Karhutla Palembang Terus Berulang, Bukan Hanya Soal Api, Ada Lahan Terbengkalai hingga Ancaman ISPA
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 29 menit yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto :ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Palembang kembali mengingatkan persoalan ini tidak selesai hanya ketika api berhasil dipadamkan. Di balik titik-titik kebakaran itu, ada lahan yang mengering, area terbengkalai, kabut asap, hingga gangguan kesehatan yang harus ditanggung masyarakat.
Pemerintah Kota Palembang mencatat sebanyak 297 titik api sejak Januari hingga September 2026. Angka ini menjadi gambaran karhutla masih menjadi pekerjaan yang membutuhkan penanganan lebih panjang, terutama ketika musim kering membuat lahan mudah terbakar.
Persoalannya pun tidak selalu berada di kawasan hutan. Lahan pertanian, persawahan, hingga tanah yang tidak dikelola ikut menjadi perhatian karena kondisi kering membuatnya lebih mudah tersulut.
Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Herman Deru saat meninjau Posko Kebakaran Hutan dan Lahan di Jalan Bypass Alang-Alang Lebar, Palembang, Senin (7/9/2026), mendorong agar persoalan lahan terbengkalai tidak dibiarkan berlarut.
Menurutnya, penataan kembali lahan-lahan perlu dibicarakan dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN). Gagasan ini penting karena lahan yang tidak produktif dan berada dalam kondisi kering bukan hanya persoalan tata kelola tanah, tetapi juga dapat menjadi salah satu titik rawan ketika musim kemarau datang.
Artinya, penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan mobil pemadam dan personel ketika api sudah muncul. Pencegahan di lokasi yang berpotensi terbakar juga perlu mendapat perhatian yang sama besar.
Api Padam, Masalah Belum Tentu Selesai
Pemkot Palembang telah menyiagakan 30 armada pemadam di sejumlah posko untuk memperpendek jangkauan menuju lokasi kebakaran.
Langkah ini penting karena semakin cepat petugas mencapai titik api, semakin besar peluang kebakaran dapat dikendalikan sebelum meluas.
Namun, ada pekerjaan lain yang tidak kalah penting, yaitu mengurangi kemungkinan api muncul kembali.
Kondisi lahan yang kering, aktivitas pembakaran yang tidak terkendali, serta keberadaan lahan terbengkalai membutuhkan pendekatan yang berbeda. Di sinilah pencegahan, pengawasan dan keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dari penanganan karhutla.
Herman Deru juga menegaskan masyarakat perlu berpartisipasi aktif mencegah kebakaran. Pada saat yang sama, sanksi hukum tegas akan diberlakukan terhadap perorangan maupun perusahaan yang sengaja membakar lahan.
Pendekatan ini menjadi penting, agar penanganan karhutla tidak hanya bersifat reaktif. Masyarakat dilibatkan untuk mencegah, sementara pelaku pembakaran yang disengaja tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Ketika Asap Mulai Masuk ke Persoalan Kesehatan
Dampak karhutla tidak berhenti di lokasi kebakaran. Ketika asap menyebar, persoalannya berubah menjadi urusan masyarakat luas.
Data Dinas Kesehatan Kota Palembang menjelaskan 655 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada minggu pertama September 2026. Rata-rata terdapat sekitar 15 hingga 20 pasien per hari di setiap Puskesmas kecamatan.
Angka tersebut membuat karhutla tidak lagi bisa dipandang semata sebagai persoalan lingkungan.
Ketika kualitas udara memburuk dan masyarakat mulai mengalami gangguan pernapasan, dampaknya langsung menyentuh kehidupan sehari-hari.
Penanganan karhutla idealnya berjalan beriringan dengan kesiapan layanan kesehatan.
Pengecekan fasilitas Ruang UGD 24 Jam di Puskesmas Alang-Alang Lebar menjadi salah satu langkah untuk memastikan warga yang mengalami gangguan kesehatan tetap mendapatkan penanganan.
Kekeringan Juga Membawa Persoalan Air Bersih
Ada satu dampak lain yang sering luput ketika pembicaraan tentang karhutla hanya berfokus pada asap, yakni persoalan air bersih.
Kekeringan yang memperbesar risiko kebakaran juga membuat sebagian warga membutuhkan pasokan air tambahan.
Untuk membantu masyarakat terdampak di tiga kecamatan, Pemkot Palembang bersama PDAM mengerahkan 30 tangki air bersih secara rutin.
Apalagi di musim kering ini membawa persoalan saling berkaitan, misalnya lahan mengering, risiko kebakaran meningkat, asap mengganggu kesehatan, sementara kebutuhan air bersih ikut bertambah. Oleh sebab itu setidaknya solusi karhutla tidak bisa berdiri sendiri.
Solusi Tidak Harus Menunggu Api Membesar
Penguatan armada tetap diperlukan, tetapi pencegahan harus dimulai jauh sebelum api terlihat. Penataan lahan terbengkalai bisa menjadi salah satu langkah jangka panjang. Lahan yang selama ini tidak produktif dapat diarahkan untuk pemanfaatan yang lebih baik sesuai aturan dan status kepemilikannya.
Disamping itu, masyarakat juga bisa menjadi bagian dari sistem pencegahan. Pemprov Sumsel membuka kesempatan bagi warga untuk bergabung sebagai relawan karhutla dengan insentif Rp150.000 per hari.
Keterlibatan warga di lapangan dapat membantu mempercepat informasi ketika muncul titik api sehingga bisa memperkuat upaya pencegahan di lingkungan sekitar.
Keberhasilan menghadapi karhutla bukan hanya dilihat dari seberapa cepat api dipadamkan. Namun yang lebih penting lagai adalah seberapa banyak kebakaran bisa dicegah sebelum terjadi dan seberapa kecil dampaknya terhadap warga.
Palembang masih memiliki pekerjaan rumah untuk itu. Selama musim kering terus menghadirkan lahan rawan terbakar, penanganan karhutla perlu di maksimalkan sebab memadamkan api menjadi membenahi sumber persoalannya. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
