Senin, 7 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Seni & Budaya » Palembang Kota Tua, Kenapa Senimannya Tak Bertuan?

Palembang Kota Tua, Kenapa Senimannya Tak Bertuan?

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Rabu, 21 Jan 2026
  • visibility 505
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

PALEMBANG ini kotanya tua, bukan tua renta, tapi tua berpengalaman, jadi se -usia udzur ini Palembang sudah kenyang makan sejarah, dari Sriwijaya yang harum sampai Kesultanan Palembang Darussalam yang masyhur.

Tapi anehnya, di usia setua ini, Palembang masih sering lupa satu hal penting mengurus orang-orang yang menjaga jiwanya.

Ya, siapa lagi kalau bukan seniman.

Kota ini rajin memajang budaya di baliho, rajin bikin festival. Rajin memanggil seniman untuk tampil di acara seremonial. Namun begitu lampu panggung dimatikan, spanduk dilipat,  dan tamu VIP pulang, bahkan tenda dibongkar,  senimannya sering dibiarkan pulang sendiri tanpa kepastian, tanpa perlindungan, tanpa dasar hukum yang jelas.

Rabu siang (21/1/2026) ini,  mereka rencananya berkumpul di Halaman  DPRD Kota Palembang, bukan untuk konser gratis atau bagi-bagi sembako, tapi seniman turun. Mereka datang bukan untuk tampil, tapi untuk bicara, dan bicara mereka bukan untuk minta panggung, tapi minta aturan.

Aliansi Seniman Palembang (ASP) menggelar aksi damai ini guna mendesak pengesahan Perda Kesenian Kota Palembang. Kedengarannya formal, kaku, bahkan membosankan. Tapi jangan salah, dibalik kata Perda itu, ada soal dapur, masa depan, dan martabat sebuah kota.

Koordinator aksi, M. Nasir, bicara lugas tanpa puisi, tanpa metafora. “Kami ini hidup dari karya, tapi sampai hari ini tidak punya payung hukum. Tampil sering tanpa kontrak, dibayar tidak layak, dan tak pernah dianggap sebagai profesi. Kalau Palembang bangga pada budayanya, lindungi senimannya.”

Ini bukan curhat, ini fakta lapangan.

Palembang sering mengklaim diri sebagai kota budaya, sayangnya budaya itu tanpa regulasi jadi ibarat rumah adat tanpa pondasi sehingga terkesan  megah, tapi rapuh alias  gampang roboh.

Wakil Ketua Tim 11 Perda Kesenian Palembang, Vebri Al Lintani, mengingatkan  kesenian Palembang bukan lahir kemarin sore. “Sejarah panjang Palembang melahirkan banyak pelaku seni yang masih aktif sampai sekarang.

Tapi, lembaga kesenian kita berdiri di atas dasar hukum yang lemah. Dewan Kesenian Palembang hanya bertumpu pada Instruksi Mendagri, dan itu tidak cukup.”

Akibatnya sederhana tapi menyakitkan kesenian sering kalah prioritas dalam anggaran, program tidak berkelanjutan, bahkan gedung kesenian yang baru berdiri pun belum punya aturan teknis pengelolaan yang jelas.

Gedungnya ada, aturannya nihil. Ini bukan ironi sastra, ini realita birokrasi.

Sebagian orang masih menganggap Perda Kesenian sebagai urusan segelintir seniman. Padahal, ini soal identitas kota. Kota yang besar bukan hanya diukur dari flyover dan mall, tapi dari caranya merawat ingatan kolektif.

Dr. Erwan Suryanegara, M.Sn, menegaskan  Perda Kesenian adalah fondasi semua aktivitas kebudayaan di daerah.

“Kalau ada Perda, pemerintah daerah wajib hadir, bukan hanya mendukung acara, tapi menjamin keberlanjutan. Dari situ juga kita bisa mendorong berdirinya Institut Budaya Indonesia (IBI) Sriwijaya.”

Sebab, IBI Sriwijaya bukan mimpi kosong. Kampus budaya ini dirancang berbasis identitas lokal Sumatera Selatan mulai dari seni rupa, seni pertunjukan, hingga ilmu humaniora. bahkan daerah lain sudah punya. Palembang? masih wacana.

Kalau kota tua terus menunda, dampaknya jangan heran kalau generasi mudanya lebih hafal budaya luar ketimbang keseniannya sendiri.

Ada satu pepatah mengatakan “Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama.”
Namun masalahnya, nama apa yang ingin ditinggalkan Palembang?

Apakah sebagai kota yang bangga menyebut dirinya berbudaya, tapi lupa memberi ruang hidup bagi senimannya? Atau kota yang sadar bahwa seni bukan pelengkap acara, melainkan roh peradaban?

Tuntutan yang masuk akal

Ada beberapa yang dituntut ASP yang terdengar sederhana, tapi dampaknya besar yaitu DPRD Kota Palembang segera membahas dan mengesahkan Perda Kesenian secara mandiri. Menolak Perda Pemajuan Kebudayaan yang dinilai terlalu umum dan tidak spesifik melindungi seniman daerah.

Selain itu, menetapkan tenggat waktu yang jelas untuk pengesahan Perda Kesenian dan memberi kepastian hukum bagi lembaga kesenian dan pengelolaan gedung kesenian.

Jadi, ini bukan tuntutan muluk, ini daftar pekerjaan rumah yang seharusnya sudah lama selesai, karena Palembang tidak kekurangan seniman, yang kurang hanyalah keberpihakan.

Oleh sebab itu, kalau Palembang ingin dikenal bukan hanya sebagai kota pempek dan jembatan, tapi juga kota berbudaya yang beradab, maka Perda Kesenian bukan pilihan melainkan keharusan.

Sebab kota boleh tua, tapi cara berpikirnya jangan ikut udzur,  budaya, kalau hanya dipajang tanpa dilindungi, cepat atau lambat akan tinggal cerita. (***)

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tarian Ramayana Tutup Pameran Wayang Stories di Taman Indonesia Belanda

    Tarian Ramayana Tutup Pameran Wayang Stories di Taman Indonesia Belanda

    • calendar_month Rabu, 30 Jun 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 3.776
    • 0Komentar

    AKSI penari dari Sanggar Dwi Bumi yang menampilkan tarian Ramayana menutup pameran wayang stories di Taman Indonesia yang terletak di Kallenkote, Belanda pada Minggu (27/06/2021). Pameran yang sudah berlangsung sejak 20 November 2020 ini dikemas dalam berbagai macam bentuk, antara lain wayang stories oleh kurator Suzanne Wallinga, pameran wayang mini oleh Dominique Roskott, pertunjukkan tari Ramayana oleh sanggar tari […]

  • Ini Salah Satu Alasannya Kenapa Program 1 Desa, 1 Rumah Tahfidz Wajib  Berjalan di Sumsel ?

    Ini Salah Satu Alasannya Kenapa Program 1 Desa, 1 Rumah Tahfidz Wajib Berjalan di Sumsel ?

    • calendar_month Kamis, 22 Agt 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.207
    • 0Komentar

    Provinsi Sumsel merupakan salah satu provinsi yang sangat sejuk bebas dari perpecahan antar umat beragama. 

  • Kembangkan Industri Lampu LED Berbasis Sentra Pertama di Indonesia

    Kembangkan Industri Lampu LED Berbasis Sentra Pertama di Indonesia

    • calendar_month Selasa, 1 Des 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 831
    • 0Komentar

    PEMERINTAH Kabupaten Musi Banyuasin bekerjasama dengan Kementerian Perindustrian RI melalui Dirjen Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) menggelar Bimbingan Teknis Diversifikasi Produk Elektronika dan Memberikan Bantuan Peralatan Perakitan Lampu LED kepada Pelaku Industri Kecil Mikro di Kabupaten Muba, di Aula Hotel Randik Sekayu, Senin (30/11/2020). Bupati Musi Banyuasin Dr H Dodi Reza Alex Noerdin Lic […]

  • Apa Benar Penunggak BPJS Kesehatan Tak Bisa Perpanjang 4 Hal Ini ?

    Apa Benar Penunggak BPJS Kesehatan Tak Bisa Perpanjang 4 Hal Ini ?

    • calendar_month Senin, 7 Okt 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.305
    • 0Komentar

    TERKAIT iuran BPJS Kesehatan, pemerintah tengah menggodok instruksi presiden [inpres]. Dalam rancangan tersebut dikhabarkan bagi penunggak iuran bakal tak bisa mengakses pelayanan publik, hal itu dilakukan guna meningkatkan koletibilitas iuran BPJS Kesehatan. Direktur Utama BPJS Kesehatan, Fachmi Idris mengatakan saat ini Inpres tersebut masih digodok berbagai pihak terkait di Kementerian Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK). […]

  • Sumsel Punya Politeknik Akamigas

    Sumsel Punya Politeknik Akamigas

    • calendar_month Jumat, 5 Apr 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.062
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, Palembang –  Politeknik Akamigas dipastikan akan segera dibangun di Kota Prabumulih, Sumatera Selatan [Sumsel] setelah Direktur Politeknik Energi dan Akamigas, Cepu, Prof.Dr. R.Y. Perry Burhan, M.sc yang diutus menindaklanjuti instruksi Menteri ESDM Ignasius Jonan beberapa waktu lalu. Selama ini Politeknik itu hanya ada di Cepu Jawa Tengah, jika dibangun di Sumsel, artinya di Indonesia hanya ada dua, […]

  • Terkumpul Rp1,2 Miliar, Bupati DRA Serahkan Hasil Donasi Pegawai Muba untuk Warga Terdampak COVID-19 dan Palestina

    Terkumpul Rp1,2 Miliar, Bupati DRA Serahkan Hasil Donasi Pegawai Muba untuk Warga Terdampak COVID-19 dan Palestina

    • calendar_month Rabu, 18 Agt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 636
    • 0Komentar

    PEMERINTAH Kabupaten Musi Banyuasin dikomandoi Bupati Dr H Alex Noerdin Lic Econ menyerahkan bantuan Muba peduli untuk masyarakat Muba terdampak COVID-19 dan bantuan kemanusiaan untuk Palestina dengan total sebesar Rp 1,2 Milyar, di Halaman Kantor Bupati Muba, Rabu (18/8/2021). Bantuan ini diserahkan langsung Bupati Muba secara simbolis kepada Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Muba, Ikatan […]

expand_less
WordPress Archive Super Forms | WooCommerce Checkout Super Forms – Zapier Super Product Variation Swatches for WooCommerce Super Selection Form Field for NEX-Forms Super Store Finder Super Store Finder – Exact Geo Location Add-on Super WooCommerce Product Filter & Shop Builder SuperCache Module for Foodomaa Superfly Menu — Responsive WordPress Menu Plugin Superio – Job Board WordPress Theme