Selasa, 20 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Seni & Budaya » Palembang Kota Tua, Kenapa Senimannya Tak Bertuan?

Palembang Kota Tua, Kenapa Senimannya Tak Bertuan?

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Rabu, 21 Jan 2026
  • visibility 528
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

PALEMBANG ini kotanya tua, bukan tua renta, tapi tua berpengalaman, jadi se -usia udzur ini Palembang sudah kenyang makan sejarah, dari Sriwijaya yang harum sampai Kesultanan Palembang Darussalam yang masyhur.

Tapi anehnya, di usia setua ini, Palembang masih sering lupa satu hal penting mengurus orang-orang yang menjaga jiwanya.

Ya, siapa lagi kalau bukan seniman.

Kota ini rajin memajang budaya di baliho, rajin bikin festival. Rajin memanggil seniman untuk tampil di acara seremonial. Namun begitu lampu panggung dimatikan, spanduk dilipat,  dan tamu VIP pulang, bahkan tenda dibongkar,  senimannya sering dibiarkan pulang sendiri tanpa kepastian, tanpa perlindungan, tanpa dasar hukum yang jelas.

Rabu siang (21/1/2026) ini,  mereka rencananya berkumpul di Halaman  DPRD Kota Palembang, bukan untuk konser gratis atau bagi-bagi sembako, tapi seniman turun. Mereka datang bukan untuk tampil, tapi untuk bicara, dan bicara mereka bukan untuk minta panggung, tapi minta aturan.

Aliansi Seniman Palembang (ASP) menggelar aksi damai ini guna mendesak pengesahan Perda Kesenian Kota Palembang. Kedengarannya formal, kaku, bahkan membosankan. Tapi jangan salah, dibalik kata Perda itu, ada soal dapur, masa depan, dan martabat sebuah kota.

Koordinator aksi, M. Nasir, bicara lugas tanpa puisi, tanpa metafora. “Kami ini hidup dari karya, tapi sampai hari ini tidak punya payung hukum. Tampil sering tanpa kontrak, dibayar tidak layak, dan tak pernah dianggap sebagai profesi. Kalau Palembang bangga pada budayanya, lindungi senimannya.”

Ini bukan curhat, ini fakta lapangan.

Palembang sering mengklaim diri sebagai kota budaya, sayangnya budaya itu tanpa regulasi jadi ibarat rumah adat tanpa pondasi sehingga terkesan  megah, tapi rapuh alias  gampang roboh.

Wakil Ketua Tim 11 Perda Kesenian Palembang, Vebri Al Lintani, mengingatkan  kesenian Palembang bukan lahir kemarin sore. “Sejarah panjang Palembang melahirkan banyak pelaku seni yang masih aktif sampai sekarang.

Tapi, lembaga kesenian kita berdiri di atas dasar hukum yang lemah. Dewan Kesenian Palembang hanya bertumpu pada Instruksi Mendagri, dan itu tidak cukup.”

Akibatnya sederhana tapi menyakitkan kesenian sering kalah prioritas dalam anggaran, program tidak berkelanjutan, bahkan gedung kesenian yang baru berdiri pun belum punya aturan teknis pengelolaan yang jelas.

Gedungnya ada, aturannya nihil. Ini bukan ironi sastra, ini realita birokrasi.

Sebagian orang masih menganggap Perda Kesenian sebagai urusan segelintir seniman. Padahal, ini soal identitas kota. Kota yang besar bukan hanya diukur dari flyover dan mall, tapi dari caranya merawat ingatan kolektif.

Dr. Erwan Suryanegara, M.Sn, menegaskan  Perda Kesenian adalah fondasi semua aktivitas kebudayaan di daerah.

“Kalau ada Perda, pemerintah daerah wajib hadir, bukan hanya mendukung acara, tapi menjamin keberlanjutan. Dari situ juga kita bisa mendorong berdirinya Institut Budaya Indonesia (IBI) Sriwijaya.”

Sebab, IBI Sriwijaya bukan mimpi kosong. Kampus budaya ini dirancang berbasis identitas lokal Sumatera Selatan mulai dari seni rupa, seni pertunjukan, hingga ilmu humaniora. bahkan daerah lain sudah punya. Palembang? masih wacana.

Kalau kota tua terus menunda, dampaknya jangan heran kalau generasi mudanya lebih hafal budaya luar ketimbang keseniannya sendiri.

Ada satu pepatah mengatakan “Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama.”
Namun masalahnya, nama apa yang ingin ditinggalkan Palembang?

Apakah sebagai kota yang bangga menyebut dirinya berbudaya, tapi lupa memberi ruang hidup bagi senimannya? Atau kota yang sadar bahwa seni bukan pelengkap acara, melainkan roh peradaban?

Tuntutan yang masuk akal

Ada beberapa yang dituntut ASP yang terdengar sederhana, tapi dampaknya besar yaitu DPRD Kota Palembang segera membahas dan mengesahkan Perda Kesenian secara mandiri. Menolak Perda Pemajuan Kebudayaan yang dinilai terlalu umum dan tidak spesifik melindungi seniman daerah.

Selain itu, menetapkan tenggat waktu yang jelas untuk pengesahan Perda Kesenian dan memberi kepastian hukum bagi lembaga kesenian dan pengelolaan gedung kesenian.

Jadi, ini bukan tuntutan muluk, ini daftar pekerjaan rumah yang seharusnya sudah lama selesai, karena Palembang tidak kekurangan seniman, yang kurang hanyalah keberpihakan.

Oleh sebab itu, kalau Palembang ingin dikenal bukan hanya sebagai kota pempek dan jembatan, tapi juga kota berbudaya yang beradab, maka Perda Kesenian bukan pilihan melainkan keharusan.

Sebab kota boleh tua, tapi cara berpikirnya jangan ikut udzur,  budaya, kalau hanya dipajang tanpa dilindungi, cepat atau lambat akan tinggal cerita. (***)

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • GIIAS 2018, UD Trucks Pamerkan 4 Produk Andalan

    GIIAS 2018, UD Trucks Pamerkan 4 Produk Andalan

    • calendar_month Kamis, 2 Agt 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.160
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID, JAKARTA – Dalam ajang GIIAS tahun ini UD Trucks Indonesia memamerkan 4 produk andalan yaitu Quester dengan varian CKE250 WB6000 dan CQE280 WB5800 serta dari Kuzer terdapat varian Kuzer RKE150 WB3850 dan WB3350. Ke empat unit ini mempunyai daya jelajah yang tinggi dengan penggunaaan bahan bakar yang minimum dan dilengkapi dengan sistem telematik. Pada […]

  • Polisi Tangkap Dua Perampok Minimarket, Satu Tewas Di Terjang Peluru

    Polisi Tangkap Dua Perampok Minimarket, Satu Tewas Di Terjang Peluru

    • calendar_month Jumat, 10 Jul 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.102
    • 0Komentar

    Dua pelaku perampokan  toko minimarket Alfamart berhasil ditangkap Unit Tekab Satreskrim Polrestabes Palembang pimpinan Iptu Tohirin. Kedua pelaku yakni Didi Setiadi (39), warga Jalan Mayor Ruslan Sekip Ujung, Kecamatan Kemuning, dan Tri Pamungkas  (30), warga Madang Dalam 2, Lorong Makmur 2, Kelurahan Sekip Jaya, Kecamatan Kemuning Palembang. Namun naas bagi pelaku Didi, lantaran melakukan perlawanan dan […]

  • “Bersih-Bersih di Balik Meja Anggaran, E-Government Tanpa E-Gagal”

    “Bersih-Bersih di Balik Meja Anggaran, E-Government Tanpa E-Gagal”

    • calendar_month Selasa, 3 Jun 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.023
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Konon kata orang tua dulu, “kalau sudah dekat ke dapur, tangan jangan gatal buka panci orang. Tapi sayangnya, di negeri kita yang kaya ini, justru dapur pemerintahan sering jadi tempat oknum masak-masak proyek pakai bumbu nepotisme, goreng-goreng anggaran, dan akhirnya dibagikan seperti kue ulang tahun ke kroni sendiri. Itulah sebabnya, saat Sekda Provinsi […]

  • Maksimalkan Penggunaan PeduliLindungi di Ruang Publik

    Maksimalkan Penggunaan PeduliLindungi di Ruang Publik

    • calendar_month Sabtu, 1 Jan 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 780
    • 0Komentar

    PENEGAKAN dan penggunaan aplikasi PeduliLindungi harus dilakukan secara konsisten di ruang publik. Ini merupakan bagian dari pembatasan aktivitas masyarakat sekaligus upaya penegakan protokol kesehatan. Menteri Dalam Negeri RI Tito Karnavian meminta para Kepala Daerah untuk menerbitkan peraturan yang mengatur tentang kewajiban penggunaan PeduliLindungi, baik dengan sanksi tegas bagi yang melanggar ataupun kewajiban menggunakan aplikasinya di ruang […]

  • Nazaruddin Kiemas Dikhabarkan Meninggal, Dari Belanda Bupati Muba Langsung Menuju Rumah Duka

    Nazaruddin Kiemas Dikhabarkan Meninggal, Dari Belanda Bupati Muba Langsung Menuju Rumah Duka

    • calendar_month Selasa, 26 Mar 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 933
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, Jakarta- Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza merasa sangat kehilangan atas telah berpulangnya Tokoh Sumsel Nazaruddin Kiemas yang dikabarkan meninggal dunia Selasa (26/3/2019). “Sangat berduka dan kehilangan. Saya dari Belanda langsung menuju ke rumah duka sore ini,” ucap kandidat Doktor Universitas Padjajaran tersebut ketika dihubungi via whatsapp. Diketahui, perjalanan Dodi Reza ke Belanda tersebut merupakan […]

  • Meski Zona Kuning, Bupati Muba Kerahkan OPD untuk Pantau PKM di Seluruh Kecamatan

    Meski Zona Kuning, Bupati Muba Kerahkan OPD untuk Pantau PKM di Seluruh Kecamatan

    • calendar_month Minggu, 29 Agt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 776
    • 0Komentar

    KABUPATEN Musi Banyuasin (Muba) turun level PPKM dari level IV ke level III, namun Bupati Dr Dodi Reza Alex Noerdin Lic Econ MBA tak lengah dalam upaya penanganan dan pencegahan wabah COVID-19. Hal ini terlihat dari tugas yang diberikan Kepala Daerah Inovatif Indonesia tersebut yang memberi mandat melalui Surat Tugas nomor : 360/0809/BPBD-MUBA/2021 tanggal 23 […]

expand_less
WordPress Archive Super Forms | WooCommerce Checkout Super Forms – Zapier Super Product Variation Swatches for WooCommerce Super Selection Form Field for NEX-Forms Super Store Finder Super Store Finder – Exact Geo Location Add-on Super WooCommerce Product Filter & Shop Builder SuperCache Module for Foodomaa Superfly Menu — Responsive WordPress Menu Plugin Superio – Job Board WordPress Theme