Politik

Menuju Kursi Ketua DPD I Golkar Sumsel

Foto : Istimewa

MUSYAWARAH X DPD I Partai Golongan Karya (Golkar) Sumatera Selatan yang dilaksanakan 4 – 5 Maret ini, menjadi semakin menarik dimata publik daerah ini.

Karena, dari beberapa kandidat, akhirnya mengerucut kepada 2 Calon Ketua periode 2020 – 2025, yaitu Dodi Reza Alex (Bupati Muba) dan Andie Dinaldi (anggota DPRD Sumsel).

Berdasarkan pengamatan realitas perkembangan politik dikalangan Internal pengurus partai papan atas berlambang pohon beringin ini, dinamika juga akselerasi tergolong tinggi.

Awalnya disebutkan 3 Trah politisi senior akan berkontestasi dalam Musda X ini, antara kubu Alex Noerdin, (AN) Kahar Muzakir ( KM) & Mawardi Yahya (MY). Tetapi, hingga akhirnya figur calon yang berkompetisi sengit adalah representasi kekuatan politik AN versus KM +MY, yakni Dodi Reza yang didukung AN melawan Andie yang didukung KM+MY.

“Bila perseteruan memperebutkan Nakhoda Partai Golkar ini senianan, maka kepiawaian mengartikulasikan kepentingan para peserta ( pemilik hak suara) menjadi penentu kemenangan. Dimana ada 23 Suara yang diperebutkan, dan minimal harus menguasai 12 suara, kecuali ada pemilik hak suara yang abstain,” katanya Pemerhati Politik Sumsel Bagindo Togar, kemarin.

Jika, berasumsi pada ragam syarat normatif dan persepsi publik, untuk layak tidaknya sosok seseorang tampil sebagai pemimpin partai untuk 5 tahun kedepan, sepertinya Dodi dinilain lebih pantas menduduki jabatan Ketua, dikarenakan levelitas kader, pengalaman politik dipemerintahan, derajat keintelektualan dan network yang dimiliki ketimbang Andie.

“Tetapi fatsun, kondisi dan political game, tak selalu kaku agar dipahami seperti itu. Politik itu seni untuk menentukan pilihan, berdasarkan kepentingan dalam suatu momentum yang tepat,” urainya.

Diluar syarat normatif dan persepsi politik publik diatas, kedua calon tokoh ini, relatif sama peluang dan kekuatannya, karena sepertinya kapitalisasi serta komitmen  politik, akan menjadi issue strategis yang akan dihadapkan kepada keduanya.

“Andie terkesan mendadak menjadi  the rising star ditubuh Golkar Sumsel, sesungguhnya bukan sontak mendadak bergerak sendiri, tapi dirinya mewakili kelompok besar yang mencoba peruntungan untuk menggeser hegemoni ketokohan politik AN, yang sudah cukup lama mengnakhodai partai Golkar di Sumsel selama ini,” tuturnya.

 

Era milenial

Direktur Eksekutif Forum Demokrasi Sriwijaya (Fordes) ini, era kaum tua itu sudah saatnya berakhir, kini generasi penerus mereka, yang berkompetisi untuk periode- periode yang akan datang, atau era kaum milineal, dimana ada sekitar 55% pemilih tetap pada pemilu tahun 2024.

“Siapapun yang terpilih menjadi pemimpin Partai Golkar dalam Musda X thn 2020, akan dilimpahi beragam pesan, hadiah, bonus dan posisi politik ber kelas plus strategis diwilayah ini. Bisa saja diposisikan sebagai Calon Gubernur , King Maker atau keduanya pada Pemilu 2024 mendatang,” tandasnya.

Akhirnya, tentu saja, diharapkan kepada peserta Musda X dan Keluarga besar Partai Golkar, hendaknya tidak terjebak dan larut dalam euforia serta atmosfir yang ada dalam suasana Musda saja, tetapi utamakan keberadaan dan perkembangan partai ini pasca Musda, apakah semakin berkurang atau bertambah kemanfaatannya bagi masyarakat, pemerintah maupun negara ini.

Perebutan kursi Ketua Golkar Sumsel nantinya, bermuara kepada Tahun Politik 2024. Figur ketokohan politisi senior Golkar memang telah berakhir, tapi agenda atau kepentingan politik tetap saja menjadi tujuan utama yang wajib diperjuangkan.[***]

 

 

 

 

 

 

Comments

Terpopuler

To Top