Senin, 17 Agu 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Industri Kreatif & UKM » 52,65% Penyandang Disabilitas Sudah Berwirausaha, Kita Belajar dari Mereka?

52,65% Penyandang Disabilitas Sudah Berwirausaha, Kita Belajar dari Mereka?

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Rabu, 13 Agt 2025
  • visibility 1.175
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

BADAN Pusat Statistik (BPS) bikin kita ternganga 52,65% penyandang disabilitas di Indonesia ternyata sudah berstatus wirausaha. Data ini disampaikan Wakil Menteri UMKM, Helvi Mulyati, di Synergy Fest memperingati Hari Disabilitas Internasional, Jakarta, 12 Desember 2024.

Angka ini bukan sekadar statistik, ini kayak tamparan halus ke kita yang sehat tapi masih males buka usaha. Bisa dibilang, mereka itu startup mode, kita baru “loading…”.

Tingkat kewirausahaan nasional, menurut Kemenkop UKM, masih di kisaran 3,5%–3,7%. Jadi bayangkan, dari setiap dua penyandang disabilitas, satu sudah mandiri membuka usaha. Pepatah lama bilang, “Tak ada rotan, akar pun jadi”, dan mereka sudah membuktikannya, dengan gaya yang kadang lebih gesit dari kita yang punya kaki sempurna tapi suka mager.

Selama ini, penyandang disabilitas sering dipandang sebagai objek kasihan. Padahal banyak yang sudah mandiri secara ekonomi.

Artinya karakter bangsa terlihat dari cara memperlakukan kelompok paling rentan. Kita bisa belajar bahwa penyandang disabilitas bukan beban, tapi guru ketahanan hidup. Dan guru ini nggak cuma memberi teori, tapi praktik langsung di “kelas pasar nyata”.

Tanpa modal besar atau jaringan luas, mereka bisa membuka usaha, membangun pelanggan, bahkan berinovasi. Banyak UMKM “normal” kalah kreatif karena terlalu nyaman kayak nonton TV sambil ngemil, tapi takut buka toko online.

Ternyata kuncinya modal terbesar bukanlah uang, tapi mental, penyandang disabilitas punya mental kayak karet gelang diregangin kesana-kemari tetap balik ke bentuknya, siap menghadapi dagangan sepi, pelanggan hilang, atau tukang parkir galak.

Kalau dagangan sepi, mereka putar strategi, kalau lokasi usaha tak ramah akses, mereka cari solusi berjualan dari rumah, menitipkan produk, atau jual online.

Pepatah Jawa bilang, “Jer basuki mawa bea”, setiap keberhasilan memang butuh biaya, tapi biaya bukan selalu uang, kadang tenaga, waktu, dan kesabaran.

Terus pertanyaanya, kenapa mereka bisa lebih mandiri ? Ada beberapa faktor, antara lain kesempatan kerja formal terbatas sehingga akhirnya mereka menciptakan pekerjaan sendiri., kreativitas dari keterbatasan, yakni sumber daya terbatas, ide pun kreatif, dan jaringan komunitas kuat, misalnya saling memberi info peluang atau jadi pelanggan pertama serta orientasi jangka panjang artinya  wirausaha itu, dianggap sumber nafkah utama.

Ternyata hebatnya lagi, mereka membuktikan seperti kata pepatah lama “Daripada menunggu hujan reda, lebih baik belajar menari di tengah hujan”.

Meski demikian, masih ada tantangan/hambatan yang masih menghantui mereka, walaupun banyak yang sukses.

Data Susenas BPS 2020 24,3% menyebutkan penyandang disabilitas usia 15+ punya rekening bank, dan 14,2% punya akses kredit perbankan. Ibarat lomba lari, garis start mereka tiga kilometer di belakang.

Sementara soal digital, hanya 1,1% yang menggunakan internet, di era digital marketing, ini seperti mau jualan tapi pasar berada di kota lain tanpa ongkos ke sana. Tapi jangan salah, mereka tetap cari cara kreatif WhatsApp, TikTok, marketplace ibarat chef bikin masakan viral pakai panci kecil di dapur sempit.

Solusinya, ada beberapa langkah, yakni skema kredit mikro khusus disabilitas seperti produk perbankan ramah syarat dan pendampingan, pelatihan bisnis praktis, bukan teori, tapi praktik langsung produksi dan pemasaran. Mentoring pengusaha sukses, maksudnya agar strategi dan pengalaman bisa ditransfer dan Platform digital inklusif, seperti contoh marketplace dengan aksesibilitas tunanetra atau tunarungu.

Jack Ma pernah bilang, “Peluang ada di tempat orang-orang mengeluh” (wartawirausaha.com, 2019). Nah, penyandang disabilitas ini sudah praktik langsung lihat ada masalah, mereka langsung bikin solusi.

Dari jualan telur sampai kerajinan tangan, mereka tunjukkan kalau keluhan itu bisa jadi ladang cuan. Sekarang giliran kita, yang kadang cuma nunggu WiFi stabil, ikut buka jalan sambil belajar trik mereka tanpa harus kena hujan atau kesandung kabel listrik di pasar.

Kita sering menunda usaha karena merasa belum siap. Penyandang disabilitas mengajarkan waktu tepat adalah sekarang, modal bisa dimulai dari yang ada.

Pepatah Minang bilang, “Alam takambang jadi guru”. Mereka guru yang berdagang di pasar sebelah kita cukup mampir belajar sambil minum kopi panas.

Oleh karena itu, data BPS yang diungkap Wamen UMKM pada 12 Desember 2024 menunjukkan lebih dari separuh penyandang disabilitas adalah wirausahawan. Mereka bukan sekadar penerima bantuan, tapi sumber inspirasi. Tantangan jelas ada, tapi solusinya nyata pembiayaan inklusif, pelatihan praktis, dan teknologi adaptif.

Ekonomi inklusif bukan charity, tapi investasi dividennya, kemandirian, martabat, dan masa depan lebih setara.

Pertanyaan berikutnya di era digital, kenapa hanya 1,1% penyandang disabilitas terkoneksi internet?. Episode berikutnya akan mengupas jurang digital ini dan bagaimana teknologi bisa jadi jembatan emas menuju peluang lebih besar.[***] /artikel di atas merupakan bagian 1 dan bersambung ke bagian ke 2: “Hanya 1,1% Penyandang Disabilitas Online, Tapi Otaknya Startup Mode”

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Warga Muba Keracunan Mie Basah, Dinkes dan Polres Langsung Uji Lab   

    Warga Muba Keracunan Mie Basah, Dinkes dan Polres Langsung Uji Lab  

    • calendar_month Sabtu, 11 Mei 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 853
    • 0Komentar

    Sekayu– Belasan warga Kecamatan Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin yang dilarikan ke Unit Gawat Darurat (UGD) RSUD Sekayu Kemarin, karena diduga mengalami keracunan setelah mengkonsumsi mie basah yang dibeli di Pasar tradisional Talang Jawa, Kelurahan Balai Agung, Sekayu. Kejadian tersebu akhirnya mendapat respon langsung pihak Polres Muba, Dinas Kesehatan dan Dinas Perdagangan Pemkab Muba. Kapolres Muba, AKBP Andes […]

  • 2 PR untuk Warga di 2 Kecamatan

    2 PR untuk Warga di 2 Kecamatan

    • calendar_month Minggu, 18 Apr 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.280
    • 0Komentar

    WAKIL Walikota Palembang Fitrianti Agustinda memantau Jalan Rusak di dua titik Kecamatan, antara lain Kecamatan Ilir Barat I & Sematang Borang Palembang. Pantauan ini dilakukan guna  mengevaluasi hasil peninjauan beberapa pekan lalu. Dalam evaluasinya ia menilai kesadaran masyarakat dalam melakukan kegiatan gotong-royong bersama masih kurang. Hal ini dibenarkannya ketika melakukan peninjuan didua lokasi yang berbeda, […]

  • Pemda, BUMN & BUMD Diajak Padamkan Karhutla

    Pemda, BUMN & BUMD Diajak Padamkan Karhutla

    • calendar_month Rabu, 16 Okt 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.331
    • 0Komentar

    GUBERNUR Sumatera Selatan (Sumsel) H. Herman Deru kembali memimpin rapat terbatas dalam menanggulangi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Pada Rabu (16/10) petang gubernur secara khusus mengajak keterlibatan  aktif para kepala daerah, BUMN dan BUMD  dalam menekan terjadinya bencana kebakaran di sejumlah wilayah di Bumi Sriwijaya. Dalam rapat tersebut, Gubernur Herman Deru  meminta para kepala daerah dan BUMN dan BUMD […]

  • Palembang petakan dan evaluasi kinerja guru

    Palembang petakan dan evaluasi kinerja guru

    • calendar_month Rabu, 23 Okt 2024
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.589
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id,- Seiring dengan perkembangan zaman, setiap instansi dituntut untuk menggunakan platform kekinian atau secara digitalisasi untuk memetakan dan mengevaluasi kinerja guru dan tenaga kependidikan di lingkungan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Palembang. Salah satu upaya yang dilakukan Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Palembang, Adrianus Amri untuk memetakan dan mengevaluasi guru dan tenaga kependidikan tersebut, pihaknya menggelar […]

  • Anis Saggaf Ajak Masyarakat Sukseskan Asian Games

    Anis Saggaf Ajak Masyarakat Sukseskan Asian Games

    • calendar_month Kamis, 5 Apr 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 935
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.ID, Palembang – Ketua ICMI Orwil Sumsel Prof Anis Saggaf mengungkapkan gelaran sarasehan ini bertujuan untuk memberikan sumbang pikiran demi kelanjutan kemajuan Sumsel yang sudah ada sekarang. Saat ini lanjut dia, pembangunan memang perlu dipikirkan oleh orang-orang yang benar-benar berkomitmen seperti ICMI. Namun demikian ICMI tidak ingin membebani pemerintah melainkan justru membantu permasalahan-permasalahan yang dihadapi […]

  • Disiplin Penting, Prokes Harus Terus Diterapkan

    Disiplin Penting, Prokes Harus Terus Diterapkan

    • calendar_month Kamis, 29 Apr 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 734
    • 0Komentar

    GUBERNUR Provinsi Sumaetara Selatan (Sumsel) bersama kepala daerah se-Indonesia menerima arahan dari Presiden Republik Indonesia (RI), Jowo Widodo secara virtual, Rabu (28/4/21) terkait dengan perketat penerapan disiplin protokol kesehatan (Prokes) bagi masyarakat. “Kita belajar dari India. Intinya jangan lengah menerapkan disiplin prokes. Ini yang saya imbau untuk menjadi perhatian kepala daerah di Indonesia,” ungkapnya Jokowi […]

expand_less
WordPress Archive WordPress Multilingual Contact Form 7 Addon WordPress Multilingual Gravity Forms Multilingual Add-On WordPress Multilingual MailChimp WordPress Multilingual Media Add-On WordPress Multilingual Multisite WordPress Multilingual String Translation Addon WordPress Multilingual Translation Analytics Add-On WordPress Multilingual Translation Management Addon WordPress Multilingual WooCommerce Gateways Country Limiter Add-On WordPress Multilingual Yoast SEO Addon