Modifikasi Cuaca Makin Canggih, BMKG Dorong AI dan UAV Hadapi Cuaca Ekstrem
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 16 menit yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : bmkg.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Modifikasi cuaca diarahkan ke pemanfaatan teknologi lebih canggih guna menghadapi cuaca ekstrem. BMKG membahas penggunaan kecerdasan buatan (AI), pesawat tanpa awak (UAV), pemodelan numerik, dan teknologi fisika awan bersama negara-negara ASEAN.
Pembahasan itu berlangsung dalam ASEAN Workshop on Weather Modification Science and Emerging Technologies 2026 di Auditorium BMKG, 10-12 September 2026. Forum tersebut diikuti pakar, peneliti, praktisi, dan pembuat kebijakan dari negara-negara ASEAN.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan perkembangan teknologi membuka peluang meningkatkan efektivitas operasi modifikasi cuaca. Penguatan sains dan inovasi diperlukan karena tantangan cuaca dan iklim semakin kompleks.
“Seiring meningkatnya tantangan cuaca dan iklim global, pemerintah di berbagai negara terus mengeksplorasi berbagai pendekatan untuk memperkuat ketahanan, mendukung manajemen sumber daya air, memitigasi risiko bencana, serta menjaga kelestarian lingkungan,” ujarnya.
Teknologi dibahas mencakup observasi atmosfer, fisika awan, cloud chamber, pemodelan numerik, AI, dan UAV. Pengembangannya ditujukan untuk mendukung pengelolaan sumber daya air, mitigasi bencana, penanganan dampak asap, hingga menghadapi cuaca ekstrem.
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto mengatakan workshop tersebut menjadi bagian dari penguatan kerja sama melalui ASEAN Weather Modification Centre (AWMC). Indonesia saat ini menjadi Ketua AWMC periode 2026-2027.
Menurut Seto, Indonesia akan mendorong capacity building, kolaborasi ilmiah, dan pertukaran pengetahuan antarnegara ASEAN.
Sementara itu, Direktur Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN Kementerian Luar Negeri RI Yuliana Bahar menilai pengembangan modifikasi cuaca semakin relevan bagi kawasan yang menghadapi ancaman cuaca dan iklim.
Ia menyebutkan kemampuan intervensi atmosfer berpotensi mendukung ketersediaan air, mengurangi dampak asap, melindungi infrastruktur vital, dan mengelola cuaca ekstrem. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
