AI Bisa Kerjakan Tugas Mahasiswa, Lalu Apa yang Dinilai Kampus?
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 19 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : ilustrasikemdiktisaintek.go.id/e
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Kemampuan AI mengerjakan tugas mahasiswa sehingga mendorong perguruan tinggi mempertanyakan kembali kompetensi apa yang perlu dikuasai dan dinilai dari mahasiswa. Perubahan ini menjadi perhatian Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) seiring makin luasnya penggunaan kecerdasan artifisial dalam pekerjaan, pendidikan, dan penelitian.
Plt. Sekretaris Jenderal Kemdiktisaintek Badri Munir Sukoco mengatakan perguruan tinggi tidak cukup hanya mengajarkan cara menggunakan AI. Kampus juga perlu menentukan pekerjaan yang dapat dilakukan teknologi dan hal-hal yang tetap harus menjadi tanggung jawab manusia.
Pernyataan tersebut disampaikan Badri dalam 11th Global Conference on Business Management and Entrepreneurship (GCBME) 2026 di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, belum lama ini.
Menurut Badri, AI saat ini telah digunakan dalam berbagai fungsi bisnis, mulai dari memahami pelanggan, meningkatkan layanan, mengotomatisasi pekerjaan rutin, mengembangkan produk, hingga mempercepat pengambilan keputusan. Perkembangan itu turut mengubah cara orang bekerja dan kebutuhan keterampilan tenaga kerja.
“Kita saat ini tidak lagi berada pada tahap mempertanyakan apa yang dapat dilakukan AI untuk pekerjaan kita. Sebaliknya, kita harus bertanya, apa yang seharusnya dilakukan AI dan apa yang harus tetap menjadi tanggung jawab manusia,” ujar Badri.
Karena itu, perguruan tinggi didorong tidak hanya mengejar kemampuan teknis dalam pemanfaatan AI, tetapi juga memperhatikan aspek tanggung jawab, inklusivitas, keberlanjutan, dan kemampuan manusia dalam mengambil keputusan.
Dalam pendidikan tinggi, perubahan tersebut menjadi tantangan bagi dosen dan profesor. Kemdiktisaintek mendorong peningkatan kompetensi tenaga pendidik agar mampu mengintegrasikan AI dalam pembelajaran sekaligus mempersiapkan mahasiswa menghadapi perubahan kebutuhan dunia kerja.
Kurikulum juga dinilai perlu menyesuaikan perkembangan pekerjaan masa depan. Kompetensi seperti AI dan Big Data, literasi teknologi, jaringan dan keamanan siber, serta creative thinking disebut perlu mendapat perhatian dalam proses pembelajaran.
Di tengah perkembangan AI, kemampuan mahasiswa tidak lagi cukup diukur dari hasil pekerjaan yang dapat dengan mudah dihasilkan teknologi. Perguruan tinggi perlu memastikan mahasiswa tetap memiliki kemampuan berpikir kreatif, memahami persoalan, mengambil keputusan, dan mempertanggungjawabkan hasil pekerjaannya.
Selain pembelajaran, Badri juga mendorong perguruan tinggi memperkuat kewirausahaan berbasis sains dan teknologi. Mahasiswa dapat didorong melihat persoalan di lingkungan sekitar sebagai peluang untuk menghasilkan solusi dan inovasi, termasuk melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah.
Menurut Badri, kolaborasi perguruan tinggi, industri, pemerintah, dan komunitas profesional diperlukan agar perkembangan AI tidak berhenti pada penggunaan teknologi. Forum internasional seperti GCBME diharapkan dapat membuka peluang kerja sama penelitian, publikasi bersama, mobilitas akademik, serta pengembangan wirausaha berbasis sains dan teknologi.(***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
