Hotspot Sumsel Anjlok dari 165 Jadi 120, Tapi Masih Tertinggi Kedua di Tengah Karhutla
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 52 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kehutanan.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Jumlah hotspot di Sumatera Selatan (Sumsel) memang berkurang dalam sehari. Namun, penurunannya belum membuat provinsi ini keluar dari radar utama pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pada 5 September 2026, masih terdeteksi 120 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence di wilayah Sumsel.
Angka itu turun 45 titik dibanding sehari sebelumnya yang mencapai 165 hotspot. Meski berkurang cukup banyak, Sumsel tetap berada di posisi kedua dengan jumlah hotspot terbanyak di antara enam provinsi yang menjadi wilayah prioritas penanganan karhutla.
Posisi teratas masih ditempati Kalimantan Tengah dengan 178 hotspot. Di bawah Sumsel ada Kalimantan Barat sebanyak 54 titik, Kalimantan Selatan 14 titik, Riau 12 titik, dan Jambi enam titik.
Jika dibandingkan kondisi sehari sebelumnya, sebagian besar wilayah prioritas memang mengalami penurunan. Secara nasional, jumlah hotspot high confidence turun dari 818 menjadi 558 titik pada pemantauan 5 September.
Tetapi angka nasional itu belum bisa dibaca sebagai tanda persoalan karhutla sudah selesai. Di lapangan, petugas masih harus memastikan titik-titik yang terpantau satelit benar-benar aman, terutama pada kawasan yang sebelumnya mengalami kebakaran.
Untuk Sumsel, perhatian tersebut terasa penting, karena jumlah hotspot yang tersisa masih cukup tinggi.
Tim gabungan tetap melakukan patroli dan pengecekan ke lapangan, termasuk pemadaman pada lokasi yang ditemukan terbakar serta pendinginan di area yang sudah ditangani.
Kondisi asap juga menjadi bagian yang terus dipantau. Di Palembang, jarak pandang di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II sempat berada di sekitar 5 kilometer pada siang 5 September dengan kondisi berasap.
Pada malam hari, jarak pandang membaik menjadi 10 kilometer atau lebih dan cuaca tercatat berawan.
Perubahan dalam hitungan jam itu menunjukkan bahwa kondisi udara tidak selalu bergerak searah dengan jumlah hotspot. Asap, angin, kelembapan, dan keadaan atmosfer dapat membuat jarak pandang berubah dengan cepat.
Hal serupa terlihat di Kalimantan Barat. Jumlah hotspot di provinsi itu turun cukup tajam, dari 124 menjadi 54 titik, setelah sebagian wilayah mendapat hujan dengan intensitas sedang hingga lebat pada malam sebelumnya. Namun, asap masih terpantau di sejumlah tempat.
Pada malam 5 September, jarak pandang di Pontianak tercatat sekitar 2 kilometer dengan kondisi berasap. Di Putussibau, kondisi bahkan lebih terbatas, dengan jarak pandang sekitar 1 kilometer dan masih diselimuti asap.
Turunnya hotspot belum serta-merta membuat operasi dihentikan. Pada lahan gambut, misalnya, api yang terlihat padam masih bisa menyisakan bara di bawah permukaan. Petugas perlu melakukan mopping up dan pendinginan untuk mencegah api kembali muncul.
Pengendalian karhutla saat ini melibatkan Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, serta unsur lainnya.
Dukungan dari udara juga tetap berjalan. Sebanyak 53 armada disiapkan untuk operasi di enam provinsi prioritas, dengan 34 armada menjalankan water bombing dan 19 lainnya digunakan untuk patroli udara sekaligus mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Pengerahan armada tidak dilakukan secara seragam, melainkan mengikuti perkembangan di masing-masing wilayah. Pemantauan hotspot, kondisi api, cuaca, hujan, kualitas udara, hingga jarak pandang menjadi bahan untuk menentukan lokasi yang perlu mendapat penanganan lebih dulu.
Kementerian Kehutanan juga mengingatkan bahwa hotspot bukan berarti satu titik pasti merupakan lokasi kebakaran. Data tersebut merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang ditangkap satelit dan tetap membutuhkan pemeriksaan di lapangan.
Dengan 120 hotspot yang masih terdeteksi, Sumsel belum sepenuhnya bisa mengendurkan kewaspadaan. Penurunan angka menjadi perkembangan positif, tetapi pekerjaan di lapangan tetap diperlukan untuk memastikan api tidak kembali menyala dan dampak asap tidak meluas.
Masyarakat pun diingatkan tidak menggunakan api untuk membuka atau membersihkan lahan. Bagi warga yang berada di wilayah dengan paparan asap, informasi mengenai kualitas udara dan jarak pandang perlu terus diperhatikan sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
