingga memiliki jiwa kuat.

Ilmu ialah penggerak utama manusia untuk bertindak dan menjadi segala alasan serta landasan sebagai bahan prediksi di masa depan. Pentingnya ilmu pengetahuan itu sampai-sampai dalam HR Ibnu Majah diriwayatkan kewajiban setiap Muslim untuk mencari ilmu. Sayyidina Umar RA, salah satu manusia terbaik dan sahabat setia Nabiullah Saw mengatakan dalam sebuah riwayat : “Sungguh hampir-hampir terurai satu persatu ikatan Islam apabila tumbuh dari umat Islam ini generasi yang tidak memahami jahiliyyah.” [1] Keharusan menuntut ilmu pengetahuan adalah pembeda manusia yang telah menjadi Muslim dengan manusia Jahiliyyah. Ini juga harus diterapkan kepada para pemuda Indonesia. Di saat ini sering kita mendengar istilah “revolusi mental” yang mengedepankan kejujuran dan kesederhanaan. Revolusi mental ini harus dilengkapi dengan pengetahuan yang tinggi, karena kita tidak bisa membenarkan adanya kejujuran namun malah menjerumuskan kita menjadi korban penipuan dan kesederhanaan yang tidak bijak malah menimbulkan tidak efisiennya pemerintahan. Tokoh-tokoh revolusioner dunia dibentuk karakternya dengan kecintaan pada ilmu pengetahuan sebagai dasar dari pribadinya.

Ayatollah Ruhullah Khomeini (Lahir 1902) yang dikenal sebagai Rahbar atau pemimpin tertinggi Revolusi Islam Iran bisa diambil menjadi contoh tentang pemimpin yang mengutamakan ilmu pengetahuan. Di tahun 1920-1921, Said Morteza (kakak Ayatollah Khomeini) mengirimkan adiknya itu ke Arak (sekarang Sultanabad), wilayah yang tak jauh dari Khomein (kota kelahiran Ayatollah Khomeini), dengan maksud agar Khomeini memperoleh pendidikan yang lebih baik dengan fasilitas yang lebih memadai. Maka Ayatollah Ruhullah tidak menyia-nyiakan apa yang diusahakan kakanya itu (apalagi ia lahir tanpa sosok ayah dan kakaknya yang menanggung pendidikannya) dan langsung berguru kepada beberapa tokoh yang kelak membentuk pandangannya religiusnya seperti Akhund Molla Abolqasem, Mirza Mehdi Da’i, dan Aqa Najafi. Saat ia pindah ke kota Qom, ia berhuru kepada Ayatullah Abdul Karim Hairi-ye Zahdi untuk menyelesaikan studi Hukum Islam, Etika Islam, dan Filsafat Keagamaan dan bergabung dengan seminari Feyzieh yang didirikan gurunya itu. Ayatollah Khomeini memperluas pengetahuannya di bidang fiqh Islam, Ushul Islam dan ‘Irfan atau mistisisme Islam seperti yang ia pelajari dari Mirza Ali Akbar Yazdi dan dua guru lainnya seperti Javad Aqa Maleki Tabrizi dan Rafi’i Qazvini. Pada 1937 ia menjadi asisten khusus Ayatollah Seyyed Husayn Boroujerdi, sebagai ulama yang paling berpengaruh di Qom, Iran. [2]

Dahulu jauh sebelum kelahiran Ayatollah Khomeini para pemikir Islam sudah mencontohkan tentang keharusan mencintai ilmu sejak masa muda. Ibn Sina adalah contoh lainnya. Sejak berumur 10 tahun ia berhasil menguasai ilmu Al-Quran dan menghafal banyak bait-bait syair. Setelah itu dia mempelajari ilmu logika dari Abu Abdullah an-Na’ili. Ibnu Sina memulai karirnya sebagai dokter sejak berumur 16 tahun disamping terus mendalami pemikiran Aristoteles dan Al-Farabi. [3] Begitu juga halnya dengan Ibn ‘Arabi yang dikenal sebagai Syaikhul Akbar Tasawuf di masa mudanya yang pernah bergabung degan tentara Andalusia disamping ia tetap mempelajari Ilmu Tasawuf. [4] Kedua tokoh ini termasuk tokoh revolusioner, Ibn Sina dikenal sebagai bapak kedokteran Islam dan filsafat peripatetik, serta Ibn Arabi adalah pembawa nilai pluralisme Islam melalui Tasawufnya. Masa muda merupakan rentang periodik satu individu untuk memulai penanaman atas keberhasilannya kelak dan pilihannya ialah kepada penentuan diri menuju bidang keahlian atau sebatas bermain-main saja.

Tidaklah mengherankan kalau nantinya Ayatollah Ruhullah Khomeini terkenal dengan kesuksesannya menggulingkan pemerintahan Shah Mohammad Reza Pahlevi yang despotik dan didukung oleh negara-negara Barat. Ia  bukan saja inspirasi bagi Iran tapi juga bagi dunia. ia membuktikan loyalitasnya kepada Iran yang dirongrong oleh gangguan Barat. Saat Revolusi Islam 1979 berhasil diwujudkan dan menciptakan negara Iran dalam aturan Islam, gangguan-gannguan lain seperti Invasi Irak dan pengkhianatan MEK (Mojaheedin E-Khalq) dan Partai Tudeh yang beraliran komunis juga ia gagalkan. Sebagaimana mengutip Conger dan Kanungo, Bakhtiar dkk. mengemukakan mengenai salah satu karakteristik pemimpin kharismatik adalah adalah memilki komitmen yang kuat pada tujuan, tegas, dan percaya pada kemampuan diri. [5] Komitmen yang kuat dalam menuntut ilmu sejak muda itu membawa sosok Ayatollah Khomeini menjadi pejuang yang rela diasingkan berkali-kali dan konsekuen melawan pemerintahan diktator Shah, Ibn Sina juga memiliki sikap yang kuat dalam mengembangkan keilmuan Islam dalam bidang kedokteran dan filsafat sekalipun nantinya ia dihasut oleh pejabat-pejabat yang iri dengannya sehingga sempat dipenjarakan. Ibn Arabi hidup di masa kejayaan Andalusia sedang terancam oleh kebangkitan kekuatan Katholik yang ingin meruntuhkan peradaban tinggi Islam dan Ibn Arabi tetap konsisten dalam jalan Tasawuf yang penuh cinta.

Orang tua adalah element terbesar yang paling menentukan dalam memberi arahan dan perningatan kepada para pemuda. Untuk bisa mewujudkannya marilah kita melihat sosok ulama lainnya yang bernama Ayatollah Al-Uzhma Mirza Mahdi Syirazi, seorang ulama besar Karbala yang mengeluarkan fatwa jihad dan menggerakkan Ahlus Sunnah maupun Syiah Irak untuk melawan Inggris pada 1920. [6] Selaku seorang ulama di negerinya itu (dalam konteks  masyarakat) Ayatollah Mahdi Shirazi benar-benar memperhatikan pendidikan putranya (dalam konteks pribadi seorang ayah). Meskipun Ayatollah Mahdi Syirazi adalah orang besar tetapi dirinya tidak mau apabila kelak anaknya hanya mengambil manfaat dari kebesaran namanya. Sehingga putranya yang bernama Ayatollah al-Uzhma Imam Muhammad Syirazi (lahir tahun 1927) mempunyai keinginan belajar yang kuat serta komitmen yang yang tidak pernah terputus untuk meniti karir sebagai ulama. Pada usia 25 tahun, Ayatollah Muhammad Syirazi dianggap berhak menjadi mojtahed (ulama yang benar-benar kompeten dalam ilmu hukum dan yurisprudensi Islam) dan menjadi marji’ (ulama pemegang otoritas keagamaan) pada usia muda yakni 33 tahun. Tidak mengherankan jika Ayatollah Muhammad Syirazi terkenal sebagai penulis banyak tema kajian yang dianggap sebagai referensi yang paling baik dalam ilmu Islam yang berkaitan dengan teologi, akidah, akhlak, politik, ekonomi, sosiologi, hukum dan HAM. Karyanya berupa buku dan artikel itu memperkaya khazanah Islam dengan lebih dari 1000 buah. [7]

Inspirasi dari para ulama seperti Imam Khomeini ataupun Syirazi itu tergambar dalam sosok Mahmoud Ahmadinejad, presiden Iran ke-6 yang diangkat pada tahun 2005. Keberaniannya menentang dunia Barat di masa pemerintahannya bukanlah kejadian yang “instan”. Pada 1980, Ahmadinejad merupakan ketua perwakilan IUST (Iran University of Science and Technology) untuk perkumpulan mahasiswa se-Iran. Di masa-masa awal Revolusi Islam Iran, ia dan mahasiswa lain dalam organisasi Persaudaraan Islam sering berselisih dengan mahasiswa sayap kiri di kampus mereka yakni Elm-o-Sanat.[8] “Dialektika Materialisme” yang diagungkan oleh kaum Komunis tentang perkembangan materi sebagai tolak ukur telah mengingkari keberadaan ruh dan Allah. [9] Tidak perlu dipertanyakan apa yang melatarbelakangi tokoh seperti Mahmoud Ahmadinejad di masa mudanya bertentangan dengan para pengikut Marxisme karena ia terkenal dengan kesederhanaan dan keislamannya. Dengan mendalami nilai Islam itu juga Ahmadinejad mengambil keputusan tegas untuk bergabung dengan Korps Pengawal Revolusi Islam, tepatnya pada tahun 1986 saat terjadi Perang Irak-Iran. Ahmadinejad kemudian diangkat menjadi insinyur kepala pasukan keenam Korps dan kepala staf Korps di sebelah barat Iran. [10] Mantan Presiden Iran ini mampu menjadi teladan kepada para pemuda untuk tetap memperhatikan pendidikan serta siap sedia untuk dipanggil oleh negara dan memiliki komitmen kuat dalam pengabdian yang merakyat.

 

*) Artikel ini adalah tanggung jawab penulis sepenuhnya. Jika ada kritik dan saran, silahkan mengirim surat elektronik ke ggsejarah@gmail.com

Catatan Kaki :

  1. 2014. “ Mengenal Kejahiliyahan di Sekitar Kita”. Buletin At-Taqwa Edisi 63..
  2. Fauziana, Diyah Rahma, Izzudin Irsam Mujib, 2009, Khomeini dan Revolusi Iran, Yogyakarta : Narasi. Hlm. 11-13.
  3. Haddad, Khalid, 2009, 12 Tokoh Pengubah Dunia, Jakarta : Gema Insani. Hlm. 16.
  4. Almirzanah, Syafaatun, 2009, Whan Mystic Masters Meet, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. Hlm. 15.
  5. Bakhtiar dkk., 2000, Latihan Kepemimpinan Islam Tingkat Dasar Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta : UII Press. Hlm. 74.
  6. Tim, 2012, Buku Putih Madzhab Syiah, Jakarta : Dewan Pengurus Pusat Ahlul Bait Indonesia. Hlm. 65.
  7. Syirazi, Imam Muhammad, 2004, Islam Melindungi Hak-Hak Tahanan, Jakarta : Pustaka Zahra. Hlm. 129-130.
  8. Naji, Kasra, 2009, Ahmadinejad Kisah Rahasia Sang Pemimpin Radikal Iran, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.Hlm. 29.
  9. An-Nabhani, Taqiyuddin, 2001, Peraturan Hidup dalam Islam, Bogor : 2003. Hlm. 55.
  10. Krisnamurti, Affan, 2014, Berguru Sukses Menjadi Pemimpin Kharsimatis & Fenomenal, Yogyakarta : Araska. Hlm. 110.

 

Comments

Terpopuler

To Top