Kamis, 8 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Ekonomi Digital » “QRIS Makin Tap, Tapi Sapaan Makin Sepi!”

“QRIS Makin Tap, Tapi Sapaan Makin Sepi!”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Selasa, 5 Agt 2025
  • visibility 610
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

“Sekarang beli cilok aja gak bisa pakai senyum, tapi harus pakai sinyal.”

BEGITULAH nasib kita di era QRIS. Sebuah zaman di mana barcode lebih penting dari basa-basi, dan HP lebih sering disentuh daripada tangan tetangga.

Bank Indonesia lagi getol-getolnya menggelar QRIS Jelajah Indonesia 2025,  program ciamik yang memadukan pembayaran digital dengan wisata dan budaya. Ada 57 juta pengguna, 39 juta merchant, dan transaksi triliunan rupiah.

Angka-angka ini bikin jurnalis ekonomi tepuk tangan, dan bikin rakyat kecil manggut-manggut… meski belum tentu ngerti cara pakainya.

Kini hadir QRIS TAP  teknologi NFC yang katanya cukup “nempel”, gak perlu scan lagi. Praktis, cepat, dan katanya lebih modern. Tapi di balik kecanggihan itu, ada keheningan baru yang diam-diam menyebar.

Dulu di angkringan, kita bisa ngobrol soal politik, bola, dan mantan. Sekarang?

Tap selesai, bahkan wajah penjualnya gak sempat kita lihat, karena barcode-nya nempel di tiang.

Pepatah lama bilang, “Di mana ada asap, di situ ada api.” Tapi di era QRIS, “Di mana ada sinyal, di situ orang lupa menyapa.”

Digitalisasi transaksi memang mempercepat segalanya, tapi kalau hati kita makin jauh, QRIS hanya akan jadi alat tanpa rasa.

Lihat negara lain. Jepang misalnya,  mereka udah lama pakai IC Card untuk transportasi dan transaksi kecil. Tapi petugas kereta masih membungkuk dan menyapa.

Di Korea Selatan, bayar pakai QR sudah jadi gaya hidup. Tapi masuk ke toko kecil, masih ada yang kasih teh hangat, nanya kabar nenek kita yang gak ikut, bahkan ngajak ngobrol soal cuaca hari ini.

Artinya? Teknologi itu sah-sah aja, asal jangan menggusur interaksi dasar menyapa, ngobrol, dan tertawa bareng.

Perumpamaannya begini QRIS itu kayak sepatu baru dari toko mahal. Licin, kinclong, dan bergaya. Tapi kalau kita cuma sibuk liatin sepatunya, kita bisa lupa ngajak teman buat jalan bareng.

Kita bisa lari cepat, tap sana tap sini, transaksi tanpa henti… tapi percuma kalau kita sendirian di garis finish.

Kita butuh kecepatan, tapi juga kebersamaan, karena hidup bukan cuma tentang bertransaksi, tapi juga tentang merasakan.

Bayangin QRIS diterapkan ke semua sektor tanpa pendampingan, Pak RT beli gorengan, HP-nya minta update dulu sebelum scan. Bu RW transfer arisan, malah nyasar ke akun olshop. Si Udin beli pulsa, salah ketik, pulsa nyasar ke mantan.

Lama-lama bukan “QRIS Jelajah Indonesia”, tapi “QRIS Menyesatkan Warga”.

Digitalisasi yang terlalu cepat tanpa edukasi itu ibarat ngasih motor Ninja ke anak TK  kenceng, tapi nabraknya pasti.

QRIS boleh cepat, tapi QRASA yang bikin kita tetap hangat. Boleh melaju, tapi jangan lupa menoleh ke samping, siapa tahu ada teman yang pengen diajak ngobrol.

QRIS adalah lompatan besar praktis, cepat, efisien. Tapi jangan sampai kemajuan ini mengikis hal-hal kecil yang justru besar artinya.

Senyum penjual di pagi hari, obrolan receh di balik etalase gorengan. Pertanyaan sederhana, “Mau dibungkus gak, Mas?” Itu bukan sekadar kebiasaan, tapi budaya. Bagian dari ekonomi kerakyatan yang hidup dan menghidupkan.

Ketika segalanya sudah bisa ditap dan diklik, yang perlu tetap kita rawat adalah rasa. Rasa percaya. Rasa peduli. Rasa terhubung sebagai sesama.

Karena bangsa ini bukan cuma dikenal karena kekayaan alam dan ragam budayanya, tapi juga karena keramahannya. Orang Indonesia itu hangat menyapa, ringan tangan, dan gampang tertawa.

Itu modal sosial yang gak bisa dibeli, apalagi di-scan. Maka jangan biarkan teknologi membuat kita lupa menatap mata. Jangan karena dompet digital makin sering dibuka, lalu mulut jarang mengucap “terima kasih” dengan tulus.

Bangsa besar tak hanya dibangun oleh kekuatan ekonomi, tapi juga oleh hubungan antarmanusia yang penuh empati.

Warung kopi, tukang sayur, abang gorengan,  itu bukan sekadar tempat belanja. Tapi ruang berbagi cerita.

QRIS Jelajah Indonesia adalah langkah maju. Ia bukan sekadar alat bayar, tapi simbol bahwa kita sedang bergerak.

Namun di tengah gegasnya dunia digital, jangan sampai kita terlalu sibuk menatap layar… hingga lupa menyentuh hati.

Karena kalau semua serba otomatis, tapi rakyatnya makin kaku, sunyi, dan asing satu sama lain… apa bedanya kita dengan mesin ATM yang dingin dan gak bisa diajak curhat?

Maka ayo, tetap pelihara yang tak bisa diunduh QRASA yang bikin Indonesia tetap manusiawi.

QRIS bisa tap. Tapi kita tetap perlu tap hati. Supaya digitalisasi gak cuma mempercepat… tapi juga mendekatkan. [***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Resmikan “Puspaga Rumah Cinta” bukti perempuan & anak dapat perhatian serius di Muba, Menteri PPPA apresiasi terbitnya Perda PPA, pesannya jangan hanya jadi dokumen, tapi bisa diimplementasikan untuk tekan angka perkawinan anak

    Resmikan “Puspaga Rumah Cinta” bukti perempuan & anak dapat perhatian serius di Muba, Menteri PPPA apresiasi terbitnya Perda PPA, pesannya jangan hanya jadi dokumen, tapi bisa diimplementasikan untuk tekan angka perkawinan anak

    • calendar_month Kamis, 10 Jun 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 3.479
    • 0Komentar

    MENTERI Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), I Gusti Ayu Bintang Darmawati yang juga dikenal sebagai Bintang Puspayoga mengapresiasi bakal  Peraturan Daerah (Perda)  Pencegahan Perkawinan Anak di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba). Menyusul rancangan ini Pemkab Muba menindaklankuti kerjasama dengan Pengadilan Agama Muba.  Penandatanganan MoU antara Bupati Muba Dr H Dodi Reza Alex Noerdin dengan Ketua […]

  • Maksimalkan Kalender Even, Palembang Genjot Sektor Pariwisata

    Maksimalkan Kalender Even, Palembang Genjot Sektor Pariwisata

    • calendar_month Jumat, 17 Jan 2020
    • account_circle Yosep Indra Praja
    • visibility 1.392
    • 0Komentar

    KEPALA Dinas Pariwisata Kota Palembang, Isnaini Madani, mengklaim bahwa pihaknya sudah berhasil menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) Palembang dari sektor pariwisata sebesar 30 persen dari target PAD Palembang sebesar Rp1,3 triliun. Ditahun ini peningkatan Pendapatan Asli daerah (PAD) Palembang semakin meningkat, hal tersebut dikarenakan adanya sumbangsih dari sektor Pariwisata sebesar 30 persen. “Tahun ini kita […]

  • Sesuai Petunjuk WHO,  Ini Enam Langkah Cuci Tangan Pakai Sabun

    Sesuai Petunjuk WHO, Ini Enam Langkah Cuci Tangan Pakai Sabun

    • calendar_month Selasa, 18 Jan 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 744
    • 0Komentar

    MENCUCI tangan pakai sabun sebagai salah satu protokol kesehatan yang penting untuk dilakukan secara rutin, terutama ketika sudah menyentuh permukaan benda-benda yang banyak disentuh orang lain. Ada 6 langkah cuci tangan pakai sabun dari WHO untuk memastikan tangan kita benar-benar bersih. Pertama, ratakan sabun dengan kedua tangan, kemudian gosok punggung tangan dan sela-sela jari secara […]

  • Pejabat dan ASN OKI Salurkan Zakat Lewat Baznas

    Pejabat dan ASN OKI Salurkan Zakat Lewat Baznas

    • calendar_month Jumat, 14 Apr 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.183
    • 0Komentar

    Sejumlah pejabat di lingkungan Pemkab OKI, ASN serta pegawai Perumda Bende Seguguk menunaikan zakat, infak dan sedakah melalui Baznas OKI Dalam kegiatan yang diselenggarakan  di Kantor Bupati OKI, pada Jum’at (14/4/2023) itu para pejabat yang terdiri dari wakil bupati, sekretaris daerah (sekda), serta sejumlah kepala Organisasi perangkat daerah membayar zakat yang menjadi salah satu kewajiban […]

  • Sabtu, Positif Covid-19 di Sumsel Jadi 725 Orang, Sembuh 100 Orang, Meninggal 2 Orang

    Sabtu, Positif Covid-19 di Sumsel Jadi 725 Orang, Sembuh 100 Orang, Meninggal 2 Orang

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 889
    • 0Komentar

    PROVINSI Sumsel mencatat, sabtu kemarin ada penambah pasien positif COVID-19 menjadi 725 menyusul ada penambahan 32 kasus. Sementara  yang sembuh menjadi 100 orang dan yang meninggal 2 orang. Juru Bicara Percepatan Penanganan Covid-19 di Sumsel, Yusri, SKM, MKm mengatakan, penambahan 32 orang positif Corona ini paling terbesar dari Kota Palembang. “Kasus positif Corona bertambah 32 […]

  • Tingkatkan Layanan Pengaduan,  Kemenkes Luncurkan Chatbot WhatsApp PeduliLindungi

    Tingkatkan Layanan Pengaduan, Kemenkes Luncurkan Chatbot WhatsApp PeduliLindungi

    • calendar_month Rabu, 10 Nov 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 688
    • 0Komentar

    KEMENTERIAN kesehatan (Kemenkes) terus berupaya memperbaiki fitur dan layanan PeduliLindungi terutama untuk mempercepat respon dan meningkatkan pelayanan pengaduan masyarakat terkait vaksinasi COVID-19. Chief Digital Transformation Office Kemenkes, Setiaji, mengatakan selama ini pengaduan diarahkan ke email sertifikat@pedulilindungi.id atau call center 119 exit 9. Namun untuk melengkapinya, Kemenkes juga meluncurkan Chatbot WhatsApp PeduliLindungi untuk melengkapi saluran pengaduan […]

expand_less
WordPress Archive Datera – Online Dating Mobile App Landing Elementor Template Kit Dating App – web version, iOS and Android apps Datix – AI Data Science & Analytics WordPress Theme Dayana – Resume Elementor Template Kit DC Agency : WordPress Theme For Creative Agency, Hosting, SEO Services D&C | Dermatology Clinic & Cosmetology Center WordPress Theme De Jure – Attorney and Lawyer WP Theme Deactivate Plugins Per Page – Improve WordPress Performance Deadlift – Fitnesss and Bodybuilding WordPress Theme Deasil – Travel and Tour WordPress Theme