Kebakaran TNBTS, Menhut Instruksikan Tutup Sementara Secara Total
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 14 menit yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kemenhut.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, telah berdampak pada sekitar 520 hektare areal kawasan. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menginstruksikan penutupan sementara secara total TNBTS menyusul kebakaran tersebut.
Raja Juli menyampaikan instruksi itu saat meninjau langsung penanganan kebakaran bersama Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Rudy Saladin dan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, Minggu (9/8).
Menurut Raja Juli, penutupan dilakukan agar seluruh unsur dapat fokus pada pemadaman sekaligus mengantisipasi kemungkinan kebakaran kembali muncul di lokasi lain. Keselamatan masyarakat juga menjadi pertimbangan utama dalam keputusan tersebut.
“Menginstruksikan Kepala Balai untuk menutup sementara secara total TN Bromo Tengger Semeru. Tujuannya satu, agar semua bisa fokus memadamkan api sekaligus mengantisipasi terjadinya kebakaran lagi di tempat lain,” ujar Raja Juli.
Ia menegaskan aspek keselamatan menjadi prioritas dalam penanganan kebakaran di kawasan konservasi tersebut.
“Yang kedua juga terkait safety, safety first, yang menyangkut nyawa warga negara akibat bencana ini,” tegasnya.
Sementara pemadaman terus dilakukan, tiga helikopter telah dioperasikan untuk mendukung water bombing.
Operasi udara terutama diarahkan ke titik api yang berada di kawasan dengan kelerengan dan medan yang sulit dijangkau pasukan darat.
“Untuk pemadaman sekarang, ada tiga helikopter yang sudah beroperasi untuk pemadaman titik api, terutama di kelerengan yang tidak bisa dijangkau oleh pasukan darat,” kata Raja Juli.
Di lapangan, pasukan darat tetap melakukan pemadaman secara langsung dan membuat sekat bakar untuk membantu mengendalikan serta mencegah penjalaran api. Sementara, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) belum dapat dilakukan dalam 10 hari ke depan.
Per 9 Agustus 2026 pagi, luas areal yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai sekitar 520 hektare. Angka tersebut masih berupa estimasi sementara dan terus diperbarui melalui verifikasi serta pemantauan di lapangan.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan prioritas pemadaman dari udara saat ini difokuskan di kawasan puncak B29 di sisi paling timur. Selain cuaca, ketersediaan air menjadi salah satu kendala teknis dalam operasi pemadaman.
“Beberapa sudah padam dan dijaga pasukan darat yang melakukan pengawasan. Sedangkan di sisi barat sudah disiagakan tim untuk mengantisipasi,” ujar Emil.
Untuk memperkuat koordinasi penanganan, unsur terkait membentuk satuan tugas (satgas) kebakaran TNBTS dan menunjuk seorang Incident Commander. Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Rudy Saladin mengatakan Incident Commander bertugas mengoordinasikan seluruh pergerakan dan kebutuhan operasi, baik di darat maupun udara.
“Kita bentuk satgas dengan menunjuk Incident Commander untuk mengoordinir semua pergerakan udara dan darat, termasuk kebutuhan lapangan bisa melalui satgas yang dibentuk,” ujarnya.
Satgas tersebut melibatkan Kementerian Kehutanan, BNPB, BPBD, TNI, Polri, serta unsur terkait lainnya.
Penanganan kebakaran TNBTS berlangsung ketika sejumlah wilayah Jawa Timur juga berada dalam kondisi rawan kebakaran. Berdasarkan Sistem Peringkat Bahaya Kebakaran (SPBK) pada 9 Agustus 2026, sebagian wilayah Jawa Timur masuk kategori mudah hingga sangat mudah terbakar.
Kondisi itu menjadi perhatian Kementerian Kehutanan untuk meningkatkan kesiapsiagaan seluruh unsur pengendalian karhutla, terutama di wilayah yang memiliki tingkat kemudahan terbakar tinggi. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
