Pengungsi Puncak Tembus 5.000 Jiwa, Kemensos dan Komnas HAM Bergerak
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 22 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kemensos.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID- Pengungsi Puncak, Papua Tengah, diperkirakan mencapai lebih dari 5.000 jiwa akibat eskalasi kekerasan yang terjadi di wilayah tersebut. Jumlah itu masih dinamis karena para pengungsi tersebar di sejumlah titik, bahkan sebagian telah keluar dari Kabupaten Puncak.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Kementerian Sosial (Kemensos) dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Kedua lembaga sepakat memperkuat koordinasi untuk memastikan kebutuhan dasar warga terdampak konflik segera terpenuhi.
Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono mengatakan keselamatan dan kenyamanan pengungsi menjadi prioritas dalam penanganan situasi tersebut.
“Sekarang ini kita bersama-sama menyepakati bahwa fokus kita yang harus secepatnya kita respons adalah para pengungsi yang ada di Kabupaten Puncak,” ujar Agus saat menerima audiensi Komisioner Pemantauan dan Penyelidikan Komnas HAM Saurlin P. Siagian di Kantor Kemensos, Jakarta, Senin (10/8/2026).
Menurut Saurlin, jumlah pengungsi yang dihimpun Komnas HAM berbeda dengan data pemerintah Provinsi Papua Tengah. Pemerintah provinsi mencatat sekitar 2.239 jiwa, sedangkan Komnas HAM memperkirakan jumlahnya bisa lebih dari 5.000 jiwa.
“Versi pemerintah provinsi ada 2.239 (jiwa), versi moderat menurut kami memang bisa lebih dari 5 ribuan (jiwa), nah ini dinamis terus tentunya dan berpencar ke berbagai tempat, keluar dari Kabupaten Puncak,” kata Saurlin.
Para pengungsi, lanjut dia, membutuhkan berbagai kebutuhan mendasar. Mulai dari pakaian layak pakai, makanan pokok seperti sagu, telur, minyak goreng dan beras, hingga obat-obatan, pemeriksaan medis, perlengkapan kebersihan serta hunian sementara.
Dalam kondisi darurat, makanan siap saji juga dinilai menjadi kebutuhan mendesak bagi warga yang mengungsi.
“Setidaknya para pengungsi ini, ribuan pengungsi ini membutuhkan makanan instan siap saji, dalam kondisi darurat saya kira makanan instan ini penting,” ujarnya.
Kemensos sendiri menyatakan telah memberikan bantuan kedaruratan kepada sekitar 1.000 jiwa pengungsi mandiri yang tersebar di sejumlah titik. Bantuan tersebut berupa beras, minyak goreng, biskuit, mi instan, gula pasir, kopi bubuk, selimut serta pakaian untuk orang dewasa dan anak-anak.
Agus menjelaskan sebagian pengungsi di Kabupaten Puncak tidak berada di shelter, melainkan mengungsi secara mandiri di sejumlah lokasi.
“Di sejumlah titik pengungsi yang sampai sekarang ini kita identifikasi para pengungsi ini pengungsi mandiri Pak, tidak ada di shelter,” katanya.
Selain bantuan logistik, Kemensos juga dapat memberikan santunan kepada korban meninggal dunia dan korban luka berat. Penyaluran bantuan tersebut dilakukan berdasarkan data dan usulan yang disampaikan pemerintah daerah kepada Kemensos.
Agus meminta pemerintah daerah segera memperkuat pendataan korban agar kebutuhan bantuan dapat dihitung dan disalurkan secara tepat.
“Karena ini konflik yang baru saja terjadi di Kabupaten Puncak dan ini butuh sinergi pendataan antarinstansi. Yang kemudian dari pendataan ini kita meminta supaya ada usulan dari kepala daerah yang ditujukan ke Kemensos,” ujarnya.
Pertemuan Kemensos dan Komnas HAM tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat respons terhadap warga sipil yang terdampak konflik di Kabupaten Puncak. Pemerintah daerah dan kementerian/lembaga terkait diharapkan dapat bergerak bersama agar kebutuhan ribuan pengungsi yang tersebar di berbagai lokasi tidak terlewatkan. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
