Seni & Budaya

Merdeka Seni di Era Pandemi, Jangan Kalah sama Kuda

Terkendala protokol kesehatan, kreativitas dan imajinasi seniman selama masa pandemi tak pernah padam. Tanpa panggung, tanpa pameran, dan tanpa penonton ‘nyata’ senyatanya ternyata karya-karya mereka senantiasa hadir.

Berbagai bidang kehidupan memang terdampak oleh wabah ini. Dunia berkesenian pun, termasuk bidang yang ikut terdampak.  Semua aktivitas berkesenian menjadi terhenti. Meskipun, masih ada yang bertahan dengan kreativitasnya terbatas #dirumahsaja. Dengan memanfaatkan ranah daring. Setelah hampir  setengah tahun dalam kondisi yang serba terbatas seolah  terpasung, gelora kebebasan untuk berekspresi mendapat angin segar. Wacana  kenormalan baru, memancarkan nuansa segar serba penuh harapan. Harapan yang membersitkan hal-hal baru. Tidak hanya bagi seniman di luar daerah, tetapi juga kalangan seniman di Palembang.

Karenanya, sesuatu yang baik tentu saja, jika DKP menggagas kegiatan yang bisa mengobati kerinduan seniman untuk berkreativitas. Sekaligus membahas berbagai persoalan terkait aktivitas berkesenian. Kegiatan ini rencananya dilaksanakan secara daring (virtual) dan tatap muka. Kegiatan ini dilaksanakan di Guns Café, 17-19 Agustus 2020. Dengan menghadirkan narasumber dari praktisi, akademisi,  pemerhati, dan pihak terkait lainnya. Masing-masing akan diupayakan mengupas tuntas persoalan di enam komite seni yang ada. Setelah itu, peringatan kelahiran DKP ne-21 pun digelar pentas dan gelar karya seniman. Dilaksanakan 9 September 2020.

 

Semuanya tentu dengan menjalankan protokol kesehatan. “Disediakan cuci tangan di pintu masuk. Semua yang hadir harus mengenakan masker. Serta, di atur jarak ideal bagi para tamu yang hadir,” ujar Ketua DKP, M Iqbal Rudianto.

Gelaran karya daring, sepertinya tak bisa menutup mati buncahan rindu seniman untuk tampil luring. Bertatap muka dengan penikmatnya.

Absen berkesenian secara tatap muka selama masa pandemi, membuat rasa rindu membuncah di dada para seniman. Termasuk pelaku seni di Palembang, tentu saja.  Buncahan kerinduan itu tak pelak direspon DKP. Sebuah gagasan untuk bersilaturahmi di pengujung masa pandemi pun terlontarkan. Tentu saja, dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Menurut Sekretaris Pelaksana, Gaung Antrasita, melalui Silaturahmi-Gelar Karya Seniman Kini dan Nanti: Iklim Kesenian Menuju Kenornalam Baru, pihaknya dari DKP mencoba menggambarkan kondisi yang dialami dan bagaimana pelaku seni menyiasati dan bertahan di era pandemi. Lalu, memberikan pemetaan dan menggali rekomendasi terhadap berbagai stake holder sehingga bisa dijadikan bahan masukan dalam melangkah bersama. Dalam  pembukaan kegiatan ini, sekaligus dialog pihak terkait digelar.

Termasuk pementasan wayang Palembang dan penampilan lagu Hari Merdeka berupa ansamble gitar yang disajikan oleh Komunitas Gitar Klasik Palembang.

Pembukaan (Opening) Webinar Plus DKP Senin (17/8) disiarkan secara langsung oleh RRI dari tempat pelaksanaan Guns Cafe di seputaran Kambang Iwak Palembang.

Penyiaran langsung (live) pembukaan webinar Plus DKP ini disebutkan Kepala Stasiun RRI Palembang Ahmad Bahri,  sebagai bentuk dukungan RRI terhadap dunia kesenian.

“Aktivitas kesenian dan kebudayaan memang mendapat perhatian khusus RRI sebagai lembaga penyiaran publik. Kami siap dukung,” ujarnya,

Dalam pembukaan ini digelar dialog menghadirkan pihak-pihak terkait membahas tema Iklim berkesenian menuju kenormalan baru. Ketua DKP M Iqbal Rudianto, Ketua Dewan Kesenian Sumsel  Erwinsyah,  bersama Kepala Dinas Kebudayaan Hj Zanariyah SIP Msi, Kepala Dinas Pariwisata H Isnaini Madani, dan Kepala Dinas Pariwisata Sumsel Aufah Syahrizal berdialog membahas berbagai persoalan terkait aktivitas berkesenian para seniman selama masa pandemi, kini dan nanti.

Dewan Kesenian Palembang (DKP) memang menggelar kegiatan untuk insan seni di kota Palembang, bertajuk ART NORMAL, dan digelar di Guns Cafe, dari 17 sampai 19 Agustus.  Begitu pun Artniversarry 9-9-1999 yang tahun ini peringatan ke-21, memberikan obat membungkam rindu bagi seniman untuk tampil di atas panggung.

Dan Tami, vokalis D’Brother mengungkapkan, mereka bahkan mencipta sebuah lagu khusus ditampilkan saat artniversarry DKP, berjudul, Punti Kayu I Miss You.

Kuda Bermasker

Para maestro Dulmuluk, juga tampil prima dengan gabungan beberapa sanggar seni tradisional. “Hanya saja, cerita Dulmuluk yang biasanya berkisar tujuh jam, kami modifikasi menjadi hanya sekitar 15 menit,” ujar Maestro Dulmuluk, Jonhar Saad.

Penampilan Dulmuluk ini membuat acara menjadi benar-benar meledak oleh ger-ger penonton akibat permainan tokoh-tokoh senior.

Termasuk penampilan sang kuda yang ditunggangi dan berupa patung semi permanen. Sementara pemain Dulmulk hanya sebagian mengenakan masker itupun tak terpasang sempurna, berbeda dengan sang kuda. Justru sang kuda mengenakan masker secara sempurna dari awal permainan sampai cerita berakhir,

Itu pun dilepas karena sindiran pemain yang merasa tersinggung disebut kalah oleh kuda patung yang justru benda mati, tapi memiliki kesadaran mematuhi protolol kesehatan. Berupa mengenakan masker.

“Nah, pesannya benar-benar menyentuh. Di kehidupan nyata, banyak yang tak sadar untuk selalu bermasker. Saat Petugas merazia, masih banyak yang terjaring dan dihukum push up atau hukuman fisik lainnya,” komentar Qusoi, Sekretaris DKP yang tampak terpingka-pingkal sepanjang pertunjukan Dumuluk itu.

Atta KPJ atau nama aslinya, M Hatta Imron, saat art normal di acara komite sastra menampilkan sebuah lagu ciptaannya sendiri berjudul, “Uuh, pesan bagi yang tak terdampak. Lagu ini menceritakan bagaimana seorang insan manusia yang terkena Covid 19 yang merasa dikucilkan sampai akhirnya berdoa agar nyawanya segera dicabut saja. Ini memberian gambaran, bahwa mereka yang sehat harus memberikan perhatian dan peduli kepada mereka yang mengidap Covid 19. Mereka memang diisolasi, tapi bukan dikucilkan. Perhatian tetap harus diberikan. Tentu saja, harus tetap taat protokol kesehatan,” ujar mantan juara nasional Bintang Radio Remaja Nasional Seriosa tahun 1990 an ini.

Dalang Ki Wirawan juga menampilkan lakon Wayang Palembang secara tatap muka. Meskipun, memang ceritanya dipersingkat. “Ini mengobati kerindua manggung. Apalagi selama sekitar 6 buan terakhir, sekalipun tak kebagian manggung karena kendala Pandemi,” ceritanya.

Seniman tari pun, menampilkan, sosok manusia emas, sebagai plesetan dari maraknya manusia perak yang banyak beraksi bebas di lampu-lampu merah kota Palembang. “Sebuah fenomena yang banyak membawa kontroversi dan perbedaan pandangan,”

Banyak harapan yang bisa terdokumentasi dari kegiatan silaturahmi dan gelar karya ini. Bukan tidak mungkin, dari situ kita bisa mengetahui bahwa kesenian telah berubah. Pandemi mungkin saja telah ‘memaksa’ wajah  kesenian berubah menjadi sesuatu bentuk baru. Paling tidak, keinginan seniman bersemuka dengan penikmatnya di bumi, bisa terealisasi.

Pentas Artniversarry ke-21 DKP selain ditampilkan fisik, menurut Ketua Panpel, Hasan, juga disiarkan melalui Youtube dan Instagram.

Artinya, kesenian memang tidak boleh stagnan. Silakan manfatkan ranah daring, atau manfaatkan ranah tatap muka asal patuhi protokol kesehatan dan mendapat izin pihak berwenang. (muhamad nasir)

 

 

Comments

Terpopuler

To Top