Minggu, 25 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Musik & Film » Film, Air Mata & Gaza, Diplomasi Lewat Air Mata Anak Panti [Saat Indonesia Bicara Lewat Kamera]

Film, Air Mata & Gaza, Diplomasi Lewat Air Mata Anak Panti [Saat Indonesia Bicara Lewat Kamera]

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Minggu, 8 Jun 2025
  • visibility 851
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sumselterkini.co.id, – Saya tadi malam membaca rilis resmi dari situs Kementerian Ekonomi Kreatif tentang film Hayya 3: Gaza, lalu mendadak saya merenung. Bukan karena listrik padam atau habis nasi di magic com, tapi karena ada rasa yang muncul tiba-tiba campuran haru, bangga, dan sedikit rasa ingin memeluk dunia. Film itu menurutu saya, bukan sekadar sinema.

Ini seperti secangkir teh hangat di tengah konflik, seperti doa yang ditulis dengan kamera. Ia bukan hanya karya, tapi semacam surat cinta dari Indonesia untuk Palestina, namun ditulis pakai skenario dan disampaikan lewat bioskop.

Di tengah maraknya film horor dengan kuntilanak multiverse dan drakor tentang CEO tampan yang amnesia, Hayya 3 hadir bak sandal jepit di masjid, sederhana, tapi dibutuhkan. Sebab ada yang lebih penting dari adegan kejar-kejaran dan ciuman di bawah hujan, yaitu kisah bocah yatim dan panti asuhan yang menjadi ladang diplomasi kemanusiaan.

Dalam dunia diplomasi, biasanya yang dipakai itu dasi, pidato, dan nasi kotak. Tapi di tangan sineas Indonesia, diplomasi bisa lewat film. Dan tak tanggung-tanggung, bukan film tentang pejabat gagah berani menyelamatkan dunia dari bom waktu, tapi tentang anak yatim, panti asuhan, dan bocah Palestina yang mencari damai di negeri kita. Judulnya Hayya 3: Gaza. Jangan salah, ini bukan sekuel Avengers, tapi bisa bikin penonton berderai air mata dan menggigit tisu dalam gelap bioskop.

Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, tampaknya sadar betul bahwa kadang yang tidak bisa disampaikan lewat pidato, bisa disampaikan lewat adegan sunyi bocah kecil menggenggam boneka usang.

Maka ia mengapresiasi film ini bukan hanya sebagai tontonan, tapi juga sebagai tuntunan dan diplomasi senyap yang menyentuh jantung nurani bangsa-bangsa. Katanya, film ini selaras dengan semangat Presiden Prabowo. Kalau benar demikian, berarti bioskop kini bukan cuma tempat kencan, tapi juga arena perjuangan.

Kita boleh saja punya ribuan diplomat dan ratusan kedutaan, tapi kadang satu film yang menyentuh bisa lebih menggerakkan dunia. Kata pepatah dari warung kopi “Sekali layar terkembang, film bisa menggetarkan lebih dari sekadar debat panjang”. Bahkan, film kadang lebih cepat viral daripada nota diplomatik.

Hayya 3 berkisah tentang Abdullah Gaza, bocah yatim piatu yang tinggal dipanti asuhan di Indonesia. Ia berjumpa dengan Hayya, gadis Palestina yang tersesat dari tanah airnya, tapi tak kehilangan arah untuk menemukan kasih sayang. Cinta dalam cerita ini bukan cinta-cintaan ala sinetron jam sembilan malam, tapi cinta dalam bentuk pelukan hangat, tawa sederhana, dan keberanian kecil menghadapi kenyataan yang tak ramah.

Bayangkan saja, dua anak yang bahkan belum mengerti diplomasi, bisa membangun jembatan nurani antara Indonesia dan Palestina, kalau ini bukan bentuk diplomasi kreatif, lalu apa?

Menteri Riefky menyatakan bahwa Kementerian Ekraf siap mendukung penuh, termasuk melibatkan tokoh publik dan influencer. Jangan heran kalau nanti TikTok dipenuhi testimoni nangis berjamaah usai nonton Hayya 3. Mungkin pula ada gerakan #TisuUntukHayya atau #DariPantiUntukPalestina. Di sinilah letak kekuatan ekonomi kreatif, ia bisa menggerakkan emosi sekaligus ekonomi.

Acungkan 2 jempol

Deputi Agustini Rahayu dari Kemenekraf juga menekankan pentingnya melibatkan dinas kreatif daerah. Nah ini baru langkah jitu. Jangan sampai film sebagus ini cuma berakhir di bioskop mall mewah, tapi bisa juga tayang di balai desa pakai layar tancap, sambil warga bawa kursi plastik dan bakwan goreng.

Ekonomi kreatif itu seperti gorengan, kalau digoreng dengan niat dan minyak yang panasnya pas, bisa kriuk, gurih, dan bikin ketagihan. Tapi kalau dibiarkan dingin dan tanpa dukungan, ya lembek dan dilupakan. Dukungan kepada film Hayya 3 adalah semacam usaha menggoreng kisah kemanusiaan dengan wajan perfilman nasional.

Di balik layar, kita tahu ada para tokoh hebat seperti Ustaz Erick Yusuf, Helvy Tiana Rosa, dan Asma Nadia, yang sudah lama mengangkat tema-tema religius dan sosial, kehadiran tokoh-tokoh ini seperti bumbu dapur yang diracik tepat, takarannya pas, sehingga rasa film ini bisa menyentuh perasaan, bukan cuma otak.

Kita juga patut berterima kasih kepada para aktor dan kru yang ikut menyumbang air mata, tawa, dan energi mereka untuk menyampaikan pesan damai. Layar lebar bisa menjadi panggung empati global, bukan sekadar tempat ngadem dari cuaca panas dan promo popcorn.

Film Hayya 3: Gaza sejatinya bukan hanya sekadar sekuel. Ia adalah sekuel dari nurani, kelanjutan dari empati, dan bab baru dari diplomasi ala anak panti. Di zaman di mana perang dipertontonkan seperti sinetron sore, kehadiran film yang justru menampilkan damai sebagai fokus cerita patut diacungi jempol dua, bahkan, plus jempol kaki kalau perlu.

Dukungan Kementerian Ekraf patut disambut baik. Tapi semoga dukungan ini bukan cuma hangat-hangat tayang perdana. Harus ada tindak lanjut, termasuk menguatkan jaringan bioskop alternatif, promosi berbasis komunitas, dan platform digital yang mampu membawa film ini menjangkau lebih banyak hati.

Karena, seperti kata pepatah warung kopi lagi lainnya “Kalau diplomasi gagal disampaikan lewat pidato, coba sampaikan lewat cerita. Karena hati kadang lebih mendengar adegan diam daripada orasi panjang”.

Akhirnya kita sadar, bahwa tidak semua diplomasi harus lewat podium dan protokol. Kadang, diplomasi bisa lewat adegan sunyi di panti asuhan, tatapan anak yatim yang kehilangan kampung halaman, atau lewat tokoh bernama Gaza yang memeluk luka kecil bernama Hayya. Film Hayya 3 ini bukan cuma hiburan. Ia seperti ember kecil yang ikut memadamkan api besar di Palestina. Mungkin tak menyelesaikan konflik, tapi setidaknya memberi rasa bahwa Indonesia masih punya nurani, bukan hanya trending topic dan gimik TikTok.

Kita juga perlu apreasi dukungan dari Menparekraf Teuku Riefky terhadap film ini, karena bukan perkara basa-basi konferensi pers. Ini adalah sinyal, bahwa negara hadir bukan hanya di rapat kabinet, tapi juga di ruang pemutaran film, di mana air mata dan empati bisa lebih jujur dari pidato.

Sebagaimana pepatah lama dari kampung saya yang baru saya bikin sore tadi. “Kalau tak bisa mengangkat senjata, angkat naskah. Kalau tak bisa berteriak di forum dunia, berteriaklah lewat film. Tapi jangan teriak di bioskop, nanti diusir”.

Hayya 3: Gaza mengingatkan kita, bahwa cinta dan kepedulian tidak butuh paspor diplomatik. Cukup tiket nonton, hati yang masih bisa merasa, dan keberanian untuk berkata kita peduli. Karena kadang, dunia tak berubah karena kekuasaan, tapi karena sebaris dialog dan sepotong adegan yang menampar hati. Dan semoga, saat anak-anak di Gaza mendengar nama mereka disebut lewat layar lebar di negeri jauh, mereka tahu  dunia belum sepenuhnya diam. Ada cinta dari tanah panti di Nusantara.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Greenpeace Serukan Perbaikan Iklim Saat Negara Bersiap Hadapi Dampak Topan Mawar

    Greenpeace Serukan Perbaikan Iklim Saat Negara Bersiap Hadapi Dampak Topan Mawar

    • calendar_month Jumat, 2 Jun 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 850
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, Kota Quezon— Greenpeace Filipina hari ini meminta perusahaan bahan bakar fosil untuk membayar ganti rugi atas dampak iklim karena provinsi utara Filipina bersiap menghadapi kondisi kekuatan badai yang disebabkan oleh Topan Mawar. Topan Mawar (nama lokal, Betty) adalah topan terkuat di dunia sepanjang tahun ini, dengan cepat meningkat dua kali menjadi topan super (STY), […]

  • BPOM : Selain Serang Gudang Farmasi Muba Adalah Yang Terbaik

    BPOM : Selain Serang Gudang Farmasi Muba Adalah Yang Terbaik

    • calendar_month Rabu, 25 Agt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 912
    • 0Komentar

    BUPATI Kabupaten Musi Banyuasin Dr H Dodi Reza Alex Noerdin Lic Econ MBA menerima Audiensi Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Palembang Drs M Suhendri Apt MFarm, Selasa (24/8/2021) di Guest House Griya Bumi Serasan Sekate.Audiensi ini dilakukan BPOM dalam rangka menawarkan kerjasama untuk pengawasan obat dan makanan dengan Pemerintah Kabupaten Muba. Dodi Reza […]

  • Anggota KPU Muratara Dikeroyok, Ketum HMI MPO Cab. Palembang Darussalam : Pemerintah Harus Bersikap Melayani “Bukan Arogansi”

    Anggota KPU Muratara Dikeroyok, Ketum HMI MPO Cab. Palembang Darussalam : Pemerintah Harus Bersikap Melayani “Bukan Arogansi”

    • calendar_month Rabu, 12 Mei 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.254
    • 0Komentar

    BARU – baru ini Kabupaten Musi Rawas Utara  telah dihebohkan dengan viralnya video tindakan kekerasan penganiayaan dan tindakan pengeroyokan terhadap salah satu anggota Komisioner KPUD Kabupaten Musi Rawas Utara. Tindakan pengeroyokan oleh oknum ini terjadi di lingkungan kantor Pemerintah Kabupaten Musi Rawas Utara (10 /05/2021).   Kronologis kejadian pemukulan, bersama beberapa komisioner KPU Muratara menghantarkan […]

  • Di Mana Saja Kita Harus Pakai Masker?

    Di Mana Saja Kita Harus Pakai Masker?

    • calendar_month Senin, 1 Feb 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 777
    • 0Komentar

    Di mana dan kapan saja kita harus pakai masker? WHO menganjurkan untuk mengenakan masker baik di dalam maupun di luar ruangan, khususnya dalam kondisi-kondisi tertentu seperti ketika banyak orang di sekitar kita, tidak bisa menjaga jarak, atau saat ventilasi udara tidak baik. Baca panduan lengkap tentang penggunaan masker dalam masa pandemi COVID-19 dari WHO yang […]

  • 3 Cara Sumsel Tembus Australia

    3 Cara Sumsel Tembus Australia

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 132
    • 0Komentar

    PEMERINTAH Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) kemarin menerima kunjungan resmi Duta Besar Australia untuk Indonesia, Roderick Brazier di Ruang Rapat Gubernur. Gubernur H. Herman Deru menjelaskan fokus pertemuan adalah terkait pengembangan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), pendidikan, dan konektivitas global melalui Pelabuhan Tanjung Carat. Dalam pertemuan, Dubes Brazier memberi apresiasi atas kemajuan proyek IPAL, sekaligus menekankan […]

  • Tetapkan Status “Siaga Bencana” COVID-19, Pagaralam Alokasikan Angaran Rp10 Miliar

    Tetapkan Status “Siaga Bencana” COVID-19, Pagaralam Alokasikan Angaran Rp10 Miliar

    • calendar_month Kamis, 26 Mar 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.371
    • 0Komentar

    PEMERINTAH Kota Pagar Alam menetapkan status “Siaga Bencana” COVID-19 (Corona). Status tersebut ditetapkan melalui Keputusan Walikota Pagar Alam Nomor 102 Tahun 2020, Tentang Penetapan Status Siaga Darurat Bencana Non Alam Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) Kota Pagar Alam Tanggal 24 Maret 2020. Bahkan, Pemkot juga telah menganggarkan alokasi dana sebesar Rp1o miliar untuk penanganan COVID-19. […]

expand_less
WordPress Archive Chartli WordPress Interactive Chart Plugin Charts and graphs WordPress Visual Designer Chat – Support Board – OpenAI Chatbot – WP ChatBot for WooCommerce AI ChatBot for WooCommerce - ChatGPT, Retargeting, Exit Intent AI ChatBot for Automated Live Chat Support ChatBubble – WordPress All in One Social Support Floating Button ChatNet – PHP Chat Room & Private Chat Script Chaty Pro – WordPress Chat Plugin Chauffeur Taxi Booking System for WordPress